Memutar Waktu di Langit Bosscha

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Gelap tak selamanya pertanda dari petaka. Terkadang kita lupa, dibalik gelap yang menerima serapah dari semua orang, ada kerlip bintang yang justru hanya dapat dilihat saat gelap."
―Anggita Ramani

Bagi yang pernah menonton film anak garapan sutradara Riri Riza - Mira Lesmana berjudul "Petualangan Sherina", pasti sudah sangat paham ketika kata kunci Bosscha disebutkan. Observatorium Bosscha merupakan salah satu lokasi adegan film saat Sherina (Sherina Munaf) dan Sadam (Derby Romero) kabur dari kejaran penculik, lantas melihat bintang dengan teropong Zeiss di saat malam berbintang. Di masa itu, Bosscha menjadi tempat impian bagi sebagian besar anak untuk mengikuti jejak "Petualangan Sherina". Sebenarnya, tempat apakah Bosscha itu? Apa saja yang ada di dalam Bosscha? Yuk, mari berpetualang, memutar waktu di langit Bosscha!


SEKILAS TENTANG BOSSCHA

DULU 

Observatorium Bosscha dibangun oleh NISV (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Pada awal berdiri, observatorium ini diberi nama Bosscha Sterrenwacht. Selain atas prakarsa NISV, pembangunan Bosscha tak luput dari jasa seorang tuan tanah di Perkebunan Teh Malabar sebagai penyandang dana utama pembelian teropong bintang. Beliau adalah Karel Albert Rudolf Bosscha, sehingga nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium tersebut.

Observatorium Bosscha tahun 1930 (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Pembangunan Rumah Kupel tempat teleskop Zeiss (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

Pembangunan Bosscha menghabiskan waktu 5 tahun, dimulai dari tahun 1923 - 1928. Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bossca kepada pemerintah RI. Ketika ITB berdiri di tahun 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB dan difungsikan sebagai lembaga penelitian serta pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

SEKARANG

Pada tahun 2004 lalu, Observatorium Bosscha resmi dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah Indonesia. Tak berhenti sampai disitu, tahun 2008 Observatorium Bosscha ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional yang harus diamankan. Saat ini, Bosscha merupakan lembaga riset milik ITB di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA ITB).

Selain itu, Observatorium Bosscha juga menerima kunjungan baik dari instansi atau pun perorangan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Untuk kunjungan umum yang bersifat pribadi, perseorangan atau keluarga hanya dibuka pada hari Sabtu sebanyak 4 sesi mulai dari jam 09.00 WIB - 14.00 WIB. Pada jam tersebut, pengunjung hanya akan mendapatkan penjelasan singkat tentang teleskop Zeiss serta ke ruang multimedia tanpa disertai pengamatan terhadap benda langit. Biaya kunjungan per orang sebesar 15.000 saja. Jika ingin melakukan kunjungan disertai pengamatan benda langit, Observatorium Bosscha juga membuka jadwal kunjungan malam hari pada tanggal dan bulan tertentu. Khusus untuk jadwal malam dikenakan biaya sebesar 20.000. jadwal selengkapnya bisa klik di sini.


KUNJUNGAN SIANG KE BOSSCHA

Masuk ke dalam area Observatorium Bosscha akan disambut oleh sejuknya udara di dataran tinggi Lembang, pepohonan hijau, bunyi jangkrik serta semilir angin yang menyejukkan hati. Di bagian depan akan ada semacam plakat bertuliskan Bosscha Observatory dan semacam tugu peletakan batu pertama pada tahun 1923.

Kiri : Plakat observatorium ; Kanan : tugu peletakan batu pertama.
Setelah melewati tugu tersebut, anda harus berjalan sedikit menanjak lagi untuk mencapai Rumah Kupel tempat teleskop Zeiss berada, yang merupakan lokasi shooting film anak Petualangan Sherina. Bangunan putih berkubah mirip dome tersebut adalah bangunan pertama yang ada di Observatorium Bosscha, dirancang oleh arsitek yang juga guru dari Bung Karno, yaitu K. C. P. Wolf Schoemacher.

Rumah kupel teleskop Zeiss yang dikeliling oleh pepohonan hijau
Berfoto di tempat legendaris "Petualangan Sherina"
Di bagian depan rumah kupel ada beberapa foto benda langit hasil pengamatan dengan teleskop Zeiss. Kemudian, saat masuk ke dalam bangunan, pengunjung dijelaskan mengenai prinsip kerja teleskop Zeiss beserta fungsinya. Jika sedang tidak hujan, guide di rumah kupel akan membuka atap rumah kupel yang ternyata juga bisa diputar, bisa dilihat pada tayangan video di bawah.

Suasana ketika guide menerangkan tentang prinsip kerja teleskop Zeiss.




Setelah puas berada di dalam rumah kupel, tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Ruang Multimedia yang berada tak jauh dari sekitar rumah kupel. Di dalam sini akan dijelaskan mengenai sejarah singkat Bosscha hingga pengetahuan dasar tentang astronomi. Layaknya gedung bioskop, pengunjung akan diajak melihat film pendek seputar Bosscha, cerita rakyat astronomi (startale dan starlore), benda langit dan lain - lain.


Pengunjung juga diberi pengarahan singkat tentang software Stellarium, sebuah program komputer yang bisa digunakan sebagai simulasi pergerakan benda langit baik di masa lalu atau pun masa mendatang. Misalkan saja kita ingin mengetahui dimana letak rasi bintang Orion di tahun 2019. Tinggal masukkan tanggal dan waktu, maka sofware tersebut akan memprediksi dimana koordinat rasi bintang Orion. Pengunjung diperbolehkan mengcopy file video dan Stellarium asalkan membawa flashdisk atau tempat penyimpanan data lainnya.

Contoh penampakan Stellarium untuk memprediksi koordinat Orion di tahun 2019 dengan pengamatan dari Surabaya

TELESKOP BINTANG DI BOSSCHA

Di Bosscha terdapat beberapa rumah tempat teleskop bintang disimpan atau disebut dengan Rumah Kupel. Rumah kupel memiliki atap yang bisa dibuka atau diputar untuk menempatkan posisi teleskop bintang ke koordinat benda langit tertentu. Salah satu teleskop terbesar sekaligus tertua yang ada di Bosscha adalah teleskop Zeiss seberat 17 ton dengan panjang fokus 10,80 meter. Selain teleskop Zeiss, di Observatorium bosscha juga terdapat beberapa teleskop lain. Mulai dari teleskop untuk hilal, teleskop bamberg, teleskop Schmidt, teleskop GAO-ITB, teleskop Surya, dll. untuk pengamatan benda - benda langit dengan spesifikasi tertentu.

Teleskop Zeiss di dalam rumah kupel.

Teleskop Bamberg digunakan untuk melihat kawah bulan, gugus bintang dan planet. Selanjutnya Teleskop Schmidt merupakan salah satu teleskop yang tergolong langka di dunia hasil sumbangan UNESCO tahun 1960, digunakan untuk pengamatan bintang emisi garis hidrogen, bintang kelas M dan bintang Wolf Rayet. Teleskop GAO-ITB merupakan hasil kerja sama dengan Observatorium Gunma di Jepang, menggunakan teknologi canggih yang memungkinkan kontrol jarak jauh antara Gunma - Lembang. Teleskop Surya untuk mengamati penampakan matahari serta fenomena cuaca antariksa. Selengkapnya bisa dibaca di website resmi Bosscha-ITB (klik link).

MEMUTAR WAKTU DI LANGIT

Ketika berada di Ruang Multimedia - Bosscha, waktu terasa berputar kembali ke belakang, jauh sebelum istilah astronomi dikenal luas oleh masyarakat. Pemutaran film tentang Startale, Starlore  dan kearifan lokal astronomi, mengindikasi secara tidak langsung bahwa ilmu astronomi telah dikenal rakyat Indonesia sejak dahulu kala. Hal itu terbukti dari cerita rakyat, mitos serta legenda yang berhubungan dengan astronomi. Ditambah lagi, para pendahulu telah menggunakan bintang dalam melakukan kegiatan sehari - sehari seperti para nelayan atau pun petani.

STARTALE DAN STARLORE

Beberapa startale atau starlore yang dikenal berasal dari Jawa (), Sumatra () dll. (akan dibahas lebih lengkap di postingan selanjutnya). Kisah dari Jawa yang terkenal adalah adanya cerita tentang Betara Kala (raksasa) yang memakan bulan yang ditandai dengan adanya gerhana bulan.

(sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Dari pulau Sumatra terdapat legenda rasi Orion versi Indonesia, menceritakan kisah seorang penggembala yang memecahkan telur naga bernama Hala Na Godang. Di dalam astronomi batak, rasi orion menggambarkan Hala Na Godang, sedangkan sabuk Orion menggambarkan telur naga.

(sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

KEARIFAN LOKAL ASTRONOMI

Banyak kearifan lokal tentanga astronomi yang ada di Indonesia (akan dibahas lebih lengkap di postingan selanjutnya). Salah satu kearifan lokal tentang astronomi yang berasal dari Papua adalah tentang Bintang Yabi yang melambangkan naga. Ketika bintang ini muncul dari permukaan laut, menandakan adanya angin selatan di musim kemarau. Ibaratnya seperti naga yang muncul dan mengibas - ngibas ke permukaan laut sehingga laut agak bergejolak. Para nelayan tak berani untuk melaut, harus menunggu hingga bintang ini naik agak tinggi.

Nelayan di Papua yang menjelaskan tentang kearifan lokal astronomi di Papua (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)
Satu lagi contoh kearifan lokal dari Bira atau tempat pejuang kapal Pinisi berada. Di jaman dulu, pelayaran perahu Pinisi tidak menggunakan peta dan kompas. Rakyat Bira bergantung pada alam, seperti menggunakan bintang sebagai penanda arah.

Kapten Kapal Pinisi (sumber : presentasi di ruang multimedia, Bosscha, Lembang, Bandung)

Begitulah kira - kira petualangan saya di Bosscha. Di sana tak hanya mendapatkan foto yang instagramable, lebih dari itu semua, banyak hal baru yang bisa dipelajari seperti sejarah, cerita rakyat astronomi hingga benda - benda langit lainnya.



 

Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Instagram Gallery

My Community


ID Corners
Kumpulan Emak2 BloggerBlogger Perempuanindonesian hijab blogger