Halo teman online! Ide konten perjalanan tidak selalu harus membahas destinasi yang sedang viral. Justru, tempat yang belum banyak dibicarakan kreator dapat memberikan sudut pandang yang lebih segar.
Selain membantu audiens menemukan pengalaman baru, perjalanan ke destinasi yang relatif sepi atau jarang diulik juga membuka peluang ide konten baru. Tentunya konten yang tidak mudah tenggelam di antara rekomendasi tempat wisata populer.
Inilah 8 Ide Konten Perjalanan ke Destinasi “Hidden Gem”
Tren Traveling ke destinasi “tersembunyi” atau tempat wisata yang sebenarnya bagus tapi sepi, semakin relevan karena jumlah perjalanan wisata di Indonesia terus meningkat. Data Kementerian Pariwisata yang bersumber dari BPS mencatat sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025, naik 17,55% dibandingkan 2024. Pada tahun yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta.
Bagi kreator, tingginya aktivitas perjalanan tersebut berarti semakin banyak peluang untuk menemukan cerita yang belum banyak diangkat. Berikut beberapa ide konten yang bisa dikembangkan.
1. Cerita Perjalanan Menuju Destinasi
Jangan hanya menunjukkan kondisi ketika sudah tiba di lokasi. Perjalanan menuju destinasi juga bisa menjadi konten tersendiri.
Kreator dapat menceritakan pilihan transportasi, kondisi jalan, lama perjalanan, biaya, hingga tantangan yang ditemui. Konten seperti “Begini Perjalanan Menuju Desa Wisata yang Jarang Dibahas” bahkan dapat lebih informatif dibandingkan sekadar video pemandangan.
2. Ekspektasi vs Realita Destinasi
Destinasi yang belum populer biasanya memiliki informasi online yang lebih terbatas. Kondisi tersebut dapat dijadikan angle konten dengan membandingkan ekspektasi sebelum berangkat dan kondisi sebenarnya setelah tiba.
Misalnya, apakah aksesnya benar-benar sulit? Apakah fasilitasnya memadai? Apakah suasananya memang sepi? Format ekspektasi versus realita juga memungkinkan kreator memberikan informasi yang lebih jujur kepada calon wisatawan.
3. Aktivitas Lokal yang Tidak Ada di Destinasi Populer
Alih-alih hanya membahas objek wisatanya, cari aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Kreator dapat mengangkat proses pembuatan kerajinan, aktivitas nelayan, kuliner rumahan, tradisi lokal, atau pekerjaan masyarakat yang berkaitan dengan pariwisata.
Pendekatan tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk membahas sustainable tourism di indonesia. UNESCO juga menekankan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan perlu melibatkan masyarakat lokal dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada mereka.
Dengan begitu, perjalanan tidak hanya menghasilkan konten tentang “apa yang bisa dilihat”. Namun, konten perjalanan juga tentang “siapa yang membuat destinasi tersebut hidup”.
4. Berapa Biaya Traveling ke Destinasi yang Belum Populer?
Informasi harga selalu menjadi kebutuhan praktis calon wisatawan. Karena itu, perjalanan ke destinasi yang belum banyak dibahas dapat diubah menjadi konten breakdown biaya.
Misalnya, kreator dapat menghitung biaya transportasi, tiket masuk, penginapan, makanan, aktivitas, hingga pengeluaran tambahan. Persiapan perjalanan juga dapat diperluas dengan membahas kebutuhan perlindungan selama perjalanan, termasuk mempertimbangkan asuransi kecelakaan ketika aktivitas atau akses menuju destinasi memiliki risiko tertentu.
Judul seperti “Budget Rp500 Ribu, Bisa Ngapain Saja di Destinasi Ini?”, memiliki nilai informasi yang lebih kuat daripada sekadar dokumentasi perjalanan. Nah, hal ini bisa meraih audiens lebih banyak karena informasinya lengkap.
5. Apakah Destinasi Ini Benar-Benar Sepi?
Kata “hidden gem” semakin sering digunakan dalam konten perjalanan. Namun, sebuah tempat yang disebut tersembunyi belum tentu benar-benar sepi.
Penelitian mengenai rekomendasi perjalanan berbasis AI bahkan menunjukkan bahwa platform digital dapat memengaruhi arus wisatawan menuju destinasi tertentu, termasuk destinasi yang sebelumnya kurang dikenal.
Karena itu, kreator dapat membuat konten yang menguji klaim tersebut: kapan waktu terbaik berkunjung, bagaimana kondisi pada akhir pekan, dan apakah destinasi tersebut mulai ramai setelah muncul di media sosial.
6. Panduan Traveling yang Lebih Bertanggung Jawab
Destinasi yang belum terlalu populer juga dapat menjadi kesempatan untuk membuat konten tentang cara berwisata secara bertanggung jawab. Bahas aturan lokal, pengelolaan sampah, penggunaan transportasi lokal, pembelian produk masyarakat, atau hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan wisatawan.
Pendekatan ini relevan karena pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan terhadap lingkungan dan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik. Ditambah lagi, UNESCO juga menekankan pentingnya membantu wisatawan membuat pilihan transportasi dan akomodasi yang lebih berkelanjutan. Selain itu juga agar wisatawan lebih memahami dampaknya terhadap masyarakat setempat.
7. “Apa yang Akan Berubah Jika Destinasi Ini Viral?”
Ini merupakan angle yang menarik karena membahas masa depan destinasi, bukan hanya pengalaman saat ini.
Kreator dapat mengamati pembangunan fasilitas, jumlah pengunjung, kondisi lingkungan, dan kesiapan masyarakat. Pertanyaannya sederhana: apakah popularitas akan membawa lebih banyak manfaat atau justru mengubah karakter destinasi?
Topik semacam ini juga relevan dengan perkembangan pariwisata saat ini. Pada 2026, sejumlah pelaku industri mulai melirik kawasan yang lebih rural dan destinasi lapis kedua sebagai respons terhadap kepadatan di tujuan wisata populer.
8. Satu Perjalanan, Delapan Cerita
Terakhir, kreator dapat menjadikan seluruh perjalanan sebagai seri konten. Satu trip tidak harus berhenti pada satu video atau artikel.
Perjalanan dapat dipecah menjadi konten tentang akses, biaya, kuliner, masyarakat lokal, aktivitas, penginapan, kondisi lingkungan, hingga rekomendasi waktu kunjungan. Strategi ini membuat satu pengalaman perjalanan memiliki umur konten yang lebih panjang.
Jangan Hanya Mencari Tempat yang Viral
Destinasi yang belum banyak dibahas justru dapat memberikan ruang lebih besar bagi kreator untuk menemukan cerita orisinal. Kuncinya bukan sekadar mencari tempat yang belum terkenal, melainkan menemukan sudut pandang yang belum banyak dibahas.
Dengan pendekatan tersebut, satu perjalanan dapat berkembang menjadi beberapa konten informatif sekaligus. Terlebih, ketika jumlah perjalanan wisata terus bertumbuh, kebutuhan audiens terhadap informasi destinasi yang lebih spesifik juga semakin terbuka.
Bagi kreator, ini menjadi peluang untuk membuat konten perjalanan yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai informasi dan cerita yang kuat. Kalau teman online, lebih suka ide konten perjalanan yang mana?





Posting Komentar