Totto-chan : Belajar Memahami Dunia Pendidikan Anak

Assalamu’alaikum, Surabaya

Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak bertemu dengan Pak Kobayashi, mungkin aku akan dicap ‘anak nakal’, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung (Tetsuko Kuroyanagi dalam Buku Totto-Chan : Gadis Cilik di Jendela).

Ketika pertama kali mendengar buku dengan judul “Totto-chan” dari teman SMA dulu, yang terbesit di pikiran saya adalah cerita tentang seorang gadis Jepang bernama Totto-chan. Pikiran tersebut tidak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar. Novel karangan Tetsuko Kuroyanagi ini merupakan sebuah novel yang bercerita tentang kisah nyata Totto-chan dan salah satu sekolah  unik di Jepang bernama Tomoe. Sekolah unik tersebut berada di bekas gerbong kereta api. Jadi, ya, sekolahnya di dalam gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai. Selain itu, sekolah besutan Pak Sosaku Kobayashi tersebut memiliki sistem pendidikan yang sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Saya pribadi kagum dengan Bapak kepala sekolah yang suabarnya kayak malaikat tak bersayap iniiii…



Novel ini ditulis tahun 1982. Latar belakang cerita masih berada dalam lingkup Perang Dunia 2. Ceritanya ringan, polos, unik dan apa adanya. Bacaan ringan untuk semua umur menurut saya. Bagi anda yang bergerak di dunia pendidikan, ibu rumah tangga atau calon ibu rumah tangga dan yang memiliki passion dalam perkembangan dunia pendidikan anak wajib membaca novel ini :)

Cerita di novel ini diawali dengan Totto-chan yang dikeluarkan dari sekolah padahal masih beberapa hari memulai sekolahnya di tingkat sekolah dasar. Guru – guru di sekolah menganggap Totto-chan adalah gadis pembuat onar yang menghambat kelas. Padahal gadis kecil itu hanya mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

Salah satu perbuatan gadis cilik itu yang membuat Guru Totto-chan kesal namun membuat saya pribadi tertawa adalah saat Totto-chan tiba – tiba berlari ke arah jendela di tengah pelajaran. Dia terlihat berbicara kepada seseorang. Sang Guru pun otomatis berusaha mengingatkan, tapi Totto-chan seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Antara kesal dan takut, Bu Guru pun mendekati Totto-chan, penasaran dengan siapa Totto-chan asyik berbicara. Ketika tahu dengan siapa Totto-chan berbicara, semakin kesal dan gemas saja Bu Guru ini pada Totto-chan. Tau nggak Totto-chan lagi ngomong sama siapa?

Burung Wallet yang lagi nangkring di pohon. Hahahahaha *tepok jidat*. Kalau saya jadi gurunya paling cuma ketawa absurd, tapi ini gurunya sepetinya sudah gemes, nggak sabar sama tingkahnya Totto-chan.

Meskipun Totto-chan dikeluarkan, Mama (Ibu Totto-chan) tidak memberitahu putrinya. Ia hanya mengatakan kepada Totto-chan untuk mencari sekolah yang lebih seru dan asyik dibandingkan sekolah lamanya. Totto-chan yang masih polos pun hanya mengiyakan. Dalam pikirannya, ia senang akan mendapatkan petualangan baru yang lebih seru dibandingkan sekolah lamanya.

Awal cerita yang langsung membuat saya terenyuh sekaligus senang melihat cara berpikir orang tua Totto-chan. Mereka tidak marah atau pun menyalahkan Totto-chan, namun malah berusaha membuat Totto-chan berpikir positif bahwa ia bukan “anak nakal”. Mama tahu kalau putrinya tidak akan mengerti mengapa Totto-chan dianggap salah ketika melakukan hal – hal untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Maka, Mama memutuskan untuk tidak memberi tahu Totto-chan kalau ia dikeluarkan dari sekolah. Bahkan Totto-chan baru mengetahui cerita bahwa ia pernah dikeluarkan dari sekolah saat usianya dua puluh tahun.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak seumur Totto-chan akan bereaksi jika orang tua nya memberi tahu bahwa ia dikeluarkan dari sekolah. Menurut buku – buku tentang pendidikan anak yang pernah saya baca, anak – anak dengan golden age sekitar 6 – 10 tahun (Usia SD) akan mudah sekali menerima sugesti dari lingkungan sekitar. Ketika lingkungan sekitar meneriakkan, “kamu anak nakal,” maka pikiran tersebut akan tertanam kuat di alam bawah sadar mereka dan susah untuk hilang. Mereka akan tumbuh dengan pikiran bahwa mereka “anak nakal”.

Dari sini saya ingin berbagi secuil kisah di dalam novel Totto-chan yang menurut saya cukup penting untuk dijadikan model pendidikan anak. Saya memang belum berkeluarga hehe (:p), tapi saya pernah menjalankan sebuah program pengabdian masyarakat untuk pendidikan anak. Jadi, saya sedikit mengerti tentang kondisi psikologis anak usia SD.

Berikut ini beberapa hal yang berkesan bagi saya untuk pendidikan anak yang sudah saya rangkum menjadi 5 poin :

1. PAK KOBAYASHI

Sebelum membahas semuanya, kenalan dulu lah sama sang founder dari sekolah Tomoe, pak Sosaku Kobayashi. Bapak satu ini sangat sabar dan berjiwa malaikat bangeeeett. Beliau selalu mendengarkan keluh kesah muridnya. Pokoknya so sweet  banget lah kalau sama muridnya di sekolah Tomoe.

Ketika Totto-chan ingin memasuki sekolah Tomoe ini, beliau hanya menyuruh Mama pulang, lalu mengajak Totto-chan masuk ke ruangannya untuk menjalani sebuah tes. Tes yang dilakukan oleh pak Kobayashi kepada Totto-chan agar bisa masuk di sekolah ini adalah “bercerita”. Si imut Totto-chan hanya disuruh duduk lalu bercerita apa saja yang ada di pikirannya. Pak kobayashi mendnegarkan dengan sabar dan serius sambil sesekali bertanya atau sekedar berinteraksi dengan gadis kecil ini. Totto-chan yang terkenal suka berceloteh itu sampai kehabisan cerita. Bagian yang paling mencengangkan adalah Totto-chan telah bercerita hingga 5 jam dan Pak Kobayashi setia mendengarkan cerita gadis itu tanpa menyela sedikit pun.

Lima jam bapak dan ibu sekalian, lima jam. Waktu yang cukup lama dan membosankan bagi orang dewasa untuk mendengarkan cerita anak kecil. Tapi Pak Kobayashi sangaaaaaaat suaaaabar mendengarkan cerita Totto-chan. Lepas dari obrolan 5 jam bersama pak Kobayasi, Totto-chan terlihat sangat puas, merasa bahwa ceritanya dihargai oleh orang lain.

Pelajaran pertama yang bisa diambil di dalam poin ini adalah “menghargai orang yang sedang berbicara tidak peduli berapa umur maupun latar belakang sosialnya”. Kalau ada orang lain berbicara, siapa pun itu, setidaknya dengarkan sampai selesai apa yang dibicarakan. Meskipun itu anak kecil yang terkadang omongannya ngalor – ngidul karena imajinasi mereka sedang berlebihan di masanya.

2. JAM PELAJARAN DI TOMOE

Di sekolah pada umumnya, jam pelajaran sudah ditentukan urutannya oleh pihak sekolah. Tapi tidak dengan sekolah Tomoe. Setiap anak di sekolah Tomoe bebas menentukan mata pelajaran mana yang mereka suka terlebih dahulu. Misalkan saja ada salah satu teman Totto-chan bernama Tai-chan sangat menyukai pelajaran sains. Ia selalu mengerjakan percobaan sains di meja belakang Totto-chan di awal jam sekolah. Jam kedua, ketiga dan seterusnya juga terserah mau diisi dengan mata pelaaran apa sesuai dengan kelompok jadwal pelajaran di hari itu. Guru di sekolah Tomoe sudah dipersiapkan untuk hal tersebut. Metode nya adalah belajar mandiri. Guru hanya melayani konsultasi jika murid merasa kesulitan, menjelaskan secara personal hingga murid mengerti sepenuhnya serta memberikan soal – soal latihan.

Melalui metode pembelajaran tersebut, Pak Kobayashi berharap para Guru bisa mengamati perkembangan tiap anak melalui hal yang mereka sukai. Selanjutnya mereka akan diarahkan untuk cita – cita mereka di masa depan. Poin yang bisa saya ambil di sini adalah “penanaman mindset untuk meraih cita – cita, bukan nilai”. Jujur saja, sekolah di Indonesia kebanyakan menanamkan mindset untuk meraih nilai tinggi (saya salah satu korbannya). Padahal nilai bukanlah segala – galanya. Nilai tinggi memang penting, namun jangan sampai kehilangan jati diri dan passion kita. Saya yakin tiap orang terlahir dengan kemampuan atau kelebihan masing – masing. Tiap orang berbeda dan unik.

Mulai sekarang, untuk generasi muda, mari kita tebarkan mindset meraih cita – cita. Jangan biarkan mereka jatuh ke lubang yang sama. Sekarang, coba tanyakan pelan – pelan pada diri anda sendiri “apa sebenarnya cita – citaku?”

Saya berharap semoga anda bisa menjawab atau bahkan sudah meraih cita – cita anda :)

3. MENANAMKAN RASA PERCAYA

Ini bagian paling favorit saya ketika membaca buku Totto-chan. Ada sebuah bagian cerita ketika dompet kesayangan Totto-chan terjatuh ke dalam toilet. Sebelumnya saya jelaskan dulu, toilet di jaman dahulu belum ada sistem saluran air. Bentuknya semacam lubang kakus dengan bak penampung kotoran berada di bawah lubang kakus tersebut. Nah, tau sendiri kan Totto-chan nggak bisa diem dan akalnya banyak.

Apakah yang dilakukan Totto-chan??? Tet teretetet…….Jreng! Dia mengambil semacam gayung kayu untuk mengangkat kotoran dari dalam bak penampung lalu mengeluarkannya ke tanah sekitar kakus. Beberapa menit berlalu, tumpukan kotoran di atas tanah semakin banyak dan dompet Totto-chan belum juga nampak.

Sedetik kemudian pak Kobayashi lewat. Jeng jeng, hayooo kira – kira apa reaksi pak kepala sekolah satu ini????

Pak kobayashi hanya bertanya dengan santai : “Kamu sedang apa?” (Malaikat bangeeeettt, gileeee)

Totto-chan pun menjawab bahwa ia ingin mengambil dompet kesayangannya yang jatuh ke dalam kakus. Lantas pak Kobayashi pun hanya berkata dengan ramah, “kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?”

Totto-chan menjawab, “Ya!” dengan riang.

Kebayang kan, kotoran yang sudah dikeluarkan Totto-chan dari bak penampungan sudah jadi gunung – gunung kecil di tanah. Otomatis kalau ingin dimasukkan kembali, dia harus memasukkan sepaket dengan tanah agar bau busuknya tidak tertinggal. Tapi, ya, akhirnya Totto-chan nurut, dia memasukkan kembali semua kotoran beserta tanahnya ke bak penampungan itu. Walaupun akhirnya dompetnya tetap nggak ketemu, tapi Totto-chan merasa puas dengan usahanya.

Poin pendidikan yang bisa dipelajari dari cerita ini adalah “mempercayai dan tidak memarahi ketika anak mencoba berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya.” Kebanyakan orang dewasa pasti akan langsung darah tinggi melihat kejadian Totto-chan tersebut, saya sendiri pun mungkin syok (lol) dan terhenyak dengan tingkah laku Totto-chan. Namun, ternyata rasa percaya yang diberikan pak Kobayashi kepada Totto-chan lebih efektif membentuk karakter tanggung jawab pada diri anak.


4. MEMAHAMI MASALAH ORANG LAIN

Alkisah di dalam buku ini, Totto-chan pernah diberi sebuah pita yang sangat cantik oleh bibinya. Ia sering sekali memakai ke sekolah hingga suatu saat pak Kobayashi menanyakan kepada Totto-chan dimana ia membeli pita tersebut. Totto-chan pun menjawab dengan semangat bahwa itu hadiah dari bibinya. Pita itu diambil dari gaun bibinya.

Pak kobayashi pun menjelaskan bahwa ia sudah berkeliling di Jiyugaoka mencari pita tersebut untuk salah satu murid sekaligus putrinya, Miyo-chan, namun tak kunjung mendapatkan pita itu. Pak kobayashi pun berkata dengan sangat pelan kepada Totto-chan, “Totto-chan, aku akan sangat berterima kasih jika kau tidak memakai pita itu ke sekolah. Kau tahu kan, Miyo-chan selalu merengek – rengek minta pita itu. Kau keberatan?”

Ajaibnya Totto-chan langsung menyetujui permintaan pak Kobayashi. Meskipun agak kecewa, tapi Totto-chan merasa iba ketika membayangkan sosok baik hati, ramah dan sabar seperti pak Kobayashi harus keluar – masuk ke semua toko pita demi mencari pita handmade seperti Totto-chan. Seperti itulah siswa Tomoe diajarkan untuk “memahami masalah orang lain dan berusaha membantu, tak peduli seberapa muda usia mereka”.

5. “KAU ANAK YANG BAIK…”

Prinsip yang dianut oleh pak Kobayashi adalah “setiap anak dilahirkan dengan watak baik”. Pak Kobayashi selalu berusaha menemukan watak baik tiap anak, lalu menegmbangkannya agar anak – anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa dnegan kepribadian yang khas.

Dalam kasus Totto-chan sendiri, ia sudah diangap aneh oleh lingkungan sekolah SD nya dulu. Mungkin sebagian orang dewas berpikir bahwa anak – anak tidak mengerti dengan perlakuan mereka, tapi justru anak – anak adalah yang paling peka dengan reaksi lingkungan sekitar. Pak kobayashi selalu mengatakan berulang – ulang kepada Totto-chan, “kau anak yang benar – benar baik, kau tau itu, kan?” Kalimat itulah yang menyelamatkan Totto-chan dari sugesti “anak aneh” dan “anak nakal” yang muncul dari lingkungan sekitarnya. Andai saja, ia tidak bertemu pak Kobayashi dan terus – terusan di cap sebagai “anak nakal dan aneh”, mungkin Totto-chan benar – benar tumbuh dewasa menjadi menjadi anak nakal, aneh dan tumbuh tanpa rasa percaya diri.


Itulah kelima poin yang berhasil saya rangkum dari buku setebal 271 halaman. Sekolah Tomoe terbakar habis pada tahun 1945 akibat bom dari pesawat B-29 saat perang dunia 2. Pak Kobayashi sendiri meninggal di tahun 1963.

Oiya, setelah dewasa, Totto-chan berhasil mewujudkan impiannya untuk membuat Teater khusus penderita tuna rungu. Selain itu, Totto-chan juga pernah menjadi duta anak untuk organisasi PBB, UNICEF. Ceritanya ada di lanjutan Totto-chan 2, tapi saya belum sempat beli dan baca hihihi.

Gimana, tertarik untuk membaca novel Totto-chan???

Terimakasih sudah membaca tulisan amatir saya ini. Semoga apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat untuk sesama.


Love,
Anggi


Share:

Pertemuan dan Perpisahan


Assalamu'alaikum, Surabaya.

“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Jika boleh meminta, aku tidak ingin ada perpisahan di antara kita. Aku ingin kita selamanya berada dalam lingkaran persahabatan yang kita bangun sejak saat itu. Tapi, tetap, Allah lah yang berkuasa atas hidup manusia.”

Aku benar-benar berharap kemarin adalah mimpi buruk. Tapi, berkali-kali aku menutup mata, lalu kembali terbangun, itu semua bukan mimpi buruk. Kemarin adalah kenyataan yang membuat air mata ini tak berhenti mengalir.

Aku juga berharap ketika bangun dari tidur, aku akan melupakan semuanya. Tapi, kenanganmu masih melekat jelas di ingatan ini. Rasanya seperti kemarin kita masih bercanda satu sama lain. Rasanya seperti kamu masih akan muncul, lalu bercanda lewat grup di whatsapp. Seperti yang biasa kita lakukan. Tapi, kemarin dan pagi ini, grup terasa sangat hening. Semua berduka atas kepergianmu.

Kehadiranmu selalu menghangatkan hari-hari kita yang terkadang membosankan, mengesalkan dan membuat kita hampir menyerah. Kamu akan selalu berkata, “sego pecel jek enak, rek, ojok mutung disik.” (Nasi pecel masih enak, jangan menyerah dulu)
Lalu, kita semua akan tertawa menanggapi reaksi lucu, koplak dan sedikit menyebalkan darimu itu. Tapi, kini tidak ada lagi yang akan berkata seperti itu saat kami sedang ingin menyerah. Tidak ada lagi yang akan menghiburku atau mau mendengarkan curhatan tentang hidup sesabar, sekoplak dan segokil dirimu. Aku akan selalu merindukan candaan yang selalu sukses membuat perutku sakit karena tidak bisa berhenti tertawa. Sekarang, siapa lagi yang bisa melakukan itu...*deep sigh*

Kamu adalah sahabat, mas-mas yang cerewetnya ngalah2 in emakku, partner in crime dan penasehat kehidupan percintaanku. Kamu adalah teman sekaligus saudara bagi kami yang tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.

Sumber : http://katabijak.co
Aku tahu, tidak seharusnya aku melakukan ini. Aku tidak berhak mengutuk atau pun bersedih atas kepergianmu. Tetapi, izinkan aku menyampaikan semua air mata yang masih tersimpan agar bisa mengalir keluar lewat tulisan sederhana ini. Agar aku bisa mencurahkan semuanya, mengikhlaskanmu, lalu berdamai dengan keadaan. Kita semua sayang kamu, tetapi Allah lebih sayang kamu, Kak. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahmu :’)

Akhirnya, aku harus benar-benar mengucapkan kata perpisahan ini padamu. Aku berjanji, insyaAllah akan selalu hidup bahagia, bertemu jodohku dan hidup sesuai yang aku inginkan, bukan seperti orang lain inginkan, seperti nasihat mu yang selalu mampir di telingaku.


Surabaya, 06 November 2016
Ditulis saat pagi datang dengan sisa kesedihan yang masih meracau
Share:

Wanita dan Pendidikan : Perlukah kita mengenyam pendidikan tinggi?



Assalamu’alaikum, Surabaya.

“Hari ini mendung kembali menyapa. Langit yang seharusnya berwarna biru, kini berwarna kelabu. Gemuruh petir mulai menggema. Sesaat kemudian, hujan pun turun. Aku menatap jendela yang sudah tertutup oleh butir-butir air hujan. Ingatanku pun mengembara jauh, melewati masa – masa sebelum pergolakan batin itu terjadi…”

Teruntuk seluruh perempuan di Indonesia.

Sebagai seorang perempuan, tentu sering kita dapatkan sebuah pertanyaan, “Perlukah seorang perempuan mendapatkan pendidikan yang tinggi? Untuk apa, jika pada akhirnya harus menjadi seorang Ibu yang pastinya akan mengurus keluarga kecilnya.”

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ijinkan saya menceritakan bagaimana sebagai seorang perempuan, saya melalui pertentangan arus hidup demi melanjutkan pendidikan hingga S2 dan menjawab semua pertanyaan itu.

Saya seorang anak perempuan, tunggal, dan hanya tinggal dengan seorang Ibu. Tentunya, beban saya sebagai anak pertama sekaligus anak bungsu bisa dibayangkan seperti apa. Ibu berharap setelah lulus S1, saya bisa bekerja dan membantu beliau. Tetapi, saya ‘ngeyel’ untuk tetap melanjutkan ke jenjang S2 karena ada beasiswa alumni ITS Fresh Garduate yang saat itu masih ditanggung oleh DIKTI. Tidak ada alasan pasti kenapa saya meminta untuk melanjutkan kuliah lagi. Saat itu saya hanya “suka” sekolah, nggak ada alasan lain.

Saat saya memutuskan untuk memilih jalan itu, SubhanAllah, banyak sekali cercaan pertanyaan yang membuat saya hanya bisa tersenyum.

Tersenyum pahit…

“Ngapain, kalo kerja jarang yang mau ambil S2, lhooo, nggak kerja-kerja malahan…”
“Mau sok lebih hebat dari laki-laki ta? Awas lho, nggak nikah2 nanti…”
“Kalo cuma cari gelar, mending nggak usah.”
“Percuma sekolah tinggi-tinggi. Perempuan mah entar kan cuma ngurus suami aja.”
Allah, give me strength... *deep sigh*
Begitulah kerasnya hidup di dalam masyarakat ini. Mereka tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kita, tetapi berhak mengatakan apa pun semau apa yang mereka pikirkan terhadap kita.

Jujur, bagi saya, seorang perempuan, pendidikan itu penting. Bukan seberapa tinggi tingkatannya, tetapi ilmu dan pengalaman hidup yang akan kita capai. Kuliah tidak hanya masalah mencari nilai A, mencari gelar, mendapat IPK cumlaude dan lulus tepat waktu. Tetapi lebih dari itu. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan disamping akademis semata. Tentang persahabatan, pengorbanan, kerja keras, membangun relasi dan menyelesaikan masalah. Tentang tawa, air mata, dan masih baaaaanyak lagi hal-hal baru yang bisa kita pelajari :)

Sebagai perempuan, bukan maksud saya untuk berusaha lebih hebat dari seorang laki-laki dalam hal pendidikan.Ini hanya masalah panggilan jiwa saya yang dari kecil "suka" sekolah. Memang sih, saya sering mendengar cerita ketika seorang wanita memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari seorang laki-laki, kebanyakan sang laki-laki akan minder untuk mendekati wanita tersebut. Tapi banyak cerita juga yang berkebalikan dengan itu, ada yang laki-laki malah mendukung kalau sang wanita nya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi malah sampai jenjang S3 lhooo. Suami so sweet. Buat para perempuan kalau nemu laki-laki gitu, langsung terima aja jadi calon suami :p
(#dilarangbaper)

Trus masalah cuma cari gelar, itu semua tergantung dari niat kita masing-masing wahai para wanita yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah terus. Sebagai calon Ibu, sesungguhnya kita juga harus cerdas karena orang pertama yang harusnya berinteraksi dengan anak adalah kita. Bahkan saya pernah membaca ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa tingkat intelegensi anak berasal dari gen Ibu. Entah benar atau tidak Wallahu’alam.
Oiya, tau nggak sih, kan orang Israel terkenal cerdas-cerdas kan. Rahasianya tuh ada di kegiatan yang dilakukan sang Ibu pra dan selama kehamilan. Para ibu-ibu nih bakalan belajar selama mereka hamil. Belajar mulai dari kalkulus, fisika dan lain-lain. Kebayang kan ribetnya, apalagi yang pernah jadi mahasiswa pasti ngerti gimana terornya kalkulus dan fisika dasar. Nah, ini malah ibu-ibu hamil disuruh belajar itu.

Jadi, sebenarnya ini tergantung sudut pandang sih. Nggak ada yang salah dengan pemikiran kita-kita, para perempuan yang memutuskan untuk merelakan masa mudanya untuk terus sekolah. Nggak ada yang salah juga dengan pemikiran orang lain yang sinis dengan perempuan yang sekolah terus. Semuanya benar. Yang salah hanya sudut pandang kita yang kadang nggak mau menerima sudut pandang orang lain.
Kami, para wanita tangguh (beserta satu lelaki XD) yang masih dan sedang berjuang untuk masa depan
Kesimpulannya, nggak ada jawaban yang pasti dari pertanyaan “Perlukah seorang perempuan mendapatkan pendidikan yang tinggi?”

Kalau anda (para perempuan haus sekolah) merasa masih ingin sekolah terus, lakukan. Tetapi, tetap dengan ijin orang tua dan suami (jika sudah menikah). Jangan sampai lupa juga kodrat kita sebagai seorang wanita. Cerdas boleh tetapi tetap harus jadi istri solehah #eaaak. Be a smart and good woman :)

Kalau anda  adalah para perempuan yang memutuskan bahwa tidak perlu melanjutkan sekolah, ya sudah. Pegang teguh prinsip anda dan percaya sampai akhir. Kita masih bisa belajar secara luas dan secara otodidak kok. Be a smart woman and keep fighting :)

Jangan pernah hiraukan jawaban di sekitar kita yang terkadang membuat ‘down’ atau merasa marah. Hidup kita bukan bergantung pada perkataan mereka, tetapi ada di tangan kita. Kita yang memilih jalan hidup dan kita yang menjalankannya. Jadi, untuk apa bersedih dengan komentar mereka. Tapi, jujur kacang ijo, terkadang agak ngenes gimana gitu, tapi ya sudah lah...Forgive, Forget and Go on... *sweet smile*

Surabaya, 13 Oktober 2016
Ditulis saat hujan datang



Share:

About Me

read more

Posts

Recent Posts


My Community


ID Corners
indonesian hijab bloggerKumpulan Emak2 Blogger