Selendang Sutra di Jembatan Merah

(Sumber gambar : @ach_muchlison, diedit oleh @anggitarkwardani)
Sosok kakek berusia lanjut tergeletak tak berdaya di kamar berwarna serba putih. Bau obat yang menusuk hidung tercium di seluruh ruangan itu. Alat kardiogram yang terpasang di tubuh sang kakek mengeluarkan suara selaras dengan detak jantungnya. Seorang wanita paruh baya dan gadis muda duduk di samping ranjang kakek itu.

"Rani," ujar wanita paruh baya itu sambil mengusap kepala kakek, "Bunda bisa minta tolong?"

"Iya, kenapa, Bund?"

Wanita paruh baya itu lantas memandang wajah putrinya lekat - lekat, "ada barang Kakek yang harus kamu kembalikan kepada sang pemiliknya di Surabaya."

"Hah? Rani nggak ngerti Bund, barang apa? Kenapa nggak dikirim aja?"

Wanita yang dipanggil Bunda itu menggeleng pelan, ada haru yang disembunyikan lewat matanya, "barang itu sangat berharga bagi Kakek. Harusnya Kakek yang mengantarkan setelah sekian lama, tapi Kakek tiba - tiba jatuh sakit. Kamu berani kan berangkat ke Surabaya?"

Gadis muda itu hanya mengangguk pelan, "barang apa yang begitu berharga untuk Kakek, Bund?'

Bunda mengambil sebuah kotak usang berisi selendang sutra merah jambu, lalu menyerahkannya kepada Rani, "di jaman perang kemerdekaan negara kita, selendang sutra sering digunakan untuk membalut luka para pejuang."

Hujan turun dengan deras. Sederas kenangan yang sedang diceritakan oleh Bunda. Kenangan tentang Kakek, sang pemilik selendang sutra itu dan sahabat Kakek di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebuah cerita yang datang dari puluhan tahun silam di kota yang kini dijuluki kota Pahlawan.

***

"Aku akan kembali berjuang, Ran," sosok lelaki berpakaian seperti tentara itu menyeruak keheningan sore di atas jembatan merah.

"Lagi?" Gadis berpakaian kebaya dengan atasan berwarna putih itu sedikit menunduk, menyembunyikan kesedihan sekaligus ketakutan akan kehilangan sosok lelaki di hadapannya.

Lelaki itu tersenyum sambil memandang gadis itu, "negara ini masih harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan, Ran."

"Aku ikhlas, Mas," balas gadis itu sambil memandang aliran sungai di jembatan merah, "apa pun jika itu demi masa depan negara kita, negara tempat berpijak anak cucu kita kelak."

"Rani, lihat aku," lelaki itu menggenggam kedua tangan gadis itu, "aku janji akan kembali, hidup atau mati."

Air mata mulai menghiasi kedua bola mata gadis itu. Ia pun melepas kain selendang sutra yang menutupi kepalanya dan memberikannya kepada lelaki itu, "biarkan selendang sutra ini sekali lagi menjagamu hingga kembali lagi ke kota ini."

"Do'akan aku dan Hari kembali dengan selamat. Kami akan terus berjuang untuk melanjutkan pengorbanan darah suci para pahlawan yang telah banyak mengalir demi negara ini."

"Do'aku selalu bersamamu, Mas."

Senja di tepi jembatan merah kala itu ditutup dengan air mata dari sang gadis. Air mata untuk mengiklaskan dan melepas sang kekasih dengan dua kemungkinan yang akan dialami oleh sang kekasih. Kembali dengan hidup atau gugur sebagai pahlawan tanpa nama.

Hari demi hari berlalu, menyisakan penantian penuh tanda tanya dari sang gadis. Sementara itu, Surabaya tetap berjalan seperti biasa. Tiap hari ia selalu menunggu di tepi jembatan merah hingga batas senja tiba, lalu pulang dengan resah yang mengikuti kemana pun ia pergi.

Suatu ketika, seperti biasa ia menunggu dengan penuh harapan dan do'a. Sosok lelaki berpakaian tentara datang menghampiri sang gadis. Air mata memenuhi wajah lelaki itu. Amarah dan penyesalan membuatnya tak kuasa berdiri tegak, lantas duduk bersimpuh sambil menangis begitu keras. Tanpa kata, hening di antara senja yang menghiasi langit kota Surabaya.

Bukan lelaki itu yang ditunggunya, tetapi gadis berkebaya itu mampu membaca pesan dalam air mata sahabat kekasihnya, "Rani ikhlas apa pun yang terjadi dengan Mas Dimas." 

***

"Nak Rani? Nak?"

Suara sang pemilik rumah berdasarkan alamat yang diberikan oleh Bunda membuyarkan segala lamunan Rani tantang cerita dibalik selendang sutra itu, "ah, iya Kek?"

"Nak Rani mendapatkan selendang sutra ini dari siapa?"

"Dari kakek saya di Semarang, namanya Dimas."

Sosok lelaki berusia lanjut itu terlihat sangat kaget, "benar ini dari Mas Dimas? Yakin?"

"Iya, Kek. Saya mau mengembalikan selendang ini ke Nenek Rani."

Tiba - tiba sang kakek menangis tanpa suara sambil memeluk Rani, seperti ada beban mendalam yang dibawa oleh lelaki itu. Berkali - kali ia mengucap nama Dimas sambil meminta maaf.

***

Di seberang jembatan merah itu, tiap hari Nenek Rani akan duduk di kursi depan Taman Sejarah. Dia menderita demensia di usianya yang tergolong senja. Dalam ingatannya hanya ada masa ketika ia berjanji dengan Kakek Dimas. Ia hanya ingat bahwa tiap hari ada seseorang yang ditunggunya di jembatan merah. Segala ingatannya tentang Kakek Hari pun lenyap.

Rani memberikan selendang sutra berwarna merah jambu itu kepada Nenek Rani. Tangannya yang lemah serta sedikit gemetar, perlahan meraih selendang yang berusia lebih dari setengah abad. Tanpa kata, hening dan sunyi. Air mata Nenek Rani merembet keluar. Dalam diam, Nenek Rani menangis sambil memeluk erat selendang itu. Selendang yang pernah diberikannya kepada sang kekasih. Kakek Hari hanya memandang istrinya dengan tatapan sayu.

Rrrrrrr! Rrrrrrrrr!

Ponsel Rani tiba - tiba bergetar. Sebuah panggilan sedang singgah di telepon genggamnya. Ia pun berjalan agak menjauh dari tempat duduk Nenek Rani dan Kakek Hari. Sementara itu, Nenek Rani masih memeluk erat selendang sutra itu. Pikirannya tampak menerawang jauh melewati batas masa kini untuk kembali ke masa lalu. Masa ketika area jembatan merah menjadi saksi bisu janji yang dibuat Nenek Rani dan Kakek Dimas.

Tepian jembatan merah tampak sepi, tanpa ada satu pun manusia yang berlalu - lalang. Nenek Rani melihat sekeliling. Dari kejauhan, samar - samar ia melihat sosok lelaki berpakaian tentara sedang melambaikan tangan ke arahnya. Lelaki itu berjalan ke arah Nenek Rani. Semakin lama semakin mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Nenek Rani. Wanita berusia lebih dari 90 tahun itu memandang wajah tentara itu. Sekali lagi, air mata kembali meluap keluar dari kedua matanya.

Tentara itu meraih selendang sutra berwarna merah jambu dari genggaman Nenek Rani, lalu memakaikan di kepala Nenek Rani. Sebuah senyuman mengembang di wajah Nenek Rani. Tentara itu lantas mengulurkan tangan kepada wanita yang ada di hadapannya.

"Akhirnya kamu menepati janjimu," ujar Nenek Rani pelan.

Kakek Hari mengusap perlahan kepala Nenek Rani. Tubuh istrinya menjadi begitu dingin. Mata kakek menatap lurus ke depan, seperti sedang melihat sesuatu. Tak lama kemudian, air mata mulai jatuh dari kedua mata sang kakek. Beribu - ribu penyesalan datang dari lubuk hati yang terdalam kepada sahabatnya, juga kepada wanita yang sejak dulu sudah dicintainya.

Bersamaan dengan itu kabar duka dari Semarang datang menghampiri Rani. Mereka berdua telah saling menunggu dan menepati janji yang sudah mereka buat puluhan tahun silam di jembatan merah dengan selendang sutra sebagai pengikat janji. Kini, mereka pun pergi bersama dalam untai janji selendang sutra, menuju keabadian yang tak kan memisahkan mereka lagi.

***

Kota Surabaya masih saja panas seperti kata orang, meskipun hari ini hujan deras sedang menyapa. Dari balik jendela sebuah rumah, sosok lelaki berusia hampir 100 tahun memandang hujan itu dengan banyak sekali penyesalan. Segala kenangan berkecamuk dalam kesendirian yang dia alami. Begitu sepi dan sunyi dalam balutan derai hujan.
Maafkan aku, Rani. Aku terpaksa berbohong tentang kematian Dimas di medan perang. Perang yang begitu brutal menyebabkan Dimas kehilangan kedua tangan. Ia merasa tak pantas kembali kepadamu dalam keadaan seperti itu. Dia begitu putus asa hingga tak mau menemuimu lagi. Dosaku yang paling besar adalah mencintaimu dari awal, hingga aku memanfaatkan hal itu untuk memilikimu. Aku sungguh tak tega melihatmu begitu tersiksa dalam penantian yang tak pasti.

Dimas, Rani, kalian adalah sahabat yang paling aku sayangi. Sekali lagi, maafkan aku.

***

Cerita ini ditulis setelah mendengar lagu berjudul "Cinta dan Rahasia" yang dinyanyikan oleh Yura Yunita dan Glenn Fredly.


Share:

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah membaca sampai akhir :)
Silakan tinggalkan komentar atau saran untuk membangun tulisan yang ala kadarnya ini.

Love,
Anggi

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Instagram Gallery

My Community


ID Corners
Kumpulan Emak2 BloggerBlogger Perempuanindonesian hijab blogger