Hagia Sophia Van Java

Assalamu'alaikum Surabaya!

566 tahun lalu, Konstatinopel jatuh ke tangan umat Islam setelah 54 hari melakukan pengepungan. Jatuhnya konstantinopel ke tangan umat muslim menjadi penanda berakhirnya peradaban abad pertengahan. Sultan Mehmet II, yang saat itu menjadi pemimpin dalam kesultanan Utsmani langsung pergi ke Katedral Kuno Bizantium Hagia Sophia, gereja terbesar yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi Timur di Istanbul. Sultan Mehmet II kemudian memerintahkan untuk mengubah gereja tersebut menjadi masjid. 


Hati mana yang tak terenyuh ketika mendengar cerita tentang perjuangan umat muslim di masa lampau, sampai di titik pengubahan gereja terbesar yang dibangun Kekaisaran Romawi Timur menjadi sebuah masjid bernama Hagia Sophia. terlebih lagi, jatuhnya Konstantinopel ke tangan khilafah Utsmani merupakan bukti sejarah bahwa Islam pernah berjaya di benua Eropa. Tak heran jika Hagia Sophia selalu menjadi salah satu rujukan wisata religi di Eropa bagi umat muslim di dunia. Bagi kita yang tinggal di Indonesia tentu saja harus merogoh kocek yang begitu dalam jika ingin mengunjungi Hagia Sophia.
Kiri (Hagia Sophia) dan kanan (masjid Agung Al-Hidayah)
Interior atap dari : kiri (Hagia Sophia) dan kanan (masjid Agung Al-Hidayah)
Namun, bagaimana jika ternyata juga ada Hagia Sophia versi mini di Indonesia? Masjid yang berada di kabupaten Malang tersebut sangat mirip dengan Hagia Sophia yang ada di Istanbul, Turki. Masjid yang diberi nama "Masjid Agung Al- Hidayah" tersebut memang sengaja dibangun karena terinspirasi dari kemegahan Hagia Sophia. Bentuk arsitektur serta ornamen khas Turki di tiap dinding atap masjid yang membuat masjid ini cocok disebut sebagai Hagia Sophia Van Java.
Masjid Agung Al-Hidayah, Karangploso, Kab. Malang
Masjid yang terletak di pinggir jalanan kabupaten Malang, tepatnya di Karangploso itu, justru tampak sangat biasa jika dilihat dari luar. Tak ada kesan mewah sama sekali yang terlihat. Sensasi berada di Turki baru terasa ketika memasuki bangunan utama masjid. Dinding kubah benar - benar mirip dengan Hagia Sophia yang ada di Turki. Mata akan langsung dimanjakan oleh keindahan lengkung - lengkung atap beserta ornamen yang menghiasinya. Jendela - jendela di samping pun penuh dengan hiasan kaca mozaik.

Kubah di dalam Hagia Sophia van Java
Naik ke lantai dua, kaligrafi ayat suci terukir dengan indah di tiap sudut atap. Jendela dengan hiasan kaca mozaik yang secara perspektif berjajar rapi seperti lorong, menambah kesan mewah di dalam masjid yang sebenarnya tak terlalu besar seperti masjid Turen atau pun masjid Jami' Batu. Atap mini berbentuk lengkung seperti kubah pun terlihat di sepanjang sisi kanan dan kiri lantai dua.

Kaca mozaik Hagia Sophia van java
Kaligrafi ayat suci
Sensasi spiritual pun turut menggetarkan hati manakala melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di masjid ini. Rasanya seperti benar - benar melakukan sujud di Hagia Sophia, menggetarkan hati yang selalu rindu akan cinta-Nya. Suasana masjid yang masih cenderung sepi dan syahdu menambah kekhusyukan ketika melakukan ibadah. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini cuma sensasi biasa karena keindahan bangunan masjid. Bagi saya pribadi, hal ini adalah suatu hal yang luar biasa karena saya begitu mengagumi cerita dibalik Hagia Sophia.
Kubah - kubah mini di lorong lantai 2
Tak hanya soal keindahan, tetapi perjuangan serta toleransi yang diajarkan oleh Hagia Sophia hingga saat ini. Pemerintah Turki memang melarang area Hagia Sophia untuk tempat beribadah, tetapi mereka memberikan toleransi dengan menyediakan tempat ibadah khusus bagi umat Islam maupun Kristen. Sebab, tempat itu juga pastinya memiliki sejarah tersendiri bagi masing - masing sudut pandang umat Islam dan Kristen.
Share:

RUU Permusikan, Niat Baik yang Dianggap "Lucu"

(Instagram/Endah N Rhesa)
Sudah banyak media berita daring atau luring di Indonesia yang menempatkan pemberitaan Rancangan Undang-undang tentang Permusikan atau RUU Permusikan sebagai trending topic selama beberapa hari terakhir. Hal ini tak lepas dari kontroversi RUU Permusikan, khususnya pada  Pasal 5 dan Pasal 32, yang terkesan membatasi kreativitas musisi di Indonesia.

Selain Pasal 5 dan Pasal 32, masih banyak Pasal  RUU Permusikan yang mengalami kontroversi. Salah satunya yaitu Pasal 42:

“Pelaku usaha di bidang perhotelan, restauran, atau tempat hiburan lainnya wajib memainkan Musik Tradisional di tempat usahanya.”

Sepintas tak ada yang aneh atau salah dengan kalimat tersebut. Namun, bila ditelaah lebih lanjut, ada sesuatu mengganjal yang sebelumnya sudah banyak dikritik oleh para musisi. Batasan-batasan dalam kalimat tersebut sangat tidak jelas. Tempat hiburan apa yang dimaksud? Musik tradisional seperti apa yang dimaksud? Apakah musik tradisional Indonesia atau segala jenis musik tradisional yang ada di dunia?

Kalimat dalam pasal 42 tersebut pun jadi ambigu. Jika dilihat dari sudut pandang pelestarian budaya, jelas ide di dalam pasal 42 tersebut sangatlah cerdas. Sebaliknya, jika dilihat dari musik tradisional di kacamata seorang pelaku usaha, apakah bisa ide tersebut diterapkan secara tepat guna? Bayangkan saja jika seorang pelaku usaha tempat hiburan yang khusus menyediakan musik rock tiba – tiba harus memainkan musik tradisional, atau restauran bertema Arab yang tiba – tiba harus menyesuaikan konsep untuk menambah permainan musik tradisional. Masa iya, tempat-tempat hiburan sekelas pub memutar musik tradisional dengan alat musik tradisional? Pemikiran - pemikiran tersebut pasti satu atau dua kali sempat muncul di dalam pikiran tiap orang yang pertama membaca kalimat dalam pasal 42.

Secara sudut pandang nasionalisme, ide dalam pasal 42 tersebut memang bagus. Musik tradisional bisa terus berkumandang di tengah gempuran musik - musik kontemporer. Namun, harus diiringi dengan penjelasan yang lebih lengkap dan berimbang sesuai dengan kondisi di lapangan. Selain itu, tidak dijelaskan juga kontrol apa yang akan digunakan untuk menerapkan pasal 42 dalam RUU Permusikan. Akan menjadi suatu hal yang percuma jika tidak didetailkan dari awal, sehingga dalam pelaksanaan RUU Permusikan pun menjadi sia – sia pada akhirnya. Selain banyak berisi pasal karet, pasal-pasal yang lain juga berpotensi memarjinalkan musisi independen yang hanya berpihak pada industri besar saja.

Tidak bisa dipungkiri, banyak musisi independent yang saat ini sedang berkembang, mewarnai skema musik lokal, karena seiring waktu, ragam musik hadir dengan tatanan segar dari para sosok kreatif baru. Musisi independet lebih mengutamakan kualitas dan kejujuran musiknya, tidak bisa diatur oleh keinginan produsen label musik. Semua lagu yang diciptakan merupakan hasil idealisme yang murni dari musisi itu sendiri.

Indonesia merupakan negara Demokrasi, semua orang bebas untuk berekspresi, musisi bernyanyi berdasarkan isi hati. Lantas, masih pantaskah dipertahankan RUU Permusikan tersebut yang cendrung membelenggu para musisi berekspresi.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilihat dari sudut pandang positif dalam beberapa pasal RUU Permusikan yang dipermasalahkan oleh sebagian besar musisi Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan sudut pandang positif tersebut berubah menjadi sebaliknya dan menjadi niat baik yang dianggap "lucu" pada akhirnya.

Alangkah lebih elok, jika DPR mampu menganalisa apa sebenarnya yang dibutuhkan rakyat. Alih-alih mensahkan RUU permusikan, bukankah masih banyak permasalahan rakyat yang mengharuskan adanya UU untuk kesejahteraan mereka. Bagi kami rakyat biasa, RUU permusikan tidak dibutuhkan untuk saat ini. Karena dari sudut pandang manapun, kontra terhadap RUU permusikan lebih banyak dari yang pro.


Sumber diskusi artikel :

NB : Artikel ini dianggit untuk menyelesaikan tantangan ke 10 dari #katahatichallenge #katahatiproduction @_katahatikita dari kelompok 14 (Anggita R. K. Wardani, Bahirah Habibah, Muhammad Husein Lubis)


Share:

Lipstik Dua Warna


Bunyi sirine meraung - raung di tengah malam, memecah sunyi dalam kuasa bau anyir yang menusuk hidung. Puluhan orang berkerumun di sekitar garis kuning yang dipasang oleh pertugas berseragam coklat. Setidaknya itu adalah hal yang biasa bagi pria tak terlalu tinggi, tapi bertubuh tegap, yang sedang duduk di samping sumber bau anyir.

Ia mengamati mayat yang terbungkus rapi dalam sebuah kardus. Bunga mawar putih yang masih segar tampak ditaburkan di atas wajah korban. Kepalanya menggeleng pelan, miris melihat wajah korban yang selalu hancur tak berbentuk.

"Ini sudah yang ke delapan, Pak." Kata petugas forensik lapangan yang sedang olah TKP bersama petugas polisi lainnya.

Pria itu masih mengamati secara dalam kondisi mayat, mencoba berpikir ke dalam sudut pandang sang pelaku. Mengapa wajah korban harus dihancurkan setelah meninggal, mengapa pelaku selalu meletakkan mawar putih dan mengapa tubuh korban selalu dimasukkan ke dalam kardus.

"Tapi, ada yang berbeda kali ini, korban sepertinya meninggalkan pesan sebelum meninggal."

"Apa itu?"

Sang petugas forensik pun menunjukkan kantong plastik berisi lipstik berwarna merah, "patahan ujung lipstik ini ditemukan di dalam mulut korban."

"Lipstik?"

Pria itu melihat lipstik aneh yang terdiri dari dua warna, tampak seperti dua buah lipstik yang digabungkan sendiri oleh sang pemilik lipstik, "apa ada lipstik lain seperti ini di rumah korban?"

"Tidak ada, Pak, sepertinya ini milik pelaku."

"Oke, terimakasih, Via."

"Sama - sama, Pak."

Lipstik dua warna, petunjuk baru bagi sang pria untuk melacak jejak pelaku. Sudah berbulan - bulan lamanya pria itu bersama pihak kepolisian coba menangkap sang pelaku, namun selalu kehilangan jejak. Semua kejahatan dilakukan dengan sempurna, kecuali di malam ini. Lipstik dua warna itu adalah kunci untuk kasus pembunuhan berantai yang sedang ia tangani.

***
Hujan menyapa sang pria yang masih diliputi teka - teki lipstik dan pembunuhan berantai itu. Angin yang menyertai hujan, menusuk tubuh sang pria dengan dingin. Secangkir kopi hangat yang disediakan oleh kafe di sudut kota itu tak mampu lagi menghangatkan tubuhnya.

Pria itu hampir meninggalkan kafe untuk pulang ketika ia melihat sosok wanita yang dikenalnya, tetapi cara berpakaiannya sangat berbeda. Wanita itu tengah berjalan dengan seorang pria paruh baya. Pria itu pun mengikuti kedua orang itu hingga sampai di suatu rumah yang cukup tua.

Pip pip pip!

Telepon sang pria tiba - tiba berbunyi, mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu. Keningnya sedikit berkerut mengetahui siapa yang sedang menelpon, "iya, Via? Kamu sedang apa dengan pria paruh baya itu?"

"Hah? Via sedang di laboratorium, Pak."

"Loh, bukannya kamu ...."

Belum sempat meneruskan kata - katanya, pria itu langsung pingsan. Seseorang memukul kepalanya dari belakang dengan sangat keras.

***
Di sebuah ruangan yang minim cahaya, bau anyir menyerbak ke ruangan. Seorang wanita tampak menaburkan mawar putih di atas kardus. Sementara itu, pria muda yang tadi tak sadarkan diri, kini mulai sadar kembali. Kepalanya masih sedikit pusing akibat pukulan benda keras tadi.

Ia mulai membuka kedua mata, di hadapannya tampak sosok seorang wanita yang berdiri membelakangi. Ia terdengar sedang menyanyikan sebuah lagu perpisahan untuk sebongkah kardus di hadapannya. Tak lama kemudian, wanita itu menoleh sambil memegang sebuah lipstik dua warna yang ujungnya patah.

"Viaa!!" Pekik pria itu setengah menjerit

Wanita itu heran mendengar nama yang diteriakkan oleh sang pria. Ia spontan mengangkat tangan kanan ke telinga, "Halo, Via sedang di laboratorium, Pak. Hahahahahahahahaha!"

"Jadi, kamu yang melakukan perbuatan keji itu?"

"Via? Gadis manis itu sedang tertidur," ucap wanita itu sambil melotot,"perkenalkan, namaku Kensa."

"Apa - apaan kamu Via!"

"Sudah kubilang namaku Kensa!"

Pria betubuh tegap itu pun sadar maksud lipstik dua warna yang terakhir dipegang oleh korban ke delapan. Ia hendak menenangkan Kensa di tubuh Via, tetapi semua telah terlambat. Bau anyir darah sekali lagi tercium, kali ini berasal dari tubuh pria itu.

***
"Kakak! Kakak! Jangan tinggalkan Via!" Seru gadis kecil itu sambil menaburkan mawar putih, menutupi wajah kakak perempuannya yang sudah hancur. Mawar putih dari buket terakhir yang diberikan oleh sang Kakak kepada gadis kecil bernama Via itu. Gadis kecil itu terus menangis hingga bunyi aneh mirip alarm terdengar memekakkan telinga.

Wanita itu pun terbangun dari mimpi panjang di masa lalu. Kepalanya tiba - tiba pusing. Bekas lelehan air mata masih tampak menggenang di kedua pelupuk mata. Sesuatu terasa mengganjal di tangan kanannya, ada sesuatu yang sedang ia genggam, sebuah lipstik dua warna yang telah patah di ujungnya.

***

Tulisan ini diikutkan dalam #katahatichallenge #katahatiproduction yang diadakan oleh @_katahatikita

Share:

Semua Ikan di Laut juga Bisa Terbang

Assalamu'alaikum Surabaya!

"Ibu, itu jenis ikan apa?" Tanya si kecil sambil menunjuk makhluk berwarna hitam tanpa sirip, tetapi bisa berenang seperti ikan.

Sang ibu lantas merangkul si kecil, "Itu manusia, jangan dekat - dekat, nanti kamu terluka."

"Manusia? Kenapa mereka juga bisa berenang seperti kita, Bu?"

"Entah, mungkin karena benda yang mereka bawa di punggung."

Mata si kecil tampak berbinar, "kalau begitu aku juga bisa terbang sampai ke atas langit, Bu?"

"Huss! Jangan mimpi, kamu itu ikan, cukup berenang di lautan saja."

"Tapi, manusia saja bisa berenang di dalam laut, kenapa aku tidak bisa terbang ke atas langit?"

Sang Ibu hanya menggeleng pelan, "Sudah, tak usah bermimpi yang mustahil."

Dua ikan mungil bersirip kuning dengan tubuh berwarna biru tersebut, lantas menjauh dari makhluk mirip ikan yang disebut sebagai manusia. Si kecil masih tampak belum puas dengan jawaban sang ibu. Ia bertekad suatu saat akan terbang, meninggalkan laut dan meraih langit di luar sana, yang juga berwarna biru seperti lautan.

***
Entah kenapa saat melihat para penyelam di laut, pikiran liar tentang apa yang kira - kira dipikirkan para ikan saat melihat penyelam itu masuk ke dalam lautan, muncul begitu saja. Sebuah imajinasi ketika aku bermain dengan sudut pandang para ikan. Apakah mereka juga memiliki mimpi seperti manusia, bahkan hingga sampai ke titik paling mustahil untuk diwujudkan? Apakah mereka juga ingin bermain ke dunia manusia, seperti manusia yang kerap datang ke dunia mereka? Semua pertanyaan itu terus mengusik pemikiranku, hingga muncul suatu pernyataan spontan yang meloncat keluar dari otakku.
"Kalau manusia bisa menyelam ke dalam lautan, maka semua ikan di laut juga bisa terbang ke atas langit."
Bagiku pernyataan tersebut adalah hal yang tak mustahil untuk dilakukan. Terbang bukan hanya tentang mengepakkan sayap, tetapi juga tentang bagaimana sampai ke atas dengan memanfaatkan apa yang ada. Apakah ikan yang ingin terbang harus memiliki sayap dulu? Jelas iya, tetapi tak selalu menggunakan sayap seperti burung atau makhluk terbang lainnya. Bisa saja ikan itu masuk ke akuarium kecil, lantas naik balon udara untuk terbang. Sederhana bukan? Hanya saja banyak yang masih berpikir secara umum tentang arti terbang, sehingga sering melupakan makna terbang yang sesungguhnya. Pada akhirnya pikiran itu sendiri yang menghalangi semua mimpi untuk terwujud.


Bermimpi tinggi adalah suatu hal yang masih sering dianggap remeh di masyarakat. Suatu kenyataan garis keras yang siap menjegal para pemimpi yang berani bermimpi, menjadikan generasi selanjutnya semakin takut untuk bermimpi atau lebih tepatnya takut gagal mewujudkan mimpi. Ditambah lagi, doktrin bahwa gagal adalah suatu hal yang hina semakin menciptakan jurang yang dalam antara mimpi dan para pemimpi.

Tiada yang salah dengan bermimpi atau pun gagal mewujudkan mimpi. Coba dipikirkan kembali, apakah para tetangga - tetangga dalam masyarakat itu ikut andil membiayai atau membantu kita dalam proses meraih mimpi? Jika iya, maka wajar jika mereka mempermasalahkan kegagalan dalam proses mewujudkan mimpi. Jika tidak, pantaskah kita yang harus hanyut dalam caci maki mereka?

Kembali lagi pada perumpamaan ikan yang bisa terbang. Terbang bukan lagi tentang sayap yang tak dimiliki oleh para ikan, tetapi tentang bagaimana cara ikan itu tetap bisa terbang tanpa menggunakan "sayap". Begitu pula tentang mimpi, banyak jalan lain yang bisa digunakan selain jalan utama untuk meraih mimpi. Jangan terlalu fokus menggunakan jalan utama yang tak sesuai kemampuan, segera putar balik dan cari jalan lain yang sesuai kemampuan. Jalan lain itu pasti ada, selama kita memercayainya.

#katahatichallenge #katahatiproduction #unpopularopinion
Share:

Selendang Sutra di Jembatan Merah

(Sumber gambar : @ach_muchlison, diedit oleh @anggitarkwardani)
Sosok kakek berusia lanjut tergeletak tak berdaya di kamar berwarna serba putih. Bau obat yang menusuk hidung tercium di seluruh ruangan itu. Alat kardiogram yang terpasang di tubuh sang kakek mengeluarkan suara selaras dengan detak jantungnya. Seorang wanita paruh baya dan gadis muda duduk di samping ranjang kakek itu.

"Rani," ujar wanita paruh baya itu sambil mengusap kepala kakek, "Bunda bisa minta tolong?"

"Iya, kenapa, Bund?"

Wanita paruh baya itu lantas memandang wajah putrinya lekat - lekat, "ada barang Kakek yang harus kamu kembalikan kepada sang pemiliknya di Surabaya."

"Hah? Rani nggak ngerti Bund, barang apa? Kenapa nggak dikirim aja?"

Wanita yang dipanggil Bunda itu menggeleng pelan, ada haru yang disembunyikan lewat matanya, "barang itu sangat berharga bagi Kakek. Harusnya Kakek yang mengantarkan setelah sekian lama, tapi Kakek tiba - tiba jatuh sakit. Kamu berani kan berangkat ke Surabaya?"

Gadis muda itu hanya mengangguk pelan, "barang apa yang begitu berharga untuk Kakek, Bund?'

Bunda mengambil sebuah kotak usang berisi selendang sutra merah jambu, lalu menyerahkannya kepada Rani, "di jaman perang kemerdekaan negara kita, selendang sutra sering digunakan untuk membalut luka para pejuang."

Hujan turun dengan deras. Sederas kenangan yang sedang diceritakan oleh Bunda. Kenangan tentang Kakek, sang pemilik selendang sutra itu dan sahabat Kakek di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebuah cerita yang datang dari puluhan tahun silam di kota yang kini dijuluki kota Pahlawan.

***

"Aku akan kembali berjuang, Ran," sosok lelaki berpakaian seperti tentara itu menyeruak keheningan sore di atas jembatan merah.

"Lagi?" Gadis berpakaian kebaya dengan atasan berwarna putih itu sedikit menunduk, menyembunyikan kesedihan sekaligus ketakutan akan kehilangan sosok lelaki di hadapannya.

Lelaki itu tersenyum sambil memandang gadis itu, "negara ini masih harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan, Ran."

"Aku ikhlas, Mas," balas gadis itu sambil memandang aliran sungai di jembatan merah, "apa pun jika itu demi masa depan negara kita, negara tempat berpijak anak cucu kita kelak."

"Rani, lihat aku," lelaki itu menggenggam kedua tangan gadis itu, "aku janji akan kembali, hidup atau mati."

Air mata mulai menghiasi kedua bola mata gadis itu. Ia pun melepas kain selendang sutra yang menutupi kepalanya dan memberikannya kepada lelaki itu, "biarkan selendang sutra ini sekali lagi menjagamu hingga kembali lagi ke kota ini."

"Do'akan aku dan Hari kembali dengan selamat. Kami akan terus berjuang untuk melanjutkan pengorbanan darah suci para pahlawan yang telah banyak mengalir demi negara ini."

"Do'aku selalu bersamamu, Mas."

Senja di tepi jembatan merah kala itu ditutup dengan air mata dari sang gadis. Air mata untuk mengiklaskan dan melepas sang kekasih dengan dua kemungkinan yang akan dialami oleh sang kekasih. Kembali dengan hidup atau gugur sebagai pahlawan tanpa nama.

Hari demi hari berlalu, menyisakan penantian penuh tanda tanya dari sang gadis. Sementara itu, Surabaya tetap berjalan seperti biasa. Tiap hari ia selalu menunggu di tepi jembatan merah hingga batas senja tiba, lalu pulang dengan resah yang mengikuti kemana pun ia pergi.

Suatu ketika, seperti biasa ia menunggu dengan penuh harapan dan do'a. Sosok lelaki berpakaian tentara datang menghampiri sang gadis. Air mata memenuhi wajah lelaki itu. Amarah dan penyesalan membuatnya tak kuasa berdiri tegak, lantas duduk bersimpuh sambil menangis begitu keras. Tanpa kata, hening di antara senja yang menghiasi langit kota Surabaya.

Bukan lelaki itu yang ditunggunya, tetapi gadis berkebaya itu mampu membaca pesan dalam air mata sahabat kekasihnya, "Rani ikhlas apa pun yang terjadi dengan Mas Dimas." 

***

"Nak Rani? Nak?"

Suara sang pemilik rumah berdasarkan alamat yang diberikan oleh Bunda membuyarkan segala lamunan Rani tantang cerita dibalik selendang sutra itu, "ah, iya Kek?"

"Nak Rani mendapatkan selendang sutra ini dari siapa?"

"Dari kakek saya di Semarang, namanya Dimas."

Sosok lelaki berusia lanjut itu terlihat sangat kaget, "benar ini dari Mas Dimas? Yakin?"

"Iya, Kek. Saya mau mengembalikan selendang ini ke Nenek Rani."

Tiba - tiba sang kakek menangis tanpa suara sambil memeluk Rani, seperti ada beban mendalam yang dibawa oleh lelaki itu. Berkali - kali ia mengucap nama Dimas sambil meminta maaf.

***

Di seberang jembatan merah itu, tiap hari Nenek Rani akan duduk di kursi depan Taman Sejarah. Dia menderita demensia di usianya yang tergolong senja. Dalam ingatannya hanya ada masa ketika ia berjanji dengan Kakek Dimas. Ia hanya ingat bahwa tiap hari ada seseorang yang ditunggunya di jembatan merah. Segala ingatannya tentang Kakek Hari pun lenyap.

Rani memberikan selendang sutra berwarna merah jambu itu kepada Nenek Rani. Tangannya yang lemah serta sedikit gemetar, perlahan meraih selendang yang berusia lebih dari setengah abad. Tanpa kata, hening dan sunyi. Air mata Nenek Rani merembet keluar. Dalam diam, Nenek Rani menangis sambil memeluk erat selendang itu. Selendang yang pernah diberikannya kepada sang kekasih. Kakek Hari hanya memandang istrinya dengan tatapan sayu.

Rrrrrrr! Rrrrrrrrr!

Ponsel Rani tiba - tiba bergetar. Sebuah panggilan sedang singgah di telepon genggamnya. Ia pun berjalan agak menjauh dari tempat duduk Nenek Rani dan Kakek Hari. Sementara itu, Nenek Rani masih memeluk erat selendang sutra itu. Pikirannya tampak menerawang jauh melewati batas masa kini untuk kembali ke masa lalu. Masa ketika area jembatan merah menjadi saksi bisu janji yang dibuat Nenek Rani dan Kakek Dimas.

Tepian jembatan merah tampak sepi, tanpa ada satu pun manusia yang berlalu - lalang. Nenek Rani melihat sekeliling. Dari kejauhan, samar - samar ia melihat sosok lelaki berpakaian tentara sedang melambaikan tangan ke arahnya. Lelaki itu berjalan ke arah Nenek Rani. Semakin lama semakin mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Nenek Rani. Wanita berusia lebih dari 90 tahun itu memandang wajah tentara itu. Sekali lagi, air mata kembali meluap keluar dari kedua matanya.

Tentara itu meraih selendang sutra berwarna merah jambu dari genggaman Nenek Rani, lalu memakaikan di kepala Nenek Rani. Sebuah senyuman mengembang di wajah Nenek Rani. Tentara itu lantas mengulurkan tangan kepada wanita yang ada di hadapannya.

"Akhirnya kamu menepati janjimu," ujar Nenek Rani pelan.

Kakek Hari mengusap perlahan kepala Nenek Rani. Tubuh istrinya menjadi begitu dingin. Mata kakek menatap lurus ke depan, seperti sedang melihat sesuatu. Tak lama kemudian, air mata mulai jatuh dari kedua mata sang kakek. Beribu - ribu penyesalan datang dari lubuk hati yang terdalam kepada sahabatnya, juga kepada wanita yang sejak dulu sudah dicintainya.

Bersamaan dengan itu kabar duka dari Semarang datang menghampiri Rani. Mereka berdua telah saling menunggu dan menepati janji yang sudah mereka buat puluhan tahun silam di jembatan merah dengan selendang sutra sebagai pengikat janji. Kini, mereka pun pergi bersama dalam untai janji selendang sutra, menuju keabadian yang tak kan memisahkan mereka lagi.

***

Kota Surabaya masih saja panas seperti kata orang, meskipun hari ini hujan deras sedang menyapa. Dari balik jendela sebuah rumah, sosok lelaki berusia hampir 100 tahun memandang hujan itu dengan banyak sekali penyesalan. Segala kenangan berkecamuk dalam kesendirian yang dia alami. Begitu sepi dan sunyi dalam balutan derai hujan.
Maafkan aku, Rani. Aku terpaksa berbohong tentang kematian Dimas di medan perang. Perang yang begitu brutal menyebabkan Dimas kehilangan kedua tangan. Ia merasa tak pantas kembali kepadamu dalam keadaan seperti itu. Dia begitu putus asa hingga tak mau menemuimu lagi. Dosaku yang paling besar adalah mencintaimu dari awal, hingga aku memanfaatkan hal itu untuk memilikimu. Aku sungguh tak tega melihatmu begitu tersiksa dalam penantian yang tak pasti.

Dimas, Rani, kalian adalah sahabat yang paling aku sayangi. Sekali lagi, maafkan aku.

***

Cerita ini ditulis setelah mendengar lagu berjudul "Cinta dan Rahasia" yang dinyanyikan oleh Yura Yunita dan Glenn Fredly.


Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Instagram Gallery

My Community


ID Corners
Kumpulan Emak2 BloggerBlogger Perempuanindonesian hijab blogger