√Cerita Tumbuh Kembang Bayi Pandemi-ku - ANGGITA RAMANI | Personal Lifestyle Blog

Cerita Tumbuh Kembang Bayi Pandemi-ku

16 komentar
Konten [Tampil]

Banyak berita atau penelitian di luar negeri yang menunjukkan hasil bahwa bayi yang lahir di masa pandemi, berpotensi punya kecerdasan lebih rendah dibandingkan bayi pada umumnya. Selain itu, tumbuh kembangnya juga akan sedikit terganggu akibat banyak faktor seperti keterbatasan interaksi, tingkat stress orang tua, dan faktor ekonomi.

Dilansir dari New York Post (2021), dari analisis kognitif terhadap 672 anak di Amerika Serikat usia 3 bulan - 3 tahun, rata-rata IQ anak turun dari kisaran 100 sebelum pandemi menjadi 79 saat pandemi. Tentunya, hal tersebut jadi kekhawatiran tersendiri bagiku karena anakku lahir di masa pandemi. Meskipun aku sendiri paham bahwa kecerdasan anak tak bisa diukur secara mutlak dengan IQ, tapi tetap saja ada semacam firasat tidak enak seorang ibu yang hadir dalam benakku.

Benar saja, si kecil sempat mengalami masa-masa tumbuh kembangnya sedikit terhambat saat masa PPKM dan teror puncak COVID-19 di Indonesia pada tahun 2021. Terutama aspek kognitif, kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, dan dunia luar.

Bayi yang lahir saat pandemi


Si Kecil Lahir saat Awal Pandemi

Tak terasa sudah hampir 3 tahun berlalu saat virus corona pertama kali ditemukan di Wuhan pada tahun 2019. Saat itu aku tengah hamil sekitar 4 bulan usia kandungan. Ada sedikit perasaan was-was kalau wabah itu akan tersebar sampai ke Indonesia walaupun saat itu pemerintah Indonesia masih sangat santai.

Teror pun dimulai ketika tak sampai satu bulan, virus corona sudah tersebar di berbagai negara dunia. Masker dan hand sanitizer jadi barang yang tiba-tiba langka dengan harga meroket. Seisi dunia panik, kecuali Indonesia. Bahkan, keganasan virus corona sempat jadi bahan candaan dalam bentuk meme.

Barulah pada bulan Maret 2020, pasien pertama yang positif Covid-19 terdeteksi di Indonesia. Warga Indonesia pun akhirnya merasakan kepanikan yang sebelumnya dirasakan negara-negara lain. Termasuk aku yang saat itu sudah hamil 7 bulan. Saat itu, masker sudah wajib dipakai, sedangkan pembatasan mobilitas seperti PPKM belum diberlakukan.

Seperti mendapat firasat yang tidak biasa, entah kenapa ada sedikit keyakinan dalam diriku kalau si kecil bakalan lahir tidak pas 9 bulan. Ternyata firasat itu terbukti benar adanya. Di malam ketika kontrol di usia kandungan masih 36 minggu atau awal April, si kecil tiba-tiba harus dilahirkan segera.

Untungnya, saat itu syarat melahirkan di rumah sakit belum memakai tes swab dan foto rontgent untuk memastikan pasien bebas virus corona. Jadi aku tidak terlalu panik atau stress. Pihak rumah sakit pun langsung melakukan operasi darurat sekitar pukul 21.00 malam.

Alhamdulillah, menjelang tengah malam saat malam nisfu sya'ban, si kecil lahir dengan suara tangisan yang sangat keras. Aku pun ikut menangis antara terharu, serta memikirkan nasib si kecil yang harus lahir prematur di masa pandemi. Berat lahirnya pun hanya 2 kg lebih sedikit. Sedih rasanya memikirkan bagaimana nasib si bayi prematur ini di tengah gempuran virus corona.


Dunia Luar adalah Tempat Paling Menakutkan Bagiku

Setelah kelahiran si kecil, penyebaran virus corona semakin menjadi-jadi. Angka kematian terus naik, sementara perbandingan dengan pasien sembuh masih sedikit. Pemerintah makin kewalahan. Ditambah lagi peperangan media sosial antara tim yang menganggap virus ini konspirasi dan tidak makin memanas.

Dunia di luar rumah jadi tempat paling menakutkan bagiku. Banyak kemungkinan penularan si COVID-19 yang bisa membahayakan si kecil. Aku pun terpaksa "memenjarakan" si kecil dari dunia luar, serta membatasi interaksi si kecil dengan orang lain.

Saat itu, aku tumbuh jadi seorang ibu yang sangat sensitif. Bahkan, tak segan untuk mengomel dengan kecepatan cahaya saat ada orang lain selain keluarga yang "lancang" menyentuh si kecil tanpa mencuci tangan dulu. Si kecil juga hanya boleh keluar di batas halaman rumah saja.

Akan tetapi, akibat overprotektif tingkat dewa dan "pengurungan" si kecil ternyata membuat masalah baru terhadap tumbuh kembang si kecil. Awalnya memang tak terlalu terlihat, tapi setelah observasi sekaligus menyesuaikan tumbuh kembang si kecil dengan indikator, si kecil terlihat terlambat di beberapa indikator tumbuh kembang.


Gangguan Tumbuh Kembang Si Kecil selama Pandemi

Dalam rentang waktu usia 1 tahun hingga 2 tahun ketika puncak pandemi sedang meneror seluruh Indonesia, di saat itu pula bayi pandemi-ku mengalami sedikit keterlambatan dalam tumbuh kembang. Bagaimana tidak, dunia yang ada di dalam kesehariannya hanya rumah dan halaman samping rumah. Seluruh taman pun masih ditutup karena masa PPKM. Tempat belajar di kecil hanya di rumah yang tak jarang melibatkan sedikit screentime.

Keterampilan Kognitif Sedikit Melambat

Salah satu aspek yang sedikit mengalami hambatan dalam tumbuh kembang bayi pandemi-ku adalah kognitif. Si kecil mengalami sedikit kesulitan dalam hal memerhatikan, konsentrasi, berbicara, mengingat sesuatu tanpa contoh nyata, dan interaksi sosial.

Cenderung "Nempel" dengan Anak yang Lebih Tua

Lingkungan sekitar rumahku didominasi oleh orang dewasa dan beberapa anak kecil dengan usia di atas balita. Otomatis, keseharian si kecil hanya bertemu dengan orang tuanya, orang dewasa, dan anak kecil usia di atas balita.

Mungkin karena sering bertemu dengan merek, si kecil hanya "nempel" atau memberikan reaksi interaksi saat ada orang dewasa, remaja, atau anak kecil yang menyapa. Dia sangat senang kalau ada beberapa anak kecil yang main di dekat rumah. Kadang karena kasihan, aku izinkan dia keluar rumah sebentar untuk sekadar berlarian di sekitar anak-anak itu.

Cuek Saat ada Teman Sebaya

Hal yang membuatku cukup khawatir adalah saat si kecil selalu cuek kalau ada anak dengan usia sebaya dengannya. Dia cenderung main sendiri, tak peduli dengan kehadiran teman sebaya. Kadang hanya mengamati temannya sebentar, lalu beranjak main sendiri lagi.

Sedih sekali rasanya melihat tumbuh kembang si kecil jadi terhambat. Aku dan suami hanya bisa terus memberikan stimulasi sambil berdoa agar si kecil dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.


Titik Puncak Perkembangan Saat Transisi Pandemi ke Endemi

2021 yang penuh dengan stress pun berlalu. 2022 datang dengan banyak harapan agar pandemi segera berakhir. Pemerintah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan sosial karena kasus COVID-19 dinilai sudah turun dari puncak kurva. Di titik inilah, aku mulai berani membawa si kecil ke luar rumah dengan prokes. Sejak saat itu, tumbuh kembang si kecil mulai berkembang secara signifikan, mengejar ketertinggalan tahun lalu.

Ledakan Kosa Kata Saat Berada di Alam atau Tempat Baru

Alam adalah tempat terbaik untuk belajar. Begitu kata kebanyakan pepatah atau kata mutiara. Bagi perkembangan anakku, hal itu benar adanya. Sebab kemampuan bicara si kecil meningkat disertai ledakan kosa kata.

Ia sangat suka eksplor alam atau tempat baru. Binar matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dengan hal baru. Sekali aku mengatakan hal apa yang ia tunjuk, ia akan mengingatnya dengan baik. Bahkan, ketika ia menemukan hal baru yang ia pelajari di tempat lain, ia tetap akan mengingat hal itu sesuai yang diajarkan.

Misalnya saja saat jalan-jalan ke taman, si kecil penasaran dengan bunga. Ia akan menunjukkan kontak mata 3 arah padaku. Aku pun menyebutkan bahwa benda itu namanya bunga, lalu ia mengulangi kata-kataku. Ketika berada di tempat lain yang juga ada bunganya, si kecil akan segera menunjuk, dan berceloteh "bunga…bunga…" dengan semangat.

Keterampilan Kognitif Maju Pesat

Sejak aku dan suami sering mengajak si kecil ke luar rumah, keterampilan kognitifnya maju pesat. Dia sudah bisa fokus saat aku memberi perintah atau mengajarkan kata baru. Interaksinya dengan orang baru juga sudah baik, tapi aku masih sedikit membatasi kontak fisik yang tidak perlu. Selain itu, kemampuan bicaranya sudah jelas, dan mudah mengingat sesuatu yang diajarkan padanya.

Auto Menyapa Saat Bertemu Teman Sebaya

Hal yang sangat membuatku terharu adalah si kecil sudah mulai menyapa atau memberikan reaksi senang saat bertemu teman sebayanya. Biasanya dia akan langsung mendekati teman sebayanya atau berteriak girang saat menemukan teman baru.

Si kecil juga sudah mulai mau main bersama dengan teman sebayanya. Raut wajah ceria selalu ia tunjukkan ketika bertemu teman baru. Beda sekali dengan tahun lalu yang selalu cuek dengan teman sebaya.


Terima Kasih, Bayi Pandemi-ku yang Sudah tumbuh dan Berkembang dengan Baik

Sebagai orang tua bayi pandemi, banyak sekali air mata yang sudah meluncur turun ketika membayangkan masa depan di tengah kekacauan pandemi. Masa emas anak yang seharusnya dilalui dengan kebebasan, harus dilalui dengan sebuah keterbatasan.

Dunia luar yang harusnya penuh dengan pengetahuan, jadi tempat paling menakutkan saat itu. Tak terhitung sudah beberapa kali aku menangis bersama bayi pandemi-ku di tengah ketidakpastian akan nasib seluruh dunia, membayangkan kebebasan yang entah kapan akan datang.

Alhamdulillah, masyaAllah tabarakAllah Allah masih jaga bayi pandemi-ku bisa bertahan hingga saat ini. Banyak sekali hal yang sudah ia lalui sampai di titik ini. Mulai dari lahir sebagai bayi BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), tidak bisa melihat dunia luar, hingga hambatan dalam tumbuh kembangnya.

Terima kasih bayi pandemi-ku sudah berjuang begitu keras. Tulisan ini Bunda buat sebagai kenang-kenangan saat kamu dewasa nanti, di saat kamu benar-benar lelah dengan dunia. Ingatlah, kamu adalah pejuang sejak lahir di tengah carut marut kondisi pandemi.


Referensi

Hannah Friesberg. 2021. Babies born during COVID-19 pandemic have lower IQs: Study says. https://nypost.com/2021/08/13/babies-born-during-covid-19-pandemic-have-lower-iqs-study-says/ , diakses 19 Mei 2022

Karinta Ariani Setiaputri. Perkembangan Kognitif Bayi Baru Lahir Sampai 11 Bulan. https://hellosehat.com/parenting/bayi/bayi-1-tahun-pertama/perkembangan-kognitif-bayi/ , diakses 19 Mei 2022

Related Posts

16 komentar

  1. Pengalaman yang sangat berharga. Pandemi tidak hanya membawa dampak kurang baik, tapi sekaligus membawa hikmah juga ya untuk kita.
    Semoga anak anak kita semuanya sehat selalu. Aamiin ..

    BalasHapus
  2. Wah iya ada beberapa batita di lingkunganku yang lahir saat pandemi memang mengalami beberapa keterlambatan karena memang di masa pandemi interaksi dengan dunia luar agak minim dan nyaris di rumah saja, apalagi jika di rumah tidak ada orang lain selain orangtuanya. Syukurlah sekarang anak-anak sudah bisa bermain dan berinteraksi meskipun tetap harus berhati-hati. Semangat terus ya mom!

    BalasHapus
  3. Aku dulu, walau bukan masa pendemi, tetap punya kekhawatiran berlebih ke anak pertama yang pada akhirnya membuatku lelah sendiri. Di anak kedua, Alhamdulillah kami (aku dan suami),, udah lebih longgar dalam tidak seposesif dulunya. Tapi tetap semisal untuk sholat dan kebiasaan baik lainnya, kami berusaha semampu kami.

    BalasHapus
  4. Saya ikut membayangkan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan di masa pandemi, pasti perasaan diliputi perasaan was2, takut, khawatir yang berlebihan. Awal tahun 2019-2020 menjadi rentang waktu yang paling berat ya mbak. Untukborang dewasa saja, kita harus benar2 bisa menjaga kesehatan, apalagi ada bayi dan anak2 yang membutuhkan perawatan dan penjagaan yang ekstra ketat.

    Ikut senang mendengarnya, kalau si kecil sekarang sudah bisa melewati semua kesulitannya. Sehat2 terus dan tumbuh menjadi anak yang cerdas ya dek.

    BalasHapus
  5. Mau diakui atau tidak, memang pandemi berpengaruh banget. Sepupu saya juga demikian, selain perkembangan fisik psikisnya juga terpengaruh.

    BalasHapus
  6. Luar biasa, mbak ceritanya. Semoga si mungil dan keluarga sehat selalu ya. Bahkan tumbuh kembangnya baik dan setrong.

    BalasHapus
  7. MasyaAllah.. Turut senang mendengar perkembangan si kecil Mbak. Jadi kebayang perjuangannya harus melahirkan di masa pandemi lalu. Belum lagi urusan tumbuh kembangnya, pergi ke rumah sakit untuk imunisasi pun tentu perlu extra hati-hati ya. Sisi positifnya, sekarang semakin banyak orang lebih aware ya dengan masalah kebersihan dan kesehatan ya. Semangat selalu membersamai si kecil ya Mbak.

    BalasHapus
  8. Akhirnya ya mbak badai itu terlewati juga. Milestone anak sempat bikin deg-degan ya mbak apalagi kalau ada keterlambatan. Sehat selalu mbak dan keluarga, ya🤗

    BalasHapus
  9. MasyaAllah pengalaman yang sangat luar biasa, punya bayi saat pandemi. Banyak sekali tantangannya. Tapi alhamdulillah sekarang sudah berlalu

    BalasHapus
  10. MashaAllah~
    Ternyata ada ya...dampak dari bayi yang lahir di masa pandemi.
    Semoga Allah mudahkan jalan yang lain.

    Barakallahu fiikum~
    Sehat-sehat selalu yaa, kak Anggita dan keluarga.

    BalasHapus
  11. Wah iya, pandemi sudah hampir 3 tahun ya mbak
    Alhamdulillah meski bayi pandemi, tumbuh kembang tetap sehat ya mbak

    BalasHapus
  12. Saya sangat bisa membayangkan bagaimana khawatirnya para bumil dan para ibu yang melahirkan di saat pandemi. Overprotektif itu memang seakan jadi keniscayaan, ya. Hampir sama dengan saya yang mendampingi lansia. Was-was dan waspada itu nyata. Alhamdulillah, insyaallah sekarang kondisinya jauh lebih baik yaa

    BalasHapus
  13. Pengalaman yang luar biasa ya mba. Punya bayi di masa pandemi pasti ada was-wasnya jg ya

    BalasHapus
  14. MasyaAllah... Alhamdulillah meski lahir prematur di tengah pandemi si kecil bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, ya, Mbak. Tentu berkat usaha maksimal dari ibu (dan ayah) serta izin Allah. Semoga si kecil selalu sehat.

    BalasHapus
  15. Mbak ini merupakan pengalaman yang luar biasa berharga ya mbak terlebih di Masa pandemi kemarin. Keren banget mbak

    BalasHapus

Posting Komentar