Kelas Persiapan KLIP: Memaknai Perempuan Berdaya dan Patahkan Stigma Beban Menulis

Daftar isi [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Jangan mau diam di tempat dan habis digerogoti stigma dangkal tak berakal dari sekitar. Terus berkembang dan jadi perempuan tangguh pembawa perubahan (Anggita Ramani).

Anggita Ramani

Sebagai seorang perempuan, istri, sekaligus ibu, kadang aku merasakan benturan ego di antara ketiga peran tersebut. Egoku sebagai perempuan yang punya prinsip berkarya dan berdaya, akan selalu melawan ego sebagai seorang istri dan ibu yang sibuk dengan segudang pekerjaan rumah. Alhasil, perang batin selalu meradang, membawa keresahan yang selalu menantang. Pada akhirnya timbul pertanyaan, "Kenapa jadi merasa terkekang? Pernikahan harusnya tidak mengekang atau membuat pelakunya merasa terkekang". Berarti ada benang merah yang masih hilang dalam diriku, sehingga ketiga peran tersebut jadi tidak sinkron.

Menurut Ibu Septi Peni Wulandani dalam Kelas Persiapan KLIP (Komunitas Literasi Ibu Profesional) mengatakan bahwa ciri perempuan berdaya itu tidak pernah menyalahkan sesuatu atau seseorang atas semua yang sudah dipilih. Duar!!! Rasanya seperti tertampar dengan keras. Selama ini, aku memang masih menimpakan kesalahan pada keadaan, misalnya saja "aku jadi nggak bisa nulis gara-gara anakku, nih". Nah, ternyata hal seperti itu salah besar. Keadaan, anak, atau apa pun bukanlah suatu penghalang bagi perempuan berdaya. Jika masih menyalahkan hal-hal tersebut atas apa yang tidak bisa dilakukan, artinya kita masih belum punya kendali penuh atas diri sendiri, masih belum berdaya sepenuhnya.

Selain memaknai bagaimana perempuan berdaya seharusnya, kelas persiapan KLIP juga membahas bagaimana mengalahkan stigma "menulis adalah beban", agar tak menyalahkan apa pun ketika belum bisa menulis. Aku masih ingat kata-kata Oka Rusmini dalam sebuah kelas menulis tentang bagaimana ia memaknai sebuah tulisan sebagai ruang berkarya dan berdaya bagi perempuan.

Menulis adalah ruang bagi perempuan untuk menuangkan segala keresahannya atas masalah yang belum selesai (Oka Rusmini).

Bagiku sendiri menulis awalnya aku gunakan sebagai ruang untuk self healing. Semua permasalahan yang belum selesai di dunia nyata, aku tulis sebagai bentuk refleksi dalam memaknai kehidupan. Namun, semakin ke depan, lama-lama menulis sendiri berubah jadi ruang  untuk berkarya dan berdaya sebagai ibu rumah tangga. Kelas persiapan KLIP kali ini membahas dua hal tentang perempuan berdaya dan free writing untuk patahkan stigma "menulis adalah beban" agar peran perempuan sebagai perempuan itu sendiri, istri, dan ibu jadi satu kesatuan yang utuh.


Perempuan Berdaya Dari Rumah untuk Dunia

Di luar sana banyak ibu yang masih mempertanyakan "apa yang bisa dilakukan seorang ibu yang ada di rumah selain mengurus rumah tangga?". Ibu rumah tangga sendiri selalu mendapat "cap" kalau pekerjaannya ya hanya masak, cuci baju, cuci piring, momong anak, dan segudang pekerjaan lainnya. Padahal, mohon maaf, ibu rumah tangga itu berbeda dengan asisten rumah tangga. Banyak hal yang bisa dilakukan ibu rumah tangga di rumah untuk sesama, bahkan dunia, selain hanya mengurus keluarga. Hanya saja, banyak para ibu yang belum bisa berdaya bahkan berkarya dari rumah hanya karena stigma melemahkan dari masyarakat.

Coba kita kembali sejenak ke zaman Rasulullah, dimana salah satu istri nabi Muhammad SAW, Aisyah R. A.  masih hidup. Beliau dikenal sebagai sosok perempuan cerdas yang mampu mengingat serta meriwayatkan ribuan hadits yang berguna untuk dunia, khususnya umat muslim. Sederhana, hanya dari rumah, tapi manfaatnya bisa sampai ke seluruh penjuru dunia. Nah, bagaimana sih agar sebagai perempuan di masa kini bisa berdaya sekaligus berkarya secara sederhana, tapi bermanfaat bagi dunia. Yuk, simak penjelasan dari Ibu Septi Peni Wulandani.


Definisi Perempuan Berdaya

Seorang perempuan dikatakan telah berdaya jika sudah memiliki 3 hal berikut di dalam dirinya:

Komunitas Literasi Ibu Profesional

1. Mampu memahami diri serta potensi

Hal pertama yang harus dipegang sebagai seorang perempuan adalah jati diri dan potensi. Kedua hal tersebut bisa membawa seorang perempuan lebih percaya diri dan tak mudah termakan stigma masyarakat sekitar. Misalnya saja cerita seorang Ibu Septi yang suka sekali bermain, lantas beliau mengenali diri dan memanfaatkan potensi itu sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sebut saja Institut Ibu Profesional yang dibangun oleh Ibu Septi, identik dengan tema bermain serta berpetualang dalam setiap kegiatannya.

2. Mampu membawa dan menghadapi perubahan

Dunia akan terus berubah dengan segala macam perubahan di dalamnya. Tak hanya mahasiswa yang berfungsi sebagai agent of change, perempuan pun juga berfungsi sebagai changemaker. Bagaimana tidak, perempuan punya andil penting dalam karakter generasi masa depan, sebab pendidikan yang paling mempengaruhi karakter serta kecerdasan anak adalah pendidikan dari rumah. Jadi, sebagai perempuan pun juga harus peka terhadap dunia beserta perubahannya. 

3. Mampu berdaulat penuh atas dirinya

Perempuan berdaya selalu bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Suami berfungsi sebagai teman diskusi untuk membantu perempuan makin mantab terhadap pilihannya sendiri.


Makna Rumah bagi Perempuan

Rumah tak sekadar bangunan yang berfungsi untuk melindungi keluarga dari terik dan hujan. Bagi seorang perempuan, rumah bisa jadi tempat untuk belajar, tumbuh, dan berkarya. Dari rumah, perempuan bisa belajar untuk mengasah kreativitas dan imajinasi. Dari rumah pula, perempuan bisa tumbuh, lalu berkarya untuk menjawab tantangan dalam kehidupan. Seringnya, situasi dan kondisi rumah tak mendukung perempuan untuk belajar. Di saat itu, justru tantangan bagi perempuan untuk menciptakan sendiri situasi dan kondisi yang ia perlukan agar bisa belajar, tumbuh, dan berkarya. Tentunya dengan dukungan keluarga.

Namun, butuh proses agar rumah itu bisa jadi tempat belajar, tumbuh, dan berkarya bagi perempuan. Pemetaan potensi, ruang ekspresi, dan apresiasi adalah kunci dalam proses tersebut. Pemetaan potensi digunakan untuk menggali potensi apa saja yang ada, lalu memberikan ruang bebas ekspresi agar potensi perempuan muncul, dan sebuah apresiasi bagi pencapaian seorang perempuan.


Harta Karun dari Rumah untuk Dunia

Berangkat dari rumah, apa yang dilakukan perempuan berdaya bisa jadi harta karun untuk dunia. Tinggal bagaimana cara seorang perempuan untuk mengemas hasil belajar, tumbuh, dan berkarya dari rumah menjadi suatu harta karun.

Dimulai dari manajemen waktu, buatlah prioritas waktu untuk kegiatan yang bisa membuat bahagia, dan sedikit prioritas untuk kegiatan yang tidak membuat bahagia di rumah. Setelah itu, sediakan waktu untuk menjawab tantangan yang ada di rumah tersebut dalam sebuah solusi yang mungkin juga dibutuhkan orang lain.


Mengenal Free Writing, Rahasia Menulis Menyenangkan dan Tanpa Beban

Menulis adalah salah satu caraku menjadi berdaya dengan karya. Potensi diri ini sudah kukenal sejak kecil, namun baru terasah saat dewasa. Bagiku cukup menyenangkan ketika punya ruang sendiri untuk mengekspresikan apa yang sedang aku rasakan atau apa yang ingin aku bagi dalam sebuah tulisan, terlepas dari peran sebagai istri dan ibu.

Akan tetapi, kadang ada suatu masa ketika menulis terasa berat karena suatu kondisi seperti waktu, target pageview, kaidah SEO, dan lain-lain. Bagi beberapa blogger pemula atau penulis yang baru saja memulai kiprahnya, hal-hal seperti itu bisa jadi penghalang sekaligus pematah semangat yang berujung dengan kegagalan dalam menulis. Nah, bagaimana caranya agar bisa mengubah beban itu jadi sesuatu yang menyenangkan dan tanpa beban?

Pada kelas persiapan KLIP kali ini, Ibu Shanty Dewi Arifin telah membagi teknik menulis free writing yang menyenangkan dan tanpa beban. Pastinya penasaran, kan?Yuk, mari disimak penjelasannya!


Patahkan Stigma "Menulis itu Beban"

Sebelum masuk ke teori tentang teknik menulis free writing, alangkah baiknya patahkan dulu stigma bahwa menulis itu beban. Coba tuliskan kira-kira apa saja yang membuat beban saat menulis. Misalnya saja waktu dan pengembangan ide, lalu ubah beban tersebut jadi tantangan seperti yang sudah diajarkan oleh Ibu Septi. Setelah itu cari solusi dari tantangan tersebut. Misalkan saja, aku selalu menyediakan waktu menulis sekitar 15 menit setelah sholat subuh, 30 menit setelah anam tidur siang, dan sepuasnya setelah anak tidur di malam hari


Free Writing

Prinsip dasar free writing adalah menulis 15 menit setiap hari, tulis dengan cepat, tidak dibaca orang lain, dan abaikan aturan menulis dulu.

Komunitas Literasi Ibu Profesional

1. Menulis 15 menit per hari

Mulai biasakan menulis apapun selama 15 menit per hari. Jangan pedulikan apapun, tulis apa saja yang muncul di pikiran. Entah itu keresahan akan suatu masalah, apa yang sedang dirasakan saat itu, rasa bahagia akan apa yang terjadi hari itu, dan lain-lain. Setelah itu, baca kembali dan simpan tulisan.

2. Menulis cepat

Selama 15 menit menulis, fokus pada satu ide dan tulislah apapun yang muncul di pikiran tanpa takut, meskipun tulisan banyak typo, dan terkesan lompat-lompat. Tujuannya agar kita fokus menulis tanpa terdistraksi beban pekerjaan lain.

3. Tidak dibaca orang lain

Sebaiknya simpan dulu tulisan sebelum diperlihatkan ke orang lain agar tak terbebani dengan pikiran tulisan harus menarik saat dibaca orang lain. Tak apa jika harus disimpan dulu karena nanti suatu saat tulisan itu bisa diolah kembali untuk ditunjukkan pada dunia.

4. Tanpa aturan

Menulislah secara liar, tanpa peduli kaidah penulisan, kata baku, ejaan, dan lain sebagainya. Fokus di sini adalah membiasakan kita untuk menuangkan ide serta pengembangannya ke dalam bentuk tulisan.


Free writing juga memiliki beberapa kegunaan seperti mengenali diri, mengembangkan draft, latihan menulis, ketenangan jiwa, brainstorming ide, dan mengatasi writer block. Kita akan lebih mengenal apa sih jenis tulisan yang lebih kita suka, sarana self-healing, dan melatih kita untuk lebih membebaskan pikiran dalam tulisan. Jadi, menulis lebih terasa menenangkan daripada menegangkan.


Praktek Free Writing

Dimulai dengan konsisten menulis minimal 15 menit per hari, praktek dalam teknik free writing bisa dilakukan dengan cara berikut:

1. Tentukan target, serta sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi. Misalkan saja target menulis adalah buku fisik, blog dengan niche khusus, dan lain-lain.

2. Buat perencanaan menulis selama 99 hari atau 14 minggu untuk mencapai target pada poin pertama.

3. Mulai eksekusi dengan waktu menulis bertahap mulai dari 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan seterusnya sesuai kemampuan.

4. Mulai menulis perlahan dan bertahap dari jumlah kata 300, 500, 700, dan seterusnya. Tidak usah terburu-buru, tapi pelan-pelan saja sesuai kemampuan. Terlalu bernafsu malah akhirnya kembali lagi ke awal stigma bahwa menulis itu beban.

5. Simpan tulisan untuk diri sendiri dulu. Setelah siap dan percaya diri, baru bagikan ke media sosial sebagai sarana untuk berbagi, tumbuh, dan berkembang.


Tips Free Writing

1. Terlihat

Usahakan sarana untuk menulis mudah terlihat oleh kita. Jika sarana menulisnya kertas atau buku, letakkan di tempat yang sering kita lewati. Jika sarana menulisnya aplikasi di smartphone, letakkan aplikasi di layar utama.

2. Mudah

Lakukan dengan cara yang paling mudah dan tidak memicu stress. Tulis di sarana yang paling mudah digunakan serta sesuai kemampuan.

3. Menarik

Gunakan pikiran positif untuk menjadikan kegiatan menulis itu menarik dan menyenangkan. Usahakan jangan terlalu memikirkan hal teknis terlebih dahulu. Pengalamanku kalau terlalu fokus dengan hal teknis seperti kaidah SEO, kode html, tampilan blog, dll., malah tidak akan pernah memulai untuk menulis.

4. Memuaskan

Jangan lupa untuk memberi apresiasi kecil pada diri setelah bisa mencapai target menulis. Pencapaian besar biasanya dimulai dari hal-hal kecil sesederhana mengapresiasi diri sendiri.


Penutup

Kelas persiapan KLIP telah membuka wawasan baru tentang bagaimana mengikat makna jadi seorang perempuan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari peran sebagai istri dan ibu. Menulis pun juga tak terpisahkan sebagai refleksi diri bagaimana seorang perempuan bisa berdaya dan berkarya dari rumah untuk dunia. 
Share:

20 komentar:

  1. Keren banget Anggi bisa disiplin menulis di sela-sela waktu ngasuh anak. Kalau suka emang jadi bisa disempat-sempatkan ya. Mudah-mudahan kita bisa pada konsisten sampai akhir tahun ya.

    BalasHapus
  2. Klip merupakan wadah yang sangat bagus sih untuk para ibu. Sangat mendukung untuk kemajuan para ibu juga tidak terlalu menekan. Beruntung bisa bergabung di sini ya Mba.. 🙏

    BalasHapus
  3. Cara free writing di atas selalu aku terapin saat ketemu ide untuk menulis blog. Tulis aja dulu semua poin2 penting. Ga peduli Ama kaidah bahasa dll. Yg pentingnya idenya jangan ilang.

    Baru setelah itu dirapihin dengan kalimat yg lebih baik. Setelah itupun ga langsung aku posting. Endapin dulu sehari dua, trus baca ulang. Biasanya adaaa aja kesalahan atau kalimat yg ga enak dibaca. Ulang lagi di bagian itu, baru aku berani posting. ;).

    Paling sering pakai cara ini saat sedang traveling. Dengan banyaknya ide seliweran, pasti harus ditulis supaya ga lupa.

    BalasHapus
  4. Keren dan mantap banget mbak sharingnya...poin terakhir soal apresiasi pada diri sendiri, setuju banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, sangat penting agar kita bisa belajar mengajar diri sendiri sebelum orang lain

      Hapus
  5. Keren dan mantap mbak sharingnya... poin terakhir ttg apresiasi bagi diri sendiri top...

    BalasHapus
  6. Bagus acaranya Mbak. Menulis memang penting dan akan membawa perempuan pada banyak kondisi jauh lebih baik, jika diterapkan dengan oenuh kesadaran dan tanggung jawab. Saya sudah membuktikan, banyak hal saya dapat melalui menulis.

    BalasHapus
  7. Bagus bgt mb anggi sharing ilmu nya...berguna bgt nih buat ak yg baru mulai bljr menulis,thanks ya mb

    BalasHapus
  8. duduk bareng yuk kak, teman sebangku di KLIP, semoga kita tetap konsisten dan akhirnya menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama

    BalasHapus
  9. Sharingnya bermanfaat banget mbak. Emang sih, kita para perempuan masih bingung mau berdaya tuh dimulai darimana, dengan cara apa? Ternyata bisa toh bermula dari rumah.

    BalasHapus
  10. MasyaaAllah terima kasih sharingnya Mbak. Saya juga baru mulai intens menulis, tips free writingnya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  11. Bener sih kadang kita harus ngerasa free aja dulu buat nulis krn selain dapat cuan, bagi sy nulis jg buat healing

    BalasHapus
  12. Makasih Mbak Anggi atas tips free writing-nya. Meski free writing, ternyata ada capaian targetnya juga ya mbak supaya disiplin. Nice.

    BalasHapus
  13. Terima kasih Mbak untuk sharingnya, jadi ngiler ikut kelasnya, semoga berikutnya ada kesempatan buat ikutan

    BalasHapus
  14. Saya setuju dengan free writing, menulis dulu tanpa aturan, karena terkadang memikirkan aturan didepan buntutnya tulisan yang seharusnya bisa keluar malah jadi tersimpan karena banyaknya pertimbangan hehehe..tapi memang untuk menjadi penulis yang baik kita tetap harus belajar tentang aturan juga ya mba..

    BalasHapus
  15. wah mantab bngets mbak tips2nya, terimakasih sharingny

    BalasHapus
  16. Jado lebih ke pemahaman diri dan mempraktikkan tanpa aturan dulu ya. Jadi semuanya dibuat enjoy dulu sambil terus melakukan perbaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, istilahnya seperti brain storming sih, jadi untuk mengunci ide agar tak terdistraksi sama yang lainnya

      Hapus

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Silakan tinggalkan komentar atau saran untuk membangun tulisan yang ala kadarnya ini.

Love,
Anggi

Anggita R. K. Wardani

read more

Recent Posts


Posts

Pengikut

Member of

Mama Daring Bloggerhub Indonesian Hijab Blogger Komunitas Emak Blogger Komunitas Blogger Perempuan 1 Minggu 1 Cerita Asli Arek Suroboyo