HOTEL MAJAPAHIT : Memoar 19 September 1945 di Antara Sisa Kemewahan Gaya Eropa

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"19 September 1945, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan mati di hari itu. Pagi itu, ribuan arek Suroboyo memenuhi jalan Tunjungan. Gelora amarah di dada seketika membara ketika melihat bendera merah-putih-biru kembali berkibar, seakan menghina sucinya darah pahlawan yang ditukar dengan warna merah-putih sebagai lambang kemerdekaan Indonesia. Tanpa komando dari siapa pun, arek Suroboyo memanjat tanpa takut ke atas hotel Yamato. Bersamaan dengan itu, satu per satu timah panas dari Sekutu menembus tubuh arek - arek Suroboyo. Satu per satu kawanku gugur di depan mata. Aku memejamkan mata, menahan tangis dan amarah yang menjadi satu. Aku terus memanjat. Sedikit lagi aku akan sampai di atas, hingga timah panas itu akhirnya menembus tubuhku. Rasanya tubuhku menjadi ringan, melayang di udara. Penglihatanku mulai kabur, tapi aku masih bisa melihat warna merah-putih itu akhirnya berkibar, berlatarkan langit biru yang cerah."

(Sebuah senandika "Seandainya Aku Pemuda yang Gugur di Tanggal 19 September 1945")
-Anggita Ramani-



Banyak yang mengira insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (Hotel Majapahit) terjadi tanggal 10 November 1945. Padahal, jelas tertulis di plakat dinding lantai 2 Hotel Majapahit bahwa insiden perobekan bendera Belanda terjadi tanggal 19 September 1945. Sebagai warga yang #BanggaSurabaya, melakukan #JelajahCagarBudayaSurabaya di Hotel Majapahit adalah salah satu cara untuk menghargai Sejarah besar bangsa Indonesia, khususnya di Surabaya.

MENGENANG MASA LALU HOTEL MAJAPAHIT


SEJARAH SINGKAT BANGUNAN

Bermula dari Sarkies Brother, keluarga pendiri hotel di berbagai dunia seperti The Eastern & Oriental  di Penang (1880), Hotel Raffles di Singapura (1887),  dan Hotel Strand di Birma (1901). Seperti sudah menjadi tradisi Sarkies Brother, Lucas Martin Sarkies (putra Martin Sarkies) mendirikan Hotel Oranje (Hotel Majapahit) tahun 1911 di Surabaya.

Hotel Oranje tahun 1911
Letak plakat peletakan batu pertama oleh Eugene Lucas Sarkies
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Eugene Lucas Sarkies pada 1 Juni 1910, yang merupakan putra dari Lucas, sekaligus cucu dari Martin Sarkies. Penamaan Hotel Oranje diambil dari nama pahlawan Belanda Willem van Oranje.

Plakat berbahasa Belanda tentang peletakan batu pertama

PERGANTIAN NAMA HOTEL

Hotel Majapahit pernah mengalami beberapa kali pergantian nama mulai awal berdiri hingga 2006 :
  • Tahun 1911 : Hotel Oranje
  • Tahun 1942 : Hotel Yamato
  • Tahun 1945 : Hotel Merdeka
  • Tahun 1946 : Hotel L.M.S (Lucas Martin Sarkies)
  • Tahun 1969 : Hotel Majapahit
  • Tahun 1996 : Mandarin Oriental Hotel Majapahit
  • Tahun 2006 - sekarang : Hotel Majapahit

MEMOAR 19 SEPTEMBER 1945

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tak semudah itu mendapatkan pengakuan dari tentara sekutu, terutama Belanda yang masih ingin menguasai kembali Indonesia. Pada 18 September 1945, tentara sekutu dipimpin W.V.Ch. Ploegman tiba di Surabaya dan menempati kamar no. 33 Hotel Yamato. Ploegman lantas mengibarkan bendera Belanda berwarna merah-putih biru di tiang sebelah utara Hotel Yamato. Hal itu membuat Arek - arek Suroboyo marah, lantas berkumpul di sepanjang jalan Tunjungan pada 19 September 1945.

Plakat cerita insiden perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945

GAGALNYA PERUNDINGAN DI KAMAR NO. 33

Kamar No. 33 di hotel Majapahit merupakan salah satu saksi bisu meletusnya Insiden Perobekan Bendera Belanda 19 September 1945. Di kamar itu pula dulunya terdapat semacam 'pintu darurat' yang tembus ke perkampungan.

Kamar Merdeka No, 33

Kisah di kamar ini bermula ketika Sudirman sebagai perwakilan RI yang dikawal oleh beberapa arek Suroboyo, meminta Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda, tetapi Ploegman menolak. Perundingan tersebut pun gagal setelah Ploegman tewas dicekik Sidik dan tentara Belanda menembak Sidik. Beberapa pemuda yang mengawal Sudirman langsung berlari ke arah tiang bendera tempat bendera merah-putih-biru dikibarkan.

Tanpa dikomando, arek Suroboyo yang ada di sekitar jalan Tunjungan turut naik ke atas hotel. Rentetan peluru mulai ditembakkan oleh tentara sekutu dari bawah. Tapi itu semua tak menyurutkan semangat arek Suroboyo, hingga akhirnya mereka berhasil merobek bagian biru dari bendera Belanda itu disertai pekik "Merdeka". Sang merah putih pun kembali berkibar tanpa ada warna lain yang menyertai.


SISA KEMEWAHAN GAYA EROPA DI HOTEL MAJAPAHIT

Kembali ke masa kini, bangunan yang masih berdiri megah di Jalan Tunjungan itu, merupakan salah satu hotel tertua di Indonesia dengan keaslian bangunan yang masih dipertahankan. Banyak sekali bagian bangunan yang masih menunjukkan sisa kemewahan abad lampau dengan gaya khas kolonial Belanda, yang tentunya juga memiliki nuansa gaya Eropa yang elegan.

GAYA ART NOUVEAU - ART DECO

Bangunan yang terletak di Jalan Tunjungan ini dirancang oleh arsitek kelahiran Inggris Regent Alfred John Bidwell, memadukan gaya Art Nouveau dan Art Deco. Salah satu gaya Art Nouveau ada di bangunan yang berada di lantai 2 Hotel majapahit, tempat plakat kisah Insiden Perobekan Bendera Belanda pada 19 September 1945.

 Aliran Art Nouveau identik dengan garis lengkung sebagai pemberontakan atas garis lurus dan geometris primitif
Sedangkan gaya Art Deco tampak kental pada ornamen kaca berbentuk persegi yang geometris serta tersusun dalam pola tertentu. Selain itu juga tampak pada ornamen tradisional dan furniture berbahan kayu jati.

Art Deco : Ornamen kaca berbentuk persegi geometris

BALLROOM BALAI ADIKA

Ballroom bergaya Eropa (Balai Adika) masih menunjukkan sisa kemewahan abad lampau di masa kolonial Belanda. Deretan kursi cantik, dekorasi ruangan serta lampu ruang yang klasik semakin menambah suasana Eropa di jaman dulu. Selain itu, ballroom ini dulu juga digunakan untuk pertunjukan opera atau sekadar spot dansa tuan dan nyonya Belanda.

Bagian ballrom Balai Adika diambil dari lantai 2
Swafoto (selfie) dari lantai 2 dan mencoba menari di lantai 1 ballrom Balai Adika

KORIDOR LENGKUNG

Hotel Majapahit memiliki koridor lengkung (arch) bergaya khas kolonial Belanda dengan warna dominan putih, jendela besar, pintu panjang dan atap yang tinggi. Koridor lengkung itu juga berfungsi sebagai akses sirkulasi udara, penepis air hujan dan sinar matahari langsung.


Koridor lengkung di Hotel Majapahit

KOMPONEN BOVENLICHT

Memasuki lobby hotel, pada langit - langit bangunan akan ada komponen jendela kaca kecil berwarna yang disebut sebagai bovenlicht atau kaca patri. Bovenlicht ini merupakan salah satu ciri khas gaya kolonial Belanda. Bovenlicht ini juga tersebar di beberapa bagian bangunan di hotel Majapahit.

Bovenlicht di lobby hotel
Komponen Bovenlicht di beberapa bagian bangunan Hotel Majapahit

REFERENSI :

  • Brosur dan wawancara pihak Hotel Majapahit
  • Wawancara Alm.Bapak Hartoyik, Ketua LVRI (7 Mei 2017)


Share:

Kelas Inspirasi Surabaya : Kak, Aku Ingin Jadi Alien

Assalamu'alaikum, Surabaya!

"Kakakmu ini tak ingin memberikanmu sepeda atau baju baru. Akan tetapi, ilmu. Agar kau bahagia selamanya. Bukan hari ini saja. Agar kau tidak hanya tertawa, tapi berdayaguna."

Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia 


Surabaya menjadi tempat pertamaku untuk berbagi mimpi dan cita - cita bersama para bocah sekolah dasar yang ada di SDN Sumberejo 2, Benowo. Seperti rentetan kegiatan Kelas Inspirasi pada umumnya, pagi hari diawali dengan perkenalan singkat bersama relawan pengajar sebelum masuk ke kelas masing - masing.

Perkenalan dengan para relawan pengajar Kelas Inspirasi
Murid SDN Sumberejo 2
Di Kelas Inspirasi Surabaya yang ke - 5 ini, aku memperkenalkan profesiku sebagai ilmuwan kimia. Aku mengenakan jas laboratorium yang biasanya kugunakan saat bekerja di laboratorium. Sebelumnya, aku mengajak mereka untuk menebak profesiku dulu.

"Dokter!"

"Suster!!"

"Ibu - ibu posyandu!!"

"Bidan!"

"Ilmuwan!!!"

Akhirnya ada yang menebak dengan benar setelah hampir sebagian besar mereka menyebutkan semua profesi yang sekiranya mengenakan baju putih ketika bekerja. Wajar saja, karena anak - anak hanya ingat atau pun merespon terhadap segala sesuatu yang visual. Mereka cenderung mengingat atau menanyakan apa yang mereka lihat. Selama ini memang profesi seperti dokter atau suster yang lebih sering mereka lihat di kehidupan sehari - hari. 

Memperkenalkan profesi kepada anak - anak
Aku pun menjelaskan profesiku sebagai dosen sekaligus ilmuwan yang bekerja di laboratorium dengan menggunakan praktikum sederhana berjudul "Lava Lamp". Praktikum yang bisa mereka coba sendiri di rumah dnegan menggunakan minyak, air berwarna dan tablet minuman vitamin C. Agar menarik perhatian mereka, tak lupa kuajarkan mantra singkat layaknya pesulap seperti "Sim salabim, abrakadabra, tring tring tring tring, Booooom!!!"

Praktikum Lava lamp
Setelah asyik melakukan praktikum sederhana, tiba saatnya ketika aku melemparkan pertanyaan ingin menjadi apa ketika dewasa nanti. Satu per satu menjawab ingin menjadi dokter, guru, ilmuwan, tentara, polisi, pemain sepak bola dan lain - lain. Hingga tiba giliran seorang anak laki - laki dengan tubuh cukup kecil, kulit kecoklatan dan rambut yang disisir rapi menjawab dengan lantang, "Kak, aku ingin jadi alien!!"

Apa cita - cita kalian?
Bagai disambar petir di siang bolong, aku cukup terkejut saat mendengar jawaban itu. Kontan seisi kelas langsung tertawa mendengar jawaban si mungil ini. Jawaban yang pastinya dianggap "aneh" oleh kebanyakan orang. Tapi hal itu tak berlaku padaku, aku justru penasaran setengah mati kenapa si mungil bisa menjawab seperti itu.

Aku pun mendekati bangku si mungil itu sambil bertanya,"Sayang, kenapa kok pengen jadi alien?"

"Hmmmm," dia terlihat berpikir sejenak,"biar bisa jalan - jalan."

"Jalan - jalan? Kemana?"

"Ke luar angkasa, Kak. Lihat bintang - bintang sama planet. Di film Starwars kan gitu, aliennya bisa jalan - jalan keliling luar angkasa."

 Aha! I've got the point. Aku pun tertawa geli, akhirnya mengerti, kenapa si mungil bisa memiliki cita - cita untuk menjadi alien. Rasanya aku ingin tertawa sekeras - kerasnya mendengar alasan polos tetapi penuh imajinatif dari si mungil. Tapi aku harus menahan diri dengan tertawa secukupnya, agar tak melukai perasaan atau pun menghancurkan imajinasi penuh mimpi miliknya.

"Kamu pengen jalan - jalan ke luar angkasa?"

"Iya, Kak hehehe."

"Kenapa nggak jadi astronot aja?"

"Astronot itu apa Kak? Temannya alien kah?"

Aku kembali tertawa mendengar pertanyaan polosnya,"bukan, Sayang. Astronot itu orang yang bisa jalan - jalan ke luar angkasa pake pesawat khusus buatan orang bumi."

"Waaah, bisa ya Kak? Yaudah deh aku mau jadi astronot aja."

Kemudian si mungil itu kembali ceria lagi dengan cita - cita barunya untuk menjadi astronot, bukan lagi menjadi alien yang bisa jalan - jalan ke luar angkasa. Si mungil pun kembali tertawa riang bersama teman - temannya yang tak lagi menganggap dirinya aneh.

Salah satu dari mereka ada yang akhirnya ingin jadi astronot lhooo. Tebak yang mana :p
Teka - teki misterius kenapa si mungil bercita - cita ingin menjadi alien pun terpecahkan. Kasus ditutup dengan bahagia dan mereka pun bebas berimajinasi kembali tentang mimpi beserta masa depan apa yang ingin mereka lukis nantinya. Dari mereka, aku juga banyak belajar tentang arti bermimpi tanpa batas. Tentang bagaimana rasanya bermimpi tanpa ada rasa takut yang membayangi. Tentang bagaimana liarnya imajinasi yang melahirkan kreatifitas. Sungguh, justru aku yang mendapatkan banyak pelajaran hidup dari mereka.



Love,


Anggi

Share:

Menemukan Arti Kata "Terimakasih" di RuBi Jombang

Assalamu'alaikum, Surabaya

"Guru itu ibarat lilin, yang rela menghabiskan dirinya sendiri untuk mencerahkan masa depan orang lain, menyalakan mimpi orang lain, hingga muncul lilin - lin lain yang siap menerangi dunia dengan cahaya yang paling terang."
 Anggita Ramani

Banyak orang bertanya ketika saya melakukan kegiatan kerelawanan, seperti "apa sih yang kamu dapat? Ngga dikasih duit, malah ngabisin duit sama capek pula." Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah hal sepele yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan uang. Namun, bagi saya pribadi, menjadi seorang relawan bukan hanya sekadar berpikir tentang waktu dan uang, lebih dari itu semua, menjadi relawan adalah sebuah pengabdian karena Allah.


Awal Pertemuan

Banyak hal yang bisa ditemukan ketika menjadi seorang relawan di suatu kegiatan. Salah satunya adalah ketika mengikuti kegiatan RuBi (Ruang Berbagi Ilmu) Jombang, sebuah gerakan kerelawanan di bawah Indonesia Mengajar dengan sasaran guru - guru daerah. Para relawan dari seluruh Indonesia berkumpul di Jombang untuk bergerak bersama dalam meng-upgrade skill dari para guru agar mampu mengikuti perkembangan zaman di abad 21 ini.




Berbekal kalimat sakti dari RuBi "Bergerak bersama, berbagi selamanya", kami para relawan bertemu di Jombang, lebih tepatnya di sebuah rumah yang diberi nama "Rumah Orange", salah satu rumah yang disediakan oleh panitia lokal untuk kami para relawan. Hanya beralaskan tikar, minim penerangan dan cuaca kota Jombang yang sedang panas - panasnya saat itu, tak menghalangi semangat para relawan untuk memberikan yang terbaik bagi para guru. Bahkan, sudah menjadi hal biasa bahwa tiap malam para relawan hampir begadang untuk memantabkan materi. Terkadang keluar satu atau dua kalimat canda tawa dari para relawan untuk menghangatkan suasana dan menambah keakraban diantara kami.

Rumah berwana jingga di tepi jalanan kota Jombang itu menjadi saksi betapa sebuah pertemuan selalu menghasilkan keluarga baru tanpa pertalian darah.

Relawan in Action

Pelaksanaan RuBi Jombang ini dibagi menjadi 2 hari (13 - 14 Oktober 2018). Hari pertama diisi dengan materi "Guru Abad 21", sedangkan hari kedua diisi dengan materi "Metode Belajar Kreatif  (MBK) dan Outdoor Education Activity". Tim relawan yang terdiri dari saya, Kak Intan dan Kak Selvi mendapat bagian untuk kelas 1, sedangkan saya sendiri mendapat bagian untuk berbagi ilmu tentang MBK, khususnya untuk Outdoor Education Activity.

Perkenalan Relawan dengn para guru.
Hari pertama diisi dengan materi tentang Guru Abad 21 oleh Kak Mita dan Bung Ram. Dari awal peserta yang usia rata- ratanya tergolong sudah tidak muda lagi sangat antusias dengan materi. Mereka sangat bersemangat menerima materi dari Kak Mita dan Bung Ram.

Materi Guru Abad 21 oleh kak Mita dan Bung Ram
Tiba di hari kedua, saatnya tim Trio kakak beradik (Kak Intan-Kak Selvi-saya) beraksi. Di hari kedua ini peserta masih bersemangat menerima materi tentang Metode Belajar Kreatif untuk guru abad 21. Berbagai aktivitas kelas yang penuh dengan simulasi dan praktek menjadi highlight materi yang kami bagi dengan mereka. mulai dari ice breaking untuk mengkondisikan kelas hingga aktivitas luar kelas (outdoor activity) yang bisa digunakan untuk metode mengajar.

Metode mind map
Outdoor activity
Kelas 1

Refleksi : Menemukan Arti Kata "Terimakasih"

Tiba di acara refleksi. Kami semua berkumpul di aula. Pembawa acara menyuruh kami, para relawan untuk duduk menyebar bersama para guru. Setelah itu, ada salah satu instruksi untuk para guru agar mencari relawan yang berbagi di kelasnya dan menjabat tangan para relawan.

Refleksi Rubi Jombang
Saat itu posisi saya berada agak jauh dari kumpulan bapak atau ibu guru di kelas tempat saya bertugas. Saya pun refleks mengabadikan momen haru para guru dan relawan lainnya dengan ponsel saya. Tak disangka, tiba- tiba ada suara yang memanggil nama saya, "Mbak Anggi! Mbak Anggi!"

Segerombolan Ibu guru kontan menjabat tangan saya, lalu memeluk saya dan mengatakan "Terimakasih ya sudah mau jauh - jauh datang kesini ngajarin kita."
Entah kenapa, seketika itu juga, air mata saya langsung mengalir deras. Rasanya ucapan "Terimakasih" itu begitu tulus dengan senyum ceria yang mewarnai wajah para Ibu guru. Ada rasa haru ketika pengorbanan yang tak seberapa ini dibayar dengan senyum tulus dan ucapan terimakasih dari mereka. Sebelumnya, saya tak berharap apa pun dari mereka. Jangankan ucapan terimakasih, melihat mereka bisa termotivasi untuk menjadi guru yang lebih baik saja saya sudah senang tak karuan. Dan di ruangan itu lah untuk pertama kalinya, saya benar - benar menemukan arti kata "Terimakasih".

Dari Rubi Jombang ini saya banyak belajar arti dari berbagi, menginspirasi dan rasa ikhlas untuk mengabdikan diri. Dari bapak dan ibu guru di sana, saya belajar banyak sekali arti mengajar yang benar - benar dari hati. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Butuh niat tulus, perjuangan dan semangat yang sangat tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak negeri.


Love,


Anggi

(Foto dan dokumentasi oleh : Kak Winda dan Kak Destya)
Share:

Restorasi Citarum Berkelanjutan Lewat Kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’

 Assalamu'alaikum, Surabaya

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengubah dunia.” Begitulah kata – kata dari seorang presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan, yaitu Madiba atau lebih dikenal dengan nama Nelson Mandela. Jika pendidikan bisa digunakan untuk mengubah dunia, maka bukanlah hal yang sulit menggunakan pendidikan terhadap masyarakat, sebagai senjata untuk restorasi sungai Citarum.

Prinsip tersebut banyak didukung oleh berbagai penelitian yang menyimpulkan bahwa faktor pendidikan adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku masyarakat. Pada era globalisasi, masyarakat diharapkan tak hanya menjadi konsumen teknologi, namun juga sebagai masyarakat yang mampu menguasai sekaligus mengembangkan teknologi (Miarso, 2004 dan Widyasari, 2017). Dari sini, edukasi masyarakat DAS menjadi tak kalah penting di samping pengembangan teknologi untuk restorasi sungai Citarum. Perubahan perilaku masyarakat yang sadar teknologi, sadar kebersihan lingkungan serta sadar potensi Citarum juga dibutuhkan untuk menyokong restorasi Citarum, tak hanya bersifat sementara, namun berkelanjutan. 

Gambar 1. Kondisi sungai Citarum (sumber gambar : www. greenpeace.org)
Sungai Citarum saat ini sedang tercemar berat. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat sekitar sungai Citarum menjadi salah satu penyumbang utama limbah domestik, kotoran ternak atau manusia yang bebas meluncur ke dalam aliran sungai Citarum. Selain itu, terdapat 500 pabrik yang beroperasi di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) dan sebanyak 80% pabrik membuang limbah secara langsung ke sungai Citarum (Greenpeace Indonesia, 2018). Bahkan pada tahun 2013 lampau, sungai Citarum mendapat predikat sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia berdasarkan dua organisasi lingkungan paling berpengaruh di dunia, Green Cross of Switzerland dan The Blacksmith Institute. Pada daftar tersebut, sungai Citarum disandingkan dengan lokasi paling tercemar dan beracun di dunia seperti Chernobyl yang masih tercemar radioaktif dari ledakan nuklir dari tahun 1986. Pada laporan Blacksmith, sungai Citarum mengandung polutan kimia berupa logam timah, mangan, aluminium serta konsentrat besi lebih tinggi dari angka rata – rata dunia (tempo.co, 2013).
Gambar 2. Limbah di sungai Citarum (sumber gambar : www.pikiran-rakyat.com)
Di sisi lain, sungai terpanjang sekaligus terlebar di Jawa Barat ini sebenarnya memiliki banyak manfaat dan potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan. Sebagai contoh, sungai Citarum telah menghidupi 28 juta masyarakat melalui suplai air untuk air minum, listrik, irigasi, peternakan dan industri. Berdasarkan informasi tersebut, sungai Citarum sangat berpotensi sebagai sumber energi ramah lingkungan di masa depan. Hanya saja, cukup disayangkan bahwa belum ada kontrol yang terstruktur dari masyarakat terkait pemanfaatan potensi sungai Citarum untuk masa depan, sehingga masih banyak dampak negatif yang didapatkan akibat perilaku masyarakat itu sendiri.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk restorasi sungai Citarum yang juga melibatkan masyarakat dalam perubahan pola pikir, sikap dan perilaku untuk menjaga lingkungan seperti program Kampung Berbudaya lingkungan (Eco Village) yang dicanangkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Barat. Tak berhenti sampai di situ, pemerintah kabupaten Bandung Barat juga mencanangkan program Citarum BESTARI (Bersih, Indah, Sehat dan Lestari) dilandasi PERGUB 78 tahun 2005 sebagai upaya penanggulangan Sungai Citarum. Program tersebut tak main – main  karena bernilai fantastis sebesar 6,36 M. Pada program Citarum BESTARI, semua elemen masyarakat dibantu oleh kepolisian dan TNI AD terjun langsung melalui kegiatan penghijauan, penanggulangan sampah dan pengendalian pencemaran limbah pabrik (Widyasari, 2017 dan jabarprov.go.id, 2018).

Sayangnya, hasil yang didapatkan masih belum memberikan dampak signifikan bagi sungai Citarum. Hanya terjadi perubahan fisik, yaitu bau air sungai yang tidak lagi menyengat. Belum ada benang merah yang kuat antara pemerintah, peneliti dan masyarakat dalam pelaksanaan berbagai program pemerintah. Minimnya publikasi tentang teknologi yang telah diciptakan untuk restorasi Citarum dan informasi tentang potensi sungai Citarum, menyebabkan masyarakat masih belum sadar sepenuhnya untuk menjaga kebersihan sungai Citarum. Ditambah lagi, menurut kepala Pappiptek LIPI Trina Fizzanty, sebanyak 54% masyarakat indonesia masih memiliki pemahaman serta akses informasi yang rendah tehadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif dalam upaya restorasi sungai Citarum.

Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia turun tangan dengan mencanangkan Program Citarum Harum, suatu langkah untuk mengembalikan Citarum menjadi sungai yang bersih, bebas pencemaran dalam 7 tahun. Salah satu solusi sederhana untuk mendukung program Citarum Harum, namun juga bisa berdampak panjang untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan edukasi masyarakat sekitar Citarum. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Widyasari (2017), tingkat pendidikan dan pemahaman adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku masyarakat bersih lingkungan di sekitar sungai Citarum. Sebesar Sehingga edukasi dapat dijadikan salah satu sarana ampuh untuk restorasi sungai Citarum di masa depan, dengan membentuk perilaku masyarakat yang sadar ilmu pengetahuan dan teknologi, sadar bersih lingkungan dan sadar potensi sekitar.

Edukasi dilakukan melalui pembentukan kader pemuda ‘Arjuna-Srikandi Citarum’.  Tujuan edukasi ini adalah membentuk perilaku masyarakat sekitar sungai Citarum yang sadar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi restorasi sungai Citarum, sadar lingkungan bersih dan sadar pemanfaatan potensi dari sungai Citarum di masa depan. Para pemuda yang tergabung dalam Arjuna – Srikandi Citarum tersebut akan terus melakukan pembentukan kader baru dari generasi ke generasi, membentuk sistem edukasi yang terus berlanjut di masa depan. Sistem edukasi yang digunakan dalam kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’ dapat dilihat pada infografis berikut ini (Gambar 3). Secara garis besar, program kader Arjuna – Srikandi Citarum terbagi menjadi 5 tahap :
  1.  Tahap pembentukan kader awal Arjuna – Srikandi
  2. Tahap pendampingan kelompok masyarakat
  3. Tahap pembentukan perilaku masyarakat sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum.
  4. Tahap pengembangan sistem restorasi Citarum di DAS Citarum
  5. Tahap keberlanjutan program
Gambar 3. Infografis tahapan kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’
Pada tahap pertama akan dilakukan pembentukan kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’. Sebagai langkah awal, para pemuda calon Arjuna dan Srikandi sungai Citarum akan diambil dari beberapa perguruan tinggi. Para pemuda ini kemudian dibekali pengetahuan tentang kebijakan Citarum Harum dan pelatihan soft skill serta hardskill yang meliputi :
  • Pelatihan skill komunikasi
  • Workshop tentang IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
  • Pemberian motivasi untuk inovasi peningkatan potensi Citarum di masa depan
  • Pelatihan pembuatan teknologi sederhana untuk peningkatan potensi Citarum seperti penyaringan air, pembuatan biogas dari kotoran hewan atau manusia (Chen dkk., 2010), pembangkit listrik tenaga sampah (Sejati, 2009 dan Marc, 2011), dan lain lain.
Tahap selanjutnya, para kader harus membagi ilmunya kepada masyarakat melalui pendampingan terhadap kelompok – kelompok masyarakat di sekitar sungai Citarum mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan. Pendampingan dilakukan secara intensif hingga kelompok – kelompok masyarakat di sekitar sungai sudah paham tentang kebijakan Citarum Harum, teknologi untuk restorasi sungai Citarum, serta potensi DAS sungai Citarum. Kelompok masyarakat juga sudah harus bisa mulai mandiri dalam mengolah pemanfaatan serta potensi sungai Citarum melalui cipta karya sederhana atau produk, menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah diajarkan.

Kader pemuda beserta masyarakat yang sudah paham terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) beserta pengetahuan lain tentang manfaat dan potensi Citarum, akan mencari kader – kader pemuda baru untuk menjaga sistem kader lingkungan yang telah terbentuk. Proses perekrutan kader Arjuna – Srikandi akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dengan adanya keberlanjutan atau regenerasi dari kader Arjuna – Srikandi Citarum, masyarakat yang lebih sadar iptek serta potensi Citarum akan terus bertambah.

Saat masyarakat sadar iptek sudah terbentuk dengan kuat, maka sangat mudah untuk menuntun masyarakat sekitar Citarum untuk cepat beradaptasi dengan isu iptek mengenai restorasi sungai citarum secara masif dan struktural. Tahap ketiga dari serangkaian program kader Arjuna – Srikandi Citarum adalah membantu koordinasi antara perguruan tinggi, lembaga peneliti, pemerintah, masyarakat sekitar sungai Citarum serta semua elemen masyarakat lainnya untuk mengimplementasikan suatu sistem teknologi berkelanjutan pada restorasi sungai Citarum. Teknologi tersebut digunakan untuk penyaringan air, biogas dari kotoran hewan atau manusia serta sampah untuk pembangkit listrik.

Tahap terakhir adalah pengembangan sistem restorasi Citarum. Pada tahap ini akan mengerahkan seluruh elemen masyarakat untuk membantu masyarakat sekitar DAS Citarum dalam mengembangkan potensi Citarum untuk membentuk ‘Kampung Hijau Pintar DAS Citarum’. Suatu kampung dengan perilaku masyarakat yang sadar iptek, lingkungan dan potensi sungai Citarum sebagai sumber energi ramah lingkungan masa depan. Tiap rumah dalam kampung itu, diharapkan memiliki teknologi sederhana pengolahan air limbah rumah tangga lewat penyaringan air, biogas untuk memasak dari kotoran hewan atau manusia, serta listrik mandiri dari sampah.

Setelah keempat tahap pada program kader ‘Arjuna – Srikandi Citarum’ terpenuhi, maka perilaku sadar iptek, lingkungan dan potensi dari masyarakat sekitar DAS Citarum akan membuat restorasi sungai Citarum jauh lebih mudah diterima, diimplementasikan dan dijaga keberlanjutannya. Lebih jauh lagi, perubahan perilaku masyarakat tersebut dapat meningkatkan potensi sungai Citarum untuk masa depan. Salah satunya adalah promosi masyarakat DAS Citarum sebagai ‘Kampung Hijau Pintar DAS Citarum’. Pada tahap ini, peran para Arjuna dan Srikandi Citarum sebagai ikon sangat dibutuhkan untuk penggerak pemuda lainnya dari seluruh daerah di Indonesia untuk turut andil sebagai bagian dalam program Citarum Harum. Peran generasi muda juga dibutuhkan untuk penyebaran informasi terkait restorasi sungai Citarum serta program pemerintah bertajuk Citarum Harum ke seluruh pelosok Indonesia tanpa kecuali.

Langkah akhir adalah menerapkan keberlanjutan dari perilaku masyarakat sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum. Pada tahap ini, cukup diadakan evaluasi tahunan oleh seluruh pemuda kader Arjuna – Srikandi Citarum, bekerja sama dengan pemerintah dan peneliti terhadap hasil program edukasi masyarakat DAS Citarum berkaitan dengan signifikansi restorasi sungai Citarum. Hasil evaluasi tahunan dapat digunakan untuk menyesuaikan metode edukasi untuk persiapan generasi kader Arjuna – Srikandi Citarum selanjutnya. Sehingga, program edukasi tersebut tidak berhenti, tetapi tetap berjalan karena terus terjadi regenerasi kader pemuda untuk mengedukasi masyarakat DAS Citarum.

Pada akhirnya, program edukasi terhadap masyarakat DAS Citarum melalui kader Arjuna dan Srikandi Citarum akan menjadi senjata ampuh dalam restorasi sungai Citarum. Perubahan pola pikir, sikap serta perilaku masyarakat DAS Citarum menjadi lebih sadar iptek, lingkungan dan potensi Citarum akan membantu pemerintah dalam mendukung program Citarum Harum secara masif, struktural, dan yang paling penting adalah menjadi solusi berkelanjutan untuk mencapai DAS Citarum menjadi sumber energi ramah lingkungan di masa depan.

Referensi :
  1.  Chen, dkk. 2010. Improving conversion of Spartina alterniflora into biogas by co-digestion with cow feces. Fuel Processing Technology, Vol. 91, No. 11. Elsevier : New York.
  2.  Greenpeace Indonesia. 2018. Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali. www.greenpeace.org, diakses pada Minggu, 13 Mei 2018 pukul 12.05
  3. Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana : Jakarta.
  4. Sejati, Kuncoro. 2009. Pengolahan Sampah terpadu. Kanisius : Jakarta.
  5. Tempo. 2013. Citarum, Sungai Paling Tercemar di Bumi. www.tempo.co , diakses pada Minggu, 13 Mei 2018 pukul 10.20
  6.  Marc, J, dkk. 2011. Waste to Energy. Elsevier : New york.
  7. Widyasari, Wafa. 2017. Faktor Determinan Partisipasi Masyarakat Dalam Gerakan Citarum Bestari Terhadap Perilaku Masyarakat Bersih Lingkungan. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Volume 13 , Nomor 2. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
NB : Tulisan ini diikusertakan dalam Writingthon Dikti "Indonesia untuk Citarum Harum" yang diadakan oleh Ristek DIKTI (@ristekdikti @ditjensdid) dan Bitread (@bitread_id)
Share:

Mengarungi Samudera Antara Johor dan Batam

Assalamu'alaikum, Surabaya

"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya."
― Pramoedya Ananta Toer


Bagi saya pengalaman perjalanan paling mendebarkan sepanjang hidup adalah ketika mengarungi samudera di antara tiga negara, menuju tempat yang sama sekali asing, Batam di tahun 2017 lampau. Berbagai kisah seru, lucu dan mendebarkan mengiringi perjalanan saya dan teman satu penelitian di Malaysia, Rika. Mulai serunya menjelajah Jembatan Barelang di Batam hingga tertahan di ruang interogasi keimigrasian Batam.

Saya dan Rika naik ojol (ojek online) bernama Uber dari apartemen kami, Melawis ke pelabuhan Stulang Laut. Sesampainya di sana, langsung saja masuk lewat Duty Free Zone di Berjaya Waterfront city Mall (sebelahnya Starbucks dan Berjaya Waterfront City Hotel). Setelah masuk mall, naik ke lantai 2 dan ikuti petunjuk berupa arah panah yang sudah disediakan. Harga tiket kapal ferry ke Batam Centre sekitar RM 85. Silakan menunggu panggilan dari petugas untuk masuk ke kapal. Tentu saja sebelum masuk ke kapal harus berhadapan dengan petugas imigrasi untuk cek paspor. 

Perjalanan dari Pelabuhan Stulang Laut ke Batam Centre sekitar 2 jam. Selama perjalanan rasakan sendiri sensasi melewati samudera di antara 3 negara yaitu Malaysia, Singapura dan Indonesia. Sampai Batam Centre, ketemu lagi dengan petugas imigrasi. Entah kenapa, saya selalu deg deg an tiap kali berhadapan dengan petugas imigrasi. Selain wajahnya yang kadang terlihat garang, berada di luar negeri, jauh dari rumah yang wujudnya tak nampak dari pandangan mungkin merupakan beberapa faktor yang membuat sensasinya agak – agak gimana gitu (hahaha). Setelah lolos dari petugas imigrasi yag saat itu sedang berbaik hati bak malaikat, saya dan teman langsung memesan taksi menuju penginapan di Taksi Centre, berada tepat di depan pintu masuk Batam Centre. Tarif taksi dari taksi centre ini tidak menggunakan argo, jadi pakai tarif rata-rata. Misal mau pakai argo pun akan sama saja bahkan mungkin lebih mahal (sudah terbukti oleh kita). Oh iya di sini tak ada ojol, jadi transportasi utama untuk musafir macam kitorang nih ya pake taksi. Jadi pilihlah taksi resmi di Batam yang tentu saja ber-plat kuning. Taksi di sini bertebaran di mana-mana, jadi jangan khawatir.

NAGOYA HILL

Kami memutuskan untuk menginap di Lovina-Inn Nagoya karena dekat dengan Lucky Plaza dan Nagoya Hill. Booking hotelnya online saja via website hotelnya di www.lovinainn.com, lebih murah bila dibandingkan dengan aplikasi booking online. Saat itu ketika searching di aplikasi booking online mendapatkan harga 274000 tanpa breakfast/sahur, sedangkan jika booking lewat hotel langsung mendapatkan harga 279000 dengan breakfast/sahur dan bayarnya ketika check in.

Sorenya, kami pergi ke Nagoya Hill untuk ngabuburit. Untuk mencapai Nagoya Hill, cukup berjalan kurang lebih 1 km saja selama 5-10 menit dari Lovina Inn-Nagoya. Di Batam sini masih memakai bahasa melayu, cuma logat dan cengkok-nya sedikit berbeda Malaysia. Kalau logat Malaysia lebih cepat, huruf R di akhir kadang tak dilafalkan dan  ada aksen nada naik di akhir kalimat. Nah, kalau di Batam tak terlalu cepat, tak ada aksen dan perkata masih jelas pelafalannya. Jadi, ilmu dari Malaysia nya bisa dipakai untuk cakap disini wkwkwk.

Atap Foodcourt Nagoya Hill
Foodcourt Nagoya Hill
 Nagoya hill merupakan salah satu mall besar yang ada di Batam. Barang impor di sini cenderung murah menurut saya. Apalagi saat itu sedang penuh dengan diskon menjelang lebaran. So, ladies, ati-ati kalo ke sini ya. Bawa teman yang nggak gampang kalap, gak gampang terpesona oleh barang lucu, banyak2 istighfar dan berdo’a hahaha. Senja mulai datang, waktu maghrib pun hampir tiba. Saya dan Rika menuju foodcourt yang mirip - mirip dengan Hogwarts Dining Hall. Harga makanan di sini sebelas duabelas dengan di Malaysia. Penyebutannya pun juga sama. Seperti Teh.O dan Teh tarik. Saya pesan nasi cumi bakar, air mineral dan es teh (Teh.O) dengan total harga 31000. Penampakan seperti di bawah ini.

Nasi cumi bakar
Setelah berbuka puasa dengan masakan Indonesia yang selalu nomer satu di hati, kami melanjutkan jalan – jalan sebentar untuk berkeliling Mall sebelum kembali ke hotel. Saat keluar dari Mall, betapa hati ini terasa sejuk ketika bisa mendengar kembali suara sahut – sahutan dari sholat Tarawih berjamaah di beberapa masjid yang tak bisa kami temukan di Johor. Malam yang indah menjelang malam ganjil ke-21 di bulan Ramadhan :)


JEMBATAN BARELANG

Kalau kata orang Batam, "awak belum nak pergi Batam kalau tak ke Barelang."

Tulisan ini terukir di salah satu tiang Jembatan Barelang
Tentu saja sebelum kembali ke Indonesia untuk Rika dan kembali ke Malaysia untuk saya, kami berdua menyempatkan diri untuk berkunjung ke Jembatan Barelang. Jembatan tersebut merupakan nama enam buah jembatan yang menghubungkan Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Pembangunan jembatan ini diprakarsai oleh B.J Habibie yang merupakan Ketua Otorita Batam pada periode tahun 1978 sampai dengan 1998. Jembatan ini dibangun untuk memfasilitasi pulau-pulau tersebut untuk mendukung wilayah industri di Kepulauan Riau khususnya Pulau Batam dan sekitarnya.  Jembatan ini menjadi simbol Pulau Batam dan merupakan situs wisata yang populer. Ada pula yang menyebutnya Jembatan Habibie karena beliaulah yang mengawasi proyek pembangunannya.

Penampakan Jembatan Barelang
Jembatan Tengku Fisabilillah
Jembatan Barelang ini terdiri dari enam buah jembatan yang tersambung menjadi satu. Masing - masing jembatan memiliki nama sendiri seperti Jembatan I (Jembatan Tengku Fisabilillah), Jembatan II (Jembatan Nara Singa), Jembatan III (Jembatan Raja Ali Haji), Jembatan IV (Jembatan Sultan Zainal Abidin), Jembatan V (Jembatan Tuanku Tambusai) dan Jembatan VI (Jembatan Raja Kecik). Saya dan rika hanya sempat mengunjungi Jembatan Tengku Fisabilillah saja karena keterbatasan waktu. Sampai di sini, sengatan matahari menyapa namun hilang seketika saat melihat birunya samudera di tepi kiri dan kanan jembatan, memanjakan mata yang telah lelah oleh rutinitas penelitian di Malaysia.
 
Pemandangan di sisi Jembatan Barelang
Hamparan samudra luas yang biru sepanjang sisi Jembatan
Setelah puas mengabadikan momen dan kecantikan jembatan Barelang, kami pun harus pamit undur diri dari Batam, kembali lagi ke rutinitas masing - masing. Rika kembali lagi ke Surabaya, sementara saya harus kembali lagi ke Johor. Tentu saja, saya harus kembali ke Malaysia dan tentu saja harus kembali melewati petugas imigrasi. Dari sinilah kisah anak rantau dodol dimulai. Ketika saya akan diperiksa petugas imigrasi, petugas tersebut langsung mengarahkan saya ke ruang interogasi.

Jeng jeng... (panic mode : ON)

Bayangkan, saya sendirian, tak ada kawan yang menemani, nggak punya saudara di Batam dan pasrah kalo nggak diijinkan keluar Indonesia sedangkan barang - barang masih duduk manis di Malaysia. Saya pas itu cuma mikir, yaudah deh pasrah aja asal nggak diusir dari planet bumi wkwkwk.

Kira - kira kenapa saya sampai masuk ke ruang interogasi imigrasi???
 
Jadi, ceritanya saya dikira TKI ilegal (T.T) karena memang di depan saya para TKI semua yang sedang mengantri untuk lolos stempel petugas imigrasi. Dan saya sedang kurang beruntung karena bertemu dengan petugas imigrasi yang garang. Di dalam ruang interogasi saya ditanya student atau TKI, surat tugas dari pihak Malaysia nya mana. Untung saja saya membawa semuanya, jadi memang petugasnya salah paham karena dikira saya adalah salah satu bagian dari TKI yang akan meluncur ke Malaysia siang itu. FYI, Pelabuhan Batam Centre di Indonesia dan Pelabuhan Stulang Laut di Malaysia adalah dua pelabuhan paling ketat karena dengar - dengar sih banyak TKI ilegal yang berangkat dari sini.

Akhirnya, saya pun diloloskan petugas imigrasi dan kembali lagi ke Malaysia dengan utuh. Kalau ingat cerita ini, terkadang heran juga, "gilaaak, dulu pernah juga ya sendirian kelayapan di antara dua negara sampe ditahan di imigrasi."

Dan cerita ini adalah salah satu cerita penyemangat saya di kala rasa kurang percaya diri sedang melanda atau pun sedang terjungkal di kehidupan. Sebuah cerita gila bahwa seorang "Anggita" juga ternyata pernah menjadi sosok tangguh di luar dugaan dan akal sehat. Bukan bermaksud sombong pernah melakukan perjalanan sendiri ke negara lain, tapi semacam muhasabah diri bahwa perjalanan bukan cuma soal pamer foto tetapi lebih dari itu. Perjalanan adalah tempat untuk belajar arti tangguh dari semua rintangan di saat melakukan perjalanan.

Jadi, mulailah melakukan perjalanan untuk semakin menggali kekuatan sebenarnya dari dirimu sendiri. Jangan takut tersesat. Terkadang kamu harus tersesat dulu untuk menemukan jalan yang sesungguhnya.


Love,


Anggi



Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Community


ID Corners
indonesian hijab bloggerKumpulan Emak2 Blogger