√Anak Ketakutan Seperti Melihat Sesuatu? Jangan Panik, Coba lakukan Ini - ANGGITA RAMANI | Personal Lifestyle Blog

Anak Ketakutan Seperti Melihat Sesuatu? Jangan Panik, Coba lakukan Ini

4 komentar
Konten [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Ndaaa, tatut, hiiiii...!!!" Seru si kecil tiba-tiba sambil berlari kecil ke arahku, lantas memelukku erat-erat.

"Kenapa, sayang?" Tanyaku sambil tetap memeluknya, denyut jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Atut...atut..." Ucapnya berkali-kali.

Aku pun berusaha menenangkannya,"takut apa, sayang? Yuk, berani, yuk! Kamu anak hebat dan pemberani, kok."

Beberapa saat kemudian, dia pun seperti lupa, lalu kembali berlari ke ruang tamu. Tak ada yang aneh, mungkin dia hanya takut hewan kecil atau sesuatu yang kebetulan lewat di depannya. Aku tak ambil pusing dengan kejadian tersebut.

Namun, selang sekitar 10 menit, dia seperti menatap ke arah sesuatu cukup lama. Tubuhnya mematung, matanya seperti tertuju kepada sesuatu. Dia pun kembali berlari sambil berteriak "tatut, tatut!!"

Sebagai seorang manusia biasa, tentunya aku mulai gelisah dengan tingkah si kecil. Jantungku pun mulai berdegup dag dig dug tak karuan. Hal tersebut sering terjadi, hingga aku berpikir, "apa anakku bisa melihat sesuatu yang tak bisa kulihat?"

Namun, aku juga harus bisa berpikir positif, disertai logika, serta bukti yang valid untuk mengetahui apa yang sebenarnya ditakuti anakku. Aku pun memulai observasi selama beberapa waktu. Aku berusaha tenang, terlihat tidak panik walaupun sebenarnya sedikit panik. Sampai suatu ketika, aku berhasil untuk membuat anakku menunjukkan apa yang dia takuti. Ternyata, aku pun juga bisa melihat apa yang ia lihat.

Hal yang ia takuti selama ini adalah bayang-bayang suatu benda atau dirinya sendiri. Bayangan hitam yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi dan bayangan yang melekat pada suatu benda. Kasus pun selesai dan kami kembali hidup damai, meskipun kadang bayangan hitam itu masih menjadi momok bagi dia.

Cukup membagongkan ya akhir ceritanya, karena ini memang bukan cerita horor di malam jumat. Ini hanya secuil cerita horor di dunia Ibu selain cerita horor tentang GTM. Siapa sih yang tak panik ketika anaknya tiba-tiba ketakutan seperti melihat sesuatu. Apalagi di umurnya yang masih belum genap dua tahun, terkadang sedikit susah menyamakan persepsi dengannya. 

Omong-omong soal anak yang menunjukkan rasa takut seakan-akan melihat sesuatu yang tidak kita lihat, ternyata ada penjelasan secara psikologisnya loh. Seperti yang pernah dijelaskan oleh seorang psikiater anak dan remaja di NYU Langone, Aleta G. Angelosante, Ph.D., keterampilan persepsi manusia dewasa akan berbeda dengan anak-anak. Saat seorang anak kecil melihat sesuatu dari sudut mata mereka, ada kemungkinan mereka akan mengartikan secara berbeda benda apa itu sebenarnya. Contoh kasus nyatanya, ketika anakku melihat bayangan baik bayangan suatu benda atau dirinya sendiri, kemungkinan besar dia melihat bayangan itu sebagai sesuatu yang aneh atau menakutkan baginya.

Menurutku pribadi, peran orang tua sangatlah penting di saat anak ketakutan, serta menemukan akar permasalahan dari rasa takutnya. Kalau pun ternyata memang benar adanya seorang anak punya kelebihan bisa melihat apa yang tak bisa orang lain lihat, setidaknya itu hasil observasi orang tua, sehingga solusi yang tepat bisa diberikan agar anak bisa menghadapi rasa takutnya sendiri.

Nah, gimana nih kalau suatu saat bunda-bunda sekalian mengalami hal seperti yang aku alami? Kuncinya tetap tenang, jangan panik, dan ikuti langkah-langkah yang pernah aku terapkan.


1. Tenangkan Diri Sendiri dan Anak

Tetap tenang adalah koentji untuk kita menaklukkan situasi. Kalau kita langsung heboh, anak akan semakin takut, lalu semakin sulit untuk mengorek informasi. Setelah diri sendiri tenang, segera tenangkan anak. Jangan langsung bertanya mereka takut karena apa, tapi validasi perasaan mereka dulu. 

Contohnya seperti ini, "kamu takut, ya? Nggak apa-apa, ada Bunda di sini. Yuk, berani, yuk! Kamu anak pemberani, kok."

Jangan lupa sisipkan kalimat positif untuk membangun mental anak. Setelah anak tenang, tawarkan untuk menunjukkan apa yang mereka takuti. Kalau ternyata anak mau menjawab, kasus pun selesai. Tinggal beri sugesti positif agar anak tak lagi takut.

Kalau ternyata mereka masih belum mengerti atau belum mau menunjukkan, jangan dipaksa. Peluk erat mereka untuk memberikan efek nyaman serta menenangkan. Setelah itu, lanjut ke tahap berikutnya, yaitu observasi.


2. Observasi

Hal ini wajib dilakukan, terutama untuk anak balita yang belum memberikan jawaban tentang apa yang mereka takuti. Maklum, mereka masih belum bisa menyamakan persepsi dengan orang tua, apalagi menjelaskan apa yang mereka rasakan secara gamblang. Jadi, hal yang bisa dilakukan orang tua adalah observasi.

Amati tingkah laku anak ketika merasa takut. Perhatikan arah mata anak saat merasa takut pertama kali. Ingat atau catat kapan dan dimana saja anak merasakan takut. Kalau mereka seperti melihat sesuatu, perhatikan benda-benda di sekitar situ. Coba sesekali tunjuk kemungkinan hal-hal yang mereka takutkan, lalu validasi kebenarannya. 


3. Validasi

Amati kembali saat anak takut, coba dekatkan anak dengan benda atau barang atau apa pun yang anda curigai sebagai penyebab anak takut. Kalau benar itu penyebabnya, biasanya anak akan memberikan reaksi entah berteriak, memeluk, atau berlari. Di saat itu, berikan penjelasan berupa nama dari benda itu, lalu ajak anak untuk memegang benda itu bersama.

Pada kasus anakku, aku agak susah menemukan penyebabnya, karena bayang-bayang kan bukan benda yang diam di tempat. Aku agak lama melakukan observasi, hingga anakku saat itu menatap tembok bagian atas di rumah agak lama, kemudian berlari ke arahku sambil ketakutan.

Saat itu, yang ada di sekitar tembok hanya jaket yang sedang bergoyang karena angin. Aku ambil jaket itu untuk validasi. Si kecil menoleh ke arah jaket itu, lalu kembali melempar pandangan ke tembok. Ia pun kembali memelukku. Sayang sekali, ternyata bukan jaket itu yang jadi biang keladi rasa takut anakku.

Aku amati kembali tembok itu, tak ada apa-apa lagi di situ. Bulu kudukku pun mulai berdiri, tapi hanya beberapa detik sampai aku sadar, di situ masih tersisa bayang-bayang untuk aku validasi, meskipun masih antara yakin dan tidak yakin. Perlahan, aku ajak anakku untuk mendekati bayang-bayang dirinya sendiri.

Eureka!!! Si kecil auto memelukku erat-erat sambil berteriak, "tatut, Nda, tatut!"

Oke! Aku tenangkan dia dulu, sampai benar-benar tenang, barulah aku kenalkan padanya si "bayangan" yang selama ini membuat dia takut, "sayang, ini namanya bayangan. Loh, ini Bunda pegang, gapapa kan?"

Dia pun meniru ucapanku, "ayangyang, ndapapa?"

"Iya, ini loh, coba kamu pegang," kataku sambil mengulurkan tangannya untuk memegang bayang-bayang, "gapapa, kan?"

Alhamdulillah, anakku ternyata bukan anak indigo, indo*ie, apalagi anak indi*ome. Dia hanya anak kecil biasa yang masih mengalami perkembangan persepsi di otaknya. Dari kejadian itu, dia pun akhirnya paham apa itu bayangan, meskipun kadang dia masih merasa takut kalau melihat bayangan benda lain yang mungkin menurutnya aneh. Aku juga bisa melihat perkembangan sosial-emosional anakku berdasarkan kejadian ini. Dia sudah bisa mengekspresikan emosi takut yang sedang ia rasakan.

Sekian pengalaman pribadiku tentang cara menghadapi anak yang sedang ketakutan saat melihat hal baru. Semoga tidak kapok membaca tulisanku. Salam hangat dari keluarga kecilku.

Related Posts

4 komentar

  1. Bener mba, aku sempet kuatir juga dulu kalo anakku bisa melihat yang kasat mata. Tapi ternyata apa yg dia lihat memang berbeda persepsi aja Ama yg kita lihat. Padahal dulu aku udh sempet kuatir Krn jujurnya aku juga penakut parah 🤣🤣. Jangan sampe JD makin ketakutan gara2 anak punya kemampuan indigo 😅.

    Kalo dulu itu anakku takut Ama binatang2 kecil. Naah masalahnya mataku juga minus parah, tapi akunya males pake kacamata. Makanya kadang aku yg ga bisa melihat apa yg ditakutin si adek 🤣. Padahal ternyata cuma hewan2 kecil, yg kalo aku mau pake kacamataku, bisa kliatan 😅

    BalasHapus
  2. Wkwwk emang bikin dag dig dug ya mom kalo menghadapi situasi seperti itu, negara kita soalnya masih kental mitos dan mistis

    BalasHapus
  3. Mbak aku gak kapok baca artikelnya. Tipsnya membantu banget nih buat aku kadang suka bingung ya kalau di posisi anak sedang ketakutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah terima kasih mba apresiasinya, salam kenal ya :D

      Hapus

Posting Komentar