Sholawat Burdah di Atas Laut, Tradisi Unik Nelayan Surabaya

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Orang Bira bisa sampai ke Madagaskar karena keyakinannya. Jangan berangkat sebelum dirimu mengetahui tujuan. Jangan berlayar sebelum kapalmu tiba."
 ― Puang Tuju, Kapten Perahu Layar Pinisi


Senja perlahan datang, membiaskan cahaya jingga pada permukaan laut yang mulai tampak tak tenang. Ombak mulai menyapu tiap badan perahu yang mencoba tetap gagah di tengah laut, diiringi lantunan sholawat burdah yang mengudara dengan lantang. Sholawat yang berisi syair indah puji - pujian terhadap Rasulullah SAW, karya pujangga islam ternama, Imam Al Bushiry. Do'a terdalam dari hati sang Nelayan pun turut berkumandang, berharap laut akan selalu menjadi teman dan selalu menenangkan. Kalau pun laut tak lagi menenangkan, para nelayan itu akan selalu setia menantang dengan keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Semesta Alam.

Laut tak hanya sekadar tempat untuk mencari rezeki bagi warga kampung nelayan Bulak Cumpat, Nambangan, Surabaya. Laut kadang bisa menenangkan layaknya teman, tapi juga bisa menebarkan resah melalui deru ombak yang meraung - raung. Para warga kampung nelayan pun menyikapi hal tersebut dengan melakukan tradisi unik, yaitu bersholawat burdah di laut lepas. Berbeda dengan acara "bersholawat" lainnya, sholawat burdah di kampung nelayan Surabaya dilakukan di atas laut menggunakan perahu nelayan jelang Ramadhan.

Para nelayan bisanya mengambil rute berlayar sambil bersholawat burdah dari Benteng Kedung Cowek - Jembatan Suroboyo - Kampung Nelayan Bulak Cumpat. Sholawat burdah di atas laut lepas biasanya dilakukan menjelang senja hingga terbenamnya matahari atau bisa juga dilakukan setelah matahari terbenam, tergantung kondisi laut. Satu yang pasti adalah lantunan sholawat burdah di sepanjang laut lepas akan selalu terdengar dari para nelayan tersebut. Mereka melantunkan sholawat burdah dengan lantang meskipun deru ombak menghadang.

Sholawat burdah yang dilakukan oleh warga nelayan Bulak Cumpat.
Burdah sendiri, menurut bahasa arab memiliki arti selimut atau mantel, bisa juga diartikan shifa atau kesembuhan. Banyak ulama mengatakan bahwa sholawat burdah memiliki manfaat bagi siapa yang membacanya (baca di sini). Warga kampung nelayan percaya dengan melantunkan sholawat burdah, bisa menjadi pelindung bagi mereka semua, berdasarkan filosofi arti kata burdah sebagai selimut atau mantel. Berangkat dari sini, para nelayan di Surabaya tak pernah gentar meskipun laut tempat mereka mengadu rezeki berubah jadi tak menenangkan. Maju menantang dengan perjuangan atau diam lalu mati perlahan tanpa perjuangan.

Terlepas dari arti kata burdah, isi sholawat burdah sebenarnya berisi syair indah puji - pujian terhadap Rasulullah SAW karya pujangga islam ternama di Mesir bernama Imam Al Bushiry. Keindahan syair dalam sholawat burdah, disebut - sebut tak akan ada yang bisa menandingi di dunia ini. Syair yang ditulis karena cinta Imam Al Bushiry terhadap Allah dan Rasul-Nya turut mengalirkan cinta juga bagi siapa pun yang membaca (contoh sholawat burdah). Sama seperti para nelayan yang juga mengekspresikan rasa cinta serta syukur kepada Allah dan Rasul-Nya melalui sholawat burdah. Mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang mereka cinta dan percaya dalam hidup ini, Tuhan Semesta Alam.

Pelaut dan nelayan yang hebat tak pernah lahir dari laut yang tenang.
Keyakinan yang mengakar pada jiwa nelayan di Surabaya hampir sama dengan keyakinan yang dipegang teguh oleh para pelaut Bira di Makassar. Orang Bira dengan perahu layar Pinisinya bisa sampai di Madagaskar karena mereka yakin dan percaya terhadap Tuhan Yang Menguasai Alam Semesta. Sama halnya dengan nelayan di Surabaya yang tak takut menghadapi laut ketika mencari rezeki karena rasa yakin dan percaya sekaligus cinta terhadap Tuhan, Sang Penguasa Semesta.

Laut, para pelaut dan para nelayan itu mengajarkan arti kata "percaya" dan "yakin" bahwa tak ada hidup yang selalu menenangkan. Ada kalanya ombak menyapu kehidupan dengan begitu dahsyat, menghancurkan apa pun yang ada di depan. Siapa yang bertahan akan terus menantang dan suatu saat akan menang dalam kenangan hidup yang menyenangkan. Siapa yang menyerah akan mati perlahan dalam kenangan hidup yang mengerikan. Pelaut dan nelayan yang hebat tak pernah lahir dari laut yang tenang, bukan?
Share:

Seperti Senja yang Datang dan Pergi

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Terkadang kita memang harus dihancurkan berkali - kali agar mengerti arti tangguh yang sebenarnya. Seperti senja yang tak menyerah untuk datang kembali setelah pergi untuk sementara. "
 ― Anggita Ramani

Tahun 2018 telah berlalu, menyisakan kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, tetapi terlalu sedih untuk dikenang setiap saat. Banyak hal bahagia yang hanya singgah di hidup ini, lalu pergi begitu saja. Kecewa adalah reaksi yang pasti tanpa bisa dipungkiri. Jika kita percaya, hal bahagia lain pasti datang lagi esok hari. Seperti senja yang selalu datang dan pergi, lalu datang kembali dengan warna yang tak akan pernah mengecewakan setiap penikmat yang setia menunggu kehadirannya. Seperti itulah semesta mengajarkan bahwa akan selalu ada hal bahagia lainnya yang datang setelah ada hal bahagia yang hilang dari hidup seseorang.

Mengenang tak selamanya menenangkan. Tak apa jika ingin melupakan beberapa kenangan untuk sementara. Suatu saat nanti, kenangan yang ingin dilupakan itu justru akan menjadi tawa hangat yang akan menghibur ketika luka hati sudah sembuh sepenuhnya. Di saat itulah, aku mulai berbagi cerita tentang hidup yang pernah kujalani tanpa ada air mata yang menemani.

Banyak hal yang hilang, datang kembali, lalu hilang lagi dalam roda kehidupanku. Banyak juga pelajaran hidup yang aku dapatkan tentang menjadi tangguh, tentang memaafkan dan tentang memasrahkan hal apa pun di luar kuasa manusia. Dimulai dengan patahnya hati ketika orang yang kita sayangi pergi untuk selama - lamanya, patah hati kedua saat ada anggota keluarga yang memutuskan ikatan silaturrahim hingga patah hati ketiga kalinya saat dia memutuskan hubungan tanpa pamit. Begitulah awal tahun 2018 sudah menyambutku dengan gebrakan keras, seakan ingin membangunkanku dari dunia mimpi.

Hidup selalu tentang berjuang tanpa kenal lelah (sumber : dokumentasi pribadi)
Aku terlalu lemah, bermental korban dan tak bisa bersyukur. Begitulah mereka semua menjustifikasi diriku yang sedang hancur tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Mungkin saja memang hal itu yang mereka lihat dari sudut pandang mereka. Aku pun memilih diam dan memendam semuanya sendirian. Biarlah itu menjadi urusanku dengan Tuhan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sedikit demi sedikit aku mulai berdiri kembali, meskipun terkadang aku kembali jatuh, jatuh dan jatuh lagi. Selalu ada orang yang datang di kehidupanku, tapi selalu berakhir tanpa pamit atau kabar. Ingin rasanya membalas mereka satu per satu agar merasakan sakit yang sama denganku. Jangan tanyakan sudah berapa kali aku jatuh, patah, hancur dan segala macamnya. Aku lupa, bahkan sudah mati rasa. Sisa bulan di tahun 2018 pun kujalani dengan begitu banyak luka, hingga semuanya berubah di penghujung 2018.

"Untuk apa kamu mau membalas semua yang mereka lakukan? Kalau itu memang positif lakukan, tapi apa yang kamu dapatkan kalau sudah membalas? Kamu sama saja dengan orang itu kan? Apa bedanya kamu dengan orang yang kamu benci? Sudahlah, maafkan mereka sepenuhnya."

Beberapa potong pesan singkat dari seseorang kakak, menamparku dengan sangat keras. Saat itu aku sempat marah dengannya. Apa yang ia tahu tentangku? Kenapa ia sama saja dengan orang yang menjustifikasi diriku sesuka hatinya? Aku pun menangis setelah puluhan purnama tak pernah menangis. Kupikir aku sudah benar - benar mati rasa, aku lega ternyata aku belum benar - benar mati rasa.

Aku tak akan menyerah menanti senja kembali datang (sumber : dokumentasi pribadi oleh @rizkiaradisty)
Aku akhirnya paham apa arti tangguh yang sebenarnya. Bukan tangguh untuk menjadi jahat, tetapi tangguh dalam hal memaafkan, melepaskan dan memasrahkan segala yang terjadi di hidup ini hanya kepada-Nya. Terimakasih 2018, banyak hal bahagia yang direbut atau hilang dari hidupku, tetapi banyak pula hal bahagia yang hadir kembali untuk menggantikan semua yang hilang. Seperti senja yang datang dan pergi, aku juga tak akan pernah menyerah hingga Tuhan memanggilku untuk pulang.


Share:

Menjadi Narablog, Berbagi Cerita Kepada Dunia

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Menjadi narablog tak hanya berbagi lewat cerita. Lebih dari itu semua, seorang narablog bisa melukis dunia lewat kata dan berbagi kepada dunia lewat cerita."
 ― Anggita Ramani
Sumber : dokumentasi pribadi
Dua tahun yang lalu, jalanan kota Surabaya penuh sesak dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang. Udara siang dipenuhi oleh nyanyian klakson yang memburu ketika kendaraan paling depan tak juga bergerak, setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Suasana kacau yang sempurna di tengah hari yang juga sangat kacau bagiku. Tak ada yang berhasil aku lakukan di dalam hidup ini. Aku hampir memutuskan untuk menyerah, ketika sebuah notifikasi surel terpampang di layar gawai hitam milikku. Kubuka pesan dari seseorang yang tak kukenal. Air mataku tumpah ruah ketika membaca kalimat sederhana darinya: "Terimakasih sudah menulis, mbak Anggi. Berkat tulisan di blog mbak Anggi, saya punya semangat kembali untuk hidup". Saat itu, pertama kalinya aku merasa berguna sebagai manusia dan tak ingin menyerah begitu saja. Aku memutuskan untuk fokus menjadi seorang narablog sejak saat itu.

Selama delapan tahun mengelola blog dan dua tahun menekuni dunia narablog, apresiasi tertinggi bukanlah ketika memenangkan hadiah atau mendapatkan banyak pembaca. Apresiasi tertinggi justru datang ketika apa yang aku tulis bisa bermanfaat untuk sesama. Apa yang ditulis seorang narablog menjadi tak ternilai harganya ketika bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama atau sekadar bermanfaat untuk berbagi sesuatu yang kita tahu, tapi orang lain tak tahu.

Momen Istimewa Saat Menjadi Narablog

Selain bisa berbagi virus positif, banyak sekali momen bahagia hingga haru yang didapatkan ketika menjadi seorang narablog. Mulai dari momen bahagia ketika banyak orang lain yang terinspirasi untuk membuat blog setelah membaca tulisan - tulisan di blog ini, hingga momen haru ketika ternyata tulisanmu pernah menyelamatkan seseorang yang hampir bunuh diri karena depresi. Siapa sangka tulisanku di blog yang berjudul Titik Nadir Kedua, yang kutulis setelah mengalami kehancuran, bisa menyelamatkan hidup orang lain.

Ada salah seorang pembaca yang mengirim pesan ke alamat surel milikku. Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya yang sedang mengalami depresi berat setelah patah hati. Latar belakang keluarganya yang berantakan, serta kegagalan - kegagalan yang membuatnya semakin hilang percaya diri, lantas hampir memilih untuk mengakhiri hidupnya. Entah kenapa, disela dia mencari cara untuk bunuh diri, Tuhan mempertemukan dia dengan salah satu tulisan di blog ini. Tulisan yang saat itu bercerita tentang kehancuran hidup saya, tetapi disertai dengan cara untuk bangkit kembali.

Senang sekali rasanya jika tulisan saya di dunia digital bisa meringankan beban orang lain. Bagi saya menulis adalah terapi yang lumayan ampuh untuk mengobati mental. Terlebih ucapan terimakasih dari pembaca sangat memotivasi kembali di tengah kehidupan yang juga tak berjalan lancar setiap saat. Rasanya seperti mendapat banyak sekali energi positif untuk terus menulis.

Berbagi Cerita Kepada Dunia

Momen - momen itulah yang membuat aku bangga menjadi seorang narablog, terlebih di era digital seperti saat ini. Era yang semakin memudahkan jangkauan informasi, cukup dengan daring melalui gawai tanpa harus bersusah payah lagi. Ada banyak hal  dari berbagai sudut pandang yang bisa diceritakan kepada dunia, menjadikan cerita - cerita itu penuh warna. Sudah menjadi kewajibanku pula secara pribadi untuk berbagi cerita tentang apa pun di dunia ini, baik yang aku alami maupun apa yang aku dengar dari orang lain sebagai narablog.

Bercerita tentang dunia (sumber : dokumentasi pribadi)
Aku biasa menulis cerita tentang perjalanan, alam atau orang - orang yang kutemu secara tidak sengaja di perjalanan. Tak hanya sekadar pamer foto alam saja, tapi juga tentang makna perjalanan yang telah dialami. Pasti ada satu atau dua cerita unik yang mengiringi perjalanan itu sendiri. Contohnya ketika saya pernah masuk ruang isolasi petugas imigrasi Batam karena mereka mengira saya TKI ilegal atau cerita saat pertama kali hidup merantau di Malaysia dan bertemu dengan budaya baru. Orang lain pun bisa melihat dunia lewat cerita yang ditulis oleh narablog. Dunia tak lagi terasa jauh, tapi terasa dekat melalui tulisan seorang narablog.


Resolusi Tahun 2019

Menyambut tahun 2019 ini, tentunya banyak hal yang ingin kulakukan. Tak hanya sebagai seorang narablog, tetapi juga sebagai apa yang dunia sebut sebagai "manusia". Semua makhluk hidup di dunia ini juga makan, bekerja dan menikah, lalu apa yang membedakan kita sebagai manusia dari makhluk lain, jika sebagian besar hidup kita hanya terpaku pada 3 hal tersebut. Berikut adalah hal - hal yang ingin saya lakukan di tahun 2019.


1. Mengirim novel ke penerbit mayor
Selama ini novel atau tulisan hasil karya hanya masuk di penerbit indie. Di tahun 2019 ini sudah saatnya untuk memberikan tantangan baru pada batas yang ada di diri sendiri. Don't limit your challenge, but challenge your limit.

2. Rutin menulis di blog seminggu 2 kali
Biasanya tulisan di blog ini hanya diunggah minimal 1 bulan sekali. Sebagai seorang narablog, ada baiknya menaikkan standar jumlah artikel yang diunggah. Selain itu juga melatih konsistensi, disiplin, serta tanggung jawab sebagai narablog.

3. Belajar SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)
Pengalamanku menjadi seorang relawan yang kesulitan komunikasi saat bertemu dengan seorang anak tuna wicara, membuatku termotivasi untuk belajar bahasa isyarat. Mereka mempunyai dunia yang harus diberi warna juga, sama seperti orang - orang lain.

4. Penelitian di luar negeri
Jepang masih menjadi negara impianku untuk melakukan kerja sama di bidang penelitian sejak tahun 2014. Semoga di tahun 2019 ini, ada jalanNya yang menuntunku untuk pergi kesana.

5. Jalan - jalan ke Teluk Biru
Naluri sebagai seorang narablog yang suka berpetualang, menyebabkan teluk biru menjadi tujuan perjalanan yang sepertinya cukup menantang. Pantai yang berada di Banyuwangi ini merupakan surga tersembunyi yang belum banyak dijamah orang. Hanya saja, masih jarang travel backpaker yang membuka jasa open trip untuk tujuan ke Teluk Biru.

Resolusi 2019 (sumber : dokumentasi pribadi)
Semoga semua yang kutulis sebagai resolusi di tahun 2019 ini bisa menjadi sebuah do'a tak terucap, namun terdengar hingga langit ketujuh. Sebagai manusia, aku hanya bisa merencanakan. Keputusan paling mutlak tetap berada di tangan Tuhan, Sang Penguasa Semesta.

Mari sambut 2019 ini dengan penuh energi positif. Lakukan yang terbaik di dalam hidup ini. Jika tak bisa menjadi yang terbaik, minimal jadilah yang berbeda. Salah satunya bisa menjadi seorang narablog yang menginspirasi di era digital.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Kompetisi Blog Nodi"
#KompetisiBlogNodi
#NarablogEraDigital
Share:

Tabebuya VS Sakura : Surabaya Rasa Jepang

Assalamu'alaikum Surabaya!

"Tatoeba kurushii kyou dato shite mo, itsuka atatakana omoide ni naru, kokoro goto subete nage daseta nara."
"Bahkan jika hari ini begitu menyakitkan, suatu hari nanti akan menjadi kenangan hangat jika kamu menyerahkan semuanya pada hatimu."

―Ritsuko Okazaki - For Fruit Basket OST

Gambar kiri : pohon Tabebuya; gambar kanan : pohon Sakura
Potongan lirik lagu berbahasa Jepang di atas, yang juga sedang mengalun mesra di postingan kali ini, merupakan lagu soundtrack anime Jepang berjudul Fruit Basket. Lagu tersebut mengajarkan kepada kita arti tentang menjalani kehidupan ini dengan hati. Bahwa semua yang telah terjadi di kehidupan, baik atau buruk sekalipun, biarlah itu menjadi kenangan utuh yang suatu saat nanti bisa menghangatkan semua cerita yang sudah kita lalui. Klik di sini untuk melihat versi lengkap translate lirik lagunya.

Berbicara tentang lagu berbahasa Jepang, atau jika kata "Jepang" disebut, pasti yang muncul di ingatan kita pertama kali adalah bunga Sakura, sebagai lambang keindahan negara tersebut. Bunga Sakura yang justru terlihat sangat cantik ketika berguguran tersebut ternyata memiliki kembaran di negara tropis Indonesia, yaitu Tabebuya. Pada bulan November lalu, Tabebuya sedang viral diperbincangkan di kota Surabaya bahkan seluruh Indonesia. Bagaimana tidak, bunga yang mirip sekali dengan Sakura, yang juga justru sangat cantik ketika berguguran tersebut sedang mekar dengan indahnya di jalanan kota Surabaya. Lihat saja perbandingan kemiripan kedua pohon tersebut pada gambar di bawah ini.

Tabebuya di Surabaya
Sakura di Fukuoka, Jepang (terimakasih sahabatku Icchan yang mengirimkan foto ini musim semi lalu)
Bak berasa di Jepang, apalagi disertai dengan cuaca mendung, suasana romantis melankolis di kota Surabaya pun terasa makin kental. Sebenarnya momen ini cocok sekali digunakan untuk para pasangan yang melakukan pre-wedding. Kelopak Tabebuya yang berguguran mirip dengan Sakura yang berguguran. Jadi, tinggal ambil angel atau sudut pandang yang cocok untuk menghasilkan foto yang mirip dengan suasana musim semi di Jepang. Tak usah jauh - jauh pergi ke Jepang, cukup berjalan di sekitar kita Surabaya dan temukan Tabebuya di pinggir jalan. Lihat saja beberapa foto dari kakak @kus.andi yang selalu stylish dan cocok pengambilan sudut pandang gambarnya, sehingga terasa sekali aura Jepangnya, padahal itu asli Surabaya loh.

Romantic look bersama Tabebuya
Melancholic look
Tabebuya adalah tanaman yang berasal dari Brazil. Bunganya akan bermekaran di musim kemarau, sehingga musim semi Tabebuya di Surabaya berada pada bulan September - November. Berbeda dengan Sakura yang bermekaran antara bulan Februari hingga April, tergantung daerahnya masing - masing. Jika dilihat dari jauh, sepintas memang tak ada beda antara Tabebuya dan Sakura, tapi jika dilihat dari dekat, kelopak Tabebuya jauh berbeda dengan Sakura. Kelopak Tabebuya berbentuk tubular dan seperti terompet, sedangkan Sakura berbentuk seperti mawar kecil. Selian itu, dari segi klasifikasi tumbuhan, kedua pohon ini juga berbeda sebagai berikut :

Tabebuya
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Ordo : Lamiales (tumbuhan berbunga dari klad )
Famili : Bignoniaceae (bunga tubular, satu famili dengan jacaranda, tulip afrika dan bunga terompet)
Genus : Tabebuia
Spesies : T. rosea

Sakura
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Ordo : Rosales (tumbuhan berbunga dari klad Rosidae)
Famili : Rosaceae (satu famili dengan ceri, aprikot, pear, plum, raspberry dan strawberry)
Genus : Prunus
Spesies : P.serrulata


Dibalik keindahan Tabebuya dan Sakura, ada filosofi sederhana namun begitu dalam. Keduanya hanya mekar dalam waktu singkat, lantas gugur dengan tetap mempertahankan kecantikannya. Tak ada penyesalan sama sekali, karena tahun depan, mereka pasti akan kembali berbunga dengan indah.  Kehidupan kadang juga berjalan seperti itu. Ada kalanya hidup kita begitu berbunga, kita merasakan puncak dari segala yang tengah diperjuangkan, namun suatu saat entah kenapa tiba - tiba semuanya diambil begitu saja dari kita. Saat itu terjadi, lepaskan saja semuanya dan ihklaskan. Tuhan pasti akan memberi yang terbaik untuk kita, di cerita selanjutnya. Sama seperti Tabebuya dan Sakura yang pasti bermekaran lagi di musim selanjutnya.


Tabebuya yang telah berguguran


Share:

Memutar Waktu di Langit Bosscha

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Gelap tak selamanya pertanda dari petaka. Terkadang kita lupa, dibalik gelap yang menerima serapah dari semua orang, ada kerlip bintang yang justru hanya dapat dilihat saat gelap."
―Anggita Ramani

Bagi yang pernah menonton film anak garapan sutradara Riri Riza - Mira Lesmana berjudul "Petualangan Sherina", pasti sudah sangat paham ketika kata kunci Bosscha disebutkan. Observatorium Bosscha merupakan salah satu lokasi adegan film saat Sherina (Sherina Munaf) dan Sadam (Derby Romero) kabur dari kejaran penculik, lantas melihat bintang dengan teropong Zeiss di saat malam berbintang. Di masa itu, Bosscha menjadi tempat impian bagi sebagian besar anak untuk mengikuti jejak "Petualangan Sherina". Sebenarnya, tempat apakah Bosscha itu? Apa saja yang ada di dalam Bosscha? Yuk, mari berpetualang, memutar waktu di langit Bosscha!


SEKILAS TENTANG BOSSCHA

DULU 

Observatorium Bosscha dibangun oleh NISV (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Pada awal berdiri, observatorium ini diberi nama Bosscha Sterrenwacht. Selain atas prakarsa NISV, pembangunan Bosscha tak luput dari jasa seorang tuan tanah di Perkebunan Teh Malabar sebagai penyandang dana utama pembelian teropong bintang. Beliau adalah Karel Albert Rudolf Bosscha, sehingga nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium tersebut.

Observatorium Bosscha tahun 1930 (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Pembangunan Rumah Kupel tempat teleskop Zeiss (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

Pembangunan Bosscha menghabiskan waktu 5 tahun, dimulai dari tahun 1923 - 1928. Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bossca kepada pemerintah RI. Ketika ITB berdiri di tahun 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB dan difungsikan sebagai lembaga penelitian serta pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

SEKARANG

Pada tahun 2004 lalu, Observatorium Bosscha resmi dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah Indonesia. Tak berhenti sampai disitu, tahun 2008 Observatorium Bosscha ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional yang harus diamankan. Saat ini, Bosscha merupakan lembaga riset milik ITB di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA ITB).

Selain itu, Observatorium Bosscha juga menerima kunjungan baik dari instansi atau pun perorangan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Untuk kunjungan umum yang bersifat pribadi, perseorangan atau keluarga hanya dibuka pada hari Sabtu sebanyak 4 sesi mulai dari jam 09.00 WIB - 14.00 WIB. Pada jam tersebut, pengunjung hanya akan mendapatkan penjelasan singkat tentang teleskop Zeiss serta ke ruang multimedia tanpa disertai pengamatan terhadap benda langit. Biaya kunjungan per orang sebesar 15.000 saja. Jika ingin melakukan kunjungan disertai pengamatan benda langit, Observatorium Bosscha juga membuka jadwal kunjungan malam hari pada tanggal dan bulan tertentu. Khusus untuk jadwal malam dikenakan biaya sebesar 20.000. jadwal selengkapnya bisa klik di sini.


KUNJUNGAN SIANG KE BOSSCHA

Masuk ke dalam area Observatorium Bosscha akan disambut oleh sejuknya udara di dataran tinggi Lembang, pepohonan hijau, bunyi jangkrik serta semilir angin yang menyejukkan hati. Di bagian depan akan ada semacam plakat bertuliskan Bosscha Observatory dan semacam tugu peletakan batu pertama pada tahun 1923.

Kiri : Plakat observatorium ; Kanan : tugu peletakan batu pertama.
Setelah melewati tugu tersebut, anda harus berjalan sedikit menanjak lagi untuk mencapai Rumah Kupel tempat teleskop Zeiss berada, yang merupakan lokasi shooting film anak Petualangan Sherina. Bangunan putih berkubah mirip dome tersebut adalah bangunan pertama yang ada di Observatorium Bosscha, dirancang oleh arsitek yang juga guru dari Bung Karno, yaitu K. C. P. Wolf Schoemacher.

Rumah kupel teleskop Zeiss yang dikeliling oleh pepohonan hijau
Berfoto di tempat legendaris "Petualangan Sherina"
Di bagian depan rumah kupel ada beberapa foto benda langit hasil pengamatan dengan teleskop Zeiss. Kemudian, saat masuk ke dalam bangunan, pengunjung dijelaskan mengenai prinsip kerja teleskop Zeiss beserta fungsinya. Jika sedang tidak hujan, guide di rumah kupel akan membuka atap rumah kupel yang ternyata juga bisa diputar, bisa dilihat pada tayangan video di bawah.

Suasana ketika guide menerangkan tentang prinsip kerja teleskop Zeiss.




Setelah puas berada di dalam rumah kupel, tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Ruang Multimedia yang berada tak jauh dari sekitar rumah kupel. Di dalam sini akan dijelaskan mengenai sejarah singkat Bosscha hingga pengetahuan dasar tentang astronomi. Layaknya gedung bioskop, pengunjung akan diajak melihat film pendek seputar Bosscha, cerita rakyat astronomi (startale dan starlore), benda langit dan lain - lain.


Pengunjung juga diberi pengarahan singkat tentang software Stellarium, sebuah program komputer yang bisa digunakan sebagai simulasi pergerakan benda langit baik di masa lalu atau pun masa mendatang. Misalkan saja kita ingin mengetahui dimana letak rasi bintang Orion di tahun 2019. Tinggal masukkan tanggal dan waktu, maka sofware tersebut akan memprediksi dimana koordinat rasi bintang Orion. Pengunjung diperbolehkan mengcopy file video dan Stellarium asalkan membawa flashdisk atau tempat penyimpanan data lainnya.

Contoh penampakan Stellarium untuk memprediksi koordinat Orion di tahun 2019 dengan pengamatan dari Surabaya

TELESKOP BINTANG DI BOSSCHA

Di Bosscha terdapat beberapa rumah tempat teleskop bintang disimpan atau disebut dengan Rumah Kupel. Rumah kupel memiliki atap yang bisa dibuka atau diputar untuk menempatkan posisi teleskop bintang ke koordinat benda langit tertentu. Salah satu teleskop terbesar sekaligus tertua yang ada di Bosscha adalah teleskop Zeiss seberat 17 ton dengan panjang fokus 10,80 meter. Selain teleskop Zeiss, di Observatorium bosscha juga terdapat beberapa teleskop lain. Mulai dari teleskop untuk hilal, teleskop bamberg, teleskop Schmidt, teleskop GAO-ITB, teleskop Surya, dll. untuk pengamatan benda - benda langit dengan spesifikasi tertentu.

Teleskop Zeiss di dalam rumah kupel.

Teleskop Bamberg digunakan untuk melihat kawah bulan, gugus bintang dan planet. Selanjutnya Teleskop Schmidt merupakan salah satu teleskop yang tergolong langka di dunia hasil sumbangan UNESCO tahun 1960, digunakan untuk pengamatan bintang emisi garis hidrogen, bintang kelas M dan bintang Wolf Rayet. Teleskop GAO-ITB merupakan hasil kerja sama dengan Observatorium Gunma di Jepang, menggunakan teknologi canggih yang memungkinkan kontrol jarak jauh antara Gunma - Lembang. Teleskop Surya untuk mengamati penampakan matahari serta fenomena cuaca antariksa. Selengkapnya bisa dibaca di website resmi Bosscha-ITB (klik link).

MEMUTAR WAKTU DI LANGIT

Ketika berada di Ruang Multimedia - Bosscha, waktu terasa berputar kembali ke belakang, jauh sebelum istilah astronomi dikenal luas oleh masyarakat. Pemutaran film tentang Startale, Starlore  dan kearifan lokal astronomi, mengindikasi secara tidak langsung bahwa ilmu astronomi telah dikenal rakyat Indonesia sejak dahulu kala. Hal itu terbukti dari cerita rakyat, mitos serta legenda yang berhubungan dengan astronomi. Ditambah lagi, para pendahulu telah menggunakan bintang dalam melakukan kegiatan sehari - sehari seperti para nelayan atau pun petani.

STARTALE DAN STARLORE

Beberapa startale atau starlore yang dikenal berasal dari Jawa (), Sumatra () dll. (akan dibahas lebih lengkap di postingan selanjutnya). Kisah dari Jawa yang terkenal adalah adanya cerita tentang Betara Kala (raksasa) yang memakan bulan yang ditandai dengan adanya gerhana bulan.

(sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Dari pulau Sumatra terdapat legenda rasi Orion versi Indonesia, menceritakan kisah seorang penggembala yang memecahkan telur naga bernama Hala Na Godang. Di dalam astronomi batak, rasi orion menggambarkan Hala Na Godang, sedangkan sabuk Orion menggambarkan telur naga.

(sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

KEARIFAN LOKAL ASTRONOMI

Banyak kearifan lokal tentanga astronomi yang ada di Indonesia (akan dibahas lebih lengkap di postingan selanjutnya). Salah satu kearifan lokal tentang astronomi yang berasal dari Papua adalah tentang Bintang Yabi yang melambangkan naga. Ketika bintang ini muncul dari permukaan laut, menandakan adanya angin selatan di musim kemarau. Ibaratnya seperti naga yang muncul dan mengibas - ngibas ke permukaan laut sehingga laut agak bergejolak. Para nelayan tak berani untuk melaut, harus menunggu hingga bintang ini naik agak tinggi.

Nelayan di Papua yang menjelaskan tentang kearifan lokal astronomi di Papua (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Satu lagi contoh kearifan lokal dari Bira atau tempat pejuang kapal Pinisi berada. Di jaman dulu, pelayaran perahu Pinisi tidak menggunakan peta dan kompas. Rakyat Bira bergantung pada alam, seperti menggunakan bintang sebagai penanda arah.

Kapten Kapal Pinisi (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

Begitulah kira - kira petualangan saya di Bosscha. Di sana tak hanya mendapatkan foto yang instagramable, lebih dari itu semua, banyak hal baru yang bisa dipelajari seperti sejarah, cerita rakyat astronomi hingga benda - benda langit lainnya.



 

Share:

HOTEL MAJAPAHIT : Memoar 19 September 1945 di Antara Sisa Kemewahan Gaya Eropa

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"19 September 1945, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan mati di hari itu. Pagi itu, ribuan arek Suroboyo memenuhi jalan Tunjungan. Gelora amarah di dada seketika membara ketika melihat bendera merah-putih-biru kembali berkibar, seakan menghina sucinya darah pahlawan yang ditukar dengan warna merah-putih sebagai lambang kemerdekaan Indonesia. Tanpa komando dari siapa pun, arek Suroboyo memanjat tanpa takut ke atas hotel Yamato. Bersamaan dengan itu, satu per satu timah panas dari Sekutu menembus tubuh arek - arek Suroboyo. Satu per satu kawanku gugur di depan mata. Aku memejamkan mata, menahan tangis dan amarah yang menjadi satu. Aku terus memanjat. Sedikit lagi aku akan sampai di atas, hingga timah panas itu akhirnya menembus tubuhku. Rasanya tubuhku menjadi ringan, melayang di udara. Penglihatanku mulai kabur, tapi aku masih bisa melihat warna merah-putih itu akhirnya berkibar, berlatarkan langit biru yang cerah."

(Sebuah senandika "Seandainya Aku Pemuda yang Gugur di Tanggal 19 September 1945")
-Anggita Ramani-



Banyak yang mengira insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (Hotel Majapahit) terjadi tanggal 10 November 1945. Padahal, jelas tertulis di plakat dinding lantai 2 Hotel Majapahit bahwa insiden perobekan bendera Belanda terjadi tanggal 19 September 1945. Sebagai warga yang #BanggaSurabaya, melakukan #JelajahCagarBudayaSurabaya di Hotel Majapahit adalah salah satu cara untuk menghargai Sejarah besar bangsa Indonesia, khususnya di Surabaya.

MENGENANG MASA LALU HOTEL MAJAPAHIT


SEJARAH SINGKAT BANGUNAN

Bermula dari Sarkies Brother, keluarga pendiri hotel di berbagai dunia seperti The Eastern & Oriental  di Penang (1880), Hotel Raffles di Singapura (1887),  dan Hotel Strand di Birma (1901). Seperti sudah menjadi tradisi Sarkies Brother, Lucas Martin Sarkies (putra Martin Sarkies) mendirikan Hotel Oranje (Hotel Majapahit) tahun 1911 di Surabaya.

Hotel Oranje tahun 1911
Letak plakat peletakan batu pertama oleh Eugene Lucas Sarkies
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Eugene Lucas Sarkies pada 1 Juni 1910, yang merupakan putra dari Lucas, sekaligus cucu dari Martin Sarkies. Penamaan Hotel Oranje diambil dari nama pahlawan Belanda Willem van Oranje.

Plakat berbahasa Belanda tentang peletakan batu pertama

PERGANTIAN NAMA HOTEL

Hotel Majapahit pernah mengalami beberapa kali pergantian nama mulai awal berdiri hingga 2006 :
  • Tahun 1911 : Hotel Oranje
  • Tahun 1942 : Hotel Yamato
  • Tahun 1945 : Hotel Merdeka
  • Tahun 1946 : Hotel L.M.S (Lucas Martin Sarkies)
  • Tahun 1969 : Hotel Majapahit
  • Tahun 1996 : Mandarin Oriental Hotel Majapahit
  • Tahun 2006 - sekarang : Hotel Majapahit

MEMOAR 19 SEPTEMBER 1945

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tak semudah itu mendapatkan pengakuan dari tentara sekutu, terutama Belanda yang masih ingin menguasai kembali Indonesia. Pada 18 September 1945, tentara sekutu dipimpin W.V.Ch. Ploegman tiba di Surabaya dan menempati kamar no. 33 Hotel Yamato. Ploegman lantas mengibarkan bendera Belanda berwarna merah-putih biru di tiang sebelah utara Hotel Yamato. Hal itu membuat Arek - arek Suroboyo marah, lantas berkumpul di sepanjang jalan Tunjungan pada 19 September 1945.

Plakat cerita insiden perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945

GAGALNYA PERUNDINGAN DI KAMAR NO. 33

Kamar No. 33 di hotel Majapahit merupakan salah satu saksi bisu meletusnya Insiden Perobekan Bendera Belanda 19 September 1945. Di kamar itu pula dulunya terdapat semacam 'pintu darurat' yang tembus ke perkampungan.

Kamar Merdeka No, 33

Kisah di kamar ini bermula ketika Sudirman sebagai perwakilan RI yang dikawal oleh beberapa arek Suroboyo, meminta Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda, tetapi Ploegman menolak. Perundingan tersebut pun gagal setelah Ploegman tewas dicekik Sidik dan tentara Belanda menembak Sidik. Beberapa pemuda yang mengawal Sudirman langsung berlari ke arah tiang bendera tempat bendera merah-putih-biru dikibarkan.

Tanpa dikomando, arek Suroboyo yang ada di sekitar jalan Tunjungan turut naik ke atas hotel. Rentetan peluru mulai ditembakkan oleh tentara sekutu dari bawah. Tapi itu semua tak menyurutkan semangat arek Suroboyo, hingga akhirnya mereka berhasil merobek bagian biru dari bendera Belanda itu disertai pekik "Merdeka". Sang merah putih pun kembali berkibar tanpa ada warna lain yang menyertai.


SISA KEMEWAHAN GAYA EROPA DI HOTEL MAJAPAHIT

Kembali ke masa kini, bangunan yang masih berdiri megah di Jalan Tunjungan itu, merupakan salah satu hotel tertua di Indonesia dengan keaslian bangunan yang masih dipertahankan. Banyak sekali bagian bangunan yang masih menunjukkan sisa kemewahan abad lampau dengan gaya khas kolonial Belanda, yang tentunya juga memiliki nuansa gaya Eropa yang elegan.

GAYA ART NOUVEAU - ART DECO

Bangunan yang terletak di Jalan Tunjungan ini dirancang oleh arsitek kelahiran Inggris Regent Alfred John Bidwell, memadukan gaya Art Nouveau dan Art Deco. Salah satu gaya Art Nouveau ada di bangunan yang berada di lantai 2 Hotel majapahit, tempat plakat kisah Insiden Perobekan Bendera Belanda pada 19 September 1945.

 Aliran Art Nouveau identik dengan garis lengkung sebagai pemberontakan atas garis lurus dan geometris primitif
Sedangkan gaya Art Deco tampak kental pada ornamen kaca berbentuk persegi yang geometris serta tersusun dalam pola tertentu. Selain itu juga tampak pada ornamen tradisional dan furniture berbahan kayu jati.

Art Deco : Ornamen kaca berbentuk persegi geometris

BALLROOM BALAI ADIKA

Ballroom bergaya Eropa (Balai Adika) masih menunjukkan sisa kemewahan abad lampau di masa kolonial Belanda. Deretan kursi cantik, dekorasi ruangan serta lampu ruang yang klasik semakin menambah suasana Eropa di jaman dulu. Selain itu, ballroom ini dulu juga digunakan untuk pertunjukan opera atau sekadar spot dansa tuan dan nyonya Belanda.

Bagian ballrom Balai Adika diambil dari lantai 2
Swafoto (selfie) dari lantai 2 dan mencoba menari di lantai 1 ballrom Balai Adika

KORIDOR LENGKUNG

Hotel Majapahit memiliki koridor lengkung (arch) bergaya khas kolonial Belanda dengan warna dominan putih, jendela besar, pintu panjang dan atap yang tinggi. Koridor lengkung itu juga berfungsi sebagai akses sirkulasi udara, penepis air hujan dan sinar matahari langsung.


Koridor lengkung di Hotel Majapahit

KOMPONEN BOVENLICHT

Memasuki lobby hotel, pada langit - langit bangunan akan ada komponen jendela kaca kecil berwarna yang disebut sebagai bovenlicht atau kaca patri. Bovenlicht ini merupakan salah satu ciri khas gaya kolonial Belanda. Bovenlicht ini juga tersebar di beberapa bagian bangunan di hotel Majapahit.

Bovenlicht di lobby hotel
Komponen Bovenlicht di beberapa bagian bangunan Hotel Majapahit

REFERENSI :

  • Brosur dan wawancara pihak Hotel Majapahit
  • Wawancara Alm.Bapak Hartoyik, Ketua LVRI (7 Mei 2017)


Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Instagram Gallery

My Community


ID Corners
Kumpulan Emak2 BloggerBlogger Perempuanindonesian hijab blogger