Tips Asyik Stimulasi Anak Berbicara Secara Efektif

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Bahasa harus ditemukan sendiri oleh anak, orang tua harus lebih banyak diam (Barbara Zollinger dan Vijiclinic).

Tips Anak Cepat Bicara

Sekitar beberapa bulan yang lalu, aku berkunjung ke kantor kolega, sekadar untuk temu kangen. Aku pun disambut hangat oleh temanku dan anaknya yang terpaksa harus diajak ke kantor karena ART mereka sedang pulang kampung. 

Aku sapa si kecil dengan riang, "Assalamu'alaikum, namanya siapa ini?"

Tak ada jawaban nama yang keluar dari mulut si kecil, kecuali ocehan tak bermakna yang seketika membuatku terpana. Temanku pun langsung menjawab, "Aldi (nama samaran), Tante."

"Usianya berapa, nih, Sil?" Tanyaku santai pada Silla (nama samaran juga).

"Udah 3 tahun, nih, Nggi," sahut temanku pelan.

"Assalamu'alaikum, Aldi, anak ganteng gimana kabarnya? Sehat?" Aku kembali mengucap salam kepada anak temanku sambil sedikit mencolek pipinya.

Aldi pun meracau dengan kata yang sebagian besar tak aku mengerti. Sesekali dia berteriak girang seperti ingin menunjukkan sesuatu padaku. Aku coba mengamati dan hanya menjawab saat ia menunjukkan sesuatu padaku.

"Oh itu pesawat. Aldi punya mainan pesawat, ya?"

Aldi mengangguk sambil melompat girang. Lantas ia kembali mengoceh dengan kalimat yang lagi-lagi tak aku mengerti. Sementara itu, mata temanku sudah berkaca-kaca. Seperti ada beban yang mengganjal di hatinya.

"Kenapa, Sil?"

Tangisnya langsung pecah, "aku ibu yang buruk, Nggi..." 

Aku coba peluk dan usap punggung Silla,"nggak apa-apa, Silla, mana ada ibu yang sempurna coba?"

"Aldi udah 3 tahun, tapi dia belum bisa ngomong, cuma babbling nggak jelas gitu, Nggi... Ini semua gara-gara aku tinggal kerja..."

Terlihat sekali wajah suntuk dan lelah temanku ini, hingga aku harus jaga kata-kata agar dia tak terluka, "sudah, nggak usah menyalahkan diri sendiri, mungkin bisa dimulai dengan berdoa ke Allah, trus konsultasi ke klinik tumbuh kembang Sil."

"Masih bisa tertolong, kan, anakku, Nggi?"

"InsyaAllah bisa, Sil. Pasrahkan dulu ke Allah, sambil berdoa juga, trus usahanya ya kamu bawa dia ke klinik tumbuh kembang."

Aku pribadi tak menyalahkan dia, karena mungkin kesibukannya bekerja dan pilihannya untuk bekerja itu sudah ada pertimbangan sendiri. Di kota Surabaya ini, dia juga hidup sendiri bersama suami, tanpa ada sanak saudara yang lain. Jadi, ya mom support mom aja lah. Temanku kan hanya minta rekomendasi, bukan omelan, apalagi nyinyiran.

Cerita yang dialami temanku, sadar atau tidak sebenarnya banyak terjadi di sekitarku. Beberapa orang tua, bahkan aku pun kadang masih harus banyak belajar lagi untuk paham apa saja sih red flag anak dalam tahapan perkembangan bahasa dan bicara. Kapan harus waspada dan kapan harus tenang dalam menghadapi perkembangan bicara anak. Jangan sampai kita panik karena omongan tanpa dasar dari tetangga yang hobi membandingkan kemampuan bicara anak, padahal kemampuan bicara anak belum masuk di zona red flag. Jangan sampai terlalu santai juga saat anak belum juga bisa bicara sama sekali dibandingkan teman seusianya, ternyata sudah masuk di zona red flag. Intinya jangan sampai zonk dalam memantau perkembangan bicara anak.


Tahap Perkembangan Bahasa dan Bicara Anak, serta Red Flag

Hadirnya buah hati, tentunya membuat tiap orang tua merasa bahagia. Namun, tak jarang pula banyak orang tua baru yang masih was-was terhadap pertumbuhan maupun perkembangan anak, terutama kemampuan untuk berbicara sesuai usia. Sebenarnya sejak kapan perkembangan bahasa dan bicara anak dimulai?

Ternyata, perkembangan bahasa dan bicara sudah dimulai sejak bayi, bahkan sejak 0 bulan. Tahap perkembangan bahasa serta bicara anak dapat dibagi menjadi beberapa fase sebagai berikut, yang sudah aku rangkum dari berbagai sumber.

0-6 Bulan

Milestone:

  • Tersenyum saat orang tua muncul
  • Mulai mengenali suara orang tua
  • Diam atau tersenyum saat diajak bicara
  • Ecoing "aah", "eh"
  • Merespon saat dipanggil namanya
  • Menggerakkan mata ke arah suara
  • Mengenali mainan yang membuat suara

Red flag saat 6 bulan:

  • Tidak pernah tersenyum
  • Tidak merespon bunyi-bunyian
  • Tidak pernah mengoceh
  • Tidak merespon saat diajak bicara

6-12 Bulan

Milestone:

  • Mulai mengeluarkan bunyi dan suara
  • Babbling "mamama", "dadada", "papapap"
  • Mengenali ekspresi wajah dan nada bicara
  • Mulai mengenali nama beberapa objek
  • Menunjuk sesuatu
  • Merespon instruksi sederhana
  • Mengucapkan 1 kata sesuai makna, biasanya , "mama" atau "ayah" untuk memanggil orang tuanya

Red flag:

  • Tidak merespon saat dipanggil namanya (9 bulan)
  • Tidak pernah babbling (9 bulan)
  • Tidak pernah menunjuk saat ingin sesuatu (12 bulan)
  • Jarang pakai bahasa tubuh, seperti dadah-dadah saat pergi atau menggelengkan kepala untuk bilang tidak (12 bulan)

12-18 Bulan

Milestone:

  • Menunjuk dan mengenali bagian tubuh
  • Memahami dan memiliki 20 - 50 kosa kata (4-6 kosa kata di usia 15 bulan)
  • Memahami gestur, misalnya dadah atau bye-bye

Red flag:

  • Tidak paham instruksi sederhana, meskipun sudah menggunakan gestur (18 bulan)
  • Kosa kata kurang dari 5 (18 bulan)

18-24 Bulan

Milestone:

  • Dapat memahami satu kata kunci dalam kalimat, misalkan "hidung mana?"
  • Memiliki kosa kata >50
  • Membuat kalimat dari minimal 2 kata, misal "adek makan"
  • Mulai mengenali nama orang lain yang dikenal

Red flag:

  • Kosa kata <50
  • Tidak bisa membuat kalimat dari 2 kata
  • Orang lain sulit mengerti apa yang diucapkan anak (<50%)

2-3 Tahun

Milestone:

  • Kosa kata antara 250 - 1000
  • Mampu membuat kalimat dari 3-5 kata
  • Mampu mengikuti 2 instruksi, misalkan "pergi ke kamar dan ambil bantal"
  • Mampu menunjuk bagian tubuh, pakaian, barang, makanan, dan mainan saat ditanya
  • Paham pertanyaan "apa" dan "dimana"
  • Berbicara sendiri dalam monolog panjang

Red flag:

  • Tidak paham instruksi sederhana tanpa gestur
  • Tidak dapat membuat kalimat minimal dari 3 kata
  • Kalimat sulit dimengerti (<75%)

3-4 Tahun

Milestone:

  • Mampu komunikasi 2 arah
  • Mampu bercerita dengan kalimat yang terdiri dari 3-6 kata
  • Hampir semua bicaranya dapat dimengerti orang lain
  • Paham pertanyaan "kenapa"
  • Mengenal konsep warna, ruang, dan waktu

Red flag:

  • Kosa kata masih <200
  • Belum mampu bercerita secara sederhana


Bahasa Harus Ditemukan Anak (The Discovery of Language)

Setelah mengenal semua tahap perkembangan bahasa dan bicara anak serta red flag yang harus diwaspadai, ada satu hal lagi yang aku yakini bisa menjadi pegangan orang tua sesuai penelitian dari Zollinger (2009), bahwa fondasi bahasa ada 2 :

Penemuan Bahasa

  1. Kompetensi Simbolik, yaitu kemampuan untuk melambangkan sesuatu. Kemampuan ini dimulai ketika anak mulai mengenal kata seperti nama benda, nama orang, nama hewan, dll., sampai ia paham betul arti kata tersebut. Jadi tak sekadar meniru saja. Kemampuan ini memerlukan stimulasi motorik dan sensorik yang baik.
  2. Kompetensi Individuasi, yaitu kemampuan untuk berkembang sendiri secara terpisah. Kompetensi ini dimulai saat anak berada di fase merangkak. Mereka akan sadar bahwa mereka individu yang berbeda ketika merangkak dan menjauhi orang tua, serta menyadari satu-satunya hal yang membuat mereka bisa berkomunikasi dengan orang tua adalah bahasa.

Selain itu, Zollinger juga menemukan bahwa "bahasa itu harus ditemukan sendiri oleh anak". Lalu, caranya bagaimana agar anak menemukan sendiri bahasanya?

Orang tua harus banyak diam.

"Loh? Bukannya orang tua harus banyak bicara, ya, supaya anak juga ikutan bicara?". Pasti banyak yang berpikir seperti ini, termasuk aku saat itu. Jawaban itu memang benar, tetapi untuk anak di bawah 1 tahun. Contohnya saat kita dulu sedang menyusui atau tummy time, pastinya ada momen kita ajak ngobrol si bayi, lalu bayi membalasnya dengan ocehan-ocehan. Di saat itulah bayi mikir, "ooh, jadi kalau bunda lagi ngomong, aku akan respon, nih."

Nah, di atas usia itu, anak sudah mulai mencari dan menemukan bahasa sendiri. Orang tua sudah harus banyak diam dan mengamati. Berikan respon hanya saat anak meminta sendiri. Anak akan asyik eksplorasi barang di sekitarnya dan selalu akan ada momen saat dia ingin tahu benda itu apa, lalu melakukan kontak mata dengan kita. Di saat itulah momen emas kita sebagai orang tua untuk menjelaskan kepada anak.

Aku masih ingat saat anakku berusia 12 bulan. Dia suka sekali eksplorasi ruang bermainnya. Kadang ia suka mengeluarkan semua mainan dari wadahnya, lalu asyik eksplorasi sendiri. Entah dijajar, dilempar, atau disembunyikan. Suatu ketika aku memberinya mainan replika hewan. Dia merespon dengan membolak-balikkan mainan itu, lalu menoleh ke arahku sambil membawa replika ikan, dan mengeluarkan raut wajah seperti bertanya, "apa ini, Nda?"

Aku pun tersenyum sambil berkata, "itu ikan".

Ia pun lantas menatap replika ikan itu kembali, sambil berkata, "itan...itan..."

"Iya, itu namanya ikan," timpalku memperjelas.

Jadi, tujuan orang tua harus banyak diam adalah agar anak menemukan sendiri momen "aha" atau "oo ternyata gitu". InsyaAllah anak cepat menyerap, paham, lalu bicara dengan cara yang disebut kontak mata 3 arah ini. 


Stimulasi Sejak Dini adalah Kunci

Fondasi bahasa yang sudah dipaparkan dalam penelitian Zollinger tentunya juga butuh stimulasi sejak dini untuk mencapai fondasi bahasa yang kuat. Tiap tahap kemampuan bahasa akan selalu menjadi dasar atau fondasi kemampuan bahasa yang lebih lanjut, seperti yang sudah dirumuskan oleh Zollinger (2009) dalam piramida perkembangan bahasa dan bicara anak.

Piramida Bahasa

Kemampuan yang berada di bawah harus dikuasai terlebih dahulu sebelum menguasai kemampuan di atasnya. Keenam unsur dalam piramida bahasa dan bicara anak tersebut juga harus dikuasai agar anak mampu berbicara 2 arah. Sebab, kemampuan bahasa dan bicara itu tak sekadar mengeluarkan kata-kata dari mulut anak, tapi anak juga harus paham, serta berbahasa dengan baik dan benar.

Masih ingat dengan fondasi dasar bahasa berupa kompetensi simbolik dan individuasi? Kedua kompetensi ini memerlukan berbagai stimulasi yang bisa dilakukan oleh orang tua sejak dini. Pada kompetensi simbolik, stimulasi yang bisa diberikan berupa container play, functional play, constructive play, pretend play, dan lain-lain sesuai kreasi orang tua. Pada kompetensi individuasi bisa dicapai jika dibarengi dengan stimulasi gerak anak seperti merangkak, berjalan tanpa alas kaki, nature walk, dan lain-lain.


Tips Asyik Stimulasi Berbicara Sejak Dini

Sudah mulai pusing dalam memahami perkembangan bahasa dan bicara anak? Tenang, itu hal yang wajar karena kita sedang belajar. Tak perlu merasa minder apalagi malu karena kita tidak sedang mengejar masa lalu. Kita sedang mengejar masa depan agar anak bisa jadi yang terdepan.

Beberapa rangkuman tips asyik ini bisa dilakukan untuk stimulasi anak agar bisa cepat bicara secara efektif. Namun, tetap harus diperhatikan bahwa perkembangan tiap anak itu berbeda, asal tidak melewati red flag, InsyaAllah aman. Jika berada dalam zona red flag, konsultasi segera ke klinik tumbuh kembang agar bisa ditangani secara tepat oleh ahli.

1. Container Play (Object Permanence)

Pernah nggak sih lihat bayi kita di kisaran usia 9-12 bulan suka sekali menarik-narik tissue atau mengeluarkan semua mainannya dari wadah? Nah, saat itu bayi sedang melakukan container play atau permainan wadah. Konsepnya bisa dijelaskan sebagai berikut :

  • Anak akan mengeluarkan atau memasukkan benda ke dalam suatu wadah
  • Saat mengeluarkan benda dari wadah, lama-lama ia akan paham bahwa wadah ini bisa diisi kembali dengan benda yang sudah ia keluarkan atau benda lain yang sekiranya bisa ia simpan di wadah tersebut
  • Dari situ, otak anak akan menyimpan informasi bahwa ada suatu wadah yang bisa digunakan untuk menampung sesuatu, termasuk bahasa

Kemampuan anak untuk paham bahwa benda yang sudah ia keluarkan itu sebenarnya ada atau object permanence, berhubungan dengan kemampuan bahasa serta bicara. Anak akan memahami konsep bahasa sebagai sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi ada, serta bisa disimpan dalam suatu wadah bernama otak.

Contoh permainan atau kegiatan yang bisa stimulasi perkembangan bahasa anak berdasarkan konsep container play adalah :

  • Masukkan benda kesukaan anak ke dalam baskom, lalu berikan ke anak. Biarkan anak eksplorasi sambil diobservasi
  • Permainan kotak makan binatang, seperti yang sudah aku tulis di postingan tentang DIY Mainan Daur Ulang.

2. Nature Walk

Nature walk adalah kegiatan favoritku untuk si kecil. Selain stimulasi kompetensi individuasi, aku biasanya juga menambah kosa kata si kecil dengan memaksimalkan kontak mata 3 arah saat anak eksplorasi alam. Misalkan seperti ini :

  • Biarkan anak eksplorasi apa saja yang ada di sekitarnya
  • Biasanya anak suka berkeliaran kesana kemari, kadang kalau menemukan hal baru, ia akan mengamati agak lama. Contohnya saat anak melihat bunga
  • Jangan langsung menyebut benda itu, saat anak sedang asyik mengamati
  • Tunggu sampai ada momen anak akan mencari kita atau kontak mata dengan kita. Saat itu, barulah kita mengenalkan benda itu sebagai bunga
Kalau menurut observasi pribadiku, selain lebih mudah mengenalkan kosa kata, kontak mata 3 arah ini membuat anak paham betul makna dari kata yang dipelajarinya. Tak sekadar meniru ucapan saja, anak akan langsung mengerti ketika melihat benda itu lagi di tempat dan waktu yang lain.


3. Functional Play (Stimulasi Kosa Kata)

Sejak anakku sudah bisa eksplorasi, rumah selalu berantakan dari dia bangun sampai tidur dan hanya bisa rapi saat malam hari saja. Setiap hari kerjaan si kecil ya bongkar isi rumah mulai dari sendok, gelas, sampai semua mainannya.

Benda favorit yang sering dibuat berantakan oleh si kecil adalah dompet. Mulai dari dompetku yang isinya mulai dari KTP, ATM, Kartu nikah, hingga segala macam jenis kartu sampai dompet eyang uti yang isinya uang receh. Dia suka sekali mengeluarkan semua isi dompet, lalu memasukkannya kembali. Dari sini, dia akhirnya paham bahwa benda yang fungsinya untuk menyimpan uang atau kartu transaksi, namanya dompet.

Begitulah konsep dari stimulasi functional play ini. Anak akan paham nama suatu benda berdasarkan fungsi dari benda tersebut. Prosesnya dimulai dari explorasi benda yang sama dengan berbagai macam isi yang berbeda. Anak akan berpikir, "ini benda apa, kok modelnya hampir sama tapi isinya beda semua? Kenapa punya Nda isinya kartu, punya Uti isinya uang receh? Coba aku cari Nda, ini apa ya, Nda?". Anak pun akan melakukan interaksi dengan kita dan pasti semacam mempertanyakan "ini apa ya?"


4. Constructive Play (Stimulasi Ruang dan Waktu)

Pada usia 18-24 bulan, pernah mengamati kalau si kecil mulai suka membentuk sesuatu dengan benda-benda yang ada di sekitarnya? Contohnya saat anak main lego, lalu menyusun rumah atau sesuatu yang mirip dengan apa yang pernah mereka lihat Saat itu anak sedang memasuki fase constructional play untuk stimulasi ruang dan waktu. Kenapa stimulasi ruang dan waktu ini penting? Kenapa, ya?

Coba ingat-ingat lagi, kita pasti sering curhat atau cerita ke suami tentang pengalaman yang sudah terjadi di masa lampau. Secara tidak sadar dalam komunikasi sehari-hari, kita sudah membawa konsep ruang dan waktu. Sama halnya saat si kecil membuat rumah dari lego atau membuat pesawat dari kertas. Tentunya si kecil sudah pernah melihat rumah atau pesawat sebelumnya, bukan? Nah, di sini si kecil sudah paham lo konsep ruang dan waktu dalam fondasi bahasanya. Dari bermain sederhana ternyata dampaknya bisa luar biasa membahana.


5. Pretend Play (Kemampuan Bercerita)

Kurangi screen time, perbanyak story telling time.

Aku ingat pernah bercerita dengan gaya story telling kepada anakku tentang mobil polisi yang sedang patroli. Meskipun belum bisa bercerita secara gamblang, ternyata anakku mampu mengurut cerita mulai dari:

  • Ninuninuninu, brum brum bruuumm...(dia menirukan suara sirine mobil polisi dan mesin mobil)
  • Cici lalan (mobil polisi jalan)
  • Laliii (mengejar pencuri yang lari)

Meskipun kosa katanya masih terbatas, tapi dia sudah bisa mengurutkan kejadian berdasarkan cerita yang pernah ia dengar. Ia pun melakukan pretend play sebagai mobil polisi yang sedang mengejar pencuri yang berlari.  Lewat pretend play, kemampuan bahasa anak sedang berkembang ke jenjang yang lebih rumit selain mengenal kata atau memahami kata, yaitu memvisualisasikan sebuah adegan di otaknya ke dalam suatu rangkaian kalimat.

Jadi, nggak usah parno saat anak tiba-tiba suka bercerita sendiri atau saat anak tiba-tiba berpura-pura menyuapi boneka. Biarkan mereka berusaha untuk mengembangkan kemampuan bahasanya ke jenjang yang lebih tinggi.


Disclaimer

Saya bukan ahli dalam perkembangan bahasa dan bicara. Tulisan ini saya rangkum dari penelitian Barbara Zollinger, instagram @vijiclinic, @citra_amelinda, sumber lainnya, serta pengalaman pribadi dalam stimulasi perkembangan bahasa anak.


Referensi

Barbara Zollinger: The Discovery of Language . Haupt, Bern 2015, 9th edition.

Feldman, H. M. How Young Children Learn Speech and Language. Pediatr Rev. 2019. 

Instagram @vijiclinic, diakses Januari 2022.

Instagram @citra_amelinda, diakses Januari 2022


Share:

Buku Ngeblog dari Nol: Kupas Tuntas Rahasia Sukses Jadi Blogger Pemula

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

The first thing you need to decide when you build your blog is what you want to accomplish with it, and what it can do if successful (Ron Dawson).

IIDN

Menjadi blogger atau dalam KBBI disebut narablog, adalah hobi "tidak sengaja" yang saat ini tengah jadi profesi sampinganku. Bermula dari tugas kuliah untuk membuat blog, kemudian jadi wadah curhat ketika penat, hingga sekarang bisa jadi salah satu pintu rezeki dalam kehidupan rumah tanggaku. 

Prosesnya tak semulus kulit wajah artis korea yang glowing paripurna. Selalu ada kerikil penghalang, ketika seorang blogger pemula ingin berkembang. Meskipun sudah terhitung 12 tahun usia blog sejak pertama kali dibuat, aku baru serius menekuni dunia blogging sejak tahun lalu. Sebagai blogger pemula, banyak sekali kesalahan kecil yang aku buat, sehingga blogku belum menghasilkan apa-apa selain tulisan yang juga masih ngalor-ngidul. Tak jarang banyak teman seperjuangan yang blognya kandas di tengah jalan, hanya menjadi angan yang tak bertuan.


Masalah Utama Blogger Pemula

Segala sesuatu di dunia ini pasti tak lepas dari namanya masalah, termasuk saat memutuskan untuk jadi blogger pemula. Banyak sekali hal-hal yang perlu disiapkan dan diatur seiring berjalannya waktu agar blog yang dibangun lebih punya tujuan dan karakter. Namun, ada beberapa masalah klasik utama yang sering aku temui baik dari diri sendiri, maupun teman sesama blogger pemula seperti berikut ini.

1. Tampilan Blog

Ada yang bilang bahwa rumah yang nyaman mampu membuat pemilik maupun pengunjung rumah betah di dalamnya. Begitu pula dengan blog, tampilan blog ternyata juga bisa mempengaruhi kunjungan orang lain ke blog kita. Bayangkan saja, lebih betah berkunjung ke rumah yang berantakan atau rapi? Pastinya lebih betah di rumah yang rapi, kan?

Tampilan blog ini sering diabaikan oleh blogger pemula jika blognya ingin dikunjungi orang. Ada yang isinya bagus, tapi tampilannya terlalu mencolok, atau berantakan. Menurutku pribadi minimal tampilan blog itu harus rapi, warnanya senada, dan font terbaca jelas dan tegas.

2. Konsistensi Menulis

Sampai saat ini pun, konsistensi menulis tetap jadi masalah yang harus diwaspadai bagiku. Apalagi aku seorang full time mom yang baru bisa mulai menulis di malam hari setelah seharian main bersama anak. Bagi blogger pemula, konsistensi ini seringkali jadi momok karena memang butuh komitmen tinggi untuk merawat konsistensi

3. Kesulitan Menuangkan Ide dan Mengembangkan Paragraf

Ide memang gampang sekali dicari, bahkan kadang ide muncul begitu saja di kepala tanpa dicari. Akan tetapi, banyak sekali teman sesama blogger pemula yang mengaku sulit untuk mengubah ide jadi rangkaian paragraf tulisan di blog. Ditambah lagi, tulisan di blog minimal harus 500 kata agar lebih disukai google. Bagi orang yang tidak terbiasa membuat kerangka tulisan, tentunya agak susah untuk mengembangkan ide jadi paragraf tulisan. 

4. Terbiasa "Copas" Tulisan

Aku punya pengalaman sangat menarik, yang membuat hidupku berubah hanya karena "copas" tulisan. Jadi saat di bangku kuliah, aku punya dosen pembimbing yang sangat sensitif dalam hal orisinalitas tulisan. Saat itu aku menyerahkan hasil naskah proposal seminar yang pada bagian dasar teori, kebanyakan aku jiplak sama persis dari buku.

Dosen pembimbingku marah besar, hampir 4 jam aku mendapat omelan penuh cinta dari beliau tentang bahaya kebiasaan jiplak tulisan. Dosen pembimbingku ini marahnya tidak pernah membentak, tapi selalu dengan suara pelan dengan nada penuh tekanan. Sejak saat itu, beliau mengajariku cara menulis dari nol. Mulai dari mencari ide, kemudian membuat kerangka tulisan, membuat kalimat parafrase agar tak terkesan hasil jiplakan, sampai hal sepele seperti penggunaan tanda titik dan koma.

Sebegitunya beliau sangat marah saat ada anak bimbing yang "copas" tulisan orang lain karena memang akibatnya bisa fatal. Kalau di tingkat institusi bisa jadi gelar sarjana dicabut, sedangkan kalau tingkat blogger bisa dilaporkan ke DMCA (Digital Millennium Copyright Act), sebuah aturan tentang hak cipta atas konten digital.


Ibu Ibu Doyan Nulis


Buku Ngeblog dari Nol, Jawaban Masalah Blogger Pemula

Blogger memang belum ada sekolah formalnya, tapi ada satu buku yang membahas tentang berbagai permasalahan blogger pemula beserta tips dan trik, yaitu "Ngeblog dari Nol". Buku "Ngeblog dari Nol" karya Widyanti Yuliandari, Alfa Kurnia, dan Nunu Amir dari Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis ini adalah jawaban dari segala kegundahan blogger pemula tentang bagaimana mengelola blog dari nol hingga terkenal dan diminati banyak orang.

Jalan panjang blogging: berliku, menanjak, curam, tetapi melegakan (Widyanti Yuliandari dalam buku Ngeblog dari Nol, 2021).

Ngeblog dari Nol membahas perihal blogging mulai dari langkah membuat blog sampai mengatur tampilan blog. Tak sekadar tulisan teori saja, buku ini juga dilengkapi step by step lengkap beserta foto tampilan layar. Jadi, buku ini bisa banget jadi panduan lengkap belajar blogging untuk pemula.

Buku ini juga dilengkapi cara untuk mengembangkan paragraf dari sebuah ide dengan cara yang runtut dan tentu saja membuat kebiasaan "copas" atau asal salin dan tempel tulisan jadi berkurang. Bahkan ada 77 ide topik yang bisa dipakai untuk mengisi blog kita. Waw banget, kan! Dimana lagi nih, beli buku bonus bank ide.


Kupas Tuntas Rahasia Sukses Blogger Pemula Lewat Ngeblog dari Nol

Tak hanya menjawab masalah utama blogger pemula, buku "Ngeblog dari Nol" juga membahas secara detail rahasia sukses dalam mengembangkan blog. Widyanti Yuliandari, Alfa Kurnia, dan Nunu Amir tak segan membagikan ilmunya tentang membangun konten blog, tips memilih hosting andal, dan memilih niche blog. Ada juga beberapa cerita tentang bagaimana jatuh bangun dari blogger pemula hingga jadi blogger profesional.

Satu lagi hal yang membuat buku "Ngeblog dari Nol" ini unik adalah adanya lampiran kumpulan contoh tulisan blog dengan berbagai macam topik yang sudah pernah ditulis oleh penulis. Dari tulisan tersebut, sebagai blogger pemula bisa memakai teknik ATM (Amati Tiru Modifikasi) untuk membuat artikel sejenis.


Bonus Blog Planner Biar Ngeblog Makin Asyik, Terencana, dan Gak Mati Gaya

Selain membahas segala macam hal tentang blogging dari nol, kita juga bisa dapat bonus blog planner lo. Manfaat dari blog planner ini banyak banget, terutama untuk menentukan apa tujuan dan goals dari blog kita selama satu tahun. Kita juga bisa memasukkan ide beserta kerangka tulisan blog ke dalam buku tersebut. 

Ngeblog dari Nol

Dengan adanya blog planner ini, blog akan semakin terarah dan terencana. Saat mati gaya karena bosan atau jenuh, buku ini bisa jadi penyemangat serta pengingat apa sih tujuan kita harus susah payah untuk mengembangkan blog. Blogging jadi lebih asyik, blog pun jadi gak mati gaya.


Kesan dan Pesanku Setelah Membaca Ngeblog dari Nol

Buku ini seperti sebuah cerita yang mengalir dengan segala informasi lengkap tentang blogging. Diramu dengan tepat dan akurat, buku ini juga menjawab semua tantangan dalam dunia blogger, serta cara untuk survive, dan bangkit jadi blogger sukses.

Tak banyak buku yang menyingkap rahasia dapur para blogger, tapi buku ini memberikan informasi itu secara luwes tanpa takut tersaingi. Buat para teman blogger yang sedang berada di persimpangan jalan, boleh dicoba baca buku ini untuk membangkitkan kembali semangat blogging.

Share:

Dialogku dengan Tuhan yang Dijawab Secara Instan: Momen Kritis Sebelum Bertemu Jodoh

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Menikah itu ibadah seumur hidup. Namun, jika belum waktunya menikah, kerjakan ibadah yang lainnya dulu (Meyda Sefira dalam Kajian Pranikah di Masjid Salman ITB, 2018).

Bandung adalah saksi bisu langkah awalku untuk berani mengikhlaskan serta menegaskan komitmen seorang lelaki yang sudah meng-ghosting-ku. Ya, aku pernah berada dalam hubungan toxic yang menguras energi serta waktuku yang sangat berharga. Menagih janji untuk menikah adalah satu-satunya hal yang aku kejar saat itu.

Prinsipku saat itu, "kalau lelaki berani menjanjikan seorang wanita sebuah pernikahan serta meminta wanita tersebut dari orang tuanya, saat ingin menyudahi ya wajib pamit juga dengan baik-baik. Jangan asal pergi seperti pengecut, yang beraninya hanya janji, tapi saat ditagih langsung menghilang bak setan."

Setelah kejadian tahun 2018 itu yang cukup membuatku depresi serta dibuat tak percaya diri, beberapa laki-laki pun mulai mendekat. Beberapa ada yang cuma penasaran, beberapa lagi ada yang hobi ghosting juga. Aku masih sabar menghadapi kelakuan para lelaki pengecut itu, hingga puncaknya ada satu kejadian yang membuatku sangat kecewa. Namun, aku seperti memiliki kekuatan lain untuk menyudahi lingkaran setan ghosting yang dibuat para lelaki pengecut itu.

Saat itu aku berada di puncak kecewa tertinggiku, dimana aku sudah tak bisa lagi menangis atau merasakan sedih. Rasanya ya kosong aja gitu. Aku pun melakukan dialog panjang dengan Allah yang kalau diingat-ingat lagi, kata-katanya lumayan membuatku merinding dan...

Boom!!

Allah menjawab doaku hari itu juga, selang dua jam aku berdialog denganNya. MasyaAllah merindingnya masih terasa sampai sekarang. Ya, aku tahu Allah pasti menjawab semua dialog hambaNya, tapi aku sama sekali tak menyangka bakal dijawab secara instan.

Sebelum aku spill the tea apa sih yang aku ucapkan dalam hati sampai dijawab secara instan oleh Allah, aku akan ceritakan runtutan ceritaku dari patah hati sampai momen kritis sebelum akhirnya aku menikah dengan suamiku. Ceritanya lumayan panjang, tapi aku harap singlelillah yang membaca tulisan ini bisa punya semangat kembali. Ambil baiknya saja dan buang segala keburukan yang menyertai cerita ini agar bisa jadi pelajaran yang bermakna.


Dari Bandung Aku Belajar Ikhlas

"Assalamu'alaikum, Nip, minggu depan aku mau ke Bandung, temenin, ya waktu di sana?" Ketikku pelan di layar smartphone. 

"Wa'alaikumsalam, boleh-boleh, mau berap hari di sini? Trus mau kemana aja, nih?" Teman semasa kuliahku dulu langsung menjawab pesan di aplikasi WhatsApp yang aku kirim.

"Cuma 2 hari aja, kok, trus pengen ke Bosscha aja," jawabku singkat.

"Weyy, serius cuma ke Bosscha aja??? Bandung banyak tempat bagus loh?"

"Serius, Nip, aku cuma mau ke Bosscha aja, sekaligus mau menenangkan diri. Eh tapi, jalan-jalan di sekitar alun-alun Bandung boleh juga sih."

"Oalah, ya wis kalo gitu. Kabarin lagi, ya, kalau mau berangkat."

"Okayy."

Seminggu kemudian, aku benar-benar berangkat ke Bandung sendirian dan naik kereta malam. Pikiranku sudah tidak pada tempatnya. Gelisah, galau, dan merana atau disingkat GEGANA kalau kata seniorku dulu. Jangan tanya rasa takutku kemana naik kereta sendirian malam-malam. Rasanya sudah putus semua urat takutku. 

Aku naik kereta dari kota Kediri, tempatku bekerja kala itu. Perjalanan ke Bandung memakan waktu sekitar 15 jam. Meskipun dalam keadaan kalut karena jadi korban ghosting, aku sungguh menikmati perjalanan ke Bandung. Pemandangan paling menakjubkan saat melewati semacam dataran tinggi dan kereta sedikit melambat. Saat itu lepas subuh, matahari masih berwarna kemerahan. MasyaAllah betul-betul indah ciptaanNya.

Aku sampai di Bandung sekitar pukul 7 pagi. Di sana sudah ada teman yang menjemputku. Kami pun bergegas ke kos untuk menaruh barang, sarapan, dan mulai berpetualang di Bandung. Mulai dari mencari Bandros di Alun-alun Bandung, menelusuri jalan Asia Afrika hingga Braga, mencicipi seblak asli Bandung di dekat ITB, dan berakhir di masjid Salman ITB.

Saat itu sebenarnya aku tidak tahu kalau aka ada kajian dengan Sefira Meyda di Masjid Salman ITB. Temanku juga baru tahu saat bertemu dengan salah satu juniornya, lalu sekalian mengajak kami berdua untuk ikut. Entah kenapa, kebetulan juga tema yang diangkat adalah tentang pranikah. Di kajian inilah aku sempat meneteskan air mata saat pembicara bercerita tentang sikap seorang wanita saat menghadapi lelaki yang menjanjikan sebuah pernikahan, tapi menyuruh sang wanita untuk menunggu.

Sebagai seorang wanita, kita bisa memilih mau menunggu dengan resiko tak ada jaminan pasti bakal tetap menikah atau mundur dan mengikhlaskan segala sesuatu hanya kepadaNya (Meyda Sefira).

Temanku sepertinya tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Sepulang dari kajian, temanku berbicara dari hati ke hati. Ternyata dia juga sedang berada dalam fase yang sama sepertiku, bedanya si lelaki hanya meminta untuk menunggu, dan di saat bersamaan ada seorang lelaki yang serius ingin menikahinya tanpa harus menunggu. Kami pun saling menguatkan dalam tangis yang sama-sama kita tahan dengan senyuman.

Keesokan harinya, aku akhirnya bisa pergi ke Bosscha. Tempat impian yang ingin aku kunjungi sejak munculnya film "Petualangan Sherina" belasan tahun yang lalu. Di sana aku dan temanku bisa sedikit melupakan masalah yang sedang kami hadapi hingga tak terasa sudah waktunya aku pulang ke perantauan.

Sebelum berpisah, kami kembali saling menguatkan. Dia berpesan kepadaku untuk selalu sholat istikharah agar hati menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan dan jangan sampai salah menafsirkan pertanda hasil sholat istikharah. Saat itu aku belum seberapa paham dengan kata-katanya tentang "jangan sampai salah menafsirkan tanda hasil istikharah", tapi aku tetap mengingatnya sebagai alarm.


Healing dengan Solo Traveling

Setelah bertemu dengan Bandung, aku segera menyelesaikan urusanku dengan lelaki pengecut itu. Aku konfrontasi lewat WhatsApp, karena memintanya untuk bertemu dan memberikan penjelasan rasanya sama dengan seperti meminta bertemu dengan presiden. Setelah itu, barulah muncul pesan balasan yang intinya dia udah tidak mau melanjutkan hubungan ini.

KZL kan bacanya?

Sama aku pun begitu. Hanya saja kalau diingat-ingat lagi sekarang, yang ada malah jadi cerita lucu yang menggemaskan. Setelah kejadian itu, ada semacam keinginan untuk healing ke kota-kota lain, dan aku benar-benar ingin sendiri. Entah itu hanya melancong atau mengabdikan jadi relawan di kota lain. Ketika berada di tempat lain yang jauh dari Surabaya, rasanya bisa sedikit damai dengan sisa racun dari toxic relationship yang baru saja aku putus penyebarannya.

Selama masa pembersihan hati dari racun tersebut, aku bisa menemukan kembali mimpi beserta jati diri. Kadang aku juga dipertemukan dengan orang-orang yang punya jalan cerita cinta mirip denganku. Kadang aku juga mendengar banyak cerita baru dari orang baru yang aku temui. Misalnya saja seperti cerita kang ojol mantan preman lokalisasi d*ll* di Surabaya, cerita seorang ibu yang berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak keduanya saat suaminya selingkuh, cerita seorang teman relawan yang rela bekerja jauh dari kampung halaman hanya untuk melupakan lelaki yang batal menikahinya dan masih banyak lagi cerita-cerita dari perjalanan yang aku lakukan.

Entah kenapa mereka nyaman bercerita begitu saja. Mungkin karena posisi tidak saling kenal sepenuhnya dan jarak domisili yang jauh, sehingga mereka merasa lebih nyaman bercerita dengan orang asing. Aku pernah membaca bahwa pasti ada alasan Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang, entah untuk bercerita atau mendengarkan, entah untuk sesaat atau selamanya, dan entah untuk memberi pelajaran atau mempersatukan dalam sebuah ikatan.


3 Orang Mendekat dengan Inisial Awal Sama, Apakah Salah Satunya Jodohku?

Setelah puas solo traveling selama hampir setahun, aku mulai ikut komunitas dan beberapa kegiatan sosial. Dari situ muncul 3 nama dengan inisial awal sama yang sedang "dekat" denganku. Entah kebetulan atau ada sesuatu yang ingin Allah tunjukkan padaku. Anggap saja inisialnya A, aku samarkan jadi Alkana, Alkuna, dan Alkena.

Seperti biasa, aku akan selalu mengenalkan laki-laki yang dekat denganku kepada Ibu. Aku juga mulai menggencarkan lagi sholat istikharah, memohon pada Allah agar diberi petunjuk apakah salah satu di antara 3 orang ini adalah jodohku. Alkana dan Alkena ini mencoba maju secara intensif, sedangkan Alkuna ini berasa seperti "Kakak" buatku. Akan tetapi, di tengah perjalanan, Alkena pakai jurus ghosting untuk menunjukkan seberapa pengecutnya dia. Ya, sudah, aku tak ambil pusing karena sudah malas berurusan dengan lelaki pengecut.

Alkana akhirnya mengucapkan komitmennya, tapi memintaku untuk menunggunya sampai dia lulus kuliah. Awalnya aku ragu, tapi dia meyakinkanku, dan mohon maaf kali ini aku tidak bodoh. Aku coba turuti dan pantau apa maunya selama beberapa bulan.

Ternyata, ci luk ba!!! Lagi-lagi aku kena jurus ghosting lagi dari seorang lelaki pengecut. Saat ditanya komitmen untuk menikah, jawabannya masih mengambang. Oke, kali ini aku diam saja, dan tak peduli lagi dengan para lelaki antik ini. Bodo amat!

Tinggal si Alkuna nih, yang saat itu hanya aku anggap sebagai kakak saja. Aku lampiaskan kekesalanku padanya tentang kedua lelaki itu. Pendapat si Alkuna inilah yang akhirnya membuatku berada di momen kritis dalam menanti jodoh. Ada satu kata-katanya yang membuatku sedikit marah, tapi perkataannya saat itu benar juga.


Momen Kritis Menanti Jodoh

"Perempuan itu punya hak untuk memilih. Mau menunggu atau mengikhlaskan. Kalau kamu memilih untuk menunggu, tanggung sendiri resikonya kalau akhirnya di-ghosting."

Duer!! Rasanya seperti ada petir melintas di atas kepalaku. Kak Alkuna ini meskipun humoris, sekalinya ngomong bisa bikin orang kicep. Namun, saat itu aku justru marah. Aku marah karena merasa, "kamu tahu apa tentang hidupku?". Mungkin egoku terluka karena selama ini aku merasa benar dengan segala keputusanku.

Setelah rentetan kejadian itu, aku mendapat kabar dari teman sesama komunitas kalau si Alkena ternyata sudah lamaran dengan anggota komunitas yang dulu menjodohkanku dengan Alkena. Bertambah lagi rasa marah yang makin membuncah di dada. Sudah lelah rasanya menghadapi semuanya sendirian.


Dialog dengan Tuhan dan Jawaban InstanNya

Aku masih ingat sekali hari itu hari Jumat. Aku berada di stasiun Surabaya Kota, sedang menanti kereta untuk kembali ke perantauan. Mataku menatap kosong ke arah langit dengan segala kekecewaan yang sudah ingin meledak. Saat itulah, aku mulai berdialog dengan Tuhan, merintih dengan segala rasa sakit yang berkumpul jadi satu. Pasrah, hanya kepadaNya aku mencurahkan segala beban di hati.

Ya Allah, hamba sudah lelah dan kecewa berat dengan manusia. Berharap kepada mereka, rasanya sangat menyakitkan. Aku juga sudah tak tahu lagi mana yang datang duluan menyapaku, entah janur kuning atau bendera kuning. Jika memang janur kuning itu datang duluan kepadaku, tunjukkan, serta mudahkan jalan untuk bertemu dengan jodohku. Jika bendera kuning itu datang duluan kepadaku, izinkan aku istiqomah beribadah kepadamu agar aku bisa husnul khotimah saat bertemu dengan kematian (Doaku saat itu yang dikabulkan secara instan oleh Tuhan). 

Tepat setelah aku selesai berdialog dengan Tuhan, kereta datang, aku pun naik ke dalam kereta. Seperti biasa aku akan selalu menghadap ke jendela, menikmati pemandangan luar dari kaca jendela. Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk ke dalam ponselku. Seseorang yang aku tahu, tapi tak terlalu kenal tiba-tiba bertanya apakah aku sudah ada yang melamar atau belum. 

Deg! Baru saja aku selesai berdoa dalam dialog monologku kepada Tuhan. Apakah ini jawabanNya? 

Badanku langsung terasa lemas, jari-jemariku turut gemetar saat memberikan jawaban kepada seseorang itu. Rasanya seperti dialog yang dijawab langsung oleh Allah. Siapa yang tak gemetar ketika rasanya Allah benar-benar dekat seperti jarak antara dahi dan sajadah saat sujud. MasyaAllah, Allahuakbar!

Aku pun memberikan jawaban netral dan meminta waktu untuk sholat istikharah dahulu selama seminggu sebelum melangkah lebih lanjut. Selama itu pula aku melarangnya untuk menghubungiku kalau tidak penting. Sebab aku sangat trauma dengan berbagai perbincangan via chat sebelum halal.


Sholat Istikharah, Hati-hati Memaknai Pertandanya

Sebelum sholat istikharah, aku berusaha menetralkan hati dan pikiran. Aku buang semua rasa dan harapan, agar hati benar-benar kosong, tak ada rasa condong kepada manusia. Selain itu aku meminta saran kepada beberapa temanku, termasuk temanku yang dari Bandung. Dia kembali mengingatkanku untuk tidak semudah itu percaya jika ada jawaban istikharah yang datang melalui mimpi. Bisa jadi itu setan yang menunggangi, agar manusia bisa salah mengartikan hasil sholat istikharah.

Lalu, yang benar bagaimana?

Sebagai gambaran bagaimana setan bisa amat sangat menyesatkan jiwa manusia yang sedang terluka, aku akan berbagi sedikit cerita tentang sholat istikharahku sepulang dari Bandung. Jadi, sepulang dari Bandung, posisi hati masih setengah terluka, aku langsung tancap gas sholat istikharah untuk meminta petunjuk apakah benar dia jodoh yang harus aku pertahankan?

Selepas sholat istikharah, aku memang selalu bermimpi tentang dia. Hanya saja, hati kecilku selalu berteriak bahwa bukan dia jodohku. Ada secuil perasaan gelisah yang aku rasakan ketika meyakini bahwa dia jodohku, meskipun setelah sholat istikharah wajahnya selalu nampak di mimpiku.

Nah, ternyata itu contoh penafsiran sholat istikharah yang kurang tepat. Harusnya ketika melakukan sholat istikharah, hati harus dalam keadaan netral dan tidak condong kepada siapa pun. Jawabannya pun tak melulu lewat mimpi. Bisa jadi jawabannya muncul lewat ketentraman hati. Saat Allah ridho', segala sesuatu akan dipermudah, semua jalan akan terbuka lebar, dan hati akan cenderung damai.

Setelah aku melakukan sholat istikharah selama beberapa hari, entah kenapa hatiku jadi damai. Aku pun mempersilakan orang ini untuk datang ke rumah dan mengutarakan maksudnya kepada ibu. Alhamdulillah ibu langsung menyuruh kami untuk datang menemui wali nikahku nanti, yaitu kakak laki-laki dari Alm. Bapak. Alhamdulillah lagi, Pakde setuju-setuju saja, dan tidak ragu untuk mengiyaka maksud baik lelaki ini.

Proses kami menuju pernikahan begitu cepat. Januari dia mengutarakan maksudnya, April kami lamaran, dan Juni kami pun melangsungkan pernikahan. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya jalan cerita cintaku bisa langsung sesingkat ini setelah mengalami banyak hal menyakitkan di tahun-tahun sebelumnya.

Oh iya, pasti banyak yang penasaran bagaimana nasib Alkuna, apakah dia lelaki yang tiba-tiba melamarku? Sayang sekali, lelaki yang melamarku bukan Alkuna yang sudah aku anggap Kakak sendiri. Beliau pun juga sudah menikah tahun lalu. Lelaki yang melamarku adalah lelaki asing yang aku pun hanya sebatas tahu namanya saja, tak kenal karakter maupun kebiasaannya. Aku hanya meyakini lelaki ini lewat sholat istikharah beserta petunjuknya yang aku lakukan terus, bahkan sampai di malam sebelum akad.


Happy Ending, Welcome to The Jungle Part 2

Siapa yang pas kuliah suka mengeluh saat tugas tiada akhir, lalu sesumbar, "duh, mending nikah aja lah daripada kuliah". Yakin, menikah adalah solusi dari tugas kuliah yang jumlahnya tak kenal basa-basi? Udah tau belum kalau menikah itu ibadah seumur hidup dengan orang yang sama? Udah paham juga belum kalau menikah itu tak sekadar suka sama suka? Lebih dari itu, menikah itu artinya menyatukan dua keluarga. Aku tekankan lagi, dua keluarga, ya, bukan cuma dua kelapa eh kepala.

Menikah memang happy ending dari cerita cinta, tapi kamu salah besar kalau berharap setelah menikah kehidupanmu akan selalu indah dan mudah. No. Tidak semudah itu, Senorita. Kalau kehidupan setelah menikah itu mudah, hadiahnya ya panci, bukan surga dari Allah.

Alhamdulillah, atas seizin Allah, aku menikah di usia 26 tahun dengan suamiku. Sudah cari jauh-jauh sampai ke kota lain, eh, ternyata jodohnya cuma beda kecamatan aja. Jodoh memang rahasia Allah yang tak bisa ditebak. Dalam kasus ceritaku memang benar-benar surprise banget proses bertemu dengan jodoh yang sebenarnya.

Setelah menikah, memang betul aku merasakan bahwa menikah itu bukan ending, tapi akan terus ongoing.  Alumni Kampus Perjuangan pasti paham banget makna ucapan "welcome to the jungle!". Nah, menurutku pribadi, kehidupan setelah menikah memang seperti itu adanya, penuh perjuangan sekaligus harapan.

Share:

Cara Membuat Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Sebuah desa di Jawa Timur mendadak gempar karena sungai yang ada di sekitar mereka warnanya berubah jadi merah seperti darah. Para warga mengaku tak ada bau menyengat apa pun ketika sungai sepanjang 1 km itu tiba-tiba berubah warna. Panik, gelisah, dan takut pasti dirasakan oleh warga desa. Sungai yang awalnya baik-baik saja, tiba-tiba berubah merah, menyerupai darah hanya dalam waktu tak sampai 24 jam. Setelah ditelusuri oleh RT setempat dan beberapa warga, bagian permukaan air sungai yang berwarna merah seperti darah itu, terasa lengket dan berminyak. Namun, bagian air sungai yang lebih dalam tak berubah warna jadi merah. Jadi seperti ada lapisan minyak merah di permukaan air sungai. Kecurigaan pun mengarah pada limbah minyak pabrik kerupuk rambak yang ada di sekitar situ.

Lilin aromaterapi

Cerita di atas adalah kisah nyata yang dialami warga desa Jumeneng, Mojokerto, Jawa Timur pada awal Januari 2022 lalu (Sholahudin, sindonews.com, 2022). Diduga, warna sungai berubah jadi merah darah akibat limbah minyak dari pabrik kerupuk rambak. Padahal, sungai ledeng yang melintasi desa tersebut sering digunakan untuk irigasi pertanian. Akibatnya, sementara waktu para warga desa tak bisa mengairi sawah dengan air sungai itu.


Minyak Jelantah dan Bahaya Limbahnya

Berita tentang Desa Jumeneng baru satu dari sekian kasus pencemaran limbah minyak bekas pakai yang terjadi di Indonesia. Menurut data dari United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia masuk dalam 4 besar negara yang paling banyak mengonsumsi minyak goreng. Selaras dengan data tersebut, konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia telah mencapai 13 juta ton (Oilseeds and Products Annual, 2019). Sayangnya, jumlah besar konsumsi minyak goreng dj Indonesia tidak dibarengi dengan edukasi tentang bahaya minyak goreng bekas atau minyak jelantah.

Selain berbahaya bagi kesehatan, limbah minyak jelantah termasuk kedalam golongan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) bagi lingkungan. Ketika limbah minyak jelantah dibuang begitu saja,  saluran air atau dreinase akan tersumbat, bakteri pun akan berkembang biak di tempat itu.

Minyak jelantah

Ditambah lagi, minyak jelantah yang dibuang sembarangan nantinya akan mengalir ke sungai hingga ke laut. Dari sini saja sudah terbayang, berapa banyak kerusakan lingkungan yang sudah dibuat akibat pembuangan limbah minyak jelantah sembarangan. Tumbuhan yang hidup di dalam ekosistem laut bisa terancam punah karena tidak mendapatkan cukup sinar matahari dalam proses fotosintesis. Hal itu terjadi akibat limbah minyak jelantah menutupi lapisan permukaan air, sehingga sinar matahari tak bisa menembus permukaan laut dengan baik. Sama persis dengan kasus sungai darah warga Desa Jumeneng, hanya saja masih terjadi di lingkup sungai.

"Lantas, apa yang harus dilakukan manusia agar limbah jelantah tak mencemari lingkungan?"


Pemanfaatan Minyak Jelantah

Masih banyak orang yang belum teredukasi tentang bahaya minyak jelantah disertai cara untuk mengolahnya. Kebanyakan memanfaatkan minyak jelantah untuk digunakan kembali yang pastinya membahayakan kesehatan di masa depan. Bahkan, tak sega membuang minyak jelantah ke saluran pembuangan air. Padahal jika dimanfaatkan dengan tepat dan dikelola dengan benar, limbah minyak jelantah memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Sebut saja pemerintah Bandung dengan gebrakan program "Beli Minyak Jelantah (BETAH)". Lewat program BETAH, warga dapat menukar minyak jelantah dengan rupiah. Minyak jelantah tersebut akan diolah oleh Bank Sampah Resik untuk nantinya dijadikan bahan bakar nabati alias biodiesel.

Jelantah tidak diolah lagi oleh kita, kalau dibiarkan akan sangat mengganggu. Oleh karenanya, saya harap program ini bisa terus berjalan (Alm. Bapak Oded saat peluncuran program BETAH di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 25 September 2021.)

Selain program tukar minyak jelantah dengan rupiah, minyak jelantah juga bisa diolah jadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti sabun dan lilin. Sudah banyak pelaku bisnis yang mengembangkan produk ramah lingkungan dari minyak goreng bekas pakai. Sebut saja Kertabumi Recycling Center, berbagai UMKM, dan lain-lain.


Potensi Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Lilin Aromaterapi

Lilin aromaterapi adalah lilin yang mengandung minyak esensial. Minyak esensial sendiri merupakan cairan pekat yang berasal dari bahan-bahan alami seperti kulit lemon, kulit jeruk, sereh, lavender, mawar, dan lain-lain. Lilin aromaterapi disukai karena mampu menyebarkan wangi hampir ke seluruh ruangan. Selain itu, aromaterapi dari minyak esensial punya manfaat bagi tubuh jika tidak digunakan berlebihan. Misalnya saja sereh, cengkeh, dan lemon yang bisa meningkatkan sistem imun tubuh.

Bahan baku untuk pembuatan lilin pada dasarnya adalah minyak atau lemak, sedangkan secara umum bahan yang sering digunakan antara lain  parafin, asam stearat, lilin lebah (beeswax), lilin kedelai, lilin minyak kelapa sawit, dan lilin batang. Pada pembuatan lilin aromaterapi, ada tambahan minyak esensial di akhir, sebelum lilin memadat.

Minyak jelantah
Alat dan bahan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah

Minyak jelantah sendiri bisa jadi campuran lemak dalam pembuatan lilin padat. Jadi bisa dilakukan campuran 1:1 antara minyak jelantah dan parafin/beeswax/asam stearat/lilin batang, dll. Sebelum digunakan, bisa dilakukan pra-treatment minyak jelantah untuk menghilangkan bau seperti merendam minyak dengan ampas tebu atau merendam minyak. Bisa juga dilakukan teknik infused oil (bisa baca di sini) pada minyak jelantah dengan bahan alam seperti kulit jeruk, batang sereh, lavender kering, dan sebagainya.


Cara Membuat Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah sebenarnya sangat mudah. Hanya butuh bahan baku berupa minyak jelantah, /parafin/beeswax/asam stearat/lilin batang, dan minyak esensial. Sebelum diolah jadi lilin aromaterapi, aku pribadi melakukan pre-treatment terhadap minyak jelantah dengan metode infused oil dengan bahan alam, agar tak perlu menambahkan minyak esensial untuk pewangi. Berikut ringkasan bahan, alat, dan langkah pembuatan lilin aromaterapi yang sudah pernah aku lakukan.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah adalah:

  1. Wadah kaca bertutup
  2. Panci teflon
  3. Termometer makanan
  4. Parutan kecil
  5. Stik es krim
  6. Benang lilin katun
  7. Minyak jelantah 50 gram
  8. Lilin batang bekas 50 gram (bisa diganti beeswax/parafin/asam stearat)
  9. Kulit jeruk dan sereh secukupnya
  10. Crayon bekas untuk pewarna (opsional)


Pre-treatment Minyak Jelantah

Siapkan bahan alam yang ingin digunakan untuk menyamarkan bau minyak jelantah dengan metode infused oil. Aku pakai kulit jeruk dan batang sereh yang sudah digeprek. Setelah itu, masukkan ke dalam wadah kaca yang bertutup. Ambil sekitar 100 mL minyak jelantah, saring, lalu tuangkan ke dalam wadah kaca berisi kulit jeruk dan sereh tadi. Panaskan dengan metode double-boiler, dengan suhu maksimal 60-70°C selama 3 jam. Aku pakai kompor biasa, jadi setelah mencapai suhu 70°C, kompor aku matikan beberapa menit, lalu aku nyalakan kembali sampai suhu 70°C lagi. Begitu seterusnya selama 3 jam. Suhu yang diukur suhu minyak di dalam wadah kaca, buka suhu air di luar wadah kaca. Dinginkan sampai suhu ruang, lalu diamkan lagi selama 2-3 hari.

Cara membuat lilin aromaterapi
Minyak jelantah hasil metode infused oil

Tahap Pembuatan Lilin Aromaterapi

Setelah minyak jelantah siap, baru ke tahap pembuatan lilin aromaterapi. Minyak jelantah yang sudah di-treatment dengan kulit jeruk dan sereh, sudah tidak berbau menyengat. Wangi kulit jeruk dan sereh hasil proses infused oil memang tak setajam ketika menggunakan minyak esensial, tapi cukup untuk membuat minyak jelantah beraroma kulit jeruk dan sereh yang khas. Setelah itu, barulah minyak jelantah siap digunakan.

Minyak jelantah

  1. Timbang minyak jelantah yang sudah di-treatment sebanyak 50 gram. Masukkan ke dalam panci.
  2. Timbang 50 gram lilin batang bekas, parut, lalu masukkan ke dalam panci bersama minyak jelantah.
  3. Siapkan gelas atau wadah kaca untuk mencetak lilin. Kaitkan benang lilin katun ke stik es krim, lalu letakkan di atas gelas kaca, sehingga benang menggantung lurus sampai dasar gelas.
  4. Masak minyak jelantah dan lilin batang hingga meleleh sempurna. Diamkan sebentar. 
  5. Parut crayon bekas sebagai pewarna, masukkan ke dalam panci. Aduk hingga warna bercampur sempurna. Kalau ingin beberapa warna, bagi adonan lilin jadi dua bagian dulu. Setelah itu baru diberi warna.
  6. Jika ingin menambahkan minyak esensial, bisa dilakukan setelah penambahan warna atau setelah adonan lilin hangat (jika tak ingin Ditambahkan pewarna).
  7. Tuang adonan lilin ke dalam cetakan secara perlahan. Tunggu hingga 1-2 hari untuk memastikan lilin padat sempurna.

Kesan Pemakaian Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Aku coba memakai lilin aromaterapi saat santai bersama anak. Bau yang dikeluarkan memang cenderung mild, dibandingkan lilin aromaterapi yang menggunakan minyak esensial. Entah hanya perasaanku atau memang begitu karena aku sendiri tidak melakukan penelitian secara terukur, nyamuk di sekitar ruang bermain anakku cenderung berkurang.

Aku pribadi suka wangi mild dari lilin aromaterapi yang aku buat, karena terlalu berlebihan dalam menghirup aromaterapi juga tak baik bagi kesehatan di masa depan. Saat lilin minyak jelantah dibakar juga tak ada lagi bau tak sedap dari minyak jelantah. Jadi, ya, seperti lilin aromaterapi pada umumnya dengan wangi yang lembut.

Yuk, coba juga bikin lilin dari minyak jelantah. Bahannya cenderung mudah didapat dan mudah juga cara membuatnya. Bisa banget lo kalau lilinnya mau dijual di sekitar rumah atau teman dekat. Limbah hilang, cuan pun datang.

Share:

Asah Future-skill Lewat Board Game Edukasi, Persiapkan Anak Hadapi Era Industri 4.0

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Anak-anak, besok kalau sudah dewasa ingin jadi apa, nih?" Tanyaku pada satu kelas SD di Surabaya saat jadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.

"Gamer, Kak!"

"Dokter"

"Youtuber!!!"

"Ilmuwan!!!!!"

"Selebgram!"

Jawaban mereka terdengar riuh dan gaduh, menunjukkan semangat mereka dalam bermimpi, karena mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia kata Nidji. Namun, ada yang menarik dari beberapa jawaban anak-anak itu. Ada beberapa profesi yang dulu tidak ada, seperti gamer, youtuber, dll., jadi muncul di era industri 4.0 saat ini. Bahkan, diprediksi akan muncul lebih banyak profesi baru lagi yang berhubungan dengan industri teknologi dan kreatif di masa depan.

Pertanyaannya adalah, siapkah kita sebagai orang tua atau guru atau pendamping anak untuk mempersiapkan skill yang mumpuni agar bisa bersaing dengan teknologi di masa depan?

Board Game Edukasi

Di zaman masa kecilku dulu, dokter, polisi, dan guru adalah profesi favorit yang pasti disebut ketika anak kecil generasi 90 an ditanya, "nanti kalau sudah besar mau jadi apa?". Aku juga masih ingat jelas jawaban pertamaku saat ditanya seperti itu.

"Polwan!"

Suaraku terdengar mantab dan yakin saat itu. Padahal, aku sendiri juga tak tahu sebenarnya apa sih tugas polwan itu. Aku hanya sering melihat polwan dalam balutan seragam coklat saat itu. Seiring bertambahnya usia, jawabanku pun berubah jadi "dokter" atau "guru". Lagi-lagi, aku hanya tahu kedua profesi tersebut karena sering melihat mereka di sekitarku.

Ketiga profesi tersebut memang lebih mudah dilihat anak-anak kala itu, sehingga mereka lebih mudah memvisualisasikan menjadi cita-cita. Ditambah lagi, arus informasi serta teknologi masih belum berkembang pesat saat itu. Jadi pengetahuan akan jenis profesi juga jadi terbatas.

Puluhan tahun berlalu, aku pun sudah tumbuh dewasa. Zaman juga sudah berubah jauh dari zamanku dulu. Teknologi berkembang sangat pesat, disertai kebutuhan profesi yang makin bervariasi. Sekarang kalau anak kecil ditanya,"besok kalau sudah besar mau jadi apa?", jawabannya pasti sudah bermacam-macam. Tak melulu dokter, guru, dan polisi. Sebuah tantangan baru bagi anak era industri 4.0, dengan orang tua di era 90 an.


Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Future Jobs

Di era industri teknologi dan kreatif ini, banyak sekali profesi baru yang muncul akibat kebutuhan era tersebut. Salah satu pengalaman menarik yang aku dapatkan saat jadi relawan pengajar adalah ada beberapa anak yang menjawab ingin jadi youtuber atau selebgram setelah dewasa nanti. Bukan satu atau dua orang, tapi beberapa. Ada juga yang menjawab ingin jadi gamer, digital illustrator, dan lain-lain.

Apakah jawaban mereka itu nyeleneh?

Tidak, jawaban anak-anak tersebut masih cukup wajar. Justru di era teknologi dan kreatif saat ini, profesi tersebut memang sedang berkembang dan mampu jadi pilar ekonomi Indonesia untuk masa depan. Bahkan, bisa jadi akan ada lagi banyak pilihan profesi baru dengan skill baru yang dibutuhkan di masa depan. Hal inilah yang sering jadi momok orang tua dari generasi 90 an yang punya anak di era pesatnya perkembangan ekonomi kreatif.

Aku pribadi sebagai orang tua dari generasi 90 an mulai was-was, apakah anakku bisa bersaing di masa depan nanti? Bisakah aku mengasah skill masa depan dengan gap zaman yang kita miliki? Mau tak mau pasti sebagai orang tua, aku wajib mempelajari soft skill untuk future job, agar nantinya aku bisa masuk ke dunia anakku, dan lebih mudah mengajari future-skill sesuai perkembangan zaman.

Rasa gelisah akan masa depan anak yang aku rasakan menuntunku untuk ikut webinar yang diadakan oleh ECOFUN Indonesia, dengan dukungan dari Maybank Foundation, ASEAN Foundation, Board Games ID, dan Arcanum Hobbies. Topik webinar tersebut adalah "Creative Economy Education through Game Based Learning (CREATONME)" atau bisa diartikan "Edukasi Ekonomi Kreatif lewat Pembelajaran Berbasis Permainan (CREATONME)".

ECOFUN Indonesia
Pembicara dalam webinar CREATONME

Pembicara dalam webinar ini sangat luar biasa karena termasuk orang-orang yang punya concern untuk pemberdayaan pemuda (empowering youth) dengan future-skill :

  1. Annisa Arsyad (Direktur ECOFUN Indonesia)
  2. Syaifullah, SE., M.EC., Ph.D (Direktur Industri Kreatif Film, Televisi dan Animasi, Kemenparekraf RI)
  3. Dr. Yang Mee Eng (Direktur Eksekutif ASEAN Foundation)
  4. Khairudin Abdul Rahman (CEO Maybank Foundation)
  5. Septi Peni (Co-Founder Board Game Land, Founder Ibu Profesional)
  6. Galih Aristo (Konsultan Kreatif, Founder Arcanum Hobbies)

Dari keenam pembicara tersebut, ada beberapa pembicara yang profesinya sudah masuk di future jobs era teknologi dan kreatif. Sebagian besar pembahasan berkutat pada cara untuk mengasah, serta meningkatkan skill anak muda, empowering youth, untuk persaingan pekerjaan di masa depan. 

Hal menarik dari webinar tersebut adalah CREATONME yang menunjukkan bahwa media edukasi berupa board game, ternyata memiliki dampak cukup signifikan dalam mengasah future-skill anak. Selain itu, board game edukasi merupakan bisnis yang menjanjikan dalam ekonomi kreatif. Tak lupa dijelaskan juga apa saja sih skill yang dibutuhkan anak di masa depan, berbagai profesi baru yang akan muncul, tantangan di era industri 4.0, serta gambaran bagaimana merancang board game untuk edukasi future-skill dan future jobs.


Yuk Kenalan Dulu dengan Ekonomi Kreatif

Apa itu ekonomi kreatif? Kenapa harus kenalan dulu dengannya? Hubungannya apa dengan skill dan pekerjaan masa depan?

Menurut Valentine Siagian, dkk, (2020), ekonomi kreatif adalah proses penciptaan, kegiatan produksi, serta distribusi barang atau jasa, yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan intelektual dalam prosesnya. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan sektor ekonomi kreatif sekitar 5,76 %, di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. 

Kreativitas akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi, dan pada saat yang bersamaan ramah lingkungan serta menguatkan citra dan identitas budaya bangsa (Sambutan Presiden Joko Widodo ketika membuka acara Temu Kreatif Nasional, 2015).

Ditambah lagi, sektor ekonomi kreatif ini paling berpotensi membuka lapangan kerja beserta profesi baru, sedangkan pelaku ekonomi kreatif akan jauh lebih siap menghadapi tantangan masa depan karena punya tiga karakteristik utama yang menjadi keunggulan mereka :

  1. Keterampilan kognitif yang tinggi untuk selalu mencari orisinalitas serta gagasan bisnis baru
  2. Pemahaman terhadap teknologi, serta cakap dalam menggabungkan atau menguasai teknologi terbaru
  3. Karakter komunitas kreatif


Future-skill di Era Industri 4.0

Di puncak revolusi industri 4.0, critical thinking dan problem-solving menempati urutan teratas daftar future-skill yang diprediksi akan dibutuhkan jelang 2025, selain kreativitas dan fleksibilitas. Dua keterampilan ini secara konsisten berada di urutan puncak daftar skill yang dibutuhkan untuk masa depan, sejak WEF (World Economic Forum) merilis laporan perdana pada tahun 2016. 

WEF juga memprediksi 85 juta pekerjaan akan tergeser oleh teknologi di tahun 2025. Peran manusia akan segera tergantikan seiring meningkatnya digitalisasi. Siapa yang masih menggunakan cara konvensional, akan kalah dan terlempar jauh. Sangat menarik karena akan timbul pertanyaan lagi, "kalau peran manusia tergantikan oleh teknologi, apakah fungsi eksistensi manusia itu sendiri?"

Satu-satunya yang bisa mengontrol teknologi adalah kreativitas manusia (Syaifullah SE., M.EC., Ph.D)

Jangan khawatir, menurut bapak Syaifullah dalam webinar CREATONME, kreativitas dan inovasi adalah kunci utama peran manusia di masa depan dalam mengontrol atau mengembangkan teknologi. Dari sini sudah ada bayangan bagaimana pentingnya selalu update skill serta pengetahuan agar kreativitas dan inovasi selalu terasah. Selain itu, memahami keterampilan yang dibutuhkan di masa depan juga penting agar kita beserta anak cucu siap bersaing di era industri 4.0.

Daftar Future-skill untuk Masa Depan

WEF, sebagai rujukan hampir seluruh dunia, merumuskan 10 skill yang paling dibutuhkan dunia kerja di tahun 2025:

  1. Analytical thinking and innovation
  2. Active learning and learning strategies
  3. Complex problem-solving
  4. Critical thinking and analysis
  5. Creativity, originality and initiative
  6. Leadership and social influence
  7. Technology use, monitoring and control
  8. Technology design and programming
  9. Resilience, stress tolerance and flexibility
  10. Reasoning, problem-solving and ideation

Profesi Baru di Era Teknologi dan Kreatif

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh World Economic Forum pada tahun 2020, berikut adalah profesi masa depan yang akan muncul di tahun 2025:

  1. Data analyst dan data scientist
  2. Artificial intelligence (AI) and machine learning specialist
  3. Big Data Specialist
  4. Digital marketing and strategy specialist
  5. Process automation specialist
  6. Business development professionals
  7. Digital transformation specialist
  8. Information security analyst
  9. Software and application developer
  10. Internet of things specialist


Cara Tingkatkan Skill Profesi Masa Depan

Bagaimana? Sudah ada gambaran dari penjelasan mulai dari ekonomi kreatif, keterampilan masa depan, hingga profesi di masa depan? Bagiku kondisi saat ini sangat jauh berbeda dengan apa yang aku pelajari dan alami di era sebelumnya. Agak sedikit mengkhawatirkan tentang bagaimana caraku untuk mempersiapkan anak sejak dini agar bisa bersaing di masa depan. Dari segi kurikulum pendidikan dan skill yang dulu aku pelajari saja sudah berbeda jauh. Lantas, bagaimana langkah-langkah yang harus disiapkan untuk anak?

Cara meningkatkan skill untuk profesi masa depan; Desain : Canva

1. Upgrade Soft-skill

Saat ini banyak sekali lembaga yang menyelenggarakan pelatihan gratis untuk skill masa depan seperti coding, desain, blogging, dan lain-lain. Bahkan pemerintah lewat KEMENPAREKRAF juga turut andil mendukung warga Indonesia yang ingin meningkatkan skill masa depan di dunia teknologi-kreatif lewat pendanaan, pembiayaan, serta pelatihan gratis untuk coding, software, dan game design.

Sebagai orang tua, kita juga bisa turut upgrade skill atau memfasilitasi anak untuk turut serta dalam program pelatihan skill masa depan secara gratis. Bisa juga kita menanamkan beberapa skill masa depan yang urgensitasnya tinggi sejak usia dini seperti critical thinking dan problem-solving. Kalau aku pribadi sudah mulai menanamkan kedua future-skill ini sejak anakku berusia 1 tahun. Caranya sesuaikan saja dengan kebutuhan tumbuh-kembang anak sesuai usia.

Misalkan saja di usia 1 tahun, aku memberikan masalah untuk anakku lewat permainan "membebaskan mainan dari ikatan pita". Jadi aku sengaja mengikat mainannya ke dalam sebuah wadah yang sudah aku beri lilitan pita. Tugas anak adalah membebaskan mainannya, untuk menyelesaikan masalah tersebut (problem-solving).

2. Program Pemberdayaan Pemuda (Empowering Youth) dari ASEAN Foundation dan Maybank Foundation

Selain KEMENPAREKRAF, ada juga dari ASEAN Foundation dan Maybank Foundation yang punya banyak sekali program pemberdayaan pemuda (empowering youth) untuk meningkatkan future-skill anak muda dalam menghadapi permintaan dalam future jobs.

Maybank Foundation

Beberapa program pemberdayaan pemuda yang dilakukan oleh ASEAN Foundation adalah pemberian beasiswa dan internship ke luar negeri untuk pelajar, jobfair, dan online job information centre. Bisa juga kunjungi laman resmi ASEAN Foundation untuk informasi lebih lengkap di sini. Selaras dengan ASEAN Foundation, Maybank Foundation juga punya banyak sekali program pemberdayaan pemuda lewat beasiswa dan pelatihan yang bisa dilihat di laman resmi Maybank Foundation.

3. Game Based Learning dari Program CREATONME.

Permainan berbasis pembelajaran ternyata mampu mengasah serta meningkatkan skill masa depan bagi anak. Berdasarkan hasil evaluasi program CREATONME, pembelajaran serta pembuatan permainan berupa board game edukasi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengasah skill masa depan anak (critical thinking, problem-solving, leadership, social influence, and creativity). Peningkatan rasa percaya diri ini, dipercaya Annisa Arsyad (direktur ECOFUN Indonesia) adalah aspek penting dalam membangun skill masa depan anak.


Board Game Edukasi Asah Future-skill Anak

Board game merupakan permainan yang menggunakan papan sebagai dasar permainannya. Namun, penggunaan kata board game juga sering digunakan sebagai sinonim dari kata tabletop game atau permaianan atas-meja yang mengacu pada semua permainan yang dapat dimainkan diatas meja, termasuk card game, dice game, dan roleplaying game (Woods, 2012). Hampir semua permainan board game mengajak pemainnya untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara tepat. Sesuai dengan skill yang dibutuhkan di masa depan, bukan?

Selain itu, tiap pengambilan keputusan dalam permainan akan punya dampak dan akibat, sehingga memberikan stimulus simulasi keadaan kepada pemainnya. Oleh karena itu, board game edukasi bisa jadi media pembelajaran efektif untuk mengasah keterampilan masa depan anak.

Berikut beberapa contoh board game edukasi hasil cipta karya peserta dari program CREATONME, yang bisa dijadikan gambaran bagaimana board game edukasi bisa mengasah future-skill anak.

Board game edukasi

WORKA

WORKA adalah board game edukasi yang mengambil topik future jobs. Permainan ini mengajarkan bagaimana menyediakan job market sesuai industri serta mengenalkan future jobs kepada pemain. Game board ini untuk usia 13 tahun ke atas.

Ijime

Ijime diambil dari bahasa jepang yang artinya bullying. Permainan ini ditujukan untuk siswa SMP-SMA dengan memberikan studi kasus dan mengelompokkannya ke dalam berbagai jenis bullying

Water Trip

Isu yang diambil di dalam board game ini adalah air dan sanitasi di skala ASEAN. Tak dapat dipungkiri, masalah air saat ini juga jadi sorotan dunia. Para pemain diajak untuk mengetahui bagaimana instalasi bangunan terkait air. Dibutuhkan skill komunikasi, problem-solving, dan critical thinking di dalam board game Water Trip.

Nusantara Treasure Hunt

Board game Nusantara Treasure Hunt dibuat untuk mengetahui berbagai budaya di Indonesia dan menekankan tentang pendidikan karakter.


Program, Komunitas dan Bisnis Board Game Edukasi

Di Indonesia, sudah ada berbagai program, komunitas, bahkan bisnis board game yang digunakan sebagai sarana edukasi tentang banyak hal seperti skill masa depan, kampanye sosial, lingkungan, dan lain-lain.

ECOFUN Indonesia

ECOFUN Indonesia merupakan  perusahaan sosial yang sudah memenangkan penghargaan internasional dalam bidang pendidikan lingkungan dan komunikasi sains lewat gamifikasi. Misi ECOFUN Indonesia adalah menyebarkan pengetahuan beserta tindakan positif disertai nilai lingkungan-sosial yang kuat, melalui pembelajaran kreatif dan permainan interaktif (ecofun.id, diakses Januari 2022).

Salah satu produk ECOFUN Indonesia adalah Ecofunopoly, board game edukasi bertajuk lingkungan. Pemain akan paham berapa jejak karbon yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari. Jejak karbon inilah penyebab utama terjadinya pemanasan global. Diharapkan board game tersebut dapat mengasah ide kreatif, serta kemampuan untuk menyelesaian masalah terkait lingkungan dari pemain Ecofunopoly.

CREATONME

CREATONME

ECOFUN Indonesia memiliki program bernama CREATONME, yang merupakan program pemberdayaan pemuda untuk mempromosikan growth mindset dan kemampuan kreatif dalam mendukung edukasi tentang ekonomi kreatif. Pada webinar CREATONME (15/01) lalu, para peserta serta relawan CREATONME berhasil melakukan gamifikasi beberapa isu dalam SDG's menjadi board game edukasi yang siap dipasarkan secara lokal maupun internasional.

Arcanum Hobbies

Masih bingung tentang bagaimana sih cara bermain board game? Atau bagaimana agar anak punya akses bermain board game bersama teman baru untuk mengembangkan future-skill? Tenang, ternyata di Indonesia ini ada komunitas board games loh. Arcanum Hobbies adalah salah satu komunitas bermain board games yang kini telah berkembang menjadi toko fisik di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Galih Aristo selaku founder Arcanum Hobbies menggunakan board game untuk kampanye sosial tentang korupsi dengan cara fun kepada anak muda. Selain itu juga banyak board game dengan tema lain di komunitas tersebut.

Arcanum Hobbies

Board Game Land

Board Game Land merupakan arena para keluarga penggiat dan pecinta boardgame untuk berdiskusi, berkreasi, dan berkarya tentang board game. Septi Peni, selaku Co-founder Board Game Land, mengatakan bahwa Board Game Land ini dibuat untuk mengembangkan konsep game-based learning yang bisa mengasah keterampilan masa depan anak.


Tips Merancang Board Game Edukasi Anak

Sebagai orang tua, kita juga bisa turut merancang board game sendiri di rumah untuk anak. Ada beberapa tips yang aku rangkum dari webinar CREATONME tentang board game.

Persiapan

  1. Tentukan future-skill mana yang akan dimasukkan ke dalam konsep bermain board game
  2. Tentukan target usia pemain board game
  3. Cari tema tentang isu dunia di masa depan, misalkan future jobs

Konsep permainan

Jadikan isu yang akan diangkat jadi sebuah cerita. Jangan seperti memindahkan materi ke dalam permainan. Contohnya, aku ingin memasukkan isu era industri 4.0 ke dalam permainan. Aku akan membuat dulu sebuah cerita tentang orang yang kehilangan pekerjaan dan berusaha mendapatkan pekerjaan kembali dengan upgrade skill masa depan agar bisa bertahan hidup. Jangan sekali-kali membuat permainan seperti menghafal.

Tentukan Aturan, Sebab, dan Akibat

Rancang sebuah aturan dalam permainan, beserta sebab-akibat yang ditimbulkan saat mengambil langkah tertentu.

Rancang Desain Board Game

Pada tahap ini bisa menggunakan jasa illustrator design profesional jika ingin dikomersialkan atau bisa juga menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah jika penggunaannya hanya dalam skala rumahan.


Kesimpulan

Pembahasan tentang future-skill beserta future jobs memang tidak akan ada habisnya jika dibahas. Dunia terus berkembang maju, sedangkan yang tidak ingin maju akan tertinggal begitu saja. Anak muda merupakan generasi yang perlu diberikan banyak edukasi terkait hal tersebut. Orang tua pun sebenarnya juga perlu diberi edukasi agar pendidikan rumah tangga yang diberikan kepada anak mengikuti perkembangan zaman.

Namun, di era industri 4.0 yang kental dengan teknologi dan kreativitas ini, banyak sekali lembaga yang memberikan edukasi maupun empowering kepada pemuda. Sebut saja ECOFUN Indonesia, CREATONME, ASEAN Foundation, Maybank Foundation, bahkan Pemerintah Indonesia sendiri. Diharapkan dengan adanya berbagai program edukasi, masyarakat Indonesia bisa teredukasi lebih baik lagi untuk menyambut era industri 4.0.

Future and Creativity


Referensi

ECOFUN Indonesia. (2021). CREATONME : Online Training of Trainers. http://ecofun.id/creatonme-online-training-of-trainers/ . Diakses Januari 2021.

Siagian, Valentine, dkk. (2020). Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Yayasan Kita Menulis : Medan.

Webinar CREATONME. (2021). Creative Economy Education through Game Based Learning (CREATONME). YouTube Ecofun Indonesia. https://youtu.be/rOY8n7SZtbY . Diakses Januari 2021.

WEF. (2020). The Future of Jobs Report 2020. https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2020 . Diakses Januari 2021.

Woods, S. (2012). EUROGAMES: The Design, Culture and Play of Modern European Board Games.

Share:

Anggita R. K. Wardani

read more

Recent Posts


Posts

Pengikut

Member of

Mama Daring Bloggerhub Indonesian Hijab Blogger Komunitas Emak Blogger Komunitas Blogger Perempuan 1 Minggu 1 Cerita Asli Arek Suroboyo