Jejak Mungil Tanpa Alas : Catatan Drama GTM Si Kecil

Assalamu'alaikum, Surabaya!

Disclaimer : saya bukan tenaga kesehatan atau pun ahli tumbuh kembang anak. Tulisan ini murni saya buat berdasarkan pengalaman pribadi. Akar permasalahan GTM tiap anak berbeda-beda. Bisa jadi penyebab anakku drama GTM berbeda dengan anak yang lain. Bisa jadi treatment yang saya berikan ke anakku, tidak bisa diterapkan ke anak lain. Permasalahan berat badan anak bisa dikonsultasikan ke DSA atau kader Posyandu. Di sini saya hanya membahas pengalaman masalah GTM pada anakku.

Bagi sebagian besar para ibu, salah satu momen membersamai anak paling sarat dengan emosi adalah ketika anak mulai menolak untuk makan atau biasa disebut dengan istilah GTM (Gerakan Tutup Mulut). Adanya tuntutan kenaikan berat badan anak tiap bulan, membuat tiap Ibu yang dilanda drama GTM pasti berada di fase stress.

Sedih rasanya kalau anak jadi tidak mau makan karena sebab yang kita sendiri tak tahu. Lebih sedih lagi kalau sudah coba berbagai cara dari A sampai Z, tapi hasilnya tetap nihil. Belum lagi menghadapi tajamnya lidah tetangga atau siapa saja yang kadang suka usil berkomentar seakan dia yang paling tahi segalanya.


Drama GTM

Saya juga termasuk ke dalam golongan Ibu yang pernah perang dengan serangan GTM, selalu gelisah, dan ingin menangis tiap masuk jam makan anak. Awalnya, si kecil baik-baik saja, tidak ada masalah saat usianya 6 – 10 bulan. Setelah itu, ia mulai menolak untuk membuka mulut saat aku naikkan tekstur dari nasi tim ke nasi utuh. Baiklah, saya pun kembali menurunkan tekstur ke nasi tim. Tidak ada masalah setelah itu. Si kecil kembali makan dengan lahap, hanya saja saya khawatir karena tak kunjung naik tekstur bisa mempengaruhi kemampuannya untuk mengunyah makanan.

Momok GTM pun kembali datang ketika usianya sudah mencapai 12 bulan. Saat itu saya masih memberinya nasi tim lembek. Beberapa kali ia menolak untuk makan, hanya beberapa suap yang masuk ke mulut. Saya putuskan untuk observasi selama beberapa hari. Ternyata, si kecil minta naik tekstur dari nasi tim lembek ke nasi biasa. Sedikit bisa bernafas lega karena akhirnya saya tahu penyebab kenapa dia GTM. Kehidupan rumah tangga pun kembali damai, aman, tentram, dan sejahtera selama beberapa minggu.

Si kecil saat minta makan sendiri.

Namun, ternyata drama GTM nya belum selesai, Bun. Masih ada episode bonus sebelum episode terakhir yang membuat saya ekstra berpikir keras, kembali stress, dan akhirnya pasrah aja sambil berdoa. Pasrah di sini artinya tetap berusaha, ya, bukan pasrah yang, "ya udah, kalau ga mau makan, ga papa". Sebab, bagaimana pun hanya Allah yang mengatur rezeki makanan yang masuk ke dalam tubuh anak. Bisa jadi ada sesuatu yang menyebabkan rezeki berupa nikmat makanan itu tak bisa masuk ke tubuh anak.

Saya mulai kembali semuanya dari awal. Berdoa, mohon ampun apabila ada kesalahan dari aku dan suami sebagai orang tua, mulai kencengin sedekah lagi, mulai tawarkan anak menu berbeda tiap hari, menyulap makanan utama jadi camilan, dan lain-lain. Sempat coba buat dia makan sendiri sambil aku suapin, tapi berhasil hanya untuk sementara.

Ketika sudah benar-benar lelah, tiba-tiba datang secercah harapan lewat media sosial bernama instagram. Saat itu, aku dipertemukan dengan akun instagram bernama @vijiclinic. Pembahasan saat itu tentang terapi nyeker yang secara penelitian punya hubungan dengan nafsu makan. Awalnya ragu, tapi sebagai orang lulusan sains yang selalu mempertimbangkan sesuatu berdasarkan hasil penelitian, aku ikhtiar untuk coba cara ini. Ditambah lagi, aku juga jarang memperbolehkan anakku bermain tanpa alas kaki. Mungkin kakinya jadi kurang stimulasi gara-gara itu dan menyebabkan proses berjalannya jadi agak lama.


Jejak Mungil Tanpa Alas

Keesokan paginya, aku ajak anakku jalan-jalan pagi tanpa alas kaki (nyeker). Tentunya dengan pengawasan ketat, ya. Aku kenalkan dengan tekstur tanah dan rumput di sekitar rumah. Jejak mungil kakinya yang tanpa alas, terlihat sangat menikmati berbagai jenis tekstur yang dirasakan oleh kakinya.

Jalan pagi di sekitar ITS

Kira-kira setengah jam kami jalan-jalan pagi, hingga tiba waktu paling mendebarkan bagiku, yaitu saat makan. Aku ajak dia cuci kaki dan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Setelah itu aku mulai menyiapkan sarapan untuknya.

Entah kenapa saat aku membawa piring makan, si kecil tiba-tiba berkata, "maaem...maaem..." (bahasa jawa untuk makan) dan dia kelihatan antusias sampai mendekat padaku. Raut wajahnya terlihat senang ketika suapan pertama mendarat di dalam mulutnya.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, hari itu anakku makan dengan lahap dan selalu habis.

Besoknya, besoknya lagi, dan seterusnya aku terus melakukan ritual jalan pagi tanpa alas kaki. Sejak saat itu hingga sekarang, si kecil selalu lahap makan dengan menu apa saja. 

Lalu, sebenarnya apa sih hubungan nyeker dengan nafsu makan?

Mungkin beberapa Ibu pernah mendengar metode belajar Montessori, salah satunya bernama "sensory play". Permainan ini menggunakan berbagai macam tekstur seperti tanah, rumput, tepung, dll. untuk dipegang atau diinjak oleh kaki anak. Jadi, anak dibiarkan untuk eksplorasi berbagai jenis tekstur dengan tangan atau kaki mereka.

Nah, menurut penelitian dari Hanscom (2016), kaki dan tangan anak memiliki syaraf paling banyak yang terhubung dengan otak. Saat memegang suatu tekstur dengan tangan atau kaki, syaraf-syaraf sensorik dan motorik akan mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh tak menganggapnya sebagai ancaman. Begitu juga dengan syaraf yang ada di dalam mulut. Dengan begitu, setiap tekstur makanan baru yang masuk ke dalam mulut tak akan dianggap ancaman oleh tubuh.

Selain itu, syaraf kaki yang sering distimulasi dengan berbagai macam tekstur akan memperkuat sendi dan otot kaki, sehingga akan membentuk postur tubuh anak dengan baik. Hal ini ternyata juga berpengaruh dengan kemampuan rahang untuk mengunyah dan kemampuan bicara anak (instagram Vijiclinic, diakses November 2021).

Setelah melakukan kegiatan ini selama beberapa minggu perkembangan jalan anakku semakin cepat. Hanya dalam waktu 3 minggu ia sudah bisa mulai berjalan sendiri, setelah sebelumnya anakku stuck di milestone "jalan sambil dititah" selama 2 bulan. Perkembangan bicaranya juga termasuk cepat. Setiap kosa kata yang aku sebutkan akan diingat, lalu diucapkan dengan lengkap.

Bonus lagi dari kegiatan nyeker dan coba berbagai macam tekstur ini adalah kualitas tidur anakku jadi membaik. Salah satu manfaat nyeker adalah menurunkan hormon kortisol sehingga memperbaiki kualitas tidur (Hanscom, 2016). Namun, tetap perlu diingat ya, selalu awasi anak ketika berjalan tanpa alas kaki.


Tips Saat Anak GTM

Begitulah pengalamanku saat drama GTM menyerang. Apa yang aku lakukan untuk anakku belum tentu cocok atau pas untuk anak yang lain. Perlu beberapa langkah dan observasi mendalam. Berikut rangkuman langkah-langkah yang sudah aku lakukan ketika anakku GTM. Siapa tahu bisa membantu ibu-ibu lain yang sedang ikhtiar :

  1. Bagi yang muslim, bisa kencengin sholat, doa, dan mohon ampun. Minta supaya rezeki makan anak tidak terhambat. Bagi yang beragama lain bisa berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Bagaimana pun juga, Sang Pencipta yang punya hak mutlak untuk mengatur rezeki tiap umatNya
  2. Lower your expectation. Santai aja, gak usah terlalu berlebihan dalam berharap
  3. Tetap ikuti feeding rules
  4. Observasi pelan-pelan mulai dari tekstur MPASI. Apakah anak minta naik atau turun
  5. Cek apakah sedang tumbuh gigi atau tidak
  6. Coba ajak makan bersama dalam satu meja makan
  7. Tawarkan anak untuk makan sendiri, siapa tahu dia sedang ingin eksplorasi dan bosan disuapi
  8. Kalau terlanjur trauma sendok, coba suapi pakai tangan. Jangan lupa cuci tangan yang bersih dulu ya
  9. Ajak anak bermain tekstur dengan tangan dan kaki
  10. Jalan-jalan tiap pagi tanpa alas kaki
  11. Tawarkan menu yang berbeda untuk tau preferensi makannya
  12. Kreasikan menu utama jadi camilan
Sebisa mungkin fokus dulu untuk menyelesaikan masalah GTM, baru kejar berat badan. Kalau fokus di keduanya secara bersamaan, yang ada malah Buibuk makin stress. Semangat ya untuk seluruh ibu di Indonesia yang sedang berjuang lawan GTM!

Share:

4 comments:

  1. halo kak anggi salam kenal,
    anak-anakku juga ngalamin GTM, sejak belajar MPASI sampai sekarang ( 7 tahun dan 5 tahun ). tapi setelah kakak di sunat alhamdulillah malah makin gembul dan doyan makan. ntah mitos itu benar atau tidak tapi aku bersyukur sekali, katanya kalau udah di sunat anak bakal lahap makan nya. and its true. aku baru tahu loh kalau jalan tanpa alas kaki bisa menstimulus anak mau makan lahap. thanks for sharing ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak salam kenal juga, aku juga pernah denger kalau abis disunat bisa bikin gembul karena katanya kotoran yang ada di ujung penis itu yang bikin metabolisme anak terganggu. Iya mom, cuma kadang ga semua anak juga bisa berhasil pake metode ini. Mungkin tergantung akar permasalahan makannya juga. Thank you juga mom sharing tentang sunat, aku sebenernya pengen anakku disunat pas kecil, cuma suami dan keluarga belum setuju haha

      Delete
  2. diperlukan kesabaran tingkat tinggi ya mbak supaya anak mau dan nggak rewel untuk makan
    mirip seperti keponakan aku nih, biasanya diselingi sama main yang ringan-ringan biar dia happy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak wkwkwk, kadang sampe aduh udah pasrah aja yang penting ada makanan masuk

      Delete

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Silakan tinggalkan komentar atau saran untuk membangun tulisan yang ala kadarnya ini.

Love,
Anggi

Anggita R. K. Wardani

read more

Recent Posts


Posts

My Instagram Gallery

My Community