Potensi Biji Mangrove Surabaya Sebagai Biofuel

"Aku hidup di masa kini dengan menggunakan jatah hidup anak dan cucuku di masa depan.  Aku terus saja membuang energi kotor dari kendaraan yang aku pakai, kompor yang aku nyalakan tiap hari, dan air yang kadang aku buang percuma selepas mencuci beras. Air, tanah, tumbuhan, bahkan udara yang aku nikmati sekarang, bisa jadi tak bisa dinikmati oleh generasi masa depan karena aku. Prediksi kerusakan bumi akibat krisis iklim di tahun 2030 membuatku sadar, ada kehidupan di masa depan yang harus aku lindungi dan perjuangkan. Bukan lagi slogan atau teori tentang melindungi bumi, namun butuh aksi nyata untuk menyelamatkan bumi dari dampak krisis iklim. " 


Begitulah sepucuk memoar kegelisahanku dalam mengadapi dampak krisis iklim dunia yang semakin mengganas. Bumi kita makin hari makin panas. Kenaikan suhu bumi akan melampaui batas aman pada tahun 2030 dengan skenario terburuk mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut akan naik dan bisa menenggelamkan daratan. Jadi, isu "Jakarta tenggelam" akan menjadi suatu kenyataan jika tidak dibarengi aksi nyata untuk menekan dampak krisis iklim dunia.

Krisis Iklim Dunia, Glasgow on Fire!

Menyikapi dampak pemanasan global yang berujung pada krisis iklim dunia, sebanyak 190 pemimpin negara di dunia akan berkumpul secara virtual di Glasgow, Skotlandia untuk membahas masalah krisis iklim dunia yang semakin wow! Indonesia pastinya juga akan turut hadir dalam acara UN Climate Change Conference (COP26) tersebut. Momentum ini akan sangat menentukan masa depan bumi karena di COP26 akan dibahas aksi nyata dan komitmen 190 negara untuk menekan dampak krisis iklim.


Kali ini COP26 harus benar-benar menghasilkan poin-poin aksi nyata untuk mencapai 4 tujuan utama COP selama ini, yaitu :
  1. Emisi bersih pada 2050
  2. Adaptasi dengan melindungi masyarakat dan habitat alami
  3. Prioritas untuk pendanaan iklim
  4. Penyelesaian Paris Rulebook

Indonesia Butuh Energi Bersih Pengganti Energi Fosil

Dampak krisis iklim itu sangat serius, oleh karena itu butuh langkah ambisius untuk mencapainya. Dunia, termasuk Indonesia, tak lagi butuh slogan manis, tapi butuh aksi praktis untuk hadapi krisis iklim.

Salah satu langkah ambisius dan praktis yang dibutuhkan Indonesia adalah segera beralih dari energi fosil ke energi bersih terbarukan untuk mencapai emisi bersih.  Namun, Indonesia masih memiliki efek ketergantungan yang kuat pada bahan bakar fosil karena harga yang relatif murah, contohnya seperti batu bara. 

Solusi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkan bahan bakar nabati atau disebut juga sebagai biofuel. Bahan bakar nabati lebih ramah lingkungan serta mengahasilkan gas emisi 48 persen lebih kecil dibandingkan bahan bakar fosil. 

Sejak tahun 2004, pemerintah Indonesia mengembangkan kebijakan untuk mempromosikan produksi biofuel seperti biodiesel dan bioetanol sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN) pengganti Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006. Peraturan lain juga dibuat untuk mendukung hal tersebut seperti pembentukan tim nasional pengembangan biofuel tahun 2008. Hingga pada awal tahun 2020, seluruh SPBU di Indonesia sudah bisa menyediakan biosolar dari hasil pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel dan bahan bakar minyak jenis solar.

Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Alternatif Energi Bersih Terbarukan

Bahan bakar nabati atau Biofuel secara luas didefinisikan sebagai padatan, cairan atau gas bakar yang diturunkan dari biomassa tumbuhan atau produk samping tumbuhan. Dalam arti sempit, biofuel didefinisikan sebagai cairan atau gas yang digunakan sebagai bahan bakar transportasi dan berasal dari materi tumbuhan atau produk sampingnya. Biofuel dibagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu bioetanol, biogas, dan biodiesel.


Bioetanol

Bioetanol merupakan jenis bahan bakar nabati yang relatif mudah dan murah diproduksi sehingga industri rumahan sederhana pun mampu membuatnya.  Cara membuat Bioetanol  dengan teknik fermentasi terhadap biomassa yang dapat diperbaharui seperti umbi-umbian, jagung, tebu, bahkan limbah sayuran. Setelah itu, hasil fermentasi harus didestilasi untuk mendapatkan cairan bioetanol murni.

Biogas

Biogas merupakan jenis bahan bakar nabati yang berasal dari hasil fermentasi bahan organik seperti limbah rumah tangga, kotoran (manusia atau hewan), dan limbah yang dapat didaur ulang (biodegradable). Proses fermentasi bahan organik tersebut akan menghasilkan gas dengan kandungan utama metana dan karbon dioksida. Gas inilah yang disebut sebagai biogas.

Biodiesel

Di Indonesia, biodiesel sebagian besar diproduksi dari minyak kelapa sawit, tapi hal tersebut menyebabkan ekspansi lahan untuk kelapa sawit yang berbuah kerusakan lingkungan. Padahal, sebenarnya biodiesel dapat diproduksi dari beberapa jenis bahan baku :
1. Tanaman pangan yang mengandung minyak nabati: kelapa, kedelai, dan lain-lain.
2. Tanaman tidak dapat dimakan yang mengandung minyak: jarak pagar, nyamplung, kelor, kemiri sunan, dan lain-lain.

Biji Mangrove Sebagai Alternatif Biofuel di Surabaya


Salah satu biofuel yang sudah tersedia di SPBU Indonesia, termasuk Surabaya, adalah biosolar. Bahan bakar diesel tersebut  didapatkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit dan minyak pohon jarak pagar, dibuat dengan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya merupakan proses yang mereaksikan minyak nabati dengan metanol, etanol, dan katalisator (NaOH atau KOH). Dari hasil proses transesterifikasi itu akan dihasilkan metil ester asam lemak murni (Fatty Acid Metyl Ester/FAME). Lalu FAME tersebut dicampur dengan solar murni selama sekitar sepuluh menit untuk menghasilkan bahan bakar Biosolar yang siap pakai. Biosolar memiliki kelebihan dibanding bahan bakar fosil seperti, karakter pembakaran yang relatif bersih dan ramah lingkungan.

Namun, penggunaan bahan baku kelapa sawit dalam proses produksi tersebut masih dianggap punya dampak kerusakan lingkungan ketika banyak sekali ekspansi lahan terjadi untuk penanaman pohon kelapa sawit. Padahal, secara geografis Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk menghasilkan sumber energi 
alternatif, diantaranya dari bahan biji buah mangrove.


Menurut Noor dkk. (2006), Indonesia memiliki hutan mangrove terluas dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Berdasarkan data FAO pada tahun 2007, luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 3.062.300 hektar atau 19% dari luas hutan mangrove di dunia, melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%). Hal tersebut menjadikan mangrove berpotensi jadi bahan baku biodiesel dengan ketersediaan yang berlimpah. Ditambah lagi, pada tahun 2011, Gunawan dkk. telah melakukan penelitian biji mangrove dari hutan mangrove di pantai timur Surabaya, sebagai bahan baku pembuatan biodiesel .

Hasil penelitian biodiesel dari biji mangrove tersebut memiliki tingkat bilangan setana yang lebih tinggi dibandingkan biosolar. Semakin tinggi nilai setana, semakin baik kualitas biodiesel karena pembakaran lebih sempurna dan efisien. Selain itu, diperkirakan biaya untuk pembuatan biodiesel dari biji mangrove lebih murah daripada biosolar. Pada produksi tingkat laboratorium saja hanya memerlukan biaya sekitar 2500 per liter.

Ketersediaan Mangrove di Surabaya

Dalam Laporan Survey Analisa Vegetasi Mangrove oleh tim Dinas Lingkungan Hidup Surabaya tahun 2018, ekosistem mangrove di Surabaya dapat dibagi menjadi wilayah pantai utara Surabaya (Panturbaya)  dan wilayah pantai timur Surabaya (Pamurbaya). Jenis mangrove yang ada di pantura dan pamurbaya didominasi  genus Avicennia (mangrove terbuka) dan Rhizophora (mangrove tengah). Genus lain yang juga ada yaitu Sonneratia (mangrove payau)Bruguierra, dan Xylocarpus (mangrove daratan).



Perkiraan luas wilayah ekosistem mangrove di panturbaya sekitar 150 hektar yang meliputi Romokalisari, Greges, dan Tambak Langon. Wilayah pamurbaya memiliki luas ekosistem lebih besar daripada panturbaya, sekitar 800 hektar yang tersebar ke beberapa wilayah seperti Tambak Wedi, Kenjeran, Keputih, Gunung Anyar, dan Wonorejo. Pada wilayah panturbaya dan pamurbaya, kerapatan mangrove sekitar 2000-3000 pohon per 1 hektar wilayah. Jumlah tersebut cenderung naik setiap tahun karena usaha pemerintah untuk mengembalikan luas ekosistem mangrove yang sempat berkurang karena rusak.

Biofuel jenis Biodiesel dari Biji Mangrove

Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk membuat biodiesel dari biji mangrove. Seperti penelitian Gunawan dkk. (2011) yang membuat biodiesel dari mangrove genus Xylocarpus dari pamurbaya. Hasil penelitian menyebutkan bahwa tiap 1 gram minyak mentah dari biji mangrove bisa terkonversi menjadi 0,32 gram biodiesel atau sekitar 32% berat.

Penelitian lain (Suyono dkk., 2017) menyebutkan bahwa biodiesel dari mangrove genus Callophylum memiliki rendemen minyak 40-70% lebih tinggi dibandingkan tanaman jarak dan kelapa sawit. Angka setana yang dihasilkan juga cukup tinggi, sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). 

Kedua penelitian tersebut menunjukkan potensi biji mangrove sebagai bahan baku pembuatan biofuel jenis biodiesel yang ramah lingkungan, murah, dan dapat diperbaharui. Selain itu, tak perlu ekspansi lahan untuk budidaya mangrove karena luas ekosistem mangrove di Indonesia sangat besar. 

Hanya saja, perlu penelitian lanjutan mengenai beberapa hal agar potensi biji mangrove bisa digali lebih dalam lagi seperti :
  • Kemampuan genus lain untuk menghasilkan biodiesel agar mendapatkan data genus mangrove mana yang paling berpotensi untuk dijadikan bahan baku biodiesel.
  • Penelitian tentang bilangan sektan beberapa biodiesel dari genus mangrove.
  • Estimasi perbandingan luas ekosistem mangrove dan kebutuhan biofuel di masa depan.

Referensi

  1. Anastasia Kharina, Chris Malins, and Stephanie Searle, Biofuels policy in Indonesia: Overview and status report. (ICCT: Washington, DC, 2016), https://theicct.org/publications/biofuels-policy-indonesia-overview-and-status-report
  2. "Apa itu Biofuel (Bahan Bakar Nabati)?",Madani Berkelanjutan, diakses pada 25 Oktober 2020, https://madaniberkelanjutan.id/2021/10/05/apa-itu-biofuel-bahan-bakar-nabati
  3. Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, 2018, "Laporan Survey Analisa Vegetasi Mangrove", Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Surabaya
  4. FAO, 2007, "The World’s Mangroves 1980–2005". Forest Resources Assessment Working Paper No. 153. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome
  5. Gunawan, S., Darmawan, Dhika, A., Setio, A., Nanda, M., dan Aliwafa, 2011, "POTENSI BIJI BUAH MANGROVE XYLOCARPUS MOLUCCENSI SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIODIESEL", Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, UNDIP, Semarang
  6. Karna Wijaya, "Biofuel dari Biomassa", Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, diakses pada 25 Oktober 2020, https://pse.ugm.ac.id/biofuel-dari-biomassa/
  7. Noor, Yus Rusila., M. Khazali., I.N.N. Suryadipura, 2006, "Panduan mengenal mangrove di Indonesia", Wetlands International Indonesia Programme
  8. Suyono, Hartanti, N.U., Wibowo, A., dan Narto, 2017, "Biodisel dari Mangrove Jenis Nyamplung (Callophylum inophyllum) sebagai Alternatif Pengganti Bahan Bakar Minyak Fosil", Biosfera, vol. 34, hal. 123-130.


Share:

Nature Walk di Kenjeran Saat Pandemi

 Assalamu'alaikum, Surabaya!

Hampir dua tahun lamanya seluruh dunia berperang lawan COVID 19. Selama itu pula, hampir sebagian besar pergerakan manusia jadi terbatas. Masih membekas di ingatanku tagar #dirumahaja sebagai pengingat agar tak sembarangan keluar rumah di saat pandemi. Sebagai orang tua aku pun sangat membatasi frekuensi anak untuk bermain di luar rumah atau sekadar jalan-jalan ke luar rumah. Dalam satu bulan mungkin hanya sekali kami bermain bersama ke luar rumah, itu pun hanya berputar-putar kota dengan sepeda motor.

Lama-kelamaan aku khawatir dengan perkembangan kecerdasan anak. Dalam kurikulum pendidikan yang sudah aku sepakati dengan suami (baca di sini), ada banyak sekali bagian untuk bermain di alam. Kalau alam sekitar rumah sudah habis dieksplorasi oleh anak. Ditambah lagi, anakku tipe anak yang amat sangat penasaran dan haus eksplorasi.

Si kecil yang haus eksplorasi

Aku dan suami akhirnya berdiskusi panjang untuk menentukan wisata alam yang sekiranya sepi dan dekat dengan rumah. Setelah diskusi yang cukup menguras energi dan cadangan makan di perutku, akhirnya terpilihlah "Kenjeran" untuk target sesi nature walk dalam jadwal belajar anakku. Selain dekat dengan rumah, akses menuju Kenjeran cukup mudah dan murah. Kenjeran ini juga punya sejarah yang cukup unik, mula dari terkenal jadi tempat mesum sampai sekarang jadi tempat wisata yang dikenal banyak orang di luar wilayah Kenjeran.


Kenjeran Dulu dan Kini

Sudah sejak lama, area pantai Kenjeran memang terkenal sebagai penghasil kuliner kerupuk ikan laut dan ikan asap. Di sini juga ada wisata Pantai Lama Kenjeran dan Pantai Baru Kenjeran.

Hanya saja, dulu area Kenjeran masih belum tertata rapi. Sering juga ketika kata "Kenjeran" disebut, konotasi negatif selalu tersemat di kata itu. Misalkan saja saat aku ingin jalan-jalan ke Kenjeran saat petang, pasti orang sekitar akan balik bertanya, "mau ngapain?? Liatin mobil goyang?"

Kenjeran mulai berubah sejak Bu Risma menjabat sebagai walikota Surabaya. Area pengasapan ikan dijadikan satu secara teratur di Sentra Ikan Bulak (SIB). Penerangan jalan juga ditambah agar tak tampak remang-remang saat petang. Pasangan muda-mudi yang hobi bermain di mobil pun sudah hampir tak ada.

Selain itu, pembangunan Jembatan Suroboyo membuat area Kenjeran semakin ramai menarik magnet wisatawan lokal. Hiburan berupa air mancur menari disertai lampu-lampu cantik tiap Sabtu dan Minggu malam (sebelum pandemi) sukses membuat stigma negatif tentang Kenjeran perlahan pudar. Satu lagi, adanya wisata baru "Atlantis Land" atau dulu disebut "Kenjeran Baru" juga makin memeriahkan suasana baru di Kenjeran.

Sejak itulah, Kenjeran berubah jadi ikon Surabaya yang cantik dan diminati para wisatawan lokal. Tiap hari Sabtu-Minggu, Kenjeran selalu ramai diserbu pengunjung, baik dari dalam kota maupun luar kota.


Sunrise Cantik di Kenjeran

Aku dan suami sengaja berangkat lepas subuh agar bisa sekalian menyaksikan sunrise di Kenjeran. Tak lupa kami menerapkan prokes ketat selama di Kenjeran. Sampai di Kenjeran, suasananya masih sepi di Minggu pagi saat itu. Kerumunan manusia juga hampir tak ada.

"Alhamdulillah, aman, bisa nature walk tanpa was-was, nih,"pikirku dalam hati.

Benar saja, sesampainya di pantai Kenjeran dekat batu-batu, kami bertiga sudah disambut oleh semburat merah-jingga sunrise yang sangat cantik. Aku pun langsung mengajak anakku untuk mendekat ke bibir pantai.

Sunrise Kenjeran

MasyaAllah sungguh cantik pemandangan sunrise di pantai ini. Menurut beberapa fotografer, di sini memang salah satu tempat terbaik untuk berburu foto sunrise. Kalau datang pagi, kadang banyak fotografer dengan berbagai alat canggih hanya untuk berburu foto si cantik matahari pagi.


Nature Walk Pantai

Setelah puas menikmati indahnya matahari terbit, aku biarkan kakinya tersapu air laut, sembari mendengarkan debur ombak yang menderu. Sebenarnya aku ingin melepas sepatu anakku, namun kondisi pantai yang banyak terdapat pecahan kerang, membuatku urung melakukannya. Dua hal itu cukup bisa menstimulasi saraf sensorik.

Mengamati air laut dan mendengarkan debur ombak di pantai.

Aku juga membiarkannya duduk sambil memegang kerang dan pasir agar saraf sensorik yang ada di tangannya juga terstimulasi. Kegiatan ini cukup asyik. Kosa kata si kecil pun bertambah dengan mengucap kata "kerang". Ketika ia melihat benda asli berupa kerang, ia lebih cepat paham bahwa "oh benda itu namanya kerang", jadi bukan sekadar meniru tanpa tahu arti kata yang diucapkannya. 

Mencari kerang.

Oiya, karena pandemi, kalau datang pagi-pagi ke sini memang masih sepi, jadi insyaAllah lebih aman untuk anak. Mulai ramai sekitar pukul 7 pagi. Masuk ke area sini gratis, hanya bayar parkir saja. Kalau mau juga bisa naik perahu nelayan di sini untuk sekadar melihat laut sekitar.


Begitulah cerita liburan tipis-tipis yang aku lakukan bersama keluarga kecil saat pandemi. Sederhana saja, yang penting ada kegiatan lain di luar kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan anak. Biar otak anak juga mengenal hal baru, serta mengenal alam sekitar.

Share:

Menyusun Kurikulum Pendidikan Keluarga

 Assalamu'alaikum, Surabaya!

Dulu, sebelum anak pertamaku dan suami lahir ke dunia, kami pernah berbincang santai tentang masa depan pendidikan anak kami. Jujur, aku pribadi merasa khawatir, dia nanti akan mengikuti jejakku yang tidak paham apa sih passion hidup. Aku juga takut anakku terlalu mengejar nilai akademik sepertiku dulu. Sempat ada pikiran untuk merancang kurikulum home schooling, tapi suami tidak setuju. 

"Tempat belajar utama ada di rumah, sekolah tempat dia belajar, bersosialisasi dan bermain bersama temannya."

Kira-kira begitu jawaban suami saat bincang santai di sore hari kala itu. Menurutnya, anak tetap harus mendapat pendidikan utama di rumah, sedangkan sekolah cenderung menjadi tempat bermain anak. Pernah dengar sebuah kiasan "guru adalah orang tua kedua bagi anak" ? Sama seperti itu, baginya sekolah adalah tempat belajar kedua bagi anak. Selain itu di dalam sebuah keluarga kecil, suami adalah "kepala sekolah" dan istri adalah "guru". Jadi suami-istri memang satu paket "sekolah" utama bagi seorang anak.

Dari obrolan tersebut, kami pun sepakat merancang suatu "kurikulum pendidikan keluarga" yang digunakan sebagai patokan untuk mendidik anak agar lebih terarah lagi. Aku yang bertugas untuk riset metode pendidikan, kurikulum, dan lain-lain. Suami bertugas menelaah hasil risetku dan memberikan persetujuan akhir.


Proses Menyusun Kurikulum 

Kira-kira seperti ini proses kami menentukan kurikulum pendidikan di rumah :

1. Tentukan visi misi pendidikan anak, bareng suami lebih baik. Misalnya : 

"Mendidik anak untuk menjadi pribadi yang berakhlak baik sesuai agama, cerdas berkarakter, mampu memimpin dirinya sendiri, terampil berkarya, bahagia menjadi diri sendiri, serta bermanfaat bagi sesama dan semesta."

2. Breakdown lagi visi yang sudah dibuat tadi ke misi-misi untuk mencapainya. Kalau usia anak dini paling mudah mencapai visi pake lesson plan atau menu bermain. Sebab, fitrah anak kecil itu masih bermain.

3. Setelah itu cek STPPA sesuai usia (PERMENDIKBUD no. 137 tahun 2014). Dari STPPA ada beberapa aspek seperti kaidah dan akhlak, motorik, bahasa, dan lain-lain. Nah, ini yang bakal jadi patokan untuk membuat menu bermain anak. 

PERMENDIKBUD NO. 137 TAHUN 2014

4. Kalau aku pribadi aspek di STPPA aku gabung dengan filosofi Montessori dan Sekolah Kereta. Jadi aspek yang aku pakai untuk jadi patokan menu bermain ada islamic studies, sensorial, languange, practical life, math, culture&exploration, Art&craft.

5. Baru dari sini kita sesuaikan permainan yang bisa menstimulus masing-masing aspek. Inspirasinya bisa lewat pinterest, aplikasi chai's play, instagram, dan lain-lain. Misal untuk aspek sensorial aku pilih permainan sensory path untuk stimulasi aspek sensorial, motorik kasar, dan motorik halus. Jadi dalam satu permainan bisa ada beberapa aspek STPPA yang terangkum dalam 1 aspek Montessori.

6. Tentukan waktu agar lebih terarah, misal dalam waktu 1 minggu ada 7 menu bermain sesuai aspek Montessori. Setiap hari cukup 1 permainan dan minimal 15 menit membersamai anak. 

7. Ingat bukan hanya permainan yang ditekankan di sini, tapi bagaimana kita/pengasuh (bagi ibu yang bekerja dan menitipkan anaknya) membersamai anak ketika bermain. Ingat tidak perlu sampai berjam-jam, cukup minimal 15 menit

8. Perlu diingat juga Jangan pernah memaksa reaksi anak terhadap jenis permainan. Jadi misal kita mau ngasih permainan A yang harusnya dia nyusun balok. Eh ternyata dia tidak mau, malah baloknya diawur-awur sampe berantakan. Nah, di sini sebagai Ibu harus jeli mengobservasi anak untuk evaluasi permainan selanjutnya. Bisa jadi si anak butuh bentuk permainan atau stimulasi lain untuk mencapai aspek permainan tersebut.


Menu Bermain

Ketika menjalankan kurikulum, saya menggunakan lesson plan dalam bentuk Menu Bermain agar memudahkan saya untuk mengelompokkan kegiatan bermain sesuai aspek Montessori.

Menu Bermain

Contohnya bisa dilihat pada gambar di atas. Setiap menu bermain selalu menggunakan tema yang berbeda. Biasanya satu menu bermain untuk jangka waktu 1 minggu. Saya menggunakan ruang Montessori sesuai dengan metode Islamic Montessori, yaitu :

1. Islamic Studies : permainan dirancang degan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Contoh : membiasakan makan dengan tangan kanan.

2. Sensorial : menstimulasi saraf sensorik anak. Contoh : makan beberapa jenis buah.

Aspek sensorial : merasakan beberapa jenis buah.

3. Math : mengajarkan konsep matematika secara sederhana. Contoh : menuang air ke berbagai ukuran gelas.

4. Practical life : mengajarkan anak kecakapan hidup sehari-hari sejak dini. Contoh : merapikan mainan.

5. Culture and exploration : belajar alam dan budaya sejak dini dengan konsep sederhana. contoh : mengenalkan jenjs hewan darat.

Aspek culture and exploration.

6. Language : stimulasi aspek bahasa yang disesuaikan usia. Contoh : bernyanyi.

7. Art and craft : stimulasi aspek seni pada anak. Contoh : melukis dengan sisa sayur atau buah.


Jurnal Observasi

Setiap selesai kegiatan bermain, selalu catat bagaimana reaksi atau tingkah laku anak serinci mungkin dalam buku catatan. Misal saya memberikan permainan flash card buah. Ternyata anak lebih suka menggigit atau mencoba untuk merobeknya. Catat di jurnal observasi perilaku anak, kemudian coba amati lagi di menu bermain selanjutnya dengan jenis permainan yang sama.

Setelah itu sesuaikan reaksi atau perilaku anak sesuai psikologis usia dan daftar cek tumbuh kembang anak (bisa dilihat di aplikasi Primaku atau PERMENDIKBUD no. 137 tahun 2014). Contohnya seorang bayi berusia 18 bulan dalam lampiran PERMENDIKBUD aspek motorik halus, harus bisa memasukkan dan mengeluarkan sesuatu dari dalam wadah. Namun, dalam permainan memasukkan bola ke dalam wadah, si anak malah melemparkan bola secara acak. Jika sudah diobservasi, lalu dicek tidak sesuai psikologis usia anak atau daftar cek tumbuh kembang, bisa konsultasi ke Klinik Tumbuh Kembang Anak di kota masing-masing.

Jurnal observasi ini bisa jadi patokan untuk menentukan menu bermain selanjutnya. Selain itu juga bisa jadi catatan untuk mengembangkan jenis kecerdasan anak (Bisa baca buku tentang Multiple Intelligence Research). Sebagai orang tua, kita harus teliti dan jeli dalam mengamati perkembangan anak.

Share:

Cara Fun Ajari Anak Lawan Pemanasan Global Sejak Dini

 Assalamu'alaikum, Surabaya!

Pemanasan global atau lebih dikenal dengan "Global Warming" kini telah menjadi momok bagi seluruh umat manusia. Bagaimana tidak, skenario paling buruk yang bisa terjadi pada bumi adalah tenggelamnya daratan akibat mencairnya es di kutub. Selain itu, menurut data dari Global Footprint Network tahun 2020, manusia membebani bumi 1,6 kali lipat dari daya dukung bumi. Artinya generasi sekarang sudah hidup dengan mengambil jatah dari generasi mendatang.

Berbagai cara sudah dilakukan untuk meminimalisir dampak pemanasan global, seperti menghemat listrik, mengurangi sampah plastik, daur ulang, dan lain-lain. Salah satu cara paling sederhana yang bisa dilakukan sebagai orang tua untuk melawan pemanasan global adalah memberikan pendidikan lingkungan sejak usia dini kepada anak. Hal ini dimaksudkan agar anak peka terhadap isu lingkungan sejak dini.

Berikut beberapa cara "fun" untuk melawan pemanasan global yang bisa dilakukan bersama anak di rumah :

1. Daur ulang sampah rumah tangga jadi mainan edukatif

Sampah rumah tangga seperti kardus, botol, plastik, dan lain-lain juga bisa disulap jadi mainan edukatif anak ramah lingkungan. Ide daur ulang mainan bisa dilihat di situs seperti pinterest, instagram, website, dan lain-lain.

Selain itu juga bisa dijadikan mainan untuk stimulasi aspek sensorik dan motorik anak. Jadi, mulai sekarang jangan langsung buang sampah rumah tangganya. Siapa tahu bisa jadi mainan anak yang murah, tetapi tetap bisa menstimulasi tumbuh kembang anak.

2. Ajari anak berkebun 

Selain daur ulang, berkebun juga bisa jadi alternatif kegiatan belajar di alam sekaligus mengenalkan anak kegiatan ramah lingkungan. Ajak anak untuk menanam sayuran sisa dapur seperti sawi atau bawang merah yang bisa ditanam kembali (regrow). 

Setelah itu, ajari anak untuk menyiram tanaman yang sudah ditanam tersebut. Bisa juga sekaligus menanamkan konsep zero waste life menggunakan air cucian beras untuk menyiram tanaman, serta menggunakan pupuk dari sisa tulang ikan atau ayam.

3. Bermain di luar rumah

Alam adalah tempat belajar terbaik bagi anak. Selain bisa menghemat energi karena tak perlu menggunakan listrik di dalam rumah ketika bermain di luar, anak bisa mengamati langsung lingkungan di sekitarnya, serta belajar banyak hal baru yang tidak tersedia di rumah.

Contohnya ketika bermain di pantai, anak bisa merasakan tekstur pasir pantai, mengamati hewan laut, merasakan sapuan air laut, dan masih banyak lagi. Bahkan, menurut penelitian Hanscom (2016), anak usia di bawah dua tahun harus lebih banyak distimulasi saraf sensorik yang ada di kaki dan tangan. Sebab, di tangan dan kaki banyak sekali syaraf yang terhubung dengan otak. Salah satu caranya dengan berjalan tanpa alas di pasir pantai atau bermain air laut.

4. Membuat prakarya dari daur ulang sampah

Cara "fun" lain yang bisa digunakan untuk mengajari anak peduli lingkungan sejak dini adalah membuat prakarya dari sampah di sekitarnya. Misalnya saja, membuat tas atau dompet dari bungkus camilan favorit si kecil. 

Bisa juga membuat lukisan dari stempel kardus bekas atau sisa sayuran. Bahan untuk cat bisa dibuat dari tepung dan pewarna alami seperti daun suji agar lebih ramah lingkungan ketika dibuang.

Begitulah kira-kira empat cara sederhana tetapi tetap menyenangkan bagi anak untuk lawan pemanasan global. Orang tua pun juga bisa ikut belajar bersama anak, agar anak memiliki role model yang juga peduli terhadap keselamatan lingkungan serta isu pemanasan global.

Efek rumah kaca mampu memacu suhu muka bumi. Belum ditambah polusi yang kian menjadi. Akibatnya laju pencairan es di kutub semakin cepat dan daratan pun terancam tenggelam.

Baca artikel detiknews, "Gerakan Ekospiritual Melawan Pemanasan Global" selengkapnya https://news.detik.com/opini/d-1265410/gerakan-ekospiritual-melawan-pemanasan-global.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
fek rumah kaca mampu memacu suhu muka bumi. Belum ditambah polusi yang kian menjadi. Akibatnya laju pencairan es di kutub semakin cepat dan daratan pun terancam tenggelam.

Baca artikel detiknews, "Gerakan Ekospiritual Melawan Pemanasan Global" selengkapnya https://news.detik.com/opini/d-1265410/gerakan-ekospiritual-melawan-pemanasan-global.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
fek rumah kaca mampu memacu suhu muka bumi. Belum ditambah polusi yang kian menjadi. Akibatnya laju pencairan es di kutub semakin cepat dan daratan pun terancam tenggelam.

Baca artikel detiknews, "Gerakan Ekospiritual Melawan Pemanasan Global" selengkapnya https://news.detik.com/opini/d-1265410/gerakan-ekospiritual-melawan-pemanasan-global.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Share:

Anggita R. K. Wardani

read more

Recent Posts


Posts

My Instagram Gallery

My Community