Ia5K33hce05kVEU1UP8J8DLa01dvV8DSgOffubpV
Bookmark

9 Persiapan Homeschooling Anak Usia Dini Secara Mandiri

Homeschooling anak usia dini

Halo teman online! Setelah kapan lalu sempat membahas tentang sekolah PAUD online homeschooling, kali ini aku akan membahas persiapan homeschooling anak usia dini secara mandiri. Jadi orang tua di rumah yang nantinya akan menyiapkan kegiatan homeschooling sendiri.

Namun, kegiatan ini aku sesuaikan dengan pengalamanku melakukan homeschooling saat si kecil usia 0-5 tahun. Setelah itu, baru aku melanjutkan pendidikan si kecil lewat jalur formal untuk TK tanpa homeschooling.

Seperti apa persiapan yang pernah aku lakukan untuk homeschooling anak usia 1-5 tahun? Yuk, mari kita kumpul!


Apa itu Homeschooling Anak Usia Dini?

Secara umum, Homeschooling adalah kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan dari rumah oleh orang tua atau pengajar. Pemerintah pun sudah melegalkan gaya belajar ini di Indonesia.

Namun, menurut Rumah Inspirasi dalam konteks homeschooling anak usia dini mengacu pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jalur non formal. Jadi, homeschooling untuk anak usia dini memiliki fokus berbeda dengan homeschooling untuk anak usia SD dan seterusnya.

Homeschooling

Fokus Homeschooling Anak Usia Dini

Pada anak usia dini, homeschooling lebih fokus pada beberapa hal berikut ini:

  1. Pembentukan karakter: orangtua atau pengajar memberikan stimulus untuk membangun karakter anak lewat contoh dan kebiasaan baik di rumah. Misalnya mengembalikan mainan ke tempatnya setelah puas bermain.
  2. Pola pengasuhan yang baik: anak usia dini membutuhkan pola pengasuhan yang baik agar bisa memupuk karakter positif untuk tumbuh kembang.
  3. Fitrah iman dan bermain anak: anak pada usia golden age 0-6 tahun masih kuat fitrah iman dan fitrah bermain. Jadi pembelajaran fokus pada kegiatan atau kebiasaan baik yang selalu dilakukan di rumah.
  4. Pembelajaran sesuai minat dan ketertarikan: anak usia dini akan lebih mudah mempelajari sesuatu saat dia merasa itu sesuai dengan minat atau ketertarikannya.

Perlu diperhatikan bahwa homeschooling berbeda dengan memberikan kegiatan permainan pada anak usia dini. Pada homeschooling, ada acuan kurikulum resmi untuk anak usia dini yang dipakai.

Sementara itu, saat memberikan kegiatan permainan pada anak kadang tidak memperhatikan aspek-aspek tumbuh kembang secara pasti sesuai usia anak. Jadi kurang ada acuan resmi pendidikan anak usia dini dalam melakukan kegiatan.

Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling Anak Usia Dini

Setiap metode pendidikan pasti ada kelebihan atau kekurangan, termasuk homeschooling anak usia dini. Berikut beberapa kelebihan homeschooling dan kekurangan homeschooling untuk anak usia dini.

Kelebihan homeschooling anak usia dini adalah:

  • Waktu fleksibel
  • Orang tua bisa memberikan perhatian penuh ke anak
  • Lebih bisa memahami kekurangan dan kelebihan anak
  • Bisa menerapkan kurikulum keluarga untuk membentuk karakter dan kepribadian anak

Sementara itu, kekurangan homeschooling anak usia dini adalah:

  • Orang tua harus memberikan waktu khusus untuk melatih kemampuan sosialisasi anak
  • Biaya yang dikeluarkan bisa jadi lebih banyak untuk aparatus atau penunjang kegiatan anak


Persiapan Homeschooling Secara Mandiri di Rumah

"Apa yang harus dipersiapkan untuk homeschooling? Mungkin ini pertanyaan sebagian besar orang tua yang ingin memulai homeschooling anak usia dini secara mandiri.

Aku pribadi tidak ikut jalur PAUD non formal seperti KB dan sejenisnya. Aku baru akan ikut jalur PAUD formal seperti TK saat si kecil berusia 5 tahun ke atas. Kalau masih bingung tentang definisi PAUD bisa cek postingan sebelumnya tentang Sekolah PAUD.

Berikut rangkuman langkah persiapan yang pernah aku lakukan saat memulai homeschooling untuk usia 1-5 tahun. 

1. Merancang Kurikulum Keluarga

Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah merancang kurikulum keluarga. Ayah dan bunda bisa diskusi bersama untuk menentukan visi dan misi pendidikan keluarga. Contohnya bisa lihat di postingan cara membuat kurikulum keluarga.

2. Memahami Pedoman Standar PAUD

Selanjutnya, teman online sebagai orang tua harus cek standar kurikulum anak usia dini lewat Permendikbud no. 137 tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam lampiran berkas tersebut ada panduan lengkap checklist tumbuh kembang anak dari usia 0-6 tahun berdasarkan beberapa aspek.

Misalkan pada anak usia 4 tahun sudah harus bisa mengenal warna primer dan sekunder. Nantinya teman online membuat kegiatan bermain untuk mengenalkan warna ke anak lewat permainan.

3. Menentukan Metode Belajar

Metode belajar dalam homeschooling

Metode pendidikan anak usia dini cukup beragam. Mulai dari metode Montessori, Charlotte Mason, STEAM, Quran Based Play, dan lain sebagainya.

Kalau aku pribadi paling nyaman menggabungkan Montessori karena bisa memanusiakan anak manusia, Quran Based Play untuk dasar fitrah iman, dan STEAM untuk memperkuat pengetahuan.

4. Mengikuti Training Online atau Offline

Saat ini banyak sekali kuliah WhatsApp atau kelas intensif untuk orang tua yang ingin belajar membuat kegiatan atau lesson plan untuk anak usia dini. Sebut saja berbagai kelas Montessori dari @cicidesri, @widuri_retno, @muslimmontessorian, dan lain-lain. Kalau Quran Based Play bisa cek di @quranbasedplay, dan STEAM bisa cek di @steamlab.id.

5. Ikut Komunitas untuk Kegiatan Anak Usia Dini

“Ta-tapi, aku masih belum pede buat bikin kegiatan anak, meskipun sudah paham teorinya. Gimana dong?”

Teman online ada yang begitu? Toss, aku pun juga pernah begitu, kok. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah ikut komunitas atau follow akun yang membahas tentang pengalaman homeschooling.

Beberapa rekomendasi akun instagram untuk komunitas dan praktisi home education adalah sebagai berikut:

  • Quran Based Play Club by @quranbasedplay
  • Komunitas STEAM Lab Indonesia by @steamlab.id
  • MHA Community Club by @montessori_haus_asia
  • @oliviaelsa (praktisi homeschooling)
  • @afnala_bermain (praktisi homeschooling)

6. Menyiapkan Lesson Plan

Setelah menyiapkan kurikulum, langkah selanjutnya adalah membuat lesson plan. Fungsi lesson plan adalah sebagai rencana kegiatan anak yang sudah disesuaikan dengan kurikulum.

7. Eksekusi Kegiatan Bermain

Saat eksekusi kegiatan bermain, orang tua wajib memperhatikan ada beberapa hal. Sebab, seringkali saat pertama menerapkan kegiatan bermain terstruktur hasilnya bisa tidak sesuai harapan. Apa saja itu?

Pertama, reaksi anak tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan. Bisa jadi anak tidak tertarik dengan kegiatan tersebut. Kalau begitu, jangan paksa anak. Evaluasi dan observasi kenapa anak tidak tertarik.

Kedua, berikan porsi kegiatan sesuai usia anak. Misalnya anak usia 2 tahun dengan kegiatan sorting warna pom-pom. Berikan pom-pom satu wadah kecil, jangan satu mangkok besar.

Ketiga, jangan menyerah saat anak selalu melakukan kegiatan tidak sesuai instruksi. Observasi kenapa sampai begitu. Apakah masalah konsentrasi, masalah sensorik, dan lain sebagainya.

8. Menjadwalkan Konseling dan Kegiatan Outdoor

Homeschooling anak usia dini

Metode homeschooling tak melulu harus melakukan kegiatan di area rumah. Ada kalanya anak bisa melakukan kegiatan di luar rumah. Misalnya ke taman, hutan kota, dll.

Bisa juga ikut Pop Up Class di daerah masing-masing agar anak mengenal sosialisasi dengan anak seusianya. Kalau di Surabaya ada Pop Up Class secara offline dari Rumah Kumbang, Dulin-Dulin, dan lain-lain.

Jika perlu, jadwalkan pula konseling atau cek tumbuh kembang ke klinik atau psikolog. Hal ini untuk meyakinkan bahwa kegiatan bermain anak di rumah cukup untuk menunjang tumbuh kembang anak sesuai standar.

9. Observasi dan Evaluasi

“Orang tua dan anak sama-sama seorang pembelajar. Orang tua belajar memahami anaknya sendiri. Anak belajar memahami dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.”

Dalam kegiatan homeschooling, tak hanya anak yang eksplorasi untuk tumbuh dan berkembang. Namun, orang tua juga belajar eksplorasi, serta memahami anak.

Selama kegiatan berlangsung, orang tua wajib observasi anak. Setelah sesi kegiatan berakhir pun, orang tua harus menyempatkan diri untuk melakukan evaluasi.

Cocokkan hasil belajar anak dengan standar tumbuh kembang anak usia dini. Sudah sesuai atau belum? Kalau belum sesuai, bisa dilakukan kegiatan lain untuk stimulasi.


Seperti itu 9 persiapan homeschooling anak usia dini yang pernah aku lakukan sejak di kecil berusia 1 tahun. Sampai saat ini aku masih menerapkan homeschooling untuk si kecil.

Soal biaya bisa dibilang biaya homeschooling secara mandiri hampir sama atau lebih besar dari biaya saat memasukkan anak ke PG atau KB. Sebab, kadang aku membeli beberapa aparatus Montessori, mikroskop, globe, peta, bahan permainan, dan rak-rak khusus untuk menciptakan ruang bermain yang kondusif.

Jadi mau memasukkan anak ke PG/KB atau memutuskan homeschooling anak usia dini adalah mutlak pilihan orang tua. Tetap semangat membersamai anak, teman online!


Referensi

https://rumahinspirasi.com/homeschooling-usia-dini/

https://www.halodoc.com/artikel/7-kelebihan-dan-kekurangan-homeschooling-untuk-anak-2

1 komentar

1 komentar

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar.

Love,
Anggi
  • timduniamasak
    timduniamasak
    16 Mei 2024 pukul 08.45
    nah, ketakutannya sama yaitu homeschooling bercampur dengan waktu main :')
    Reply