√Kusta, Stigma, dan Resiko Disabilitas - ANGGITA RAMANI | Personal Lifestyle Blog

Kusta, Stigma, dan Resiko Disabilitas

20 komentar
Konten [Tampil]

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Di desa tempat aku tinggal saat kecil dulu, ada seorang lansia yang diasingkan seluruh penduduk desa. "kena guna-guna," begitu kata orang-orang desa. Tubuhnya penuh dengan bercak merah, kaki dan tangannya lumpuh. Beberapa tahun kemudian, sang lansia tersebut akhirnya meninggal dunia. Tak ada seorang pun yang mau memandikan jenazahnya kecuali seorang mantri yang menyatakan almarhum ternyata menderita kusta. Mantri tersebut sudah menjelaskan ke keluarga dan penduduk desa, tapi tetap saja "guna-guna" dituduh sebagai penyebab penyakit kulit yang dideritanya.

Cerita ini diambil dari narasumber yang tak bersedia disebut namanya.

Berangkat dari cerita yang cukup membuatku miris tersebut, terlihat sekali masih banyak info tentang penyakit kusta yang belum tersampaikan secara merata ke masyarakat, termasuk aku. Banyak stigma masyarakat yang masih "keliru" tentang penyakit ini. Edukasi sangat diperlukan agar tak ada lagi anggapan bahwa penyakit kusta adalah hasil guna-guna.

Aku pun termasuk masyarakat awam yang belum mendapat edukasi tentang penyakit kusta. Aku takut akan jadi sama dengan para penduduk desa itu jika tak segera mencari edukasi dari ahli tentang penyakit kusta. Akhirnya aku ikut talkshow seputar penyakit kusta dari KBR (Kantor Berita Radio) yang bekerja sama dengan 1minggu1cerita. Tema yang diangkat kali ini adalah "Yuk, Cegah Disabilitas karena Kusta". Acara berlangsung pada hari Senin (20/12) lewat Live Streaming Youtube. Dipandu oleh Rizal Wijaya dari KBR, acara kali ini menghadirkan 2 narasumber, yaitu Dr. dr. Sri Linuwih SpKK(K) (ketua kelompok studi Morbus Hansen Indonesia PERDOSKI) dan Dulamin (ketua Kelompok Perlindungan Diri Cirebon).


Mengenal Kusta (Morbus Hansen)

Penyakit kusta atau lepra atau morbus hansen merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae (M. leprae). Penularan kusta melalui kontak kulit yang erat dan lama dengan penderita atau inhalasi udara karena bakteri bisa bertahan dalam droplet udara selama beberapa hari. Namun, sebenarnya penyakit kusta adalah penyakit menular yang tidak mudah menular. Menurut Dr. dr. Sri Linuwih SpKK(K), orang dengan kekebalan tubuh yang kuat bisa terhindar dari penularan penyakit kusta. Selain itu, kusta memiliki masa inkubasi yang cukup lama dari tertular sampai timbul gejala. Rata-rata sekitar 3-5 tahun setelah tertular, baru timbul gejala.

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk kusta, tapi penyakit kusta bisa diobati. Sama seperti cerita bapak Dulamin, seorang penyintas kusta yang berhasil sembuh meskipun terlambat dalam pengobatan. Selama hampir satu tahun, Dulamin berjuang melawan penyakit kusta dan melawan stigma masyarakat terhadap penyandang kusta yang selalu dikaitkan dengan guna-guna atau dianggap penyakit kulit yang sangat menular.


Ciri dan Gejala

Penyakit ini kebanyakan tidak disadari karena mati rasanya, sehingga kebanyakan orang tidak mencari jalan untuk pengobatan. (Dr.dr. Sri Linuwih SpKK(K))


Tanda awal yang wajib diwaspadai akan kehadiran penyakit kusta adalah timbulnya bercak putih atau merah di tubuh dan mati rasa. Bercak tersebut dapat muncul di tangan, punggung, kaki, bahkan mata. Menurut Dr.dr. Sri Linuwih SpKK(K), kusta terbagi jadi dua jenis, kusta kering dan kusta basah. Kusta kering (pausi basiler) bercaknya menyerupai panu atau kadas disertai mati rasa. Jenis kusta ini bakterinya lebih sedikit, sehingga pengobatan bisa lebih cepat. Kusta basah (multi basiler) lebih menular dibanding kusta kering. Bercaknya berwarna merah dan mengkilap. 


Resiko Disabilitas

Kusta yang terlambat diobati, apalagi jenis kusta basah akan cenderung menimbulkan resiko disabilitas. Terutama jika letak bercak ada di tangan, kaki, atau mata. Meskipun kelihatannya berada di jaringan kulit, bakteri kusta bisa terus merongrong sampai menyerang syaraf, lantas menyebabkan kelumpuhan (disabilitas). Jaringan kornea mata juga bisa terkena kusta hingga menyebabkan kebutaan, ditandai dengan kornea mata yang mati rasa.

Resiko disabilitas terjadi pada Dulamin yang terlambat diobati, jari-jari tangannya jadi korban akibat kusta. Padahal gejala awal bercak muncul di punggung, dimana Dr.dr. Sri Linuwih SpKK(K) mengatakan bahwa resiko disabilitas kemungkinan muncul kecil jika bercak awal muncul di punggung. Namun, kurangnya edukasi, serta penanganan yang terlambat membuat Dulamin harus menanggung resiko disabilitas karena kusta.


Stigma Masyarakat

Hingga saat ini, stigma penyakit kusta adalah penyakit guna-guna masih beredar di masyarakat. Ada juga yang mengaitkan penyakit kusta sebagai kutukan turun-temurun. Penyakit kusta memang bisa ditularkan lewat kontak erat dan lama dengan penderita. Ditambah lagi masa inkubasi dari tertular hingga timbul gejala jaraknya tahunan. Jadi, kesan kutukan turun-temurun itu terjadi akibat hal tersebut. Contohnya saja ketika si A adalah penyandang kusta. Sangat mungkin jika si A menularkan ke istri dan anaknya, tapi gejalanya baru terlihat beberapa tahun kemudian.

Pikiran harus rileks agar cepat sembuh dari penyakit ini. Jangan pernah masukkan ke pikiran, stigma negatif dari masyarakat. Biarin aja lah mereka mikir gitu, bodo amat, yang penting kita tidak begitu. Ambil positifnya, buang negatifnya.(Dulamin)

Dulamin adalah satu dari sekian banyak penderita kusta yang mengalami stigma negatif dari masyarakat mulai dari dikucilkan hingga dianggap penyakit yang sangat menular. Padahal kesehatan mental serta dukungan masyarakat sekitar akan sangat berpengaruh terhadap kesembuhan para penyandang kusta. Edukasi terhadap penyakit kusta ini harus disampaikanm kepada masyarakat luas dengan gencar agar stigma negatif itu perlahan berkurang.


Pengobatan, Perawatan, dan Pencegahan

Sekali lagi, penyakit kusta bisa diobati. Bahkan, pemerintah lewat puskesmas menyediakan pengobatan gratis bagi penyandang kusta. Lama pengobatan kusta bisa bervariasi antara 12 hingga 18 bulan. Hanya saja, pengobatan tak boleh terputus. Lupa sehari minum obat, pengobatan harus mengulang kembali dari awal. Para penderita kusta juga diharapkan melakukan perawatan diri agar luka bercak bersih dan tidak terlihat menjijikkan.

Dulamin selaku ketua Kelompok Perawatan Diri area Cirebon memberikan arahan cara merawat diri untuk penderita kusta seperti merendam bercak yang menebal selama 20 menit di air, lalu menggosoknya dengan batu apung. Cara ini bisa menghaluskan, bahkan menghilangkan bercak yang menebal atau sekadar bercak kusta kering.

Sedia payung sebelum hujan, tak ada salahnya lakukan pencegahan kusta sebelum kelabakan. Berikut beberapa cara pencegahan yang bisa dilakukan :

  1. Menjaga daya tahan tubuh
  2. Perhatikan ventilasi sekitar
  3. Pakai masker
  4. Jaga kebersihan
  5. Ingatkan penyandang kusta minum obat
  6. Periksa anggota keluarga penyandang kusta

Kesan dan Pesan

Rasanya sedih, haru, kesal, semuanya campur aduk ketika narasumber memaparkan penjelasan tentang penyakit kusta mulai dari gejala, resiko disabilitas, hingga stigma masyarakat. Kenapa aku ketinggalan informasi sepenting ini. Andai aku tidak mendapat edukasi, bisa saja aku jadi salah satu masyarakat yang menudingkan stigma negatif terhadap penyandang kusta, apalagi aku punya anak yang masih kecil. Pastinya sebagai seorang Ibu, aku bakal protektif ke anak.

Sekarang, setelah mendapat edukasi, setidaknya aku bisa jadi agen yang berperan sebagai edukator lewat tulisan ini. Minimal ada satu orang saja yang teredukasi setelah membaca tulisan ini, akan sangat mengurangi beban stigma para penyandang kusta. Semoga akan ada lebih banyak lagi edukasi tentang kusta yangbisa menjangkau masyarakat hingga ke lapisan paling luar.

Related Posts

20 komentar

  1. Artikel yang bermanfaat mbak, tepat sekali agar kita dapat lebih bijak pada rekan-rekan yang menjalani pengobatan kusta. Semoga secara perlahan, stigma negatif itu hilang.

    BalasHapus
  2. terimakasih informasinya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Kurangnya edukasi masyarakat sampae punya stigma negatif ke orang penyandang kusta.. parahnya sampai dikaitkan ke hal mistis

    BalasHapus
  4. Karena latar belakang pendidikan saya bukan kesehatan, saya suka informasi seperti ini jadi meskipun bukan anak kesehatan tetep bisa paham cara menyikapi hal - hal tertentu terkait kesehatan..
    Makasih infonya, kapan2 saya otewe ke channel Youtube Kantor Berita Radio :)

    BalasHapus
  5. Aku juga melihat kusta ini jadi problem bak gunung es ya kak. Salah satunya ya karena stigma itu. ORang akhirnya kan malas dan enggan berobat karena belum2 udah dikasih stigma negatif

    BalasHapus
  6. Itulah pentingnya pendidikan yang merata di seluruh penjuru negeri ini. Segala sesuatu bisa saja selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis yang jelas-jelas tidak ada hubungannya, hanya karena banyak orang berpikir demikian. Penyakit kusta ini, saya rasa mirip dengan penyakit mental, yang dianggap penderitanya lemah iman atau apa pun stigma mereka.

    BalasHapus
  7. Stigma masyarakat ini tidak boleh berkembang. Adanya stigma bukan justu membuat orang lain empati tapi sebaliknya. Orang yang memiliki kusta pun perlu support system dan mereka layak untuk hidup sejahtera. Artikelnya menginspirasi mbak.. 😊

    BalasHapus
  8. Kasihan kalau sampai dikucilkan karena sakit, alih-alih mendapatkan pertolongan. Semoga kedepannya masyarakat semakin sehat dan teredukasi

    BalasHapus
  9. Artikel yang memberikan ruang kepada penderita kusta agar lebih diperhatikan lagi karena mereka juga butuh diberikan dukungan untuk terus berjuang

    BalasHapus
  10. Mbak Anggita bisa main ke desa Nganget Tuban, ada kampung kusta di sana. Masyarakatnya itu mayoritas penyandang kusta. Dan gapapa sebenernya berinteraksi langsung dengan mereka. Mereka senang kalo ada orang main kesana ngasih pemberdayaan atau hanya sekedar ngobrol. Hehe salam kenal mba Anggita makasih udah sharing ini.. senang sekali :D

    BalasHapus
  11. Ternyata penyakit yang muncul di kulit terluar itu bisa merongrong sistem syaraf, ya. Perlu secepatnya ditangani. Pengobatannya pun ternyata tidak bisa putus, harus terus-menerus. Info yang baru saya ketahui ini, terima kasih sharingnya ya, Mbak

    BalasHapus
  12. penyakit kusta tidak membuat penderitanya menjadi hina. itu hanyalah penyakit. titik

    BalasHapus
  13. Terima kasih sudah memberikan pencerahan seperti ini kak

    BalasHapus
  14. Saya baru tahu kalo KBR sering mengadakan talkshow yang sangat informatif kyk gini..
    Saya pribadi, suka talkshow dengan tema2 kesehatan kyk gini :)
    Makasih ulasannya..

    BalasHapus
  15. Semoga masyarakat kita semakin banyak yang teredukasi ya mbak.. Semoga stigma karena guna-guna tidak lagi melekat di maa@

    BalasHapus
  16. Susah deh ah emang, apalagi stigma yang masih beredar selalu menyebutkan kalau kusta adalah penyakit kutukan lah, guna-gunalah. Semoga talkshow edukatif seperti ini bisa semakin digalakkan untuk merubah stigma negatif tentang kusta.

    BalasHapus
  17. Saya taunya penyakit kusta cuma penyakit kulit tapi ngga tau detailnya gimana.. Emang bener, masyaarakat banyak yang belum tau tentang penyakit kusta:( Makasih informasinya Kak

    BalasHapus
  18. semoga masyarakat meninggalkan stigma negatif tentang kusta, semoga kita juga sehat selalu, dan untuk penderita kusta semoga diberikan kesembuhan, Aamiin...

    BalasHapus
  19. bagus ya dengan adanya edukasi melalui webinar ini tentang kusta, jadi makain banyak orang yang paham tentang penyakit ini dan bagaimana penanganannya

    BalasHapus
  20. sedih jadinya baru tau kalau kusta itu bisa disembuhkan dan pemerintah menjamin ketersediaan obat bagi penderita kusta

    BalasHapus

Posting Komentar