Ia5K33hce05kVEU1UP8J8DLa01dvV8DSgOffubpV
Bookmark

Ibu Bekerja VS Ibu Rumah Tangga, Hari Gini Masih Debat?

Ibu bekerja vs ibu rumah tangga

“Kasihan, ya, sibuk kerja sampai anaknya diurus orang lain,” ketik seorang netizen dalam sebuah kolom komentar postingan seorang ibu yang bekerja.

“Lah, daripada situ cuma jadi ibu rumah tangga doang, kerjanya paling rebahan sama jadi beban suami,” sahut netizen yang lain membalas komentar pertama.

Jujur saat membaca sekilas komentar-komentar netizen tersebut, mulutku auto berkata, “hari gini masih debat perkara ibu bekerja atau ibu rumah tangga?”

Padahal tahun 2023 sudah hampir habis, mau ganti ke tahun 2024. Ternyata masih banyak orang-orang yang memiliki pikiran kolot untuk mengkotak-kotakkan ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Nyatanya, ibu bekerja dan ibu rumah tangga itu keduanya sama-sama bekerja dan mengasuh anak. Ibu bekerja pasti mengasuh anaknya, sedangkan ibu rumah tangga juga setiap hari pasti bekerja.

Loh, kok, bisa?

Sini, sini, coba baca sudut pandang pemikiranku tentang makna seorang ibu yang sesungguhnya. Baca terus sampai habis, ya, bestie onlineku.


Debat Panjang Ibu Bekerja VS Ibu Rumah Tangga, Stigma Negatif Masyarakat

“Suami udah kerja, ngapain ibunya juga ikutan kerja. Kasihan anaknya diurus orang lain.”

“Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga. Harusnya kerja, biar nggak bergantung ke suami.”

Kalimat-Kalimat tersebut nyatanya masih sering terdengar dalam lingkup masyarakat Indonesia. Miris sekali mendengar betapa seorang ibu selalu mendapat stigma negatif terhadap apapun pilihannya.

Saat seorang ibu memilih untuk bekerja, banyak pihak yang mempertanyakan bagaimana nasib anaknya. Lah, memangnya ibu yang bekerja itu 24 jam penuh mendedikasikan dirinya untuk bekerja? Pasti ada waktu untuk anaknya, dong?

Begitu pula saat ibu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Banyak pihak yang mempertanyakan untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau tidak digunakan untuk bekerja. Nah, loh, jadi serba salah, bukan?

Bahkan, sekelas artis Nikita Willy yang memilih untuk jadi full time mom sementara waktu juga tidak luput dari bully-an sesama ibu. Banyak yang membandingkan kehidupannya dengan sang artis. Ngapain coba?

Artinya, pilihan ibu untuk bekerja atau di rumah saja bukan titik masalah yang sebenarnya. Apapun pilihan seorang ibu, alan selalu ada oknum masyarakat yang memiliki stigma negatif terhadap pilihan ibu.

Yap! Pola pikir sebagian masyarakat Indonesia yang jadi biang kerok atas semua perdebatan panas di antara ibu. Seakan-akan seorang ibu itu harus bersaing untuk menjadi ibu terbaik.

Why? Nggak penting banget, kan? Padahal semua ibu itu sudah terbaik sesuai versi masing-masing.


Munculnya Opsi Ibu Bekerja dari Rumah, Perjalananku Menyelami Makna Ibu

Di awal kehidupanku sebagai seorang ibu, aku cukup terpengaruh dengan komentar seseorang yang merendahkan pilihanku untuk resign, lalu menjadi ibu rumah tangga. Hingga akhirnya aku menemukan opsi bekerja dari rumah sebagai blogger.

Senang pada awalnya karena bisa mendapatkan uang sendiri selain nafkah suami. Namun, lama-kelamaan aku jadi sedikit jenuh, kembali bimbang atas pilihanku.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan blogger sebagai hobi yang dibayar, bukan profesi lagi. Aku tak lagi bekerja dari rumah, tapi membahagiakan diri dari rumah.

Ibu bekerja vs ibu rumah tangga

Masa Peralihan dari Ibu Bekerja ke Ibu Rumah Tangga

Bayangkan saat teman online sedang berlari kencang, lalu tiba-tiba harus berhenti seketika. Apa yang terjadi? Pasti auto jatuh terjerembab.

Nah, kondisi tersebut menggambarkan bagaimana kondisi mental ibu yang awalnya bekerja, lalu tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga. Pasti ada masa-masa “kaget” karena kegiatan yang dilakukan berbeda 180 derajat.

Tak jarang banyak seorang ibu yang mengalami baby blues setelah melahirkan, termasuk aku. Rasanya kehidupan seperti jungkir balik karena rutinitas di rumah saja yang membosankan bagiku yang terbiasa bekerja.

Menemukan Passion Saat di Rumah Aja

Sebagai seorang yang dulunya bekerja secara mandiri, aku memiliki keinginan agar tetap berdaya dari rumah. Minimal sebagai seorang perempuan aku memiliki ruang untuk aktualisasi diri.

Tak mudah memang mengawali suatu pencarian kegiatan yang cocok untukku sebagai seorang ibu. Aku mulai dengan fokus menulis buku, berjualan online, hingga menjadi reseller. Namun, belum cocok dengan dinamika diriku.

Selanjutnya, aku coba untuk meneruskan blog yang sudah lama jamuran karena vakum. Alhamdulillah, ternyata dari blog ini aku menemukan passion yang cocok sekaligus bisa menghasilkan cuan.

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang juga Bekerja dari Rumah

Setelah memutuskan fokus menjadi blogger, dari sinilah aku menjadi makhluk yang merangkap sebagai ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Apakah masih ada yang julid setelah aku menjalani dua peran sebagai ibu? Jelas ada!

“Percuma, dong, di rumah kalau anaknya tetap ditinggal kerja. Mending sekalian kerja aja di luar rumah,” komentar seorang ibu yang sok tahu.

Nah, kan, apa pun pilihan seorang ibu pasti adaaa aja ibu-ibu julid yang memiliki stigma negatif terhadap sesama ibu. Seolah-olah mereka sedang mencari kesalahan ibu lain demi pengakuan bahwa mereka adalah ibu yang paling baik.

Saat menjadi seorang mom blogger, Alhamdulillah atas izin Allah aku mendapat rezeki tambahan untuk keluarga. Sayangnya, lama-kelamaan ada semacam perasaan gelisah saat semua yang aku inginkan sudah tercapai. Aku senang bisa mendapat uang sendiri, tapi ada semacam perasaan, “kayaknya ada yang salah, deh. Aku nggak happy sepenuhnya.”

Sampai suatu ketika ada suatu postingan yang lewat di beranda media sosial milikku dari sudut pandang seorang laki-laki. Kalau tidak salah ingat postingan tersebut berisi cuplikan podcast dengan bintang tamu Surya Insomnia.

Gue sebagai seorang laki-laki harus punya rasa menjadi lelaki seutuhnya.”
Surya Insomnia

Apa maksudnya? Dalam wawancara tersebut, Surya menjelaskan bahwa merasa akan menjadi lelaki seutuhnya saat bisa memenuhi permintaan istrinya. Maksudnya, dia bisa menafkahi istri seutuhnya.

Deg! Aku merasa tertampar. Apakah dengan semua kesombonganku bisa beli ini-itu sendiri bisa melukai harga dirinya? Aku pun sempat bertanya ke suami. Alhamdulillah suami tidak masalah, tapi tetap ada semacam rasa gelisah di hati.

Makna Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Niatkan saja uang hasil pekerjaan sambilan untuk kebahagiaan diri sendiri. Nafkah utama biarkan dari suami seutuhnya,” begitu nasihat seorang teman dari kajian.

Setelah merenung serta mengikuti beberapa kajian, aku memutuskan untuk menjadi blogger sebagai hobi saja. Dapat job Alhamdulillah, kalau tidak dapat juga Alhamdulillah.

Percaya atau tidak, sejak saat itu selalu ada saja rezeki yang dititipkan ke suami untuk memenuhi kebutuhan atau permintaanku. Logika manusia memang berbeda dengan Allah. Saat kita mengejar akhirat, Allah akan mempermudah semua urusan duniawi.

Selama menjalani peran sebagai ibu bekerja dari rumah, aku sadar akan satu hal. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga itu sebenarnya tidak ada bedanya.

Mereka memiliki persamaan yang bisa meleburkan batasan yang disebut sebagai ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Ya, mereka adalah seorang ibu. Tanpa ada embel-embel ibu bekerja atau ibu rumah tangga.


Persamaan Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga

Ibu bekerja vs ibu rumah tangga

Apa aja, sih, persamaan ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang selama ini dibuat bahan perdebatan? Padahal ibu bekerja dan ibu rumah tangga itu sama-sama begini:

1. Sama-Sama Bekerja

Kalau ibu bekerja itu area bekerja di luar rumah, maka ibu rumah tangga juga bekerja dengan area di sekitar rumah. Hanya saja objek pekerjaannya yang berbeda.

Ibu bekerja mungkin ada yang bekerja sebagai pegawai kantoran, ada yang bekerja sebagai pengusaha, dll. Sementara itu, ibu rumah tangga bekerja dalam urusan domestik. Mulai dari mengatur keuangan, menjaga anak, dan mengatur rumah tangga.

2. Sama-Sama Ibu Rumah Tangga

Kalau ibu rumah tangga bisa dibilang selalu mengatur domestik rumah tangga, maka ibu bekerja juga mengatur domestik rumah tangga juga. Bedanya hanya ada di waktu.

Ibu rumah tangga memiliki banyak waktu di rumah, sedangkan ibu bekerja memiliki waktu lebih sedikit di rumah. Keduanya sama-sama ibu rumah tangga.

3. Sama-Sama Sayang Anak

Baik ibu bekerja atau ibu rumah tangga, keduanya pasti sama-sama sayang anak. Meskipun ibu bekerja memiliki lebih sedikit waktu bersama anak, tapi mereka tetap menyayangi anak mereka dengan caranya sendiri.

Toh, ibu bekerja juga tidak 24 jam di kantor, bukan? Sepulang kerja atau weekend masih ada waktu untuk merekatkan bonding dengan anak.

Bahkan, hasil studi Milkie, et al. (2015) menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan oleh orangtua dengan anaknya tidak memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan emosi dan kognitif anak. Hal ini mengindikasikan bahwa waktu yang berkualitas lebih dibutuhkan daripada kuantitasnya.

4. Sama-Sama Dapat Nafkah Suami

Kalau ada yang berpikir ibu bekerja tidak perlu mendapat nafkah suami, itu salah besar, ya! Bagaimanapun juga suami wajib memberikan nafkah kepada istri, meskipun istri sudah bekerja. Nah, artinya ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama dapat nafkah penuh dari suami.


Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga itu Sama, Jangan Lagi Diperdebatkan!

Motherhood isn't a competition, mommies!”

Ibu bekerja dan ibu rumah tangga itu pada dasarnya sama-sama seorang ibu. Hanya saja jalan yang dipilih memang berbeda antara satu ibu dengan ibu lainnya. Namun, itu semua tidak mengurangi esensi seorang ibu sama sekali.

Jadi, ibu bekerja vs ibu rumah tangga mana yang lebih baik? Jawabannya tidak ada. Keduanya sama-sama baik dan bertanggung jawab. Big hug untuk seluruh ibu di Indonesia!


Referensi

Milkie, M.A., Nomaguchi, K.M. and Denny, K.E. (2015), Does the Amount of Time Mothers Spend With Children or Adolescents Matter?. Fam Relat, 77: 355-372

https://www.fimela.com/lifestyle/read/5220566/ibu-rumah-tangga-vs-ibu-bekerja-mana-yang-lebih-memudahkan

https://parentalk.id/kesehatan-mental-ibu-bekerja-dan-ibu-rumah-tangga/

11 komentar

11 komentar

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar.

Love,
Anggi
  • Dee_Arif
    Dee_Arif
    20 Desember 2023 pukul 11.37
    Mau ibu bekerja ataupun ibu rumah tangga, sama baiknya
    Pastinya semua adalah pilihan masing-masing yang bertanggung jawab ya mbak
    Reply
  • Nita
    Nita
    20 Desember 2023 pukul 11.00
    Setuju kak. Semuanya harus berjalan sesuai koridor dan kemampuannya. Sana besar tanggung jawabnya. Duh beruntung yaa ada dunia sosmed yg akhirnya bisa nenjadi pilihan bahagia dan menghasilkan dari rumah.
    Reply
  • KenniApril
    KenniApril
    20 Desember 2023 pukul 09.13
    Nah iya, kata suami saya juga jangan ngoyo untuk dapat uang dari nulis. Dibawa happy dandinikmati aja hobimu itu dek.
    Reply
  • Kata Nieke
    Kata Nieke
    20 Desember 2023 pukul 08.01
    Debat yang gak akan ada ujungnya ya, Mbak. Padahal dua pilihan itu sama baiknya. Tentu ada pertimbangan di belakangnya. Entah kebutuhan ekonomi atau kebutuhan lainnya. Sebal, kalau ada netizen atau komentar julid yang menghakimi pilihan seorang perempuan.
    Reply
  • nurul rahma
    nurul rahma
    20 Desember 2023 pukul 06.26
    Niatkan saja uang hasil pekerjaan sambilan untuk kebahagiaan diri sendiri. Nafkah utama biarkan dari suami seutuhnya.

    sepakaattt bgt dgn kalimat ini
    Reply
  • Mutia Erlisa Karamoy
    Mutia Erlisa Karamoy
    20 Desember 2023 pukul 05.50
    Wah masih diperdebatkan juga ya padahal baik ibu bekerja atau rumah tangga sama-sama seorang ibu yang pastinya akan memprioritaskan tumbuh kembang anaknya, saya pernah merasakan dua posisi tersebut dan rasanya untuk urusan anak serta keluarga sama saja kok, tetap prioritas utama.
    Reply
  • Juwita
    Juwita
    20 Desember 2023 pukul 05.20
    Yup benar sekali hari gini masih ributin masalah gituan nggak jaman. Sekarang era digital nggak ada bedanya. Tetap spesial di hati anak-anak
    Reply
  • Susi Yanti Nuraini
    Susi Yanti Nuraini
    19 Desember 2023 pukul 10.47
    Tidak ada yang lebih kasihan atau pun lebih keren. Baik ibu rumah tangga maupun berkarir di luar ranah domestik, sesungguhnya keduanya sama-sama mulia.
    Perempuan memang harus berpendidikan (baik formal maupun informal), baik nantinya jadi IRT atau berkarir yang terpenting adalah manage yang sehat dan imbang untuk diri sendiri dan keluarga.

    Kuncinya tak perlu dengarkan omongan orang yang sok tau, hhe.
    Reply
  • April Fatmasari
    April Fatmasari
    19 Desember 2023 pukul 08.07
    Sedih kalau masih ada yang membandingkan seperti itu, Mbak. Saya pun masih ada desakan-desakan dari orang luar untuk tidak "di rumah saja". Tapi ahamdulillah menjadi blogger, lumayan punya aktivitas sampingan dan sedikit membantu keuangan, meskipin tidak terlihat di mata orang lain. Kan yang penting saya menikmati, suami juga tidak mempermasalahkan. Jadi bismillah aja, semoga Allah beri keberkahan
    Reply
  • lendyagasshi
    lendyagasshi
    19 Desember 2023 pukul 04.42
    Setuju banget untuk bisa saling menghargai apapun keputusan sang Ibu.
    Karena kita gak pernah tau sebenernya mereka sedang mengalami hal seperti apa yang mengharuskan mereka ambil peran tersebut dalam rumahtangga.

    Aku suka banget insight mengenai harga diri seorang suami.
    Nuhun, ka Anggita untuk kembalimengingatkan untuk bermuhasabah hakekat rejeki dalam hidup.
    Reply
  • Helka Sari
    Helka Sari
    17 Desember 2023 pukul 23.11
    Setuju sama mbak anggi.. aku merasa relate karena sedang dalam struggle menyesuaikan diri dari kerja kantoran menjadi IRT, cuma enaknya kerja bisa lebih bebas secara finansial sih kalo aku selebihnya sama aja
    Reply