Menjadi Narablog, Berbagi Cerita Kepada Dunia

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Menjadi narablog tak hanya berbagi lewat cerita. Lebih dari itu semua, seorang narablog bisa melukis dunia lewat kata dan berbagi kepada dunia lewat cerita."
 ― Anggita Ramani
Sumber : dokumentasi pribadi
Dua tahun yang lalu, jalanan kota Surabaya penuh sesak dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang. Udara siang dipenuhi oleh nyanyian klakson yang memburu ketika kendaraan paling depan tak juga bergerak, setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Suasana kacau yang sempurna di tengah hari yang juga sangat kacau bagiku. Tak ada yang berhasil aku lakukan di dalam hidup ini. Aku hampir memutuskan untuk menyerah, ketika sebuah notifikasi surel terpampang di layar gawai hitam milikku. Kubuka pesan dari seseorang yang tak kukenal. Air mataku tumpah ruah ketika membaca kalimat sederhana darinya: "Terimakasih sudah menulis, mbak Anggi. Berkat tulisan di blog mbak Anggi, saya punya semangat kembali untuk hidup". Saat itu, pertama kalinya aku merasa berguna sebagai manusia dan tak ingin menyerah begitu saja. Aku memutuskan untuk fokus menjadi seorang narablog sejak saat itu.

Selama delapan tahun mengelola blog dan dua tahun menekuni dunia narablog, apresiasi tertinggi bukanlah ketika memenangkan hadiah atau mendapatkan banyak pembaca. Apresiasi tertinggi justru datang ketika apa yang aku tulis bisa bermanfaat untuk sesama. Apa yang ditulis seorang narablog menjadi tak ternilai harganya ketika bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama atau sekadar bermanfaat untuk berbagi sesuatu yang kita tahu, tapi orang lain tak tahu.

Momen Istimewa Saat Menjadi Narablog

Selain bisa berbagi virus positif, banyak sekali momen bahagia hingga haru yang didapatkan ketika menjadi seorang narablog. Mulai dari momen bahagia ketika banyak orang lain yang terinspirasi untuk membuat blog setelah membaca tulisan - tulisan di blog ini, hingga momen haru ketika ternyata tulisanmu pernah menyelamatkan seseorang yang hampir bunuh diri karena depresi. Siapa sangka tulisanku di blog yang berjudul Titik Nadir Kedua, yang kutulis setelah mengalami kehancuran, bisa menyelamatkan hidup orang lain.

Ada salah seorang pembaca yang mengirim pesan ke alamat surel milikku. Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya yang sedang mengalami depresi berat setelah patah hati. Latar belakang keluarganya yang berantakan, serta kegagalan - kegagalan yang membuatnya semakin hilang percaya diri, lantas hampir memilih untuk mengakhiri hidupnya. Entah kenapa, disela dia mencari cara untuk bunuh diri, Tuhan mempertemukan dia dengan salah satu tulisan di blog ini. Tulisan yang saat itu bercerita tentang kehancuran hidup saya, tetapi disertai dengan cara untuk bangkit kembali.

Senang sekali rasanya jika tulisan saya di dunia digital bisa meringankan beban orang lain. Bagi saya menulis adalah terapi yang lumayan ampuh untuk mengobati mental. Terlebih ucapan terimakasih dari pembaca sangat memotivasi kembali di tengah kehidupan yang juga tak berjalan lancar setiap saat. Rasanya seperti mendapat banyak sekali energi positif untuk terus menulis.

Berbagi Cerita Kepada Dunia

Momen - momen itulah yang membuat aku bangga menjadi seorang narablog, terlebih di era digital seperti saat ini. Era yang semakin memudahkan jangkauan informasi, cukup dengan daring melalui gawai tanpa harus bersusah payah lagi. Ada banyak hal  dari berbagai sudut pandang yang bisa diceritakan kepada dunia, menjadikan cerita - cerita itu penuh warna. Sudah menjadi kewajibanku pula secara pribadi untuk berbagi cerita tentang apa pun di dunia ini, baik yang aku alami maupun apa yang aku dengar dari orang lain sebagai narablog.

Bercerita tentang dunia (sumber : dokumentasi pribadi)
Aku biasa menulis cerita tentang perjalanan, alam atau orang - orang yang kutemu secara tidak sengaja di perjalanan. Tak hanya sekadar pamer foto alam saja, tapi juga tentang makna perjalanan yang telah dialami. Pasti ada satu atau dua cerita unik yang mengiringi perjalanan itu sendiri. Contohnya ketika saya pernah masuk ruang isolasi petugas imigrasi Batam karena mereka mengira saya TKI ilegal atau cerita saat pertama kali hidup merantau di Malaysia dan bertemu dengan budaya baru. Orang lain pun bisa melihat dunia lewat cerita yang ditulis oleh narablog. Dunia tak lagi terasa jauh, tapi terasa dekat melalui tulisan seorang narablog.


Resolusi Tahun 2019

Menyambut tahun 2019 ini, tentunya banyak hal yang ingin kulakukan. Tak hanya sebagai seorang narablog, tetapi juga sebagai apa yang dunia sebut sebagai "manusia". Semua makhluk hidup di dunia ini juga makan, bekerja dan menikah, lalu apa yang membedakan kita sebagai manusia dari makhluk lain, jika sebagian besar hidup kita hanya terpaku pada 3 hal tersebut. Berikut adalah hal - hal yang ingin saya lakukan di tahun 2019.


1. Mengirim novel ke penerbit mayor
Selama ini novel atau tulisan hasil karya hanya masuk di penerbit indie. Di tahun 2019 ini sudah saatnya untuk memberikan tantangan baru pada batas yang ada di diri sendiri. Don't limit your challenge, but challenge your limit.

2. Rutin menulis di blog seminggu 2 kali
Biasanya tulisan di blog ini hanya diunggah minimal 1 bulan sekali. Sebagai seorang narablog, ada baiknya menaikkan standar jumlah artikel yang diunggah. Selain itu juga melatih konsistensi, disiplin, serta tanggung jawab sebagai narablog.

3. Belajar SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)
Pengalamanku menjadi seorang relawan yang kesulitan komunikasi saat bertemu dengan seorang anak tuna wicara, membuatku termotivasi untuk belajar bahasa isyarat. Mereka mempunyai dunia yang harus diberi warna juga, sama seperti orang - orang lain.

4. Penelitian di luar negeri
Jepang masih menjadi negara impianku untuk melakukan kerja sama di bidang penelitian sejak tahun 2014. Semoga di tahun 2019 ini, ada jalanNya yang menuntunku untuk pergi kesana.

5. Jalan - jalan ke Teluk Biru
Naluri sebagai seorang narablog yang suka berpetualang, menyebabkan teluk biru menjadi tujuan perjalanan yang sepertinya cukup menantang. Pantai yang berada di Banyuwangi ini merupakan surga tersembunyi yang belum banyak dijamah orang. Hanya saja, masih jarang travel backpaker yang membuka jasa open trip untuk tujuan ke Teluk Biru.

Resolusi 2019 (sumber : dokumentasi pribadi)
Semoga semua yang kutulis sebagai resolusi di tahun 2019 ini bisa menjadi sebuah do'a tak terucap, namun terdengar hingga langit ketujuh. Sebagai manusia, aku hanya bisa merencanakan. Keputusan paling mutlak tetap berada di tangan Tuhan, Sang Penguasa Semesta.

Mari sambut 2019 ini dengan penuh energi positif. Lakukan yang terbaik di dalam hidup ini. Jika tak bisa menjadi yang terbaik, minimal jadilah yang berbeda. Salah satunya bisa menjadi seorang narablog yang menginspirasi di era digital.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Kompetisi Blog Nodi"
#KompetisiBlogNodi
#NarablogEraDigital
Share:

3 comments:

  1. Halo mba anggita, semoga resolusinya di tahun 2019 ini bisa terlealisasikan ya, dan semangat memblogging hehe, kalau sempat mampir ke blog saya di https://www.febrianammar.com/ ya, terima kasih :) #SalamBlogger

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Silakan tinggalkan komentar atau saran untuk membangun tulisan yang ala kadarnya ini.

Love,
Anggi

About Me

read more

Recent Posts


Posts

My Instagram Gallery

My Community


ID Corners
Kumpulan Emak2 BloggerBlogger Perempuanindonesian hijab blogger