“Apa hubungan antara hutan mangrove di Raja Ampat dan sepiring pecel semanggi di Surabaya?”
Sekilas, keduanya mungkin tidak punya hubungan apa-apa. Tanaman yang satu tumbuh di pesisir kepulauan Papua, sementara tanaman yang lain akrab di meja makan masyarakat Surabaya.
Namun, setelah mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad (25/09/2026) tentang ketahanan pangan berbasis mangrove di Raja Ampat, saya mulai melihat tanaman-tanaman itu dengan cara yang berbeda.
Ternyata, menjaga hutan bisa berarti menjaga apa yang ada di meja makan kita.
Melalui pemaparan Wawiyai Steve dan Daniel Kbarek dari Raja Ampat, saya belajar bahwa mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di antara daratan dan laut. Ekosistem ini berkaitan dengan habitat biota, sumber pangan, penghidupan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Buah mangrove pun dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk pangan lokal.
Menarik sekali, bukan? Dari situ saya mulai bertanya-tanya: apakah di sekitar tempat saya tinggal juga ada tanaman yang memiliki lebih dari satu cerita dalam kehidupan masyarakat, seperti mangrove di Raja Ampat?
Setelah melakukan riset, membaca berbagai sumber, dan menggali cerita tentang semanggi di Surabaya, saya menemukan satu tanaman yang tidak hanya menjadi pangan, tetapi juga berkaitan dengan penghidupan, sejarah, budaya, dan penelitian lingkungan.
Ada yang sudah menebak di pikiran masing-masing? Yap! “Semanggi Suroboyo”.
Semanggi di Surabaya diolah menjadi makanan khas, yaitu pecel semanggi. Selain itu, menurut penelitian Rachmadiarti, dkk. (2020, 2021,2023), semanggi memiliki potensi sebagai fitoremediasi.
Nah, penasaran, kan? Bagaimana tanaman jenis paku air yang dulu dianggap gulma ini ternyata punya lebih dari satu peran dari fungsi budaya, sejarah, ketahanan pangan, ekonomi, hingga ekologi. Yuk, simak pembahasan berikut ini.
Hutan Mangrove Menjadi Bagian dari Ketahanan Pangan di Raja Ampat
Setelah mengikuti online gathering dengan tema “Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat”, saya mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang hubungan antara ekosistem dan pangan. Mangrove bukan sekadar hutan pesisir. Ekosistem ini juga berperan sebagai pelindung kawasan pantai dan menjadi tempat hidup serta berkembang biaknya berbagai biota.
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi |
Daniel Kbarek menjelaskan bahwa akar mangrove yang cukup banyak memiliki “peran yang sangat strategis untuk menyaring” kondisi perairan di sekitarnya. Ia juga menunjukkan bagaimana kawasan mangrove menjadi tempat kepiting mencari makan yang kemudian dapat dimanfaatkan masyarakat untuk pangan maupun peningkatan pendapatan.
“Di areal mangrove ini [menjadi] sarana kepiting untuk mencari makan […] yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk peningkatan pendapatan ketika mereka mau menangkap dan kemudian menjual kepiting itu.”
Penjelasan ini memperlihatkan hubungan yang sangat konkret antara ekosistem dan ketahanan pangan. Akar mangrove membantu menjaga fungsi ekologis kawasan, sementara kehidupan biota di dalamnya dapat memberikan sumber pangan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.
Keberadaan mangrove di Raja Ampat, berkaitan dengan sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir. Di Raja Ampat, misalnya, keberadaan mangrove berkaitan dengan sumber pangan seperti ikan, kepiting, dan moluska.
![]() |
| Sumber: olah grafis Canva Pro |
Menariknya, pemanfaatan mangrove sebagai pangan juga tidak berhenti pada hasil laut. Bahkan, bagian tertentu dari tanaman mangrove juga dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan lokal.
Dalam pemaparan Daniel Kbarek, buah mangrove Bruguiera gymnorrhiza dapat diolah menjadi tepung sebagai salah satu sumber karbohidrat lokal. Ada pula pemanfaatan madu mangrove sebagai sumber pangan sekaligus alternatif penghasilan masyarakat.
Dari penjelasan tersebut, saya mulai memahami satu hal:
Ketahanan pangan bukan hanya soal seberapa banyak makanan yang bisa diproduksi, tetapi juga bagaimana masyarakat menjaga sumber daya yang menjadi bagian dari sistem pangan tersebut.
Cerita Wawiyai Steve: Saat Masyarakat Ikut Menjaga Hutan
Cerita Wawiyai Steve dari Kampung Friwen membuat hubungan tersebut terasa semakin nyata. Upaya masyarakat menjaga mangrove muncul dari kekhawatiran terhadap kerusakan kawasan akibat pemanfaatan kayu.
Dari proses pemetaan partisipatif, rehabilitasi, pembibitan, penanaman, hingga pengelolaan Hutan Desa, masyarakat kemudian membangun cara untuk menjaga kawasan tersebut sekaligus tetap mendapatkan manfaat darinya.
Perempuan juga memiliki peran penting dalam proses ini. Mereka tidak hanya terlibat dalam pemanfaatan hasil mangrove untuk pangan, tetapi juga dalam kelompok usaha, agroforestri, kerajinan, hingga kegiatan pemantauan dan perlindungan kawasan.
![]() |
| Sumber: olah grafis Canva |
Ada satu kalimat dalam materi Wawiyai Steve yang cukup membekas. Kalimat tersebut datang dari Loesye Ermy Fainno, salah satu tokoh penggerak perempuan desa Friwen yang juga penerima Women Champion Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.
“Karena ada hutan, kitorang perempuan itu bisa hidup. Tanpa hutan, perempuan itu tidak bisa hidup.”
Kata-kata Loesye tersebut membuat saya melihat cerita mangrove Raja Ampat bukan hanya sebagai cerita tentang ekosistem. Di dalamnya ada kehidupan masyarakat, termasuk perempuan yang menggantungkan kehidupan mereka pada sumber daya hutan.
Dalam pemaparan Wawiyai Steve, perempuan di Kampung Friwen dan Yenbeser juga memiliki peran dalam pemanfaatan hasil mangrove, pengolahan pangan, kegiatan ekonomi, hingga upaya menjaga hutan. Hal tersebut menjadikan hutan memiliki perspektif lain. Hutan bukan hanya ruang hijau yang harus dijaga.
Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengannya, hutan adalah bagian dari kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang perlu diteruskan. Ternyata cerita seperti ini tidak hanya ada di Raja Ampat, tapi juga ada di Surabaya.
Surabaya Punya Cerita tentang Tanaman Pangan yang Dijaga
Setelah belajar dari mangrove, saya mencoba melihat tanaman lokal di sekitar saya. salah satu yang langsung muncul di kepala saya adalah semanggi air (Marsilea crenata)—tanaman yang ternyata memiliki hubungan panjang dengan pangan, penghidupan, budaya, dan penelitian lingkungan.
Tanaman kecil yang tumbuh di lingkungan berair atau sawah ini mungkin terlihat sederhana. Namun, semanggi punya cerita sejarah yang jauh lebih panjang di Surabaya.
Dulu, Surabaya dan sekitarnya memiliki area persawahan yang cukup luas, terutama di wilayah Surabaya Barat. Di lingkungan sawah dan lahan basah inilah semanggi tumbuh secara alami dan oleh petani kerap dianggap sebagai gulma.
Alih-alih hanya dibuang, tanaman tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Daun semanggi diolah bersama bahan lain yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat, kemudian berkembang menjadi pecel semanggi yang kita kenal sebagai makanan yang lekat dengan identitas kuliner Surabaya.
Di kawasan Kampung Semanggi, Sememi, masyarakat bahkan mengembangkan budidaya semanggi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan usaha mereka.
Menurut pemberitaan RRI (24 Juni 2024), masyarakat di RW 03 Sememi mulai membudidayakan semanggi sendiri sekitar 2015. Sebelumnya, kebutuhan semanggi untuk dijual masih didatangkan dari luar kota karena keterbatasan lahan basah untuk budidaya.
Artinya, tanaman yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai gulma di lahan basah, saat ini sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan pangan masyarakat setempat. Di titik ini, saya mulai melihat semanggi bukan sekadar tanaman yang dimakan. Semanggi sudah menjadi bagian dari warisan budaya pangan lokal Surabaya yang masih dijaga dan dipertahankan.
Ketika Semanggi Menjadi Bagian dari Ketahanan Pangan Lokal
Cerita semanggi di Kampung Semanggi, Sememi, tidak berhenti pada sepiring pecel. Menurut Athanasius Suparmo, Ketua Paguyuban Kampung Semanggi, cara budidaya semanggi juga cukup khas. Semanggi ditanam langsung di tanah dengan kondisi air yang mengalir, menggunakan akar sebagai bahan tanam. Panen pertama dapat dilakukan sekitar satu bulan, kemudian bisa dipanen kembali kurang lebih setiap dua minggu.
“Yang ditanam itu akarnya, bukan bijinya.”
— Athanasius Suparmo, Ketua Paguyuban Kampung Semanggi
Dari satu tanaman, pemanfaatannya kemudian berkembang. Selain menjadi bahan pecel, semanggi diolah menjadi berbagai produk seperti stik, nastar, putri salju, tahu bakso, hingga dimsum.
RRI juga mencatat adanya 37 petani dan 137 penjual semanggi di Kampung Semanggi. Jadi, di balik sepiring pecel semanggi ada sebuah rantai pangan lokal: ditanam, dipanen, diolah, dijual, lalu menjadi sumber pangan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.
Hal ini membuat saya teringat kembali pada cerita dari Raja Ampat. Di sana, ketahanan pangan juga tidak hanya bertumpu pada satu sumber. Ekosistem mangrove menyediakan habitat bagi berbagai biota seperti ikan, kepiting, dan moluska yang kemudian menjadi bagian dari sumber pangan masyarakat pesisir.
Cerita semanggi tentu berbeda. Semanggi bukan ekosistem seperti mangrove dan tidak memiliki fungsi ekologis yang sama. Namun, keduanya memperlihatkan satu hal yang serupa: sumber daya lokal dapat memiliki hubungan yang erat dengan keberagaman pangan dan kehidupan masyarakat.
Ketika masyarakat mampu mempertahankan sumber pangan lokal sekaligus memperoleh penghasilan darinya, tanaman tersebut memiliki peran yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sinilah saya mulai melihat bahwa menjaga sumber pangan juga berarti menjaga keberagaman pangan, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.
Semanggi dan Ekosistem Sawah
Semanggi tidak hanya memiliki hubungan dengan manusia melalui pangan. Tanaman ini juga merupakan bagian dari ekosistem lahan basah seperti sawah.
Penelitian di Kalasin, Thailand Timur Laut, menemukan Marsilea crenata sebagai salah satu tumbuhan liar yang tumbuh di ekosistem sawah dan dimanfaatkan masyarakat sebagai pangan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sawah bukan hanya tempat menghasilkan padi, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh berbagai tanaman liar yang ikut menyediakan sumber pangan bagi masyarakat (Cruz-Garcia et al., 2016)
Hal ini menunjukkan bahwa semanggi bukan berarti “penjaga” ekosistem sawah, tetapi merupakan bagian dari ekosistem tersebut yang juga dimanfaatkan sebagai pangan. Jadi, ada hubungan sederhana yang menarik: sawah menjadi tempat tumbuh, semanggi menjadi sumber pangan, dan masyarakat memanfaatkannya.
Semanggi, Bukan Sekadar Kuliner Biasa
Ada hal lain yang membuat cerita semanggi semakin menarik. Pecel semanggi telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTB) dari Jawa Timur pada 2022. Pada era 1950-an, komponis keroncong S. Padimin menciptakan lagu “Semanggi Suroboyo”. Lagu tersebut menggambarkan semanggi sebagai salah satu makanan yang dijajakan dari kampung ke kampung di Surabaya.
Status pecel semanggi sebagai WBTB, serta lagu Semanggi Suroboyo, menunjukkan bahwa cerita semanggi tidak berhenti pada soal rasa atau bahan makanan. Semanggi sudah cukup dikenal dan melekat dalam kehidupan masyarakat hingga menjadi bagian dari karya budaya yang bersejarah.
Semanggi sebagai Pangan dan Identitas Budaya
Ketika saya atau masyarakat Surabaya lainnya menikmati sepiring pecel semanggi, sebenarnya ada beberapa lapisan cerita yang ikut tersaji di dalamnya;
- Ada tanaman yang dibudidayakan.
- Ada masyarakat yang mengolah dan menjualnya.
- Ada pengetahuan kuliner yang diwariskan.
- Ada identitas kota yang terbentuk dari makanan.
- Dan ada sejarah yang terus dipertahankan agar tidak hilang.
Jadi, semanggi memiliki lebih dari satu peran dalam kehidupan masyarakat Surabaya. Terutama sebagai bahan pangan, bagian dari penghidupan, bagian dari identitas budaya, dan pada akhirnya menjadi salah satu cara untuk mengenali Surabaya melalui makanannya.
Semanggi juga menjadi bagian dari kehidupan dan warisan keluarga. Sejumlah pedagang mewarisi pengetahuan berjualan dari orang tua mereka. Dalam liputan Tatkala.co, misalnya, Suwati bercerita, “Belajar jualan dari ibu,” karena sejak kecil ia sering membantu ibunya berjualan semanggi.
Cerita dari Suwardi menunjukkan bahwa bukan hanya mempertahankan tanaman dan makanannya, tetapi juga pengetahuan, mata pencaharian, dan warisan kuliner yang telah hidup lintas generasi. Bahkan saat semanggi menghadapi keterbatasan lahan dan perubahan zaman, warga tetap mengembangkan budidayanya dan mencari cara agar pangan khas ini tetap hadir di tengah masyarakat.
Potensi Semanggi sebagai Fungsi Ekologis
Ternyata, cerita semanggi tidak berhenti sebagai bahan pangan. Tanaman dengan nama ilmiah Marsilea crenata ini juga menarik perhatian peneliti karena berpotensi memiliki peran dalam lingkungan, khususnya dalam membantu mengurangi pencemar tertentu di air fitoremediasi.
Beberapa penelitian menguji semanggi dalam kondisi percobaan, antara lain terhadap senyawa dari deterjen (LAS) dan limbah laundry. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semanggi memiliki kemampuan untuk membantu mengurangi parameter pencemar tertentu dalam kondisi yang diuji (Rulitasari & Rachmadiarti, 2021; Vatmawati & Rachmadiarti,2023).
Hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa semanggi memiliki potensi untuk menjaga lingkungan dari pencemar. Namun, Di Benowo, semanggi justru dibudidayakan sebagai bahan pangan secara khusus, sehingga lahan tanam dijaga dan diupayakan jauh dari sumber pencemar.
Di masa depan, hasil penelitian ini mungkin dapat dikembangkan sebagai salah satu opsi pemanfaatan semanggi untuk fitoremediasi lingkungan skala kecil. Namun, semanggi yang digunakan untuk fitoremediasi tentu bukan untuk dikonsumsi.
Mangrove Raja Ampat dan Semanggi Surabaya: Satu Tanaman, Lebih dari Satu Peran
Setelah mengikuti pemaparan dari Daniel Kbarek dan Steve Wawiyai tentang mangrove di Raja Ampat dan kemudian melihat kembali semanggi di Surabaya, saya mulai memahami bahwa konsep “lebih dari satu peran” tidak harus berarti satu tanaman mempunyai satu fungsi lingkungan dan satu fungsi pangan secara harfiah.
Bagi warga, semanggi adalah pangan dan sumber penghidupan. Bagi Surabaya, ia menjadi bagian dari sejarah dan identitas kuliner kota. Pengetahuan tentang cara menanam dan mengolahnya juga terus diwariskan.
Sementara itu, penelitian menunjukkan bahwa Marsilea crenata masih memiliki potensi lain yang menarik untuk dipelajari, termasuk dalam konteks lingkungan dan fitoremediasi.
Jadi, satu tanaman bisa punya banyak hubungan dengan kehidupan kita. Dari apa yang kita makan, siapa yang mengolahnya, budaya yang tumbuh di sekitarnya, hingga penelitian yang mencoba memahami potensinya lebih jauh.
Sebelum mengikuti webinar ini, saya mungkin hanya melihat semanggi sebagai salah satu makanan khas Surabaya. Tapi setelah mendengar cerita masyarakat di Raja Ampat, saya jadi sadar bahwa di balik pangan ada banyak hal yang ikut dijaga: lingkungan, tanaman, pengetahuan, penghidupan, dan budaya masyarakat.
Selama ini kita mungkin lebih sering melihat makanan ketika sudah tersaji di meja. Padahal, sebelum sampai ke sana ada cerita panjang tentang siapa yang menanam, bagaimana menjaganya, dan pengetahuan apa yang diwariskan.
Dari Raja Ampat ke Surabaya: Ceritanya Berbeda, Pesannya Serupa
Mangrove di Raja Ampat dan semanggi di Surabaya tentu bukan dua tanaman dengan kondisi yang sama. Keduanya memiliki ekosistem, bentuk pemanfaatan, dan konteks masyarakat yang berbeda.
Namun dari kedua tanaman tersebut, membuat saya menemukan satu benang merah:
ketika sumber daya lokal tetap dijaga dan pengetahuan tentangnya terus hidup, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk mempertahankan sumber pangan, penghidupan, dan identitas mereka.
Di Raja Ampat, cerita itu hadir melalui masyarakat yang menjaga mangrove sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan. Di Surabaya, cerita itu bisa ditemukan dalam semanggi—tanaman yang tumbuh, dibudidayakan, dimasak, dijual, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas sebuah kota.
Mungkin inilah makna lain dari kalimat:
Jaga hutan, jaga sumber pangan
Menjaga sumber pangan juga berarti menjaga pengetahuan, manusia, dan lingkungan yang membuat pangan tersebut tetap ada.
Jaga Pangan Lokal, Ikut Bagian dari Aksi Iklim
Cerita tentang mangrove di Raja Ampat dan semanggi di Surabaya membuat saya menyadari bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, solusinya sudah tumbuh di sekitar kita.
Ada masyarakat yang menjaga mangrove karena di sanalah sumber pangan dan penghidupan mereka bergantung. Ada pula masyarakat yang mempertahankan tanaman lokal seperti semanggi sebagai bagian dari pangan, ekonomi, dan identitas budaya.
Dalam momentum Bangkok Climate Action Week 2026, cerita-cerita seperti ini menjadi pengingat bahwa aksi menghadapi perubahan iklim juga dapat berangkat dari komunitas lokal dan cara kita menjaga sumber daya yang sudah ada di sekitar kita.
Karena menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi alam untuk masa depan, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki sumber pangan dan penghidupan yang berkelanjutan.
Menjaga Tanaman Lokal, Menjaga Lebih dari Sekadar Pangan
Setelah mengikuti online gathering tentang mangrove di Raja Ampat, serta mengulik semanggi di Surabaya yang ternyata punya lebih dari satu peran sebagai tanaman, akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan: menjaga sumber pangan tidak hanya berarti menjaga apa yang bisa kita makan.
Di baliknya ada ekosistem yang perlu dilindungi, masyarakat yang menggantungkan hidup, pengetahuan yang diwariskan, serta budaya yang membentuk identitas sebuah tempat.
Mangrove Raja Ampat menunjukkan bagaimana ekosistem yang dijaga dapat menopang pangan dan penghidupan. Semanggi Surabaya menunjukkan bagaimana satu tanaman dapat menjadi pangan, sumber penghidupan, bagian dari budaya, dan objek pengetahuan yang terus berkembang.
Keduanya mengingatkan saya bahwa ketika kita menjaga sumber daya lokal, sebenarnya kita sedang menjaga lebih dari satu hal sekaligus. Mungkin itu sebabnya kita perlu kembali memperhatikan tanaman yang tumbuh di sekitar kita. Bukan hanya bertanya, “Bisa dimakan atau tidak?”
Akan tetapi juga:
“Tanaman ini punya peran lain, tidak, ya?”
Bisa jadi di balik tanaman yang terlihat sederhana, ada pangan yang perlu dipertahankan, ada pengetahuan yang perlu diwariskan, dan ada kehidupan yang bergantung padanya.
Jadi, Tanaman lokal apa di sekitarmu yang punya lebih dari satu peran? Yuk, cerita di kolom komentar.
Referensi
Online Gathering Eco Blogger Squad. (25 September 2026). Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat.
Kbarek, Daniel. (2026). Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat. Materi Online Gathering Eco Blogger, 25 September 2026.
Steve, Wawiyai. (2026). Membangun Ketahanan Pangan Lokal melalui Penguatan Kelompok Perempuan dalam Pemanfaatan Mangrove di Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen. Materi Online Gathering Eco Blogger Squad, 25 September 2026.
Anggraeni, Djayanti Presti. (2024, 24 Juni). “Lebih Dekat dengan Kampung Semanggi Surabaya.” RRI Surabaya.
Guntur P., Mahendra. (2024, 6 Februari). “Kampung Semanggi Kuliner Warisan Leluhur Khas Surabaya.” RRI Surabaya.
Chandra, Velda Arum. (2026, 4 Juli). “Semanggi Surabaya, Kuliner Legendaris yang Tetap Memikat Lidah.” RRI Surabaya.
Jaswanto. (2026, April 2). Sepincuk semanggi, sepotong kisah dari Surabaya. Tatkala.co.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). “Pecel Semanggi.” Warisan Budaya Takbenda Indonesia, SK No. 414/P/2022.
Cruz-Garcia, G. S., Struik, P. C., & Johnson, D. E. (2016).Wild harvest: Distribution and diversity of wild food plants in rice ecosystems of Northeast Thailand. NJAS – Wageningen Journal of Life Sciences, 78, 1–11.DOI: https://doi.org/10.1016/j.njas.2015.12.003
Rulitasari, D., & Rachmadiarti, F. (2021). “Semanggi Air (Marsilea crenata) Sebagai Agen Fitoremediasi LAS Detergen.” LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi, 9(2), 99–104. DOI: 10.26740/lenterabio.v9n2.p99-104
Rachmadiarti, F., Asri, M. T., Bashri, A., Yuliani, & Pratiwi, I. A. (2020). “Consortium of Marsilea crenata and Ludwigia adscendens for Linear Alkylbenzene Sulfonate Detergent Phytoremediator.” Asian Journal of Water, Environment and Pollution, 17(3), 37–41. DOI: 10.3233/AJW200033
Vatmawati, V. N., & Rachmadiarti, F. (2023). “Effect of Phytoremediation of Eichhornia crassipes (Mart.) Solms and Marsilea crenata C. Persl on Reduction of Phosphate Levels in Laundry Waste.” Asian Journal of Water, Environment and Pollution, 20(2), 1–7. DOI: 10.3233/AJW230018






Posting Komentar