Dialogku dengan Tuhan yang Dijawab Secara Instan: Momen Kritis Sebelum Bertemu Jodoh

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Menikah itu ibadah seumur hidup. Namun, jika belum waktunya menikah, kerjakan ibadah yang lainnya dulu (Meyda Sefira dalam Kajian Pranikah di Masjid Salman ITB, 2018).

Bandung adalah saksi bisu langkah awalku untuk berani mengikhlaskan serta menegaskan komitmen seorang lelaki yang sudah meng-ghosting-ku. Ya, aku pernah berada dalam hubungan toxic yang menguras energi serta waktuku yang sangat berharga. Menagih janji untuk menikah adalah satu-satunya hal yang aku kejar saat itu.

Prinsipku saat itu, "kalau lelaki berani menjanjikan seorang wanita sebuah pernikahan serta meminta wanita tersebut dari orang tuanya, saat ingin menyudahi ya wajib pamit juga dengan baik-baik. Jangan asal pergi seperti pengecut, yang beraninya hanya janji, tapi saat ditagih langsung menghilang bak setan."

Setelah kejadian tahun 2018 itu yang cukup membuatku depresi serta dibuat tak percaya diri, beberapa laki-laki pun mulai mendekat. Beberapa ada yang cuma penasaran, beberapa lagi ada yang hobi ghosting juga. Aku masih sabar menghadapi kelakuan para lelaki pengecut itu, hingga puncaknya ada satu kejadian yang membuatku sangat kecewa. Namun, aku seperti memiliki kekuatan lain untuk menyudahi lingkaran setan ghosting yang dibuat para lelaki pengecut itu.

Saat itu aku berada di puncak kecewa tertinggiku, dimana aku sudah tak bisa lagi menangis atau merasakan sedih. Rasanya ya kosong aja gitu. Aku pun melakukan dialog panjang dengan Allah yang kalau diingat-ingat lagi, kata-katanya lumayan membuatku merinding dan...

Boom!!

Allah menjawab doaku hari itu juga, selang dua jam aku berdialog denganNya. MasyaAllah merindingnya masih terasa sampai sekarang. Ya, aku tahu Allah pasti menjawab semua dialog hambaNya, tapi aku sama sekali tak menyangka bakal dijawab secara instan.

Sebelum aku spill the tea apa sih yang aku ucapkan dalam hati sampai dijawab secara instan oleh Allah, aku akan ceritakan runtutan ceritaku dari patah hati sampai momen kritis sebelum akhirnya aku menikah dengan suamiku. Ceritanya lumayan panjang, tapi aku harap singlelillah yang membaca tulisan ini bisa punya semangat kembali. Ambil baiknya saja dan buang segala keburukan yang menyertai cerita ini agar bisa jadi pelajaran yang bermakna.


Dari Bandung Aku Belajar Ikhlas

"Assalamu'alaikum, Nip, minggu depan aku mau ke Bandung, temenin, ya waktu di sana?" Ketikku pelan di layar smartphone. 

"Wa'alaikumsalam, boleh-boleh, mau berap hari di sini? Trus mau kemana aja, nih?" Teman semasa kuliahku dulu langsung menjawab pesan di aplikasi WhatsApp yang aku kirim.

"Cuma 2 hari aja, kok, trus pengen ke Bosscha aja," jawabku singkat.

"Weyy, serius cuma ke Bosscha aja??? Bandung banyak tempat bagus loh?"

"Serius, Nip, aku cuma mau ke Bosscha aja, sekaligus mau menenangkan diri. Eh tapi, jalan-jalan di sekitar alun-alun Bandung boleh juga sih."

"Oalah, ya wis kalo gitu. Kabarin lagi, ya, kalau mau berangkat."

"Okayy."

Seminggu kemudian, aku benar-benar berangkat ke Bandung sendirian dan naik kereta malam. Pikiranku sudah tidak pada tempatnya. Gelisah, galau, dan merana atau disingkat GEGANA kalau kata seniorku dulu. Jangan tanya rasa takutku kemana naik kereta sendirian malam-malam. Rasanya sudah putus semua urat takutku. 

Aku naik kereta dari kota Kediri, tempatku bekerja kala itu. Perjalanan ke Bandung memakan waktu sekitar 15 jam. Meskipun dalam keadaan kalut karena jadi korban ghosting, aku sungguh menikmati perjalanan ke Bandung. Pemandangan paling menakjubkan saat melewati semacam dataran tinggi dan kereta sedikit melambat. Saat itu lepas subuh, matahari masih berwarna kemerahan. MasyaAllah betul-betul indah ciptaanNya.

Aku sampai di Bandung sekitar pukul 7 pagi. Di sana sudah ada teman yang menjemputku. Kami pun bergegas ke kos untuk menaruh barang, sarapan, dan mulai berpetualang di Bandung. Mulai dari mencari Bandros di Alun-alun Bandung, menelusuri jalan Asia Afrika hingga Braga, mencicipi seblak asli Bandung di dekat ITB, dan berakhir di masjid Salman ITB.

Saat itu sebenarnya aku tidak tahu kalau aka ada kajian dengan Sefira Meyda di Masjid Salman ITB. Temanku juga baru tahu saat bertemu dengan salah satu juniornya, lalu sekalian mengajak kami berdua untuk ikut. Entah kenapa, kebetulan juga tema yang diangkat adalah tentang pranikah. Di kajian inilah aku sempat meneteskan air mata saat pembicara bercerita tentang sikap seorang wanita saat menghadapi lelaki yang menjanjikan sebuah pernikahan, tapi menyuruh sang wanita untuk menunggu.

Sebagai seorang wanita, kita bisa memilih mau menunggu dengan resiko tak ada jaminan pasti bakal tetap menikah atau mundur dan mengikhlaskan segala sesuatu hanya kepadaNya (Meyda Sefira).

Temanku sepertinya tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Sepulang dari kajian, temanku berbicara dari hati ke hati. Ternyata dia juga sedang berada dalam fase yang sama sepertiku, bedanya si lelaki hanya meminta untuk menunggu, dan di saat bersamaan ada seorang lelaki yang serius ingin menikahinya tanpa harus menunggu. Kami pun saling menguatkan dalam tangis yang sama-sama kita tahan dengan senyuman.

Keesokan harinya, aku akhirnya bisa pergi ke Bosscha. Tempat impian yang ingin aku kunjungi sejak munculnya film "Petualangan Sherina" belasan tahun yang lalu. Di sana aku dan temanku bisa sedikit melupakan masalah yang sedang kami hadapi hingga tak terasa sudah waktunya aku pulang ke perantauan.

Sebelum berpisah, kami kembali saling menguatkan. Dia berpesan kepadaku untuk selalu sholat istikharah agar hati menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan dan jangan sampai salah menafsirkan pertanda hasil sholat istikharah. Saat itu aku belum seberapa paham dengan kata-katanya tentang "jangan sampai salah menafsirkan tanda hasil istikharah", tapi aku tetap mengingatnya sebagai alarm.


Healing dengan Solo Traveling

Setelah bertemu dengan Bandung, aku segera menyelesaikan urusanku dengan lelaki pengecut itu. Aku konfrontasi lewat WhatsApp, karena memintanya untuk bertemu dan memberikan penjelasan rasanya sama dengan seperti meminta bertemu dengan presiden. Setelah itu, barulah muncul pesan balasan yang intinya dia udah tidak mau melanjutkan hubungan ini.

KZL kan bacanya?

Sama aku pun begitu. Hanya saja kalau diingat-ingat lagi sekarang, yang ada malah jadi cerita lucu yang menggemaskan. Setelah kejadian itu, ada semacam keinginan untuk healing ke kota-kota lain, dan aku benar-benar ingin sendiri. Entah itu hanya melancong atau mengabdikan jadi relawan di kota lain. Ketika berada di tempat lain yang jauh dari Surabaya, rasanya bisa sedikit damai dengan sisa racun dari toxic relationship yang baru saja aku putus penyebarannya.

Selama masa pembersihan hati dari racun tersebut, aku bisa menemukan kembali mimpi beserta jati diri. Kadang aku juga dipertemukan dengan orang-orang yang punya jalan cerita cinta mirip denganku. Kadang aku juga mendengar banyak cerita baru dari orang baru yang aku temui. Misalnya saja seperti cerita kang ojol mantan preman lokalisasi d*ll* di Surabaya, cerita seorang ibu yang berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak keduanya saat suaminya selingkuh, cerita seorang teman relawan yang rela bekerja jauh dari kampung halaman hanya untuk melupakan lelaki yang batal menikahinya dan masih banyak lagi cerita-cerita dari perjalanan yang aku lakukan.

Entah kenapa mereka nyaman bercerita begitu saja. Mungkin karena posisi tidak saling kenal sepenuhnya dan jarak domisili yang jauh, sehingga mereka merasa lebih nyaman bercerita dengan orang asing. Aku pernah membaca bahwa pasti ada alasan Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang, entah untuk bercerita atau mendengarkan, entah untuk sesaat atau selamanya, dan entah untuk memberi pelajaran atau mempersatukan dalam sebuah ikatan.


3 Orang Mendekat dengan Inisial Awal Sama, Apakah Salah Satunya Jodohku?

Setelah puas solo traveling selama hampir setahun, aku mulai ikut komunitas dan beberapa kegiatan sosial. Dari situ muncul 3 nama dengan inisial awal sama yang sedang "dekat" denganku. Entah kebetulan atau ada sesuatu yang ingin Allah tunjukkan padaku. Anggap saja inisialnya A, aku samarkan jadi Alkana, Alkuna, dan Alkena.

Seperti biasa, aku akan selalu mengenalkan laki-laki yang dekat denganku kepada Ibu. Aku juga mulai menggencarkan lagi sholat istikharah, memohon pada Allah agar diberi petunjuk apakah salah satu di antara 3 orang ini adalah jodohku. Alkana dan Alkena ini mencoba maju secara intensif, sedangkan Alkuna ini berasa seperti "Kakak" buatku. Akan tetapi, di tengah perjalanan, Alkena pakai jurus ghosting untuk menunjukkan seberapa pengecutnya dia. Ya, sudah, aku tak ambil pusing karena sudah malas berurusan dengan lelaki pengecut.

Alkana akhirnya mengucapkan komitmennya, tapi memintaku untuk menunggunya sampai dia lulus kuliah. Awalnya aku ragu, tapi dia meyakinkanku, dan mohon maaf kali ini aku tidak bodoh. Aku coba turuti dan pantau apa maunya selama beberapa bulan.

Ternyata, ci luk ba!!! Lagi-lagi aku kena jurus ghosting lagi dari seorang lelaki pengecut. Saat ditanya komitmen untuk menikah, jawabannya masih mengambang. Oke, kali ini aku diam saja, dan tak peduli lagi dengan para lelaki antik ini. Bodo amat!

Tinggal si Alkuna nih, yang saat itu hanya aku anggap sebagai kakak saja. Aku lampiaskan kekesalanku padanya tentang kedua lelaki itu. Pendapat si Alkuna inilah yang akhirnya membuatku berada di momen kritis dalam menanti jodoh. Ada satu kata-katanya yang membuatku sedikit marah, tapi perkataannya saat itu benar juga.


Momen Kritis Menanti Jodoh

"Perempuan itu punya hak untuk memilih. Mau menunggu atau mengikhlaskan. Kalau kamu memilih untuk menunggu, tanggung sendiri resikonya kalau akhirnya di-ghosting."

Duer!! Rasanya seperti ada petir melintas di atas kepalaku. Kak Alkuna ini meskipun humoris, sekalinya ngomong bisa bikin orang kicep. Namun, saat itu aku justru marah. Aku marah karena merasa, "kamu tahu apa tentang hidupku?". Mungkin egoku terluka karena selama ini aku merasa benar dengan segala keputusanku.

Setelah rentetan kejadian itu, aku mendapat kabar dari teman sesama komunitas kalau si Alkena ternyata sudah lamaran dengan anggota komunitas yang dulu menjodohkanku dengan Alkena. Bertambah lagi rasa marah yang makin membuncah di dada. Sudah lelah rasanya menghadapi semuanya sendirian.


Dialog dengan Tuhan dan Jawaban InstanNya

Aku masih ingat sekali hari itu hari Jumat. Aku berada di stasiun Surabaya Kota, sedang menanti kereta untuk kembali ke perantauan. Mataku menatap kosong ke arah langit dengan segala kekecewaan yang sudah ingin meledak. Saat itulah, aku mulai berdialog dengan Tuhan, merintih dengan segala rasa sakit yang berkumpul jadi satu. Pasrah, hanya kepadaNya aku mencurahkan segala beban di hati.

Ya Allah, hamba sudah lelah dan kecewa berat dengan manusia. Berharap kepada mereka, rasanya sangat menyakitkan. Aku juga sudah tak tahu lagi mana yang datang duluan menyapaku, entah janur kuning atau bendera kuning. Jika memang janur kuning itu datang duluan kepadaku, tunjukkan, serta mudahkan jalan untuk bertemu dengan jodohku. Jika bendera kuning itu datang duluan kepadaku, izinkan aku istiqomah beribadah kepadamu agar aku bisa husnul khotimah saat bertemu dengan kematian (Doaku saat itu yang dikabulkan secara instan oleh Tuhan). 

Tepat setelah aku selesai berdialog dengan Tuhan, kereta datang, aku pun naik ke dalam kereta. Seperti biasa aku akan selalu menghadap ke jendela, menikmati pemandangan luar dari kaca jendela. Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk ke dalam ponselku. Seseorang yang aku tahu, tapi tak terlalu kenal tiba-tiba bertanya apakah aku sudah ada yang melamar atau belum. 

Deg! Baru saja aku selesai berdoa dalam dialog monologku kepada Tuhan. Apakah ini jawabanNya? 

Badanku langsung terasa lemas, jari-jemariku turut gemetar saat memberikan jawaban kepada seseorang itu. Rasanya seperti dialog yang dijawab langsung oleh Allah. Siapa yang tak gemetar ketika rasanya Allah benar-benar dekat seperti jarak antara dahi dan sajadah saat sujud. MasyaAllah, Allahuakbar!

Aku pun memberikan jawaban netral dan meminta waktu untuk sholat istikharah dahulu selama seminggu sebelum melangkah lebih lanjut. Selama itu pula aku melarangnya untuk menghubungiku kalau tidak penting. Sebab aku sangat trauma dengan berbagai perbincangan via chat sebelum halal.


Sholat Istikharah, Hati-hati Memaknai Pertandanya

Sebelum sholat istikharah, aku berusaha menetralkan hati dan pikiran. Aku buang semua rasa dan harapan, agar hati benar-benar kosong, tak ada rasa condong kepada manusia. Selain itu aku meminta saran kepada beberapa temanku, termasuk temanku yang dari Bandung. Dia kembali mengingatkanku untuk tidak semudah itu percaya jika ada jawaban istikharah yang datang melalui mimpi. Bisa jadi itu setan yang menunggangi, agar manusia bisa salah mengartikan hasil sholat istikharah.

Lalu, yang benar bagaimana?

Sebagai gambaran bagaimana setan bisa amat sangat menyesatkan jiwa manusia yang sedang terluka, aku akan berbagi sedikit cerita tentang sholat istikharahku sepulang dari Bandung. Jadi, sepulang dari Bandung, posisi hati masih setengah terluka, aku langsung tancap gas sholat istikharah untuk meminta petunjuk apakah benar dia jodoh yang harus aku pertahankan?

Selepas sholat istikharah, aku memang selalu bermimpi tentang dia. Hanya saja, hati kecilku selalu berteriak bahwa bukan dia jodohku. Ada secuil perasaan gelisah yang aku rasakan ketika meyakini bahwa dia jodohku, meskipun setelah sholat istikharah wajahnya selalu nampak di mimpiku.

Nah, ternyata itu contoh penafsiran sholat istikharah yang kurang tepat. Harusnya ketika melakukan sholat istikharah, hati harus dalam keadaan netral dan tidak condong kepada siapa pun. Jawabannya pun tak melulu lewat mimpi. Bisa jadi jawabannya muncul lewat ketentraman hati. Saat Allah ridho', segala sesuatu akan dipermudah, semua jalan akan terbuka lebar, dan hati akan cenderung damai.

Setelah aku melakukan sholat istikharah selama beberapa hari, entah kenapa hatiku jadi damai. Aku pun mempersilakan orang ini untuk datang ke rumah dan mengutarakan maksudnya kepada ibu. Alhamdulillah ibu langsung menyuruh kami untuk datang menemui wali nikahku nanti, yaitu kakak laki-laki dari Alm. Bapak. Alhamdulillah lagi, Pakde setuju-setuju saja, dan tidak ragu untuk mengiyaka maksud baik lelaki ini.

Proses kami menuju pernikahan begitu cepat. Januari dia mengutarakan maksudnya, April kami lamaran, dan Juni kami pun melangsungkan pernikahan. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya jalan cerita cintaku bisa langsung sesingkat ini setelah mengalami banyak hal menyakitkan di tahun-tahun sebelumnya.

Oh iya, pasti banyak yang penasaran bagaimana nasib Alkuna, apakah dia lelaki yang tiba-tiba melamarku? Sayang sekali, lelaki yang melamarku bukan Alkuna yang sudah aku anggap Kakak sendiri. Beliau pun juga sudah menikah tahun lalu. Lelaki yang melamarku adalah lelaki asing yang aku pun hanya sebatas tahu namanya saja, tak kenal karakter maupun kebiasaannya. Aku hanya meyakini lelaki ini lewat sholat istikharah beserta petunjuknya yang aku lakukan terus, bahkan sampai di malam sebelum akad.


Happy Ending, Welcome to The Jungle Part 2

Siapa yang pas kuliah suka mengeluh saat tugas tiada akhir, lalu sesumbar, "duh, mending nikah aja lah daripada kuliah". Yakin, menikah adalah solusi dari tugas kuliah yang jumlahnya tak kenal basa-basi? Udah tau belum kalau menikah itu ibadah seumur hidup dengan orang yang sama? Udah paham juga belum kalau menikah itu tak sekadar suka sama suka? Lebih dari itu, menikah itu artinya menyatukan dua keluarga. Aku tekankan lagi, dua keluarga, ya, bukan cuma dua kelapa eh kepala.

Menikah memang happy ending dari cerita cinta, tapi kamu salah besar kalau berharap setelah menikah kehidupanmu akan selalu indah dan mudah. No. Tidak semudah itu, Senorita. Kalau kehidupan setelah menikah itu mudah, hadiahnya ya panci, bukan surga dari Allah.

Alhamdulillah, atas seizin Allah, aku menikah di usia 26 tahun dengan suamiku. Sudah cari jauh-jauh sampai ke kota lain, eh, ternyata jodohnya cuma beda kecamatan aja. Jodoh memang rahasia Allah yang tak bisa ditebak. Dalam kasus ceritaku memang benar-benar surprise banget proses bertemu dengan jodoh yang sebenarnya.

Setelah menikah, memang betul aku merasakan bahwa menikah itu bukan ending, tapi akan terus ongoing.  Alumni Kampus Perjuangan pasti paham banget makna ucapan "welcome to the jungle!". Nah, menurutku pribadi, kehidupan setelah menikah memang seperti itu adanya, penuh perjuangan sekaligus harapan.

Share:

Cara Membuat Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Sebuah desa di Jawa Timur mendadak gempar karena sungai yang ada di sekitar mereka warnanya berubah jadi merah seperti darah. Para warga mengaku tak ada bau menyengat apa pun ketika sungai sepanjang 1 km itu tiba-tiba berubah warna. Panik, gelisah, dan takut pasti dirasakan oleh warga desa. Sungai yang awalnya baik-baik saja, tiba-tiba berubah merah, menyerupai darah hanya dalam waktu tak sampai 24 jam. Setelah ditelusuri oleh RT setempat dan beberapa warga, bagian permukaan air sungai yang berwarna merah seperti darah itu, terasa lengket dan berminyak. Namun, bagian air sungai yang lebih dalam tak berubah warna jadi merah. Jadi seperti ada lapisan minyak merah di permukaan air sungai. Kecurigaan pun mengarah pada limbah minyak pabrik kerupuk rambak yang ada di sekitar situ.

Lilin aromaterapi

Cerita di atas adalah kisah nyata yang dialami warga desa Jumeneng, Mojokerto, Jawa Timur pada awal Januari 2022 lalu (Sholahudin, sindonews.com, 2022). Diduga, warna sungai berubah jadi merah darah akibat limbah minyak dari pabrik kerupuk rambak. Padahal, sungai ledeng yang melintasi desa tersebut sering digunakan untuk irigasi pertanian. Akibatnya, sementara waktu para warga desa tak bisa mengairi sawah dengan air sungai itu.


Minyak Jelantah dan Bahaya Limbahnya

Berita tentang Desa Jumeneng baru satu dari sekian kasus pencemaran limbah minyak bekas pakai yang terjadi di Indonesia. Menurut data dari United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia masuk dalam 4 besar negara yang paling banyak mengonsumsi minyak goreng. Selaras dengan data tersebut, konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia telah mencapai 13 juta ton (Oilseeds and Products Annual, 2019). Sayangnya, jumlah besar konsumsi minyak goreng dj Indonesia tidak dibarengi dengan edukasi tentang bahaya minyak goreng bekas atau minyak jelantah.

Selain berbahaya bagi kesehatan, limbah minyak jelantah termasuk kedalam golongan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) bagi lingkungan. Ketika limbah minyak jelantah dibuang begitu saja,  saluran air atau dreinase akan tersumbat, bakteri pun akan berkembang biak di tempat itu.

Minyak jelantah

Ditambah lagi, minyak jelantah yang dibuang sembarangan nantinya akan mengalir ke sungai hingga ke laut. Dari sini saja sudah terbayang, berapa banyak kerusakan lingkungan yang sudah dibuat akibat pembuangan limbah minyak jelantah sembarangan. Tumbuhan yang hidup di dalam ekosistem laut bisa terancam punah karena tidak mendapatkan cukup sinar matahari dalam proses fotosintesis. Hal itu terjadi akibat limbah minyak jelantah menutupi lapisan permukaan air, sehingga sinar matahari tak bisa menembus permukaan laut dengan baik. Sama persis dengan kasus sungai darah warga Desa Jumeneng, hanya saja masih terjadi di lingkup sungai.

"Lantas, apa yang harus dilakukan manusia agar limbah jelantah tak mencemari lingkungan?"


Pemanfaatan Minyak Jelantah

Masih banyak orang yang belum teredukasi tentang bahaya minyak jelantah disertai cara untuk mengolahnya. Kebanyakan memanfaatkan minyak jelantah untuk digunakan kembali yang pastinya membahayakan kesehatan di masa depan. Bahkan, tak sega membuang minyak jelantah ke saluran pembuangan air. Padahal jika dimanfaatkan dengan tepat dan dikelola dengan benar, limbah minyak jelantah memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Sebut saja pemerintah Bandung dengan gebrakan program "Beli Minyak Jelantah (BETAH)". Lewat program BETAH, warga dapat menukar minyak jelantah dengan rupiah. Minyak jelantah tersebut akan diolah oleh Bank Sampah Resik untuk nantinya dijadikan bahan bakar nabati alias biodiesel.

Jelantah tidak diolah lagi oleh kita, kalau dibiarkan akan sangat mengganggu. Oleh karenanya, saya harap program ini bisa terus berjalan (Alm. Bapak Oded saat peluncuran program BETAH di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 25 September 2021.)

Selain program tukar minyak jelantah dengan rupiah, minyak jelantah juga bisa diolah jadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti sabun dan lilin. Sudah banyak pelaku bisnis yang mengembangkan produk ramah lingkungan dari minyak goreng bekas pakai. Sebut saja Kertabumi Recycling Center, berbagai UMKM, dan lain-lain.


Potensi Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Lilin Aromaterapi

Lilin aromaterapi adalah lilin yang mengandung minyak esensial. Minyak esensial sendiri merupakan cairan pekat yang berasal dari bahan-bahan alami seperti kulit lemon, kulit jeruk, sereh, lavender, mawar, dan lain-lain. Lilin aromaterapi disukai karena mampu menyebarkan wangi hampir ke seluruh ruangan. Selain itu, aromaterapi dari minyak esensial punya manfaat bagi tubuh jika tidak digunakan berlebihan. Misalnya saja sereh, cengkeh, dan lemon yang bisa meningkatkan sistem imun tubuh.

Bahan baku untuk pembuatan lilin pada dasarnya adalah minyak atau lemak, sedangkan secara umum bahan yang sering digunakan antara lain  parafin, asam stearat, lilin lebah (beeswax), lilin kedelai, lilin minyak kelapa sawit, dan lilin batang. Pada pembuatan lilin aromaterapi, ada tambahan minyak esensial di akhir, sebelum lilin memadat.

Minyak jelantah
Alat dan bahan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah

Minyak jelantah sendiri bisa jadi campuran lemak dalam pembuatan lilin padat. Jadi bisa dilakukan campuran 1:1 antara minyak jelantah dan parafin/beeswax/asam stearat/lilin batang, dll. Sebelum digunakan, bisa dilakukan pra-treatment minyak jelantah untuk menghilangkan bau seperti merendam minyak dengan ampas tebu atau merendam minyak. Bisa juga dilakukan teknik infused oil (bisa baca di sini) pada minyak jelantah dengan bahan alam seperti kulit jeruk, batang sereh, lavender kering, dan sebagainya.


Cara Membuat Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah sebenarnya sangat mudah. Hanya butuh bahan baku berupa minyak jelantah, /parafin/beeswax/asam stearat/lilin batang, dan minyak esensial. Sebelum diolah jadi lilin aromaterapi, aku pribadi melakukan pre-treatment terhadap minyak jelantah dengan metode infused oil dengan bahan alam, agar tak perlu menambahkan minyak esensial untuk pewangi. Berikut ringkasan bahan, alat, dan langkah pembuatan lilin aromaterapi yang sudah pernah aku lakukan.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah adalah:

  1. Wadah kaca bertutup
  2. Panci teflon
  3. Termometer makanan
  4. Parutan kecil
  5. Stik es krim
  6. Benang lilin katun
  7. Minyak jelantah 50 gram
  8. Lilin batang bekas 50 gram (bisa diganti beeswax/parafin/asam stearat)
  9. Kulit jeruk dan sereh secukupnya
  10. Crayon bekas untuk pewarna (opsional)


Pre-treatment Minyak Jelantah

Siapkan bahan alam yang ingin digunakan untuk menyamarkan bau minyak jelantah dengan metode infused oil. Aku pakai kulit jeruk dan batang sereh yang sudah digeprek. Setelah itu, masukkan ke dalam wadah kaca yang bertutup. Ambil sekitar 100 mL minyak jelantah, saring, lalu tuangkan ke dalam wadah kaca berisi kulit jeruk dan sereh tadi. Panaskan dengan metode double-boiler, dengan suhu maksimal 60-70°C selama 3 jam. Aku pakai kompor biasa, jadi setelah mencapai suhu 70°C, kompor aku matikan beberapa menit, lalu aku nyalakan kembali sampai suhu 70°C lagi. Begitu seterusnya selama 3 jam. Suhu yang diukur suhu minyak di dalam wadah kaca, buka suhu air di luar wadah kaca. Dinginkan sampai suhu ruang, lalu diamkan lagi selama 2-3 hari.

Cara membuat lilin aromaterapi
Minyak jelantah hasil metode infused oil

Tahap Pembuatan Lilin Aromaterapi

Setelah minyak jelantah siap, baru ke tahap pembuatan lilin aromaterapi. Minyak jelantah yang sudah di-treatment dengan kulit jeruk dan sereh, sudah tidak berbau menyengat. Wangi kulit jeruk dan sereh hasil proses infused oil memang tak setajam ketika menggunakan minyak esensial, tapi cukup untuk membuat minyak jelantah beraroma kulit jeruk dan sereh yang khas. Setelah itu, barulah minyak jelantah siap digunakan.

Minyak jelantah

  1. Timbang minyak jelantah yang sudah di-treatment sebanyak 50 gram. Masukkan ke dalam panci.
  2. Timbang 50 gram lilin batang bekas, parut, lalu masukkan ke dalam panci bersama minyak jelantah.
  3. Siapkan gelas atau wadah kaca untuk mencetak lilin. Kaitkan benang lilin katun ke stik es krim, lalu letakkan di atas gelas kaca, sehingga benang menggantung lurus sampai dasar gelas.
  4. Masak minyak jelantah dan lilin batang hingga meleleh sempurna. Diamkan sebentar. 
  5. Parut crayon bekas sebagai pewarna, masukkan ke dalam panci. Aduk hingga warna bercampur sempurna. Kalau ingin beberapa warna, bagi adonan lilin jadi dua bagian dulu. Setelah itu baru diberi warna.
  6. Jika ingin menambahkan minyak esensial, bisa dilakukan setelah penambahan warna atau setelah adonan lilin hangat (jika tak ingin Ditambahkan pewarna).
  7. Tuang adonan lilin ke dalam cetakan secara perlahan. Tunggu hingga 1-2 hari untuk memastikan lilin padat sempurna.

Kesan Pemakaian Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Aku coba memakai lilin aromaterapi saat santai bersama anak. Bau yang dikeluarkan memang cenderung mild, dibandingkan lilin aromaterapi yang menggunakan minyak esensial. Entah hanya perasaanku atau memang begitu karena aku sendiri tidak melakukan penelitian secara terukur, nyamuk di sekitar ruang bermain anakku cenderung berkurang.

Aku pribadi suka wangi mild dari lilin aromaterapi yang aku buat, karena terlalu berlebihan dalam menghirup aromaterapi juga tak baik bagi kesehatan di masa depan. Saat lilin minyak jelantah dibakar juga tak ada lagi bau tak sedap dari minyak jelantah. Jadi, ya, seperti lilin aromaterapi pada umumnya dengan wangi yang lembut.

Yuk, coba juga bikin lilin dari minyak jelantah. Bahannya cenderung mudah didapat dan mudah juga cara membuatnya. Bisa banget lo kalau lilinnya mau dijual di sekitar rumah atau teman dekat. Limbah hilang, cuan pun datang.

Share:

Asah Future-skill Lewat Board Game Edukasi, Persiapkan Anak Hadapi Era Industri 4.0

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Anak-anak, besok kalau sudah dewasa ingin jadi apa, nih?" Tanyaku pada satu kelas SD di Surabaya saat jadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.

"Gamer, Kak!"

"Dokter"

"Youtuber!!!"

"Ilmuwan!!!!!"

"Selebgram!"

Jawaban mereka terdengar riuh dan gaduh, menunjukkan semangat mereka dalam bermimpi, karena mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia kata Nidji. Namun, ada yang menarik dari beberapa jawaban anak-anak itu. Ada beberapa profesi yang dulu tidak ada, seperti gamer, youtuber, dll., jadi muncul di era industri 4.0 saat ini. Bahkan, diprediksi akan muncul lebih banyak profesi baru lagi yang berhubungan dengan industri teknologi dan kreatif di masa depan.

Pertanyaannya adalah, siapkah kita sebagai orang tua atau guru atau pendamping anak untuk mempersiapkan skill yang mumpuni agar bisa bersaing dengan teknologi di masa depan?

Board Game Edukasi

Di zaman masa kecilku dulu, dokter, polisi, dan guru adalah profesi favorit yang pasti disebut ketika anak kecil generasi 90 an ditanya, "nanti kalau sudah besar mau jadi apa?". Aku juga masih ingat jelas jawaban pertamaku saat ditanya seperti itu.

"Polwan!"

Suaraku terdengar mantab dan yakin saat itu. Padahal, aku sendiri juga tak tahu sebenarnya apa sih tugas polwan itu. Aku hanya sering melihat polwan dalam balutan seragam coklat saat itu. Seiring bertambahnya usia, jawabanku pun berubah jadi "dokter" atau "guru". Lagi-lagi, aku hanya tahu kedua profesi tersebut karena sering melihat mereka di sekitarku.

Ketiga profesi tersebut memang lebih mudah dilihat anak-anak kala itu, sehingga mereka lebih mudah memvisualisasikan menjadi cita-cita. Ditambah lagi, arus informasi serta teknologi masih belum berkembang pesat saat itu. Jadi pengetahuan akan jenis profesi juga jadi terbatas.

Puluhan tahun berlalu, aku pun sudah tumbuh dewasa. Zaman juga sudah berubah jauh dari zamanku dulu. Teknologi berkembang sangat pesat, disertai kebutuhan profesi yang makin bervariasi. Sekarang kalau anak kecil ditanya,"besok kalau sudah besar mau jadi apa?", jawabannya pasti sudah bermacam-macam. Tak melulu dokter, guru, dan polisi. Sebuah tantangan baru bagi anak era industri 4.0, dengan orang tua di era 90 an.


Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Future Jobs

Di era industri teknologi dan kreatif ini, banyak sekali profesi baru yang muncul akibat kebutuhan era tersebut. Salah satu pengalaman menarik yang aku dapatkan saat jadi relawan pengajar adalah ada beberapa anak yang menjawab ingin jadi youtuber atau selebgram setelah dewasa nanti. Bukan satu atau dua orang, tapi beberapa. Ada juga yang menjawab ingin jadi gamer, digital illustrator, dan lain-lain.

Apakah jawaban mereka itu nyeleneh?

Tidak, jawaban anak-anak tersebut masih cukup wajar. Justru di era teknologi dan kreatif saat ini, profesi tersebut memang sedang berkembang dan mampu jadi pilar ekonomi Indonesia untuk masa depan. Bahkan, bisa jadi akan ada lagi banyak pilihan profesi baru dengan skill baru yang dibutuhkan di masa depan. Hal inilah yang sering jadi momok orang tua dari generasi 90 an yang punya anak di era pesatnya perkembangan ekonomi kreatif.

Aku pribadi sebagai orang tua dari generasi 90 an mulai was-was, apakah anakku bisa bersaing di masa depan nanti? Bisakah aku mengasah skill masa depan dengan gap zaman yang kita miliki? Mau tak mau pasti sebagai orang tua, aku wajib mempelajari soft skill untuk future job, agar nantinya aku bisa masuk ke dunia anakku, dan lebih mudah mengajari future-skill sesuai perkembangan zaman.

Rasa gelisah akan masa depan anak yang aku rasakan menuntunku untuk ikut webinar yang diadakan oleh ECOFUN Indonesia, dengan dukungan dari Maybank Foundation, ASEAN Foundation, Board Games ID, dan Arcanum Hobbies. Topik webinar tersebut adalah "Creative Economy Education through Game Based Learning (CREATONME)" atau bisa diartikan "Edukasi Ekonomi Kreatif lewat Pembelajaran Berbasis Permainan (CREATONME)".

ECOFUN Indonesia
Pembicara dalam webinar CREATONME

Pembicara dalam webinar ini sangat luar biasa karena termasuk orang-orang yang punya concern untuk pemberdayaan pemuda (empowering youth) dengan future-skill :

  1. Annisa Arsyad (Direktur ECOFUN Indonesia)
  2. Syaifullah, SE., M.EC., Ph.D (Direktur Industri Kreatif Film, Televisi dan Animasi, Kemenparekraf RI)
  3. Dr. Yang Mee Eng (Direktur Eksekutif ASEAN Foundation)
  4. Khairudin Abdul Rahman (CEO Maybank Foundation)
  5. Septi Peni (Co-Founder Board Game Land, Founder Ibu Profesional)
  6. Galih Aristo (Konsultan Kreatif, Founder Arcanum Hobbies)

Dari keenam pembicara tersebut, ada beberapa pembicara yang profesinya sudah masuk di future jobs era teknologi dan kreatif. Sebagian besar pembahasan berkutat pada cara untuk mengasah, serta meningkatkan skill anak muda, empowering youth, untuk persaingan pekerjaan di masa depan. 

Hal menarik dari webinar tersebut adalah CREATONME yang menunjukkan bahwa media edukasi berupa board game, ternyata memiliki dampak cukup signifikan dalam mengasah future-skill anak. Selain itu, board game edukasi merupakan bisnis yang menjanjikan dalam ekonomi kreatif. Tak lupa dijelaskan juga apa saja sih skill yang dibutuhkan anak di masa depan, berbagai profesi baru yang akan muncul, tantangan di era industri 4.0, serta gambaran bagaimana merancang board game untuk edukasi future-skill dan future jobs.


Yuk Kenalan Dulu dengan Ekonomi Kreatif

Apa itu ekonomi kreatif? Kenapa harus kenalan dulu dengannya? Hubungannya apa dengan skill dan pekerjaan masa depan?

Menurut Valentine Siagian, dkk, (2020), ekonomi kreatif adalah proses penciptaan, kegiatan produksi, serta distribusi barang atau jasa, yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan intelektual dalam prosesnya. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan sektor ekonomi kreatif sekitar 5,76 %, di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. 

Kreativitas akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi, dan pada saat yang bersamaan ramah lingkungan serta menguatkan citra dan identitas budaya bangsa (Sambutan Presiden Joko Widodo ketika membuka acara Temu Kreatif Nasional, 2015).

Ditambah lagi, sektor ekonomi kreatif ini paling berpotensi membuka lapangan kerja beserta profesi baru, sedangkan pelaku ekonomi kreatif akan jauh lebih siap menghadapi tantangan masa depan karena punya tiga karakteristik utama yang menjadi keunggulan mereka :

  1. Keterampilan kognitif yang tinggi untuk selalu mencari orisinalitas serta gagasan bisnis baru
  2. Pemahaman terhadap teknologi, serta cakap dalam menggabungkan atau menguasai teknologi terbaru
  3. Karakter komunitas kreatif


Future-skill di Era Industri 4.0

Di puncak revolusi industri 4.0, critical thinking dan problem-solving menempati urutan teratas daftar future-skill yang diprediksi akan dibutuhkan jelang 2025, selain kreativitas dan fleksibilitas. Dua keterampilan ini secara konsisten berada di urutan puncak daftar skill yang dibutuhkan untuk masa depan, sejak WEF (World Economic Forum) merilis laporan perdana pada tahun 2016. 

WEF juga memprediksi 85 juta pekerjaan akan tergeser oleh teknologi di tahun 2025. Peran manusia akan segera tergantikan seiring meningkatnya digitalisasi. Siapa yang masih menggunakan cara konvensional, akan kalah dan terlempar jauh. Sangat menarik karena akan timbul pertanyaan lagi, "kalau peran manusia tergantikan oleh teknologi, apakah fungsi eksistensi manusia itu sendiri?"

Satu-satunya yang bisa mengontrol teknologi adalah kreativitas manusia (Syaifullah SE., M.EC., Ph.D)

Jangan khawatir, menurut bapak Syaifullah dalam webinar CREATONME, kreativitas dan inovasi adalah kunci utama peran manusia di masa depan dalam mengontrol atau mengembangkan teknologi. Dari sini sudah ada bayangan bagaimana pentingnya selalu update skill serta pengetahuan agar kreativitas dan inovasi selalu terasah. Selain itu, memahami keterampilan yang dibutuhkan di masa depan juga penting agar kita beserta anak cucu siap bersaing di era industri 4.0.

Daftar Future-skill untuk Masa Depan

WEF, sebagai rujukan hampir seluruh dunia, merumuskan 10 skill yang paling dibutuhkan dunia kerja di tahun 2025:

  1. Analytical thinking and innovation
  2. Active learning and learning strategies
  3. Complex problem-solving
  4. Critical thinking and analysis
  5. Creativity, originality and initiative
  6. Leadership and social influence
  7. Technology use, monitoring and control
  8. Technology design and programming
  9. Resilience, stress tolerance and flexibility
  10. Reasoning, problem-solving and ideation

Profesi Baru di Era Teknologi dan Kreatif

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh World Economic Forum pada tahun 2020, berikut adalah profesi masa depan yang akan muncul di tahun 2025:

  1. Data analyst dan data scientist
  2. Artificial intelligence (AI) and machine learning specialist
  3. Big Data Specialist
  4. Digital marketing and strategy specialist
  5. Process automation specialist
  6. Business development professionals
  7. Digital transformation specialist
  8. Information security analyst
  9. Software and application developer
  10. Internet of things specialist


Cara Tingkatkan Skill Profesi Masa Depan

Bagaimana? Sudah ada gambaran dari penjelasan mulai dari ekonomi kreatif, keterampilan masa depan, hingga profesi di masa depan? Bagiku kondisi saat ini sangat jauh berbeda dengan apa yang aku pelajari dan alami di era sebelumnya. Agak sedikit mengkhawatirkan tentang bagaimana caraku untuk mempersiapkan anak sejak dini agar bisa bersaing di masa depan. Dari segi kurikulum pendidikan dan skill yang dulu aku pelajari saja sudah berbeda jauh. Lantas, bagaimana langkah-langkah yang harus disiapkan untuk anak?

Cara meningkatkan skill untuk profesi masa depan; Desain : Canva

1. Upgrade Soft-skill

Saat ini banyak sekali lembaga yang menyelenggarakan pelatihan gratis untuk skill masa depan seperti coding, desain, blogging, dan lain-lain. Bahkan pemerintah lewat KEMENPAREKRAF juga turut andil mendukung warga Indonesia yang ingin meningkatkan skill masa depan di dunia teknologi-kreatif lewat pendanaan, pembiayaan, serta pelatihan gratis untuk coding, software, dan game design.

Sebagai orang tua, kita juga bisa turut upgrade skill atau memfasilitasi anak untuk turut serta dalam program pelatihan skill masa depan secara gratis. Bisa juga kita menanamkan beberapa skill masa depan yang urgensitasnya tinggi sejak usia dini seperti critical thinking dan problem-solving. Kalau aku pribadi sudah mulai menanamkan kedua future-skill ini sejak anakku berusia 1 tahun. Caranya sesuaikan saja dengan kebutuhan tumbuh-kembang anak sesuai usia.

Misalkan saja di usia 1 tahun, aku memberikan masalah untuk anakku lewat permainan "membebaskan mainan dari ikatan pita". Jadi aku sengaja mengikat mainannya ke dalam sebuah wadah yang sudah aku beri lilitan pita. Tugas anak adalah membebaskan mainannya, untuk menyelesaikan masalah tersebut (problem-solving).

2. Program Pemberdayaan Pemuda (Empowering Youth) dari ASEAN Foundation dan Maybank Foundation

Selain KEMENPAREKRAF, ada juga dari ASEAN Foundation dan Maybank Foundation yang punya banyak sekali program pemberdayaan pemuda (empowering youth) untuk meningkatkan future-skill anak muda dalam menghadapi permintaan dalam future jobs.

Maybank Foundation

Beberapa program pemberdayaan pemuda yang dilakukan oleh ASEAN Foundation adalah pemberian beasiswa dan internship ke luar negeri untuk pelajar, jobfair, dan online job information centre. Bisa juga kunjungi laman resmi ASEAN Foundation untuk informasi lebih lengkap di sini. Selaras dengan ASEAN Foundation, Maybank Foundation juga punya banyak sekali program pemberdayaan pemuda lewat beasiswa dan pelatihan yang bisa dilihat di laman resmi Maybank Foundation.

3. Game Based Learning dari Program CREATONME.

Permainan berbasis pembelajaran ternyata mampu mengasah serta meningkatkan skill masa depan bagi anak. Berdasarkan hasil evaluasi program CREATONME, pembelajaran serta pembuatan permainan berupa board game edukasi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengasah skill masa depan anak (critical thinking, problem-solving, leadership, social influence, and creativity). Peningkatan rasa percaya diri ini, dipercaya Annisa Arsyad (direktur ECOFUN Indonesia) adalah aspek penting dalam membangun skill masa depan anak.


Board Game Edukasi Asah Future-skill Anak

Board game merupakan permainan yang menggunakan papan sebagai dasar permainannya. Namun, penggunaan kata board game juga sering digunakan sebagai sinonim dari kata tabletop game atau permaianan atas-meja yang mengacu pada semua permainan yang dapat dimainkan diatas meja, termasuk card game, dice game, dan roleplaying game (Woods, 2012). Hampir semua permainan board game mengajak pemainnya untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara tepat. Sesuai dengan skill yang dibutuhkan di masa depan, bukan?

Selain itu, tiap pengambilan keputusan dalam permainan akan punya dampak dan akibat, sehingga memberikan stimulus simulasi keadaan kepada pemainnya. Oleh karena itu, board game edukasi bisa jadi media pembelajaran efektif untuk mengasah keterampilan masa depan anak.

Berikut beberapa contoh board game edukasi hasil cipta karya peserta dari program CREATONME, yang bisa dijadikan gambaran bagaimana board game edukasi bisa mengasah future-skill anak.

Board game edukasi

WORKA

WORKA adalah board game edukasi yang mengambil topik future jobs. Permainan ini mengajarkan bagaimana menyediakan job market sesuai industri serta mengenalkan future jobs kepada pemain. Game board ini untuk usia 13 tahun ke atas.

Ijime

Ijime diambil dari bahasa jepang yang artinya bullying. Permainan ini ditujukan untuk siswa SMP-SMA dengan memberikan studi kasus dan mengelompokkannya ke dalam berbagai jenis bullying

Water Trip

Isu yang diambil di dalam board game ini adalah air dan sanitasi di skala ASEAN. Tak dapat dipungkiri, masalah air saat ini juga jadi sorotan dunia. Para pemain diajak untuk mengetahui bagaimana instalasi bangunan terkait air. Dibutuhkan skill komunikasi, problem-solving, dan critical thinking di dalam board game Water Trip.

Nusantara Treasure Hunt

Board game Nusantara Treasure Hunt dibuat untuk mengetahui berbagai budaya di Indonesia dan menekankan tentang pendidikan karakter.


Program, Komunitas dan Bisnis Board Game Edukasi

Di Indonesia, sudah ada berbagai program, komunitas, bahkan bisnis board game yang digunakan sebagai sarana edukasi tentang banyak hal seperti skill masa depan, kampanye sosial, lingkungan, dan lain-lain.

ECOFUN Indonesia

ECOFUN Indonesia merupakan  perusahaan sosial yang sudah memenangkan penghargaan internasional dalam bidang pendidikan lingkungan dan komunikasi sains lewat gamifikasi. Misi ECOFUN Indonesia adalah menyebarkan pengetahuan beserta tindakan positif disertai nilai lingkungan-sosial yang kuat, melalui pembelajaran kreatif dan permainan interaktif (ecofun.id, diakses Januari 2022).

Salah satu produk ECOFUN Indonesia adalah Ecofunopoly, board game edukasi bertajuk lingkungan. Pemain akan paham berapa jejak karbon yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari. Jejak karbon inilah penyebab utama terjadinya pemanasan global. Diharapkan board game tersebut dapat mengasah ide kreatif, serta kemampuan untuk menyelesaian masalah terkait lingkungan dari pemain Ecofunopoly.

CREATONME

CREATONME

ECOFUN Indonesia memiliki program bernama CREATONME, yang merupakan program pemberdayaan pemuda untuk mempromosikan growth mindset dan kemampuan kreatif dalam mendukung edukasi tentang ekonomi kreatif. Pada webinar CREATONME (15/01) lalu, para peserta serta relawan CREATONME berhasil melakukan gamifikasi beberapa isu dalam SDG's menjadi board game edukasi yang siap dipasarkan secara lokal maupun internasional.

Arcanum Hobbies

Masih bingung tentang bagaimana sih cara bermain board game? Atau bagaimana agar anak punya akses bermain board game bersama teman baru untuk mengembangkan future-skill? Tenang, ternyata di Indonesia ini ada komunitas board games loh. Arcanum Hobbies adalah salah satu komunitas bermain board games yang kini telah berkembang menjadi toko fisik di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Galih Aristo selaku founder Arcanum Hobbies menggunakan board game untuk kampanye sosial tentang korupsi dengan cara fun kepada anak muda. Selain itu juga banyak board game dengan tema lain di komunitas tersebut.

Arcanum Hobbies

Board Game Land

Board Game Land merupakan arena para keluarga penggiat dan pecinta boardgame untuk berdiskusi, berkreasi, dan berkarya tentang board game. Septi Peni, selaku Co-founder Board Game Land, mengatakan bahwa Board Game Land ini dibuat untuk mengembangkan konsep game-based learning yang bisa mengasah keterampilan masa depan anak.


Tips Merancang Board Game Edukasi Anak

Sebagai orang tua, kita juga bisa turut merancang board game sendiri di rumah untuk anak. Ada beberapa tips yang aku rangkum dari webinar CREATONME tentang board game.

Persiapan

  1. Tentukan future-skill mana yang akan dimasukkan ke dalam konsep bermain board game
  2. Tentukan target usia pemain board game
  3. Cari tema tentang isu dunia di masa depan, misalkan future jobs

Konsep permainan

Jadikan isu yang akan diangkat jadi sebuah cerita. Jangan seperti memindahkan materi ke dalam permainan. Contohnya, aku ingin memasukkan isu era industri 4.0 ke dalam permainan. Aku akan membuat dulu sebuah cerita tentang orang yang kehilangan pekerjaan dan berusaha mendapatkan pekerjaan kembali dengan upgrade skill masa depan agar bisa bertahan hidup. Jangan sekali-kali membuat permainan seperti menghafal.

Tentukan Aturan, Sebab, dan Akibat

Rancang sebuah aturan dalam permainan, beserta sebab-akibat yang ditimbulkan saat mengambil langkah tertentu.

Rancang Desain Board Game

Pada tahap ini bisa menggunakan jasa illustrator design profesional jika ingin dikomersialkan atau bisa juga menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah jika penggunaannya hanya dalam skala rumahan.


Kesimpulan

Pembahasan tentang future-skill beserta future jobs memang tidak akan ada habisnya jika dibahas. Dunia terus berkembang maju, sedangkan yang tidak ingin maju akan tertinggal begitu saja. Anak muda merupakan generasi yang perlu diberikan banyak edukasi terkait hal tersebut. Orang tua pun sebenarnya juga perlu diberi edukasi agar pendidikan rumah tangga yang diberikan kepada anak mengikuti perkembangan zaman.

Namun, di era industri 4.0 yang kental dengan teknologi dan kreativitas ini, banyak sekali lembaga yang memberikan edukasi maupun empowering kepada pemuda. Sebut saja ECOFUN Indonesia, CREATONME, ASEAN Foundation, Maybank Foundation, bahkan Pemerintah Indonesia sendiri. Diharapkan dengan adanya berbagai program edukasi, masyarakat Indonesia bisa teredukasi lebih baik lagi untuk menyambut era industri 4.0.

Future and Creativity


Referensi

ECOFUN Indonesia. (2021). CREATONME : Online Training of Trainers. http://ecofun.id/creatonme-online-training-of-trainers/ . Diakses Januari 2021.

Siagian, Valentine, dkk. (2020). Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Yayasan Kita Menulis : Medan.

Webinar CREATONME. (2021). Creative Economy Education through Game Based Learning (CREATONME). YouTube Ecofun Indonesia. https://youtu.be/rOY8n7SZtbY . Diakses Januari 2021.

WEF. (2020). The Future of Jobs Report 2020. https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2020 . Diakses Januari 2021.

Woods, S. (2012). EUROGAMES: The Design, Culture and Play of Modern European Board Games.

Share:

Anak Ketakutan Seperti Melihat Sesuatu? Jangan Panik, Coba lakukan Ini

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Ndaaa, tatut, hiiiii...!!!" Seru si kecil tiba-tiba sambil berlari kecil ke arahku, lantas memelukku erat-erat.

"Kenapa, sayang?" Tanyaku sambil tetap memeluknya, denyut jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Atut...atut..." Ucapnya berkali-kali.

Aku pun berusaha menenangkannya,"takut apa, sayang? Yuk, berani, yuk! Kamu anak hebat dan pemberani, kok."

Beberapa saat kemudian, dia pun seperti lupa, lalu kembali berlari ke ruang tamu. Tak ada yang aneh, mungkin dia hanya takut hewan kecil atau sesuatu yang kebetulan lewat di depannya. Aku tak ambil pusing dengan kejadian tersebut.

Namun, selang sekitar 10 menit, dia seperti menatap ke arah sesuatu cukup lama. Tubuhnya mematung, matanya seperti tertuju kepada sesuatu. Dia pun kembali berlari sambil berteriak "tatut, tatut!!"

Sebagai seorang manusia biasa, tentunya aku mulai gelisah dengan tingkah si kecil. Jantungku pun mulai berdegup dag dig dug tak karuan. Hal tersebut sering terjadi, hingga aku berpikir, "apa anakku bisa melihat sesuatu yang tak bisa kulihat?"

Namun, aku juga harus bisa berpikir positif, disertai logika, serta bukti yang valid untuk mengetahui apa yang sebenarnya ditakuti anakku. Aku pun memulai observasi selama beberapa waktu. Aku berusaha tenang, terlihat tidak panik walaupun sebenarnya sedikit panik. Sampai suatu ketika, aku berhasil untuk membuat anakku menunjukkan apa yang dia takuti. Ternyata, aku pun juga bisa melihat apa yang ia lihat.

Hal yang ia takuti selama ini adalah bayang-bayang suatu benda atau dirinya sendiri. Bayangan hitam yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi dan bayangan yang melekat pada suatu benda. Kasus pun selesai dan kami kembali hidup damai, meskipun kadang bayangan hitam itu masih menjadi momok bagi dia.

Cukup membagongkan ya akhir ceritanya, karena ini memang bukan cerita horor di malam jumat. Ini hanya secuil cerita horor di dunia Ibu selain cerita horor tentang GTM. Siapa sih yang tak panik ketika anaknya tiba-tiba ketakutan seperti melihat sesuatu. Apalagi di umurnya yang masih belum genap dua tahun, terkadang sedikit susah menyamakan persepsi dengannya. 

Omong-omong soal anak yang menunjukkan rasa takut seakan-akan melihat sesuatu yang tidak kita lihat, ternyata ada penjelasan secara psikologisnya loh. Seperti yang pernah dijelaskan oleh seorang psikiater anak dan remaja di NYU Langone, Aleta G. Angelosante, Ph.D., keterampilan persepsi manusia dewasa akan berbeda dengan anak-anak. Saat seorang anak kecil melihat sesuatu dari sudut mata mereka, ada kemungkinan mereka akan mengartikan secara berbeda benda apa itu sebenarnya. Contoh kasus nyatanya, ketika anakku melihat bayangan baik bayangan suatu benda atau dirinya sendiri, kemungkinan besar dia melihat bayangan itu sebagai sesuatu yang aneh atau menakutkan baginya.

Menurutku pribadi, peran orang tua sangatlah penting di saat anak ketakutan, serta menemukan akar permasalahan dari rasa takutnya. Kalau pun ternyata memang benar adanya seorang anak punya kelebihan bisa melihat apa yang tak bisa orang lain lihat, setidaknya itu hasil observasi orang tua, sehingga solusi yang tepat bisa diberikan agar anak bisa menghadapi rasa takutnya sendiri.

Nah, gimana nih kalau suatu saat bunda-bunda sekalian mengalami hal seperti yang aku alami? Kuncinya tetap tenang, jangan panik, dan ikuti langkah-langkah yang pernah aku terapkan.


1. Tenangkan Diri Sendiri dan Anak

Tetap tenang adalah koentji untuk kita menaklukkan situasi. Kalau kita langsung heboh, anak akan semakin takut, lalu semakin sulit untuk mengorek informasi. Setelah diri sendiri tenang, segera tenangkan anak. Jangan langsung bertanya mereka takut karena apa, tapi validasi perasaan mereka dulu. 

Contohnya seperti ini, "kamu takut, ya? Nggak apa-apa, ada Bunda di sini. Yuk, berani, yuk! Kamu anak pemberani, kok."

Jangan lupa sisipkan kalimat positif untuk membangun mental anak. Setelah anak tenang, tawarkan untuk menunjukkan apa yang mereka takuti. Kalau ternyata anak mau menjawab, kasus pun selesai. Tinggal beri sugesti positif agar anak tak lagi takut.

Kalau ternyata mereka masih belum mengerti atau belum mau menunjukkan, jangan dipaksa. Peluk erat mereka untuk memberikan efek nyaman serta menenangkan. Setelah itu, lanjut ke tahap berikutnya, yaitu observasi.


2. Observasi

Hal ini wajib dilakukan, terutama untuk anak balita yang belum memberikan jawaban tentang apa yang mereka takuti. Maklum, mereka masih belum bisa menyamakan persepsi dengan orang tua, apalagi menjelaskan apa yang mereka rasakan secara gamblang. Jadi, hal yang bisa dilakukan orang tua adalah observasi.

Amati tingkah laku anak ketika merasa takut. Perhatikan arah mata anak saat merasa takut pertama kali. Ingat atau catat kapan dan dimana saja anak merasakan takut. Kalau mereka seperti melihat sesuatu, perhatikan benda-benda di sekitar situ. Coba sesekali tunjuk kemungkinan hal-hal yang mereka takutkan, lalu validasi kebenarannya. 


3. Validasi

Amati kembali saat anak takut, coba dekatkan anak dengan benda atau barang atau apa pun yang anda curigai sebagai penyebab anak takut. Kalau benar itu penyebabnya, biasanya anak akan memberikan reaksi entah berteriak, memeluk, atau berlari. Di saat itu, berikan penjelasan berupa nama dari benda itu, lalu ajak anak untuk memegang benda itu bersama.

Pada kasus anakku, aku agak susah menemukan penyebabnya, karena bayang-bayang kan bukan benda yang diam di tempat. Aku agak lama melakukan observasi, hingga anakku saat itu menatap tembok bagian atas di rumah agak lama, kemudian berlari ke arahku sambil ketakutan.

Saat itu, yang ada di sekitar tembok hanya jaket yang sedang bergoyang karena angin. Aku ambil jaket itu untuk validasi. Si kecil menoleh ke arah jaket itu, lalu kembali melempar pandangan ke tembok. Ia pun kembali memelukku. Sayang sekali, ternyata bukan jaket itu yang jadi biang keladi rasa takut anakku.

Aku amati kembali tembok itu, tak ada apa-apa lagi di situ. Bulu kudukku pun mulai berdiri, tapi hanya beberapa detik sampai aku sadar, di situ masih tersisa bayang-bayang untuk aku validasi, meskipun masih antara yakin dan tidak yakin. Perlahan, aku ajak anakku untuk mendekati bayang-bayang dirinya sendiri.

Eureka!!! Si kecil auto memelukku erat-erat sambil berteriak, "tatut, Nda, tatut!"

Oke! Aku tenangkan dia dulu, sampai benar-benar tenang, barulah aku kenalkan padanya si "bayangan" yang selama ini membuat dia takut, "sayang, ini namanya bayangan. Loh, ini Bunda pegang, gapapa kan?"

Dia pun meniru ucapanku, "ayangyang, ndapapa?"

"Iya, ini loh, coba kamu pegang," kataku sambil mengulurkan tangannya untuk memegang bayang-bayang, "gapapa, kan?"

Alhamdulillah, anakku ternyata bukan anak indigo, indo*ie, apalagi anak indi*ome. Dia hanya anak kecil biasa yang masih mengalami perkembangan persepsi di otaknya. Dari kejadian itu, dia pun akhirnya paham apa itu bayangan, meskipun kadang dia masih merasa takut kalau melihat bayangan benda lain yang mungkin menurutnya aneh. Aku juga bisa melihat perkembangan sosial-emosional anakku berdasarkan kejadian ini. Dia sudah bisa mengekspresikan emosi takut yang sedang ia rasakan.

Sekian pengalaman pribadiku tentang cara menghadapi anak yang sedang ketakutan saat melihat hal baru. Semoga tidak kapok membaca tulisanku. Salam hangat dari keluarga kecilku.

Share:

Natural Skincare yang Lebih Ramah Lingkungan

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Beberapa bulan yang lalu, aku pernah jadi penyintas COVID 19. Entah kenapa setelah sembuh, kulit badanku jadi super sensitif. Pernah tiba-tiba ada reaksi bentol merah di sekitar leher, tangan, dan kaki. Padahal selama hampir dua puluh tahunan, aku tak pernah sekalipun menderita alergi seperti itu. Bahkan, aku sendiri juga tak tahu kalaupun itu alergi, apa penyebab utamanya.

Sudah berhenti makan telur dan segala jenis protein, tapi tak juga kunjung berhenti. Aku juga termasuk tipe orang yang baru ke dokter setelah cara alami tak mempan. Maklum, selama pandemi, aku dan keluarga lebih nyaman menggunakan cara alami untuk meningkatkan imun. Kami sering menggunakan bahan herbal seperti jahe, sereh, madu, kencur, kunir, dan lain-lain. Jadi aku pun juga berusaha menemukan cara alami yang sekiranya bisa meminimalisir reaksi gatal-gatal yang ada di badanku.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah edukasi sekaligus workshop tentang natural skincare dari Kertabumi Recycling Center. Penderita kulit sensitif atau alergi disarankan memakai skincare yang bahan utamanya berasal dari alam. Selain lebih aman dari segi efek samping, penggunaan bahan alam juga pastinya lebih ramah lingkungan, serta limbah penggunaan skincare juga lebih ramah lingkungan.

Skincare
Foto : canva, desain : canva


Apa itu Natural Skincare?

Natural skincare dapat didefinisikan sebagai produk perawatan kulit yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti biji-bijian, bunga, bagian tanaman, atau produk olahan dari hewan, seperti beeswax, madu, kolagen, dan lain-lain. Suatu skincare dapat dinyatakan sebagai natural skincare, jika produk tersebut mengandung sekitar 10% bahan-bahan natural di dalamnya. Bisa juga dengan melihat susunan komposisi bahan, jika bahan natural berada di urutan pertama komposisi serta mengandung bahan tambahan yang aman, maka produk tersebut bisa disebut sebagai natural skincare

Selain natural skincare, ada juga beberapa produk skincare sejenis tapi tak sama, yang disebut sebagai organic skincare dan vegan skincare. Sedikit berbeda dengan natural skincare, organic skincare tidak menggunakan bahan natural yang mengandung pestisida, pupuk sintesis, tidak mengandung bahan dengan rekayasa genetik, ataupun antibiotik. Dalam pembuatan organic skincare, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan seperti persentase minimum bahan sintetis yang digunakan sebagai pengawet, hingga proses produksi.

Vegan skincare secara garis besar hanya menggunakan bahan dari alam yang tidak berasal dari hewan. Prinsip tersebut hampir sama dengan pola makan seorang vegan. Pada skincare yang berlabel vegan, tidak akan ditemukan kandungan bahan alam dari hewan seperti beeswax, madu, gelatin, dan lain-lain.


Manfaat dan Kelebihan Natural Skincare

Penggunaan bahan natural dalam natural skincare menyebabkan jenis skincare tersebut punya manfaat serta kelebihan positif bagi kulit dan lingkungan. Selain itu, limbah produk yang berbahan alam akan cenderung lebih aman jika dibuang ke alam kembali, apalagi bumi saat ini sedang tidak sehat, bukan? Penggunaan natural skincare ini punya dampak baik bagi lingkungan. Berikut ini beberapa manfaat dan kelebihan natural skincare :

1. Ramah Lingkungan

Produk natural skincare akan menghasilkan  limbah lebih sedikit dibandingkan produk skincare yang mengandung banyak bahan kimia sintetis. Bahan skincare yang berasal dari alam biasanya bersifat organik, bukan sintetis (buatan). Maka, sampah yang dihasilkan juga bersifat organik lebih mudah terurai, dan tentunya ramah lingkungan.


2. Mengurangi Racun dalam Kulit

Kadang ada berbagai kondisi yang mengharuskan kita aktivitas di luar ruangan. Nah, pastinya bakal banyak sekali kuman atau bakteri yang menempel di permukaan kulit, belum lagi efek polusi udara dan radiasi sinar matahari. Bahan natural ternyata bisa digunakan untuk mengurangi efek racun yang disebabkan kuman, bakteri, udara kotor, dan radiasi. Misalkan saja ekstrak mengkudu yang punya kandungan antioksidan untuk menangkal radiasi bebas.


3. Wangi Alami dan Aman

Wangi dari bahan alam lebih natural dan aman ketika dihirup, dibandingkan wangi yang ditimbulkan senyawa kimia buatan (sintetis). Tentu saja otomatis lebih aman untuk pernafasan.


4. Aman untuk Bumil dan Busui

Sebenarnya skincare bisa aman untuk bumil dan busui, asalkan komposisinya tidak melebihi batas aman. Namun, tetap saja kadang khawatir banget kalau menyangkut keselamatan si kecil. Opsi paling aman ya memakai natural skincare.


5. Efek Samping Lebih Kecil

Kandungan bahan alam pada natural skincare mampu meminimalisir efek samping yang kadang timbul di permukaan kulit sensitif, seperti  alergi, kemerahan, sampai iritasi kulit.


Natural Skincare-Ku

Setelah mendapat edukasi tentang natural skincare serta cara membuat sendiri produk tersebut di rumah, aku pun tertarik untuk membeli beberapa produk dan beberapa lagi aku buat sendiri secara mandiri. Alhamdulillah, ilmu kimia yang aku pelajari selama 6 tahun, terpakai juga saat menjalankan prosedur aman untuk membuat skincare custom sesuai kondisi kulitku. Namun, aku hanya berani memakai skincare buatanku di bagian badan saja tanpa wajah.


Sabun Natural

Aku membeli produk sabun natural 1963, yang merupakan signature product dari Rumah Atsiri Indonesia. Wanginya alami sereh serta lemon. Kalau produk sabun natural, aku belum bisa membuat sendiri karena bahan serta alat belum lengkap.

Natural skincare

Setelah rutin memakai, kulit rasanya lebih tenang, iritasi dan rasa gatal pun berkurang. Dilihat dari komposisi, sabun natural ini terbuat dari bahan alam minyak zaitun, minyak biji anggur, serta essentials oil sereh dan lemon. Cara membuatnya pun termasuk ramah lingkungan karena menggunakan metode coldpress.


Infused Oil

Aku membuat infused oil ini sebagai minyak pijat dan campuran scrub wajah di rumah.  Infused oil dibuat dengan cara merendam bahan alam (sereh, kulit lemon, lavender, calendula, dll.) di dalam minyak pembawa atau carrier oil seperti minyak zaitun, minyak almon, minyak biji bunga matahari, dll. Secara garis besar ada 2 metode untuk menginfus bahan alam ke dalam minyak pembawa :

  • Hot Infusion : metode ini menggunakan teknik double boiler pada suhu 60°-70°C selama 2-6 jam. Minyak pembawa dimasukkan ke dalam wadah kaca tahan panas dan ditambah bahan alam kering. Setelah itu, wadah kaca dimasukkan ke dalam panci arau teflon berisi air dan dipanaskan.
  • Cold Infusion : metode ini dilakukan tanpa menggunakan panas. Jadi bahan alam yang sudah dikeringkan, dimasukkan ke dalam minyak pembawa, lalu diamkan di tempat gelap selama 6 minggu. Kadang bisa juga ditambah vitamin E untuk mencegah pertumbuhan kuman, jamur, atau bakteri.
Natural Skincare

Aku menggunakan bahan alam batang sereh dan kulit lemon, minyak zaitun sebagai minyak pembawa, dan vitamin E. Wanginya memang tidak setajam minyak essensial karena memang konsentrasinya berbeda. Namun, produk ini sudah cukup bagus untuk dijadikan minyak pijat atau scrub wajah dengan ditambah bubuk kopi.


Body Butter

Setelah gatal dan iritasi di badanku mereda, aku coba membuat body butter untuk menyamarkan bekas area kulit yang iritasi. Body butter berfungsi untuk melembapkan kulit. Teksturnya mirip butter, karena mengandung kadar lemak padat yang tinggi dari shea butter atau cocoa butter.

Natural Skincare

Bahan utamanya  terdiri dari lemak atau minyak, sehingga cara membuatnya hanya terdiri dari satu fasa. Biasanya bahan utamanya berupa shea butter/cocoa butter, wax, minyak zaitun/kelapa, dengan aditif berupa essential oil dan vitamin E. Aku sendiri menggunakan campuran bahan cocoa butter, beeswax, minyak zaitun, minyak esensial tamanu, dan vitamin E (Tocopherol).


Lip Balm

Bibirku termasuk jenis bibir kering, jadi aku ingin membuat lip balm yang juga sesuai dengan kondisi bibir. Bahan yang aku pakai terdiri dari cocoa butter, minyak almon, beeswax dan madu. Wanginya manis seperti kue, karena cocoa butter menurutku punya wangi khas seperti perpaduan coklat dan kacang. Bibir pun jadi lembab dan ternutrisi dengan kebaikan dari alam.

Natural Skincare
Foto : pinterest, desain : Canva

Cara membuat beberapa skincare secara lengkap akan aku tulis di postingan selanjutnya. Jangan lupa stay tune ya buat tunggu lanjutannya.

Share:

Slow Living Versiku, Cara Lain untuk Bersyukur

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Suatu ketika aku pernah merasa begitu tertinggal dengan teman-teman yang lain. Setelah melahirkan, aku masih fokus mengurus anak, hingga sedikit melupakan mimpi sekaligus target dalam hidup. Rasanya iri melihat teman-teman sudah mencapai targetnya, sedangkan aku masih jalan di tempat.

Aku pun mulai bergerak kembali, mengejar target yang sudah lama tertinggal. Ikut pelatihan secara daring, mengatur kembali blog, ikut beberapa seminar digital marketing, dan mulai ikut proyek campaign instagram. Rezeki berupa uang sudah didapat, tapi masih belum sesuai targetku.

Setelah beberapa bulan menjalani kehidupan yang begitu terasa cepat, sampai rasanya seperti dikejar sesuatu yang membuat hati gundah, bibit-bibit depresi mula muncul. Rungsing rasanya hati ini, gelisah, dan gundah. Apa sih yang sebenarnya ingin dicapai dari segala bentuk kejaran target itu?

"Jangan terlalu mengejar rezeki, sayang," begitu kata suami saat aku mencurahkan apa yang aku rasakan.

Aku pun terdiam, kata-kata itu seakan menamparku agar segera bangun,"trus gimana, dong? Aku kan juga ingin mimpi dan target hidupku tercapai."

"Kalau sudah merasa seperti dikejar-kejar, coba slow down sebentar. Kita nggak harus kok jalan cepat-cepat buat mencapai tujuan. Jalan pelan-pelan dulu, buat merasakan apa aja sih yang sudah kita dapatkan selama ini. Turunkan target yang cukup bisa dijangkau," katanya sambil mengusap kepalaku, "contohnya bikin target rutin menulis dulu satu minggu satu cerita, daripada langsung target dapat adsense 10 juta dari menulis."

Slow living

Begitulah sesi curhat bersama pasangan yang aku lakukan saat kehidupan terasa begitu tidak santai. Ada satu hal menarik dari wejangan suami, yang katanya terinspirasi dari salah satu temannya sesama lulusan psikologi. Aku sedikit heran di bagian "turunkan target yang cukup bisa dijangkau". Sebagai pribadi yang terlatih kerja cepat dan multi tasking, yang aku tahu target harus dibuat setinggi mungkin agar ketika jatuh tidak terlalu sakit. Terjadilah pergulatan batin saat itu, tapi setelah suami menjelaskan panjang lebar, aku akhirnya sepakat dengannya.

Kadang kita memang harus slow down sebentar untuk menurunkan target sesuai kemampuan, serta lebih mindfulness ketika menghadapi suatu kendala yang terjadi. Ketika kita menurunkan target, otomatis saat target itu tercapai, kita akan merasa cukup, lalu bersyukur. Nah, sebenarnya "gong" dari apa yang dikatakan suamiku adalah "rasa syukur". Melambatkan laju kehidupan untuk sejenak merasakan secara mendalam ritme kehidupan  ini bisa dikaitkan dengan konsep slow living.

Apa sih slow living itu? Hidupnya dibikin santai kayak di pantai gitu, atau hidupnya malah dibikin jadi lelet?

Tenang, konsep slow living lebih dalam dari sekadar melambatkan laju kehidupan saja. Banyak pelajaran yang bisa diambil, termasuk konsep syukur dari sini.


Konsep Slow Living

Slow Living Secara Umum

Konsep slow living secara sempit adalah menjalani hidup dengan cara lambat. Namun, cara lambat di sini bukan berarti gaya hidup bermalas-malasan. Secara luas, slow living adalah cara untuk menjalani hidup dengan sadar sepenuhnya. Setiap aktivitas yang sedang lakukan harus dirasakan betul, dinikmati dan disadari. Pernah nggak sih ngerasa hidup, tapi tidak sadar sepenuhnya? Contoh paling gampang saat makan kadang dibarengi cek notifikasi kerjaan di dalam grup WhatsApp atau Telegram, tahu-tahu makanan sudah habis. Masih ingat nggak apa nama makanan yang barusan dimakan? Rasanya bagaimana? Udah baca doa sebelum dan sesudah makan?

Kalau belum bisa menjawab sepenuhnya, berarti kita tidak sadar sepenuhnya dalam melakukan suatu aktivitas. Banyak hal kecil yang terlewat saat melakukan dua aktivitas secara bersamaan, tapi tidak sadar sepenuhnya.  Bahkan hal sekecil bersyukur setelah makan jarang dilakukan, karena pastinya masih banyak orang lain yang belum bisa makan seperti kita.

Menjalani gaya hidup slow living bisa menciptakan jalan hidup yang lebih baik, produktif dan berkualitas. Bukan gaya hidup yang serba cepat dan selalu terjebak tren, sehingga menghilangkan kesadaran serta perhatian pada nikmatnya hidup di setiap detik waktunya

Slow living
Sumber : muslimahdaily.com; Desain : Canva

Slow Living dalam Agama Islam

Di dalam ajaran agama Isla sendiri, sebenarnya bibit konsep slow living ini sudah ada di dalam Al Qur'an, bahkan sudah ada dalam anjuran jeda gerakan ketika sholat. Apakah itu?

Ya. Tuma'ninah.

Lakukan sholat dengan tuma'ninah, perlahan, khusyuk, dan resapi arti bacaan dalam sholat, hingga rasanya seperti berkomunikasi dengan Allah SWT.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda, Jika kamu berdiri untuk salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al-Qur'an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar tuma'ninah (tenang dan mapan) dalam rukuk itu, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak lurus (i'tidal), kemudian sujudlah sampai engkau tuma'ninah dalam sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga tuma'ninah dalam keadaan dudukmu. Kemudian lakukanlah semua itu di seluruh rakaat salatmu. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Konsep slow living juga selaras dengan perintah Allah dalam Al-Qur'an surat Al Insyirah ayat 7. Sebagai manusia, harus mengerjakan dengan fokus satu pekerjaan hingga selesai, baru kerjakan pekerjaan lainnya. Tidak dianjurkan untuk multitasking agar bisa menyelesaikan satu pekerjaan dengan maksimal.

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain" QS : Al Insyirah ayat 7.


Manfaat Slow Living

Banyak sekali manfaat yang didapatkan ketika menjalankan konsep slow living dalam hidup. Hidup serba cepat dan dikejar deadline itu kadang membuat hidup jadi tak tenang. Bahkan tak jarang mental dan fisik turut sakit saat dituntut serba cepat. Kalau sudah begitu, tak aa salahnya mencoba gaya hidup slow living dengan berbagai manfaat sebagai berikut :

Slow living
Desain : Canva

1. Mudah Bahagia

Gaya hidup santuy ala slow living mengajak kita untuk lebih menghargai segala sesuatu yang sudah kita dapat atau lakukan mulai dari hal paling kecil seperti bisa bernapas dengan normal. Bandingkan saja ketika flu dan hidung buntu, pasti sangat menyiksa sekali saat bernapas dengan hidung buntu. Dengan begitu, kita akan lebih mudah bersyukur untuk hal-hal kecil dan mudah mendapatkan kebahagiaan karena hal-hal kecil tersebut.


2. Mental dan Fisik Lebih Sehat

Saat menyadari sepenuhnya apa yang kita lakukan, kita dapat meminimalisir tekanan-tekanan dalam hidup yang sebenarnya tidak perlu dirasakan. Pikirkan saja suatu masalah selama 5 menit, kalau masalah itu tidak ada hubungannya dengan hidup kita sampai 5 tahun ke depan, cukup lupakan secepatnya. Contohnya saja ketika tetangga selalu mengomentari cara mengasuh anak, pikirkan selama 5 menit, apakah komentar dia bisa mempengaruhi hidup kita selama 5 tahun ke depan? Kalau tidak, anggap saja angin lalu. Toh, tetangga juga tidak ikut andil dalam membiayai hidup kita. Selow aja, kesehatan mental lebih penting karena bisa berimbas ke kesehatan fisik.


3. Meningkatkan Kualitas Kerja

Kualitas hasil pekerjaan bisa meningkat ketika kita menjalani slow living dengan komitmen. Fokus dulu terhadap satu pekerjaan, sebelum menyelesaikan pekerjaan lainnya. Sadari sepenuhnya apa sih pekerjaan yang sedang aku lakukan, kenapa aku harus melakukan pekerjaan ini, dan apa dampak pekerjaan ini bagi orang lain di sekitarku. Pekerjaan yang dilakukan dengan sadar dan fokus akan lebih bagus hasilnya, dibanding beberapa pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan dan tidak disertai kesadaran penuh.


4. Waktu Luang Lebih Bermakna

Terlihat santai dengan gaya hidup slow living bukan berarti hidupnya cuma bermalas-malasan ria. Konsep slow living mengajarkan kita untuk memilih mana saja aktivitas yang hanya membuang waktu dan aktivitas yang terlihat membuang waktu, tapi berfaedah. Misalkan saat menjelajah media sosial, agar berfaedah, manfaatkan untuk mencari hal-hal positif yang bisa upgrade skill.


Slow Living Versiku

Beberapa waktu yang lalu aku mulai merencanakan untuk adopsi gaya hidup slow living karena aku sudah merasa kurang sehat secara mental maupun fisik. Hidup terlalu mengejar sesuatu itu ternyata juga tidak baik. Kalau larinya terlalu kencang, bisa jadi ada kerikil kecil yang tak terlihat, lalu menjegal langkah kita. Selain itu, ada rasa tak nyaman serta gelisah saat melakukan segala sesuatu seperti diburu waktu, agar cepat sampai ke target yang sudah dituju.

Puncaknya sampai di suatu malam terlintas pemikiran ekstrim, "emang nanti malaikat munkar dan nakir bakalan tanya berapa artikel blogmu yang masuk page one google? Berapa penghasilan adsense blogmu?" Nauzubillah min dzalik, auto istighfar berkali-kali malam itu, sampai terbawa mimpi buruk juga. Meskipun alasannya untuk meningkatkan softskill blogging, tetap ada batasan sampai mana aku harus mengejar ketertinggalan, dan sampai mana aku harus berhenti untuk relaksasi sejenak. Tak harus terburu-buru juga kok.

Dari situ aku mantab ingin sekali menjalani slow living, tapi tetap dengan segala komitmen beserta misi target. Sudah dijelaskan berkali-kali juga bahwa hidup melambat, bukan berarti malas-malasan. Target dan goals tetap ada, hanya saja dengan cara lebih menikmati cara untuk mencapai itu semua. Begini slow living versiku agar hidup lebih bahagia, damai, dan sejahtera :

Slow living
Desain : canva

1. Menikmati Aktivitas

Hal pertama yang aku lakukan adalah menikmati tiap aktivitas yang aku lakukan. Seperti saat makan, aku lebih fokus untuk menikmati rasa, tekstur, dan aroma makanan tanpa didampingi gadget. Saat menulis blog pun, aku hanya menargetkan 1 minggu 1 cerita sesuai kemampuan awal. Maklum, ada makhluk kecil titipan Allah yang harus aku jaga dulu dengan penuh kasih sayang. Kalaupun ibu lain bisa tetap menulis blog dengan target 1 hari 1 cerita, aku tak harus mengikuti tren dia kan? Dia ya dia, aku ya aku, kita sama-sama ibu, tapi berbeda cerita dan kemampuan.

Cara lainku menikmati aktivitas bisa aku contohkan lagi seperti saat aku mencuci beras yang akan ditanak jadi nasi. Aku punya kebiasaan memutar beras yang sedang dicuci, searah dengan tawaf di Ka'bah. Sambil memutar beras, perlahan aku selipkan doa untuk para petani yang sudah bekerja keras menanam padi, serta memohon berkah rezeki halal kepada Allah lewat beras tersebut. Setelah itu, air bekas cucian beras aku siramkan ke tanaman sambil mendoakan tanaman tersebut agar tumbuh dengan cantik dan sehat.


2. Turunkan Target, Resapi dengan Syukur

Menurunkan target hidup dalam konsep slow living, dapat aku definisikan secara pribadi sebagai cara lain untuk bersyukur atas apa yang sudah aku punya dan dapatkan. Sebagai ilustrasi, aku punya target tinggi untuk mendapatkan penghasilan jutaan per bulan. Namun, saat merasa target itu terlalu tinggi dibandingkan kemampuan yang aku miliki, aku turunkan target menjadi minimal aku punya penghasilan untuk jajan dan kebutuhan anakku. Target pun terpenuhi, aku merasa cukup, dan otomatis kata syukur pasti terucap dibandingkan kata "kurang, kurang, dan kurang. Hati lebih tenang, damai, dan bahagia saat target kecil itu tercapai. Selanjutnya, barulah target itu dinaikkan perlahan sesuai kondisi kesiapan mental dan fisik.


3. Praktek Mindfulness

Dalam dinamika kehidupan, ada kalanya kita begitu khawatir berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi atau istilah populernya overthinking. Hal ini bisa berakibat fatal terhadap kesehatan baik mental maupun fisik. Hidup jadi tidak tenang, bahkan aku juga sempat mengalami vertigo parah berujung bedrest, dan dianjurkan untuk eco therapy agar otak banyak menyerap oksigen secara maksimal dari alam hijau (baca ceritanya di sini).

Dampak negatif dari overthinking bisa diatasi dengan teknik pengendalian pikiran menggunakan mindfulness. Praktek konsep mindfulness membuat kita jadi fokus akan kehidupan di masa ini, bukan di masa lalu, atau di masa depan. Bahasa gaulnya sih living in the moment, tanpa khawatir berlebihan akan masa depan, dan masa lalu. 


4. Santai tapi Berkomitmen

Ternyata hidup santai itu sungguh sangat menenangkan, loh. Eits tapi santai di sini juga punya komitmen serta target. Masih ada benang merahnya dengan menurunkan target kehidupan sementara waktu. Jadi meskipun santai, tetap punya komitmen untuk mencapai target yang lebih tinggi secara bertahap. Agar lebih mudah memahami, bayangkan saja ketika ingin naik tangga dari lantai 1 ke lantai 16. Kira-kira energi serta stress yang keluar lebih besar ketika naik satu demi satu tangga dengan catatan waktu lebih lama atau langsung naik tiap 4 tangga sekaligus dengan catatan waktu yang lebih cepat? Lebih bahagia mana ketika naik satu per satu tangga sambil menikmati indahnya pemandangan atau langsung gass pol naik 4 tangga sekaligus tanpa toleh kanan-kiri?

Apa pun jawabannya, semuanya kembali kepada manusia yang menjalani. Mau pilih gaya hidup slow living dengan naik tangga satu per satu atau gaya hidup serba cepat dengan naik 4 tangga sekaligus biar cepat sampai. Pilihan ada di tangan masing-masing.


5. Latih Tenang dengan Dzikir

Di dalam konsep slow living, ketenangan adalah kunci setiap aktivitas yang kita lakukan. Jangan pernah terpancing untuk latah mengejar target yang dibuat orang lain. Fokus pada target diri sendiri, selow, kita pasti sampai di tujuan. Buat yang terbiasa aktivitas dengan ritme hidup serba cepat, terutama untuk yang muslim, bisa coba dzikir perlahan sambil diresapi artinya. 


Nah, begitulah beberapa cara yang aku lakukan dalam memulai gaya hidup slow living. Awalnya tak mudah, tapi kalau sudah terbiasa akan terlihat sekali perbedaannya. Hidup rasanya lebih tenang, damai, santai, adem banget. Pikiran rasanya lebih bersih dan jernih. Target juga malah makin banyak yang tercapai, rezeki pun juga mengikuti layaknya magnet. Bagaimana?Tertarik untuk mencoba gaya hidup slow living?

Share:

Anggita R. K. Wardani

read more

Recent Posts


Posts

Kontak Kerja Sama

Nama

Email *

Pesan *

My Instagram Gallery

My Community