Restorasi Citarum Berkelanjutan Lewat Kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’

 Assalamu'alaikum, Surabaya

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengubah dunia.” Begitulah kata – kata dari seorang presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan, yaitu Madiba atau lebih dikenal dengan nama Nelson Mandela. Jika pendidikan bisa digunakan untuk mengubah dunia, maka bukanlah hal yang sulit menggunakan pendidikan terhadap masyarakat, sebagai senjata untuk restorasi sungai Citarum.

Prinsip tersebut banyak didukung oleh berbagai penelitian yang menyimpulkan bahwa faktor pendidikan adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku masyarakat. Pada era globalisasi, masyarakat diharapkan tak hanya menjadi konsumen teknologi, namun juga sebagai masyarakat yang mampu menguasai sekaligus mengembangkan teknologi (Miarso, 2004 dan Widyasari, 2017). Dari sini, edukasi masyarakat DAS menjadi tak kalah penting di samping pengembangan teknologi untuk restorasi sungai Citarum. Perubahan perilaku masyarakat yang sadar teknologi, sadar kebersihan lingkungan serta sadar potensi Citarum juga dibutuhkan untuk menyokong restorasi Citarum, tak hanya bersifat sementara, namun berkelanjutan. 

Gambar 1. Kondisi sungai Citarum (sumber gambar : www. greenpeace.org)
Sungai Citarum saat ini sedang tercemar berat. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat sekitar sungai Citarum menjadi salah satu penyumbang utama limbah domestik, kotoran ternak atau manusia yang bebas meluncur ke dalam aliran sungai Citarum. Selain itu, terdapat 500 pabrik yang beroperasi di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) dan sebanyak 80% pabrik membuang limbah secara langsung ke sungai Citarum (Greenpeace Indonesia, 2018). Bahkan pada tahun 2013 lampau, sungai Citarum mendapat predikat sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia berdasarkan dua organisasi lingkungan paling berpengaruh di dunia, Green Cross of Switzerland dan The Blacksmith Institute. Pada daftar tersebut, sungai Citarum disandingkan dengan lokasi paling tercemar dan beracun di dunia seperti Chernobyl yang masih tercemar radioaktif dari ledakan nuklir dari tahun 1986. Pada laporan Blacksmith, sungai Citarum mengandung polutan kimia berupa logam timah, mangan, aluminium serta konsentrat besi lebih tinggi dari angka rata – rata dunia (tempo.co, 2013).
Gambar 2. Limbah di sungai Citarum (sumber gambar : www.pikiran-rakyat.com)
Di sisi lain, sungai terpanjang sekaligus terlebar di Jawa Barat ini sebenarnya memiliki banyak manfaat dan potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan. Sebagai contoh, sungai Citarum telah menghidupi 28 juta masyarakat melalui suplai air untuk air minum, listrik, irigasi, peternakan dan industri. Berdasarkan informasi tersebut, sungai Citarum sangat berpotensi sebagai sumber energi ramah lingkungan di masa depan. Hanya saja, cukup disayangkan bahwa belum ada kontrol yang terstruktur dari masyarakat terkait pemanfaatan potensi sungai Citarum untuk masa depan, sehingga masih banyak dampak negatif yang didapatkan akibat perilaku masyarakat itu sendiri.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk restorasi sungai Citarum yang juga melibatkan masyarakat dalam perubahan pola pikir, sikap dan perilaku untuk menjaga lingkungan seperti program Kampung Berbudaya lingkungan (Eco Village) yang dicanangkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Barat. Tak berhenti sampai di situ, pemerintah kabupaten Bandung Barat juga mencanangkan program Citarum BESTARI (Bersih, Indah, Sehat dan Lestari) dilandasi PERGUB 78 tahun 2005 sebagai upaya penanggulangan Sungai Citarum. Program tersebut tak main – main  karena bernilai fantastis sebesar 6,36 M. Pada program Citarum BESTARI, semua elemen masyarakat dibantu oleh kepolisian dan TNI AD terjun langsung melalui kegiatan penghijauan, penanggulangan sampah dan pengendalian pencemaran limbah pabrik (Widyasari, 2017 dan jabarprov.go.id, 2018).

Sayangnya, hasil yang didapatkan masih belum memberikan dampak signifikan bagi sungai Citarum. Hanya terjadi perubahan fisik, yaitu bau air sungai yang tidak lagi menyengat. Belum ada benang merah yang kuat antara pemerintah, peneliti dan masyarakat dalam pelaksanaan berbagai program pemerintah. Minimnya publikasi tentang teknologi yang telah diciptakan untuk restorasi Citarum dan informasi tentang potensi sungai Citarum, menyebabkan masyarakat masih belum sadar sepenuhnya untuk menjaga kebersihan sungai Citarum. Ditambah lagi, menurut kepala Pappiptek LIPI Trina Fizzanty, sebanyak 54% masyarakat indonesia masih memiliki pemahaman serta akses informasi yang rendah tehadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif dalam upaya restorasi sungai Citarum.

Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia turun tangan dengan mencanangkan Program Citarum Harum, suatu langkah untuk mengembalikan Citarum menjadi sungai yang bersih, bebas pencemaran dalam 7 tahun. Salah satu solusi sederhana untuk mendukung program Citarum Harum, namun juga bisa berdampak panjang untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan edukasi masyarakat sekitar Citarum. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Widyasari (2017), tingkat pendidikan dan pemahaman adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku masyarakat bersih lingkungan di sekitar sungai Citarum. Sebesar Sehingga edukasi dapat dijadikan salah satu sarana ampuh untuk restorasi sungai Citarum di masa depan, dengan membentuk perilaku masyarakat yang sadar ilmu pengetahuan dan teknologi, sadar bersih lingkungan dan sadar potensi sekitar.

Edukasi dilakukan melalui pembentukan kader pemuda ‘Arjuna-Srikandi Citarum’.  Tujuan edukasi ini adalah membentuk perilaku masyarakat sekitar sungai Citarum yang sadar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi restorasi sungai Citarum, sadar lingkungan bersih dan sadar pemanfaatan potensi dari sungai Citarum di masa depan. Para pemuda yang tergabung dalam Arjuna – Srikandi Citarum tersebut akan terus melakukan pembentukan kader baru dari generasi ke generasi, membentuk sistem edukasi yang terus berlanjut di masa depan. Sistem edukasi yang digunakan dalam kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’ dapat dilihat pada infografis berikut ini (Gambar 3). Secara garis besar, program kader Arjuna – Srikandi Citarum terbagi menjadi 5 tahap :
  1.  Tahap pembentukan kader awal Arjuna – Srikandi
  2. Tahap pendampingan kelompok masyarakat
  3. Tahap pembentukan perilaku masyarakat sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum.
  4. Tahap pengembangan sistem restorasi Citarum di DAS Citarum
  5. Tahap keberlanjutan program
Gambar 3. Infografis tahapan kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’
Pada tahap pertama akan dilakukan pembentukan kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’. Sebagai langkah awal, para pemuda calon Arjuna dan Srikandi sungai Citarum akan diambil dari beberapa perguruan tinggi. Para pemuda ini kemudian dibekali pengetahuan tentang kebijakan Citarum Harum dan pelatihan soft skill serta hardskill yang meliputi :
  • Pelatihan skill komunikasi
  • Workshop tentang IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
  • Pemberian motivasi untuk inovasi peningkatan potensi Citarum di masa depan
  • Pelatihan pembuatan teknologi sederhana untuk peningkatan potensi Citarum seperti penyaringan air, pembuatan biogas dari kotoran hewan atau manusia (Chen dkk., 2010), pembangkit listrik tenaga sampah (Sejati, 2009 dan Marc, 2011), dan lain lain.
Tahap selanjutnya, para kader harus membagi ilmunya kepada masyarakat melalui pendampingan terhadap kelompok – kelompok masyarakat di sekitar sungai Citarum mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan. Pendampingan dilakukan secara intensif hingga kelompok – kelompok masyarakat di sekitar sungai sudah paham tentang kebijakan Citarum Harum, teknologi untuk restorasi sungai Citarum, serta potensi DAS sungai Citarum. Kelompok masyarakat juga sudah harus bisa mulai mandiri dalam mengolah pemanfaatan serta potensi sungai Citarum melalui cipta karya sederhana atau produk, menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah diajarkan.

Kader pemuda beserta masyarakat yang sudah paham terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) beserta pengetahuan lain tentang manfaat dan potensi Citarum, akan mencari kader – kader pemuda baru untuk menjaga sistem kader lingkungan yang telah terbentuk. Proses perekrutan kader Arjuna – Srikandi akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dengan adanya keberlanjutan atau regenerasi dari kader Arjuna – Srikandi Citarum, masyarakat yang lebih sadar iptek serta potensi Citarum akan terus bertambah.

Saat masyarakat sadar iptek sudah terbentuk dengan kuat, maka sangat mudah untuk menuntun masyarakat sekitar Citarum untuk cepat beradaptasi dengan isu iptek mengenai restorasi sungai citarum secara masif dan struktural. Tahap ketiga dari serangkaian program kader Arjuna – Srikandi Citarum adalah membantu koordinasi antara perguruan tinggi, lembaga peneliti, pemerintah, masyarakat sekitar sungai Citarum serta semua elemen masyarakat lainnya untuk mengimplementasikan suatu sistem teknologi berkelanjutan pada restorasi sungai Citarum. Teknologi tersebut digunakan untuk penyaringan air, biogas dari kotoran hewan atau manusia serta sampah untuk pembangkit listrik.

Tahap terakhir adalah pengembangan sistem restorasi Citarum. Pada tahap ini akan mengerahkan seluruh elemen masyarakat untuk membantu masyarakat sekitar DAS Citarum dalam mengembangkan potensi Citarum untuk membentuk ‘Kampung Hijau Pintar DAS Citarum’. Suatu kampung dengan perilaku masyarakat yang sadar iptek, lingkungan dan potensi sungai Citarum sebagai sumber energi ramah lingkungan masa depan. Tiap rumah dalam kampung itu, diharapkan memiliki teknologi sederhana pengolahan air limbah rumah tangga lewat penyaringan air, biogas untuk memasak dari kotoran hewan atau manusia, serta listrik mandiri dari sampah.

Setelah keempat tahap pada program kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’ terpenuhi, maka perilaku sadar iptek, lingkungan dan potensi dari masyarakat sekitar DAS Citarum akan membuat restorasi sungai Citarum jauh lebih mudah diterima, diimplementasikan dan dijaga keberlanjutannya. Lebih jauh lagi, perubahan perilaku masyarakat tersebut dapat meningkatkan potensi sungai Citarum untuk masa depan. Salah satunya adalah promosi masyarakat DAS Citarum sebagai ‘Kampung Hijau Pintar DAS Citarum’. Pada tahap ini, peran para Arjuna dan Srikandi Citarum sebagai ikon sangat dibutuhkan untuk penggerak pemuda lainnya dari seluruh daerah di Indonesia untuk turut andil sebagai bagian dalam program Citarum Harum. Peran generasi muda juga dibutuhkan untuk penyebaran informasi terkait restorasi sungai Citarum serta program pemerintah bertajuk Citarum Harum ke seluruh pelosok Indonesia tanpa kecuali.

Langkah akhir adalah menerapkan keberlanjutan dari perilaku masyarakat sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum. Pada tahap ini, cukup diadakan evaluasi tahunan oleh seluruh pemuda kader Arjuna – Srikandi Citarum, bekerja sama dengan pemerintah dan peneliti terhadap hasil program edukasi masyarakat DAS Citarum berkaitan dengan signifikansi restorasi sungai Citarum. Hasil evaluasi tahunan dapat digunakan untuk menyesuaikan metode edukasi untuk persiapan generasi kader Arjuna – Srikandi Citarum selanjutnya. Sehingga, program edukasi tersebut tidak berhenti, tetapi tetap berjalan karena terus terjadi regenerasi kader pemuda untuk mengedukasi masyarakat DAS Citarum.

Pada akhirnya, program edukasi terhadap masyarakat DAS Citarum melalui kader Arjuna dan Srikandi Citarum akan menjadi senjata ampuh dalam restorasi sungai Citarum. Perubahan pola pikir, sikap serta perilaku masyarakat DAS Citarum menjadi lebih sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum akan membantu pemerintah dalam mendukung program Citarum Harum secara masif, struktural, dan yang paling penting adalah menjadi solusi berkelanjutan untuk mencapai DAS Citarum menjadi sumber energi ramah lingkungan di masa depan.

Referensi :
  1.  Chen, dkk. 2010. Improving conversion of Spartina alterniflora into biogas by co-digestion with cow feces. Fuel Processing Technology, Vol. 91, No. 11. Elsevier : New York.
  2.  Greenpeace Indonesia. 2018. Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali. www.greenpeace.org, diakses pada Minggu, 13 Mei 2018 pukul 12.05
  3. Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana : Jakarta.
  4. Sejati, Kuncoro. 2009. Pengolahan Sampah terpadu. Kanisius : Jakarta.
  5. Tempo. 2013. Citarum, Sungai Paling Tercemar di Bumi. www.tempo.co , diakses pada Minggu, 13 Mei 2018 pukul 10.20
  6.  Marc, J, dkk. 2011. Waste to Energy. Elsevier : New york.
  7. Widyasari, Wafa. 2017. Faktor Determinan Partisipasi Masyarakat Dalam Gerakan Citarum Bestari Terhadap Perilaku Masyarakat Bersih Lingkungan. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Volume 13 , Nomor 2. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
NB : Tulisan ini diikusertakan dalam Writingthon Dikti "Indonesia untuk Citarum Harum" yang diadakan oleh Ristek DIKTI (@ristekdikti @ditjensdid) dan Bitread (@bitread_id)
Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Community


ID Corners
indonesian hijab bloggerKumpulan Emak2 Blogger