Ia5K33hce05kVEU1UP8J8DLa01dvV8DSgOffubpV
Bookmark

Dari Gambut ke Meja Makan: Nasi di Piring dan Umbi yang Mulai Asing

Pernah nggak, teman online berpikir bahwa kebakaran hutan di tempat yang jauh dari rumah ternyata bisa berkaitan dengan makanan yang kita makan setiap hari?

Keragaman pangan lokal

Kalau mendengar kabar kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, yang pertama kali terlintas di pikiranku biasanya asap tebal, hutan yang terbakar, dan dampaknya bagi kesehatan. Aku jarang langsung menghubungkannya dengan bahan makanan yang biasa kubeli di pasar atau masak di rumah.

Sampai akhirnya, aku mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad (EBS) bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity yang mengangkat tema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.”

Dari tema tersebut, aku jadi penasaran, dan bertanya-tanya. Memangnya, apa hubungan antara lahan gambut, kebakaran hutan, keanekaragaman hayati, dan makanan yang kita konsumsi sehari-hari?

Ternyata, membicarakan pangan tidak cukup hanya melihat apa yang tersaji di piring. Ada lingkungan yang mendukung kehidupan, ada tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta ada masyarakat yang bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Dari Gambut, Karhutla, hingga Makanan di Meja Kita

Salah satu hal yang dibahas dalam Online Gathering ini adalah pentingnya menjaga ekosistem gambut. Apa itu gambut?

Gambut bukan sekadar tanah biasa. Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dalam waktu lama dan menyimpan banyak karbon. Ekosistem ini juga memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup.

Saat masih basah, gambut bisa menyimpan banyak air, seperti spons raksasa. Namun, ketika gambut mengering, risiko kebakaran bisa meningkat. 

Udara akan masuk ke celah-celah di dalam tanah. Api bisa merambat ke bawah permukaan dan membakar lapisan gambut yang sulit terlihat.

Masalahnya, kebakaran gambut tidak selalu berhenti ketika api di permukaan terlihat padam. Api bisa membara di lapisan gambut di bawah tanah dan bertahan cukup lama.

Terlebih lagi saat ini Indonesia mengalami cuaca kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño. Satu pemantik api kecil bisa membuat kebakaran lebih mudah terjadi.

Dampaknya bukan hanya asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kebakaran dan kerusakan gambut juga bisa mengganggu lingkungan serta mengancam tumbuhan dan hewan yang hidup di sana.

Lalu, apa hubungannya dengan makanan?

Coba kita bayangkan. Alam menyediakan berbagai sumber pangan yang dimanfaatkan manusia. Ketika lingkungan rusak, sebagian tumbuhan dan hewan bisa ikut terancam. Dalam jangka panjang, kerusakan lingkungan juga bisa mengganggu keberagaman sumber pangan yang tersedia.

Salah satu hal yang menarik perhatianku dari Online Gathering ini adalah penjelasan tentang keunikan lahan gambut di Indonesia. Lahan yang selalu dianggap “wasteland” tidak berguna ini, punya peran besar dalam menjaga lingkungan, tapi di sisi lain sangat rentan

Dalam materi yang disampaikan Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut, Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut. Dari jumlah tersebut, sekitar 16,4 juta hektare dikategorikan memiliki kerentanan kebakaran sedang hingga tinggi berdasarkan data Pantau Gambut tahun 2023.

Aku juga baru memahami bahwa El Niño bukan penyebab utama karhutla, melainkan salah satu faktor pendukung. Ketika gambut sudah mengering, risiko kebakaran menjadi lebih besar. Bahkan, gambut yang sudah rusak karena terbakar tidak bisa kembali menjalankan fungsinya seperti semula.

Kerusakan ekosistem tersebut dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk cara mereka memenuhi kebutuhan pangan. Ketika lingkungan berubah atau rusak, sumber daya yang selama ini menopang kehidupan juga dapat ikut terancam. 

Karena itu, pembahasan tentang pangan dalam sesi berikutnya terasa relevan untuk melengkapi pemahamanku tentang hubungan antara lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Di dalam materi Ahmad Arif atau akrab disapa Mas Aik tentang keragaman biokultural, aku menemukan penekanan bahwa sistem pangan tidak seharusnya hanya bergantung pada sedikit jenis bahan makanan. Materinya menyoroti ketergantungan pada beras dan gandum, sekaligus mengajak kita melihat kembali kekayaan sumber pangan dan budaya makan di berbagai daerah Indonesia.

Keragaman tersebut terlihat dari berbagai contoh pangan lokal, seperti sagu di Papua, jagung bose di Timor, dan singkong di Cirendeu, Jawa Barat. Setiap daerah memiliki sumber pangan dan pengetahuan pengolahan yang berkembang sesuai kondisi alam serta kebiasaan masyarakatnya. 

Artinya, keberagaman pangan bukan hanya soal pilihan makanan, tetapi juga mencerminkan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup. Termasuk hubungan masyarakat sekitar hutan dengan hutan itu sendiri atau masyarakat kota dengan lingkungan kota.


Apakah Kebakaran Gambut di Kalimantan Bisa Berdampak pada Pangan di Jawa?

“Kalau lahan gambut yang terbakar berada di Kalimantan, apakah dampaknya bisa sampai ke Pulau Jawa?”

Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku saat pemaparan materi dari kak Yoga mengenai lahan gambut, karhutla, dan biodiversitas yang terancam di lokasi kebakaran. Sebelum mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang harus dipahami lebih dulu.

Pertama, kebakaran gambut bisa merusak lingkungan dan mengancam keanekaragaman hayati di wilayah yang terbakar. Jika tumbuhan atau hewan yang menjadi sumber pangan masyarakat ikut terdampak, pilihan pangan dan kehidupan masyarakat setempat juga bisa terganggu.

Kedua, kebakaran dapat mengganggu kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan pertanian di wilayah terdampak. Jika gangguan produksi terjadi pada bahan pangan yang diperdagangkan ke daerah lain, pasokan di wilayah tujuan juga berpotensi terpengaruh. Namun, dampaknya bergantung pada jenis bahan pangan, asal pasokan, dan jalur distribusinya.

Ketiga, kebakaran gambut melepaskan karbon ke atmosfer. Jika kerusakan dan emisi terus terjadi, hal ini menambah tekanan terhadap perubahan iklim. Sementara itu, perubahan pola hujan dan meningkatnya risiko kekeringan dapat menjadi tantangan bagi pertanian di berbagai wilayah, termasuk Jawa.

Jadi, bukan berarti kebakaran gambut di Kalimantan akan langsung membuat pangan di Jawa sulit ditemukan. Hubungannya tidak sesederhana itu. Namun, kejadian tersebut mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan dan keberlanjutan pangan merupakan persoalan yang perlu diperhatikan bersama.


Keragaman Pangan, Kunci Hadapi Krisis Iklim

Dari kedua paparan materi dalam Online Gathering Eco Blogger Squad, aku menangkap satu benang merah, yaitu menjaga ekosistem dan menjaga keragaman pangan saling berkaitan. Ekosistem yang sehat membantu menyediakan sumber daya bagi kehidupan, sedangkan keragaman pangan dapat membuat masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu jenis bahan makanan. 

aku juga menemukan persoalan lain yang berkaitan dengan sistem pangan dalam materi Ahmad Arif, yaitu risiko stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak. ketergantungan pada beras dan gandum sebagai sumber utama kalori berkaitan dengan risiko kekurangan zat gizi mikro, obesitas, hingga stunting.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya tentang apakah kita bisa makan sampai kenyang. Melainkan, juga tentang apakah makanan yang kita konsumsi cukup beragam untuk mendukung kebutuhan gizi tubuh.

Tentu saja, stunting tidak disebabkan oleh satu faktor saja dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain. Namun, mengenal beragam sumber pangan dan menerapkan pola makan yang beragam serta bergizi merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas konsumsi pangan.

Selain itu, pemanfaatan pangan lokal juga membantu mempertahankan pengetahuan dan kebiasaan yang telah diwariskan dalam suatu komunitas. Pemahaman tersebut kemudian membuatku melihat kembali pangan lokal yang selama ini cukup akrab di sekitarku, salah satunya singkong.

Selama ini, singkong lebih sering kukenal sebagai kudapan daripada sebagai bagian dari pilihan pangan yang dapat menggantikan nasi. Padahal, contoh singkong di Cirendeu menunjukkan bahwa bahan pangan ini dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pangan masyarakat. 

Dari sinilah, aku ingin menelusuri lebih jauh apakah singkong dulu pernah menjadi bagian dari makanan pokok di Jawa Timur selain nasi? Kalau iya, bagaimana masyarakat saat itu mengolah singkong menjadi pendamping lauk?


Nasi di Piring dan Singkong yang Mulai Asing

Aku tinggal di kawasan Kenjeran, Surabaya. Di lingkungan tempatku tinggal, makanan laut cukup mudah dijumpai. Nasi juga masih menjadi makanan pokok yang sulit dipisahkan dari menu sehari-hari.

Bahkan, ada anggapan bahwa makan belum terasa kenyang kalau belum makan nasi. Hayo, siapa yang juga pernah mendengar kalimat “sakti” ini?

Sementara itu, singkong bukanlah bahan makanan yang asing bagiku. Aku mengenal singkong melalui berbagai jajanan tradisional, seperti srawut, jemblem, bubur grendul, gatot, dan tiwul. Sayangnya, dalam pengalamanku, singkong lebih sering hadir sebagai kudapan daripada sebagai pengganti nasi.

Padahal, singkong punya banyak cara untuk diolah. Aku pun mulai menyadari bahwa mungkin yang mulai jarang kita kenal bukanlah singkongnya, melainkan kebiasaan menjadikannya bagian dari makanan utama.

Pertanyaan itu terasa semakin menarik ketika aku mengingat cerita dari ibuku tentang singkong, nenekku yang belum mampu membeli beras, dan bagaimana mereka bertahan dengan makan olahan singkong sebagai pengganti nasi.

Cerita Ibu tentang Beras, Nenek, dan Tiwul

“Pangan lokal lahir dari proses panjang leluhur beradaptasi terhadap lingkungan”
Ahmad Arif dalam Online Gathering Eco Blogger Squad

Ibuku pernah bercerita tentang masa kecilnya, ketika beras mahal. Pada masa itu, beras sudah dianggap sebagai makanan pokok yang harus tersedia. Untuk menyiasati keadaan tersebut, nenekku mencampurkan sedikit beras dengan tiwul, olahan singkong yang dibuat dari tepung gaplek.

Gaplek sendiri merupakan singkong yang dikeringkan sebelum diolah lebih lanjut. Kata ibuku, dulu cara mengeringkan singkong menjadi gaplek sangat unik.

Singkong yang sudah dikupas, dicuci bersih, lalu dilempar ke atas genteng, dan dibiarkan sampai kering. Selanjutnya, singkong yang sudah kering alias gaplek digiling menjadi tepung.

Cerita sederhana ini membuatku berpikir. Di tengah keterbatasan, keluarga nenekku ternyata memiliki cara untuk memanfaatkan sumber pangan yang tersedia. Singkong bukan sekadar bahan untuk membuat camilan, tetapi juga membantu keluarga memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Selain tiwul, nenek juga pernah mengolah singkong dengan cara diparut, kemudian dikukus dan dimakan bersama lauk yang pedas misalnya sayur lodeh. Olahan ini menunjukkan bahwa singkong tidak selalu harus disajikan dengan gula atau dijadikan gorengan.

Di Surabaya, singkong juga hadir dalam bentuk lento yang menjadi pendamping karbohidrat selain lontong dalam sajian lontong balap. Akan tetapi, lento singkong ini sudah jarang hadir dalam campuran lontong balap di beberapa penjual.

Dari cerita tersebut, aku melihat bahwa singkong sebenarnya memiliki tempat dalam beragam kebiasaan makan keluarga dan masyarakat. Namun, seiring waktu, sebagian olahan singkong mungkin lebih sering kita kenal sebagai jajanan tradisional daripada sebagai bagian dari menu utama.

Aku jadi penasaran: apakah kebiasaan makan singkong bersama lauk masih dilakukan oleh banyak keluarga, atau justru mulai ditinggalkan dan hanya tersisa dalam ingatan generasi sebelumnya?

Singkong: Dari Kudapan hingga Teman Makan Lauk

Jika dipikir-pikir, olahan singkong yang kukenal cukup beragam. Ada srawut dari singkong parut, jemblem dengan isian gula merah, bubur grendul, gatot, hingga tiwul yang disajikan manis. Semua memiliki ciri khas masing-masing dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional.

Namun, ada perbedaan antara mengenal singkong sebagai kudapan dan mengenalnya sebagai sumber pangan pengganti nasi. Sebagai kudapan, singkong sering disajikan dengan rasa manis atau digoreng.

Sementara itu, singkong parut yang dikukus dan dimakan bersama lauk menawarkan cara menikmati singkong yang berbeda. Tiwul yang dicampur dengan nasi juga memperlihatkan bahwa sumber pangan bisa dikombinasikan, bukan hanya dipilih salah satunya.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa kita harus berhenti makan nasi atau mengganti seluruh menu harian dengan singkong. Bagiku, hal yang lebih penting adalah menyadari bahwa sumber pangan kita tidak hanya satu.

Mengenali kembali cara mengolah singkong bisa menjadi langkah kecil untuk memperluas pilihan makanan yang kita konsumsi. Di sisi lain, cerita dari ibu dan nenek juga mengingatkanku bahwa pengetahuan pangan tidak selalu berasal dari buku atau resep modern. Banyak di antaranya diwariskan melalui kebiasaan keluarga dan pengalaman hidup.


Menelusuri Singkong: dari Pekarangan hingga Meja Makan

Rasa penasaranku tentang singkong tidak berhenti pada cerita keluarga. Aku mencoba melihat keberadaan tanaman ini di sekitar rumah dan mencari tahu apakah singkong masih mudah diperoleh sebagai bahan pangan.

Di sekitar rumah, tanaman singkong masih tumbuh di pekarangan warga. Namun, daunnya lebih sering dimanfaatkan, sedangkan umbinya belum banyak diolah. Padahal, umbi singkong dapat dibuat menjadi berbagai makanan, seperti srawut, jemblem, dan tiwul.

Hal ini membuatku berpikir bahwa tanaman pangan yang masih tumbuh di sekitar kita belum tentu dimanfaatkan sebagai makanan sehari-hari. Kita mungkin masih mengenal tanamannya, tetapi belum terbiasa mengolah umbinya.

Untuk mengetahui ketersediaannya di luar lingkungan rumah, aku menelusuri singkong di Pasar Kali, Jalan Gersikan, Surabaya. Di sana, singkong masih banyak dijual dan berasal dari luar kota Surabaya, tapi masih area Jawa Timur.

Temuan ini menunjukkan bahwa singkong masih tersedia, meskipun tidak selalu berasal dari lingkungan terdekat. Hal ini menunjukkan bahwa mengenal sumber pangan tidak cukup hanya dengan mengetahui tempat tumbuhnya. Kita juga perlu melihat bagaimana bahan tersebut diperoleh dan dimanfaatkan.

Aku tidak bisa menyimpulkan bahwa singkong dari pekarangan warga dapat langsung menggantikan singkong di pasar. Namun, pengamatan ini membuatku bertanya-tanya: mungkinkah singkong di sekitar kita lebih banyak dimanfaatkan jika kita kembali mengenal cara mengolahnya?

Mencoba Kembali Singkong sebagai Makanan Pendamping Lauk

Aku mencoba dua cara sederhana untuk mulai membiasakan diri makan selain nasi: makan tiwul yang dicampur dengan nasi dan makan singkong parut yang dikukus bersama lauk seadanya.

Singkonh tidak harus selalu diolah menjadi camilan atau gorengan. Bahan pangan ini juga dapat menjadi bagian dari makanan utama, baik dicampur dengan nasi maupun dimakan bersama lauk.

Dari pengalaman tersebut, aku bisa membayangkan bagaimana singkong dahulu membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Aku juga teringat cerita ibu tentang nenek yang mencampurkan sedikit beras dengan tiwul ketika harga beras mahal. Kebiasaan itu menunjukkan cara keluarga memanfaatkan bahan pangan yang tersedia.

Tentu saja, pengalaman ini tidak berarti singkong dapat menggantikan nasi sepenuhnya untuk semua orang. Namun, aku jadi menyadari bahwa pilihan pangan kita sebenarnya lebih beragam daripada yang biasa hadir di meja makan.

Bagiku, mencoba kembali olahan singkong bukan hanya tentang mencari alternatif nasi. Pengalaman ini menjadi rangkaian dari melihat singkong tumbuh di sekitar rumah, menemukannya di pasar, lalu mengolahnya menjadi makanan. Dari sana, aku mulai memahami bahwa keragaman pangan dapat dikenali melalui pengamatan dan pengalaman langsung.

Langkah awalnya bisa dimulai dari hal sederhana: memperhatikan tanaman di sekitar kita, mencari tahu asal bahan makanan di pasar, mencoba resep keluarga, dan memberi kesempatan bagi pangan lokal untuk kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.


Menjaga Keragaman Pangan Dimulai dari Cerita di Sekitar Kita

Dari Online Gathering hingga cerita ibu tentang nenek, aku mulai memahami bahwa keragaman pangan bukan sekadar urusan memiliki banyak menu di meja makan.

Ada lingkungan yang mendukung tumbuhnya sumber pangan. Ada tumbuhan dan hewan yang menjadi bagian dari ekosistem. Ada pula pengetahuan masyarakat tentang cara menemukan, mengolah, dan memanfaatkan bahan makanan yang tersedia.

Ketika ekosistem terganggu akibat karhutla dan perubahan iklim, keberlanjutan sumber pangan juga perlu menjadi perhatian. Karena itu, menjaga lingkungan dan mengenali keragaman pangan seharusnya tidak dipisahkan.

Singkong menjadi contoh tanaman yang dekat denganku. Aku bisa mengenalnya melalui pasar, mencicipi kembali olahan tradisional, bertanya kepada keluarga, dan belajar dari kebiasaan yang diwariskan generasi sebelumnya.

Tentu saja, mengonsumsi singkong saja tidak otomatis menyelesaikan krisis iklim. Namun, mengenali dan memanfaatkan beragam sumber pangan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan. Upaya ini perlu berjalan bersama perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati agar sumber pangan tetap tersedia bagi masyarakat.


Dari Gambut ke Meja Makan, Apa yang Bisa Kita Mulai?

Sebelum mengikuti kegiatan ini, aku mungkin lebih mudah menghubungkan karhutla dengan asap, pohon yang terbakar, dan kerusakan hutan. Sekarang, aku juga melihat pentingnya menghubungkan persoalan tersebut dengan keberagaman sumber pangan dan kebiasaan makan kita.

Aku kembali teringat pada cerita nenek yang mencampurkan sedikit beras dengan tiwul ketika harga beras mahal. Cerita itu mengingatkanku bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam memanfaatkan sumber pangan yang tersedia, bahkan dalam keadaan terbatas.

Mungkin kita tidak perlu langsung melakukan perubahan besar. Kita bisa memulainya dengan mengenali pangan lokal di sekitar kita, mencoba resep tradisional, bertanya kepada orang tua tentang makanan yang dahulu sering mereka konsumsi, atau mencari tahu dari mana bahan pangan yang kita beli berasal.

Dari hal-hal sederhana tersebut, kita bisa belajar menghargai pilihan pangan yang lebih beragam sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan yang menopangnya.

Pada akhirnya, menjaga gambut bukan hanya tentang melindungi lahan yang jauh dari tempat tinggal kita. Menjaga biodiversitas juga bukan sekadar menyelamatkan tumbuhan dan hewan yang jarang kita lihat.

Keduanya mengingatkan kita bahwa kehidupan saling berkaitan, termasuk dengan makanan yang tersaji di meja makan.

Keragaman pangan sebagai mitigasi dan adaptasi pada krisis iklim. Pesan ini membuatku ingin kembali mengenal singkong dan pangan lokal lainnya, bukan sekadar sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga sebagai pilihan yang layak 

Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah di daerah kalian ada bahan pangan lokal yang dulu sering dimakan keluarga, tetapi sekarang mulai jarang hadir di meja makan?

Aku penasaran dengan cerita kalian. Siapa tahu, dari makanan sederhana yang diwariskan keluarga, kita bisa kembali mengenal kekayaan pangan di sekitar kita sekaligus belajar menjaga keberagamannya untuk masa depan.


Referensi

Arif, A. (2021). Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. https://books.google.com/books/about/Masyarakat_Adat_Kedaulatan_Pangan.html?id=uyAZEAAAQBAJ⁠

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 27 Mei). SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-menjadi-19-8/⁠

Pantau Gambut. (2023). Waspada Karhutla di Pelupuk Mata. https://pantaugambut.id/publikasi/waspada-karhutla-di-pelupuk-mata⁠

Pantau Gambut. (2026). Materi presentasi tentang gambut dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) [Materi presentasi]. Online Gathering Eco Blogger Squad, 16 Oktober 2026.

Arif, A. (2026). Materi presentasi tentang keragaman biokultural, kedaulatan pangan, dan iklim [Materi presentasi]. Online Gathering Eco Blogger Squad, 16 Oktober 2026.

Posting Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar.

Love,
Anggi